Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab 48. Bertemu ibu Della


Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Mella akhirnya mengikuti Hani mengunjungi saudaranya yang berada diluar kota.


Dengan pikiran yang sangat kacau Mella mengikuti apapun yang diminta oleh Hani. Ia benar-benar tidak bisa melupakan Jun dan fokus dengan apa yang ada dihadapannya saat ini.


Sepanjang perjalanan Mella hanya melamun dan sesekali air matanya menetes. Ia benar-benar kehilangan sosok Jun yang selama ini mendampinginya dalam suka maupun duka.


"Mella apakah kau baik-baik saja ?." tanya Hani.


"Aku aku baik-baik saja." jawab Mella.


"Mella jangan berbohong, sejak tadi kau hanya melamun dan terkadang aku lihat ada air mata yang jatuh di pipimu." ucap Hani.


Mella hanya menggelengkan kepalanya, dan tak terasa air matanya menetes tanpa bisa ia bendung lagi.


Hani memeluknya mencoba memberikan dukungan kepada Mella meskipun ia tidak tau apa yang sedang Mella alami.


"Jika kau percaya kepada ku, ceritakan saja kepada ku, meskipun aku tidak bisa membantu mu setidaknya beban yang ada di hatimu sedikit berkurang." ucap Hani dengan tulus.


"Aku telah kehilangan seseorang yang sangat aku cintai setelah aku kehilangan seluruh keluarga ku." ucap Mella.


Mella tak mampu berkata apa-apa lagi. Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Ia seolah tak mampu berkata apa-apa lagi karena dadanya terasa begitu sesak.


"Yang sabar Mella, jika ia memang ditakdirkan menjadi milik mu maka ia kan datang kembali untuk melanjutkan kisah yang sempat tertunda ini."


"Yakinlah apapun yang terjadi dalam kehidupan ini, adalah yang terbaik bagi kita. Percayalah akan hal itu Mella." ucap Hani.


Mella hanya bisa mengangguk, ia percaya akan apa yang dikatakan oleh Hani. Tetapi rasa kehilangan ini sungguh-sungguh membuat dirinya sangat menderita.


Dengan sabar Hani memberikan dukungan dan semangat agar Mella bisa lebih tegar dalam menghadapi ujian ini.


Hingga tak terasa mereka telah sampai di tujuan. Keduanya dijemput oleh seseorang yang sengaja diutus untuk menjemput mereka berdua di terminal bus.


Setelah itu mereka berdua menuju rumah paman Hani. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah yang sangat sederhana namun terlihat sangat bersih dan rapi.


Hani segera mengetuk pintu berharap bisa segera bertemu dengan bibinya yang paling ia rindukan selama ini.


Sejak kecil Hani sangat dekat dengan sang bibi, namun karena pekerjaan membuat sang bibi harus pergi meninggalkan dirinya yang masih duduk di bangku sekolah.


Setelah beberapa saat akhirnya pintu itu terbuka, terlihat sosok yang sangat familiar Dimata Mella. Dengan cepat Mella mengucek kedua matanya.


Ia ingin memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapannya adalah ibu Della seorang Polisi yang pernah menolong dirinya saat itu.


Seorang Polisi yang terpaksa di pindah tugaskan karena telah membantu dirinya untuk melawan Jendral Pranoto.


"Ibu Della !." ucap Mella.


"Mella !." balas ibu Della.


Kemudian keduanya saling berpelukan, melepaskan rindu karena sudah lama tidak bertemu. Sementara Hani tak mau kalah.


Ia dengan paksa melepas pelukan Mella dan juga bibinya. Bisa-bisanya dia yang berstatus sebagai seorang keponakan malah dicuekin begitu saja saat sang bibi melihat Mella.


Setelah drama kangen-kangenan itu, akhirnya mereka masuk kedalam rumah. Tak mau nunggu lama Hani langsung melemparkan pertanyaan-pertanyaan untuk Mella dan juga sang bibi.


"Sebenarnya sejak kapan bibi mengenal Mella ?. padahal Mella adalah orang baru yang masuk ke universitas bersama dengan Hani." tanya Hani kepada sang bibi.


"Sebenarnya kami belum lama saling kenal. Sebuah kebetulan kami bertemu saat itu."


Ibu Della kemudian menceritakan kronologis pertemuan dan perkenalan dirinya dan Mella. Ibu Della juga menceritakan kejadian pahit yang menimpa keluarga Mella.


Hingga akhirnya Mella memberanikan diri untuk membuka kembali kasus yang menimpa sang ayah. Agar bisa mendapatkan keadilan sehingga sang ayah tidak akan dikenang oleh masyarakat seperti berita yang telah beredar.


"Mella maafkan aku, bukan maksud ku untuk mengorek kembali luka yang ada di hatimu. Aku hanya ingin mengenalmu dan juga keluarga mu " ucap Hani sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak Hani, tidak perlu meminta maaf. Semua ini memang sudah menjadi garis takdir yang harus aku lalui." jawab Mella.


Hani menatap wajah Mella. Gadis belia dihadapannya itu sungguh sangat luar biasa. Didalam pikirannya wanita itu selalu mendapatkan ketidak Adilan, namun ia juga mempunyai kelebihan dalam bidang ilmu dan teknologi.


Hani sangat bangga mengenal Mella, gadis remaja yang jauh berada dibawah usianya itu terlihat begitu tegar dan ia bisa melewati jalan kehidupan itu hingga saat ini.


Meskipun begitu pahit, namun Mella bisa berada di titik ini. Titik dimana ia sedang berada dalam masa-masa yang penuh dengan cahaya kemenangan.


"Ibu bolehkah Mella tahu bagaimana kabar Jendral Pranoto saat ini ?." tanya Mella.


"Beliau tidak dihukum mati Namun hanya dihukum seumur hidup." jawab ibu Della.


Mella tersenyum getir, ia sangat berharap agar Jendral Pranoto bisa dihukum mati seperti sang ayah. Namun apa yang bisa ia lakukan saat ini.


"Mella kau pasti sangat kecewa dengan keputusan ini. Namun bibi harap kau bisa lebih dewasa dengan apa yang terjadi saat ini." ucap Ibu Della.


"Bu, Mella telah ikhlas dengan semua ini, jika memang hukuman bagi Jendral Pranoto masih kurang adil maka aku percaya bahwa Allah akan memberikan keadilan untuk beliau diakhirat kelak." jawab Mella.


"Apakah Kau tidak kecewa dengan keputusan itu ?." tanya ibu Della.


"Biarlah Bu, biarlah hukum di negara kita ini berjalan sesuai apa yang sudah direncanakan oleh para penanggung jawab hukum di negara ini."


"Bukankah sejak lama, jika seseorang yang sangat kaya raya maka ia akan mendapatkan keistimewaan dari pada mereka yang miskin saat melakukan sebuah kesalahan." jawab Mella.


"Syukurlah jika kau baik-baik saja dan telah mengiklaskannya, tapi untuk suatu saat nanti harus ada yang bisa menegakkan hukum dengan setegak-tegaknya."


"Tidak perduli siapa yang bersalah seharusnya mereka diperlakukan sama, karena sama-sama melakukan sebuah kesalahan." ucap Bu Della.


Mella mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibu Della. Seharusnya hukum itu berlaku sama baik untuk orang kaya, pejabat atau untuk orang miskin.


Tetapi selama ini jika kejahatan itu dilakukan oleh si miskin, maka hukumnya sangat tegas dan sangat runcing sekali. Berbeda jika yang melakukan kesalahan-kesalahan tersebut adalah orang kaya ataupun seorang pejabat.


Maka hukum terkesan sangat lemah dan sangat tumpul. Sebagai contoh jika seorang ibu miskin melakukan kesalahan maka anaknya yang masih balita harus ikut mendekam di dalam jeruji besi.


Sebaliknya jika ibu kaya raya yang melakukan kesalahan-kesalahan, maka sang ibu mendapatkan keringanan hukuman dengan menjadi wajib lapor karena mempunyai seorang anak balita.