Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 6. Rumah baru


Saat Mella tengah tenggelam dengan pikirannya, ada beberapa orang yang memberikannya uang. Hingga uang yang ada di hadapan Mella lumayan banyak.


"Kau lihat, bahkan ada diantara mereka yang menganggap aku seorang pengemis." ucap Mella dengan tersenyum kecut.


Rasanya baru kemarin, ia menjadi seorang putri kesayangan ayah dan ibunya, tak lama setelah itu ia menjadi anak seorang Nara pidana.


Bahkan kini ia menjadi seorang anak yatim piatu, tapi tak cukup sampai di situ, ia dianggap sebagai orang gila dan kini ia menjadi seorang pengemis jalanan.


Roda kehidupan seorang memang tidak ada yang tau, sewaktu-waktu kehidupan seseorang itu bisa berubah dalam waktu yang sangat singkat dan tidak ada yang bisa mencegahnya.


Semua berjalan sesuai dengan ketetapan sang pengatur alam semesta ini. Mella kembali menghembuskan nafasnya, Semuanya terasa sangat berat, ia saat ini seakan berada di dalam persimpangan jalan yang entah jalan mana yang harus ia pilih.


"Apa yang kau pikirkan ? bukankah pagi ini kita akan pergi ke sebuah bank dimana dari tempat itu hidup mu akan berubah seratus delapan puluh derajat." ucap jin itu.


"Bagaimana aku bisa pergi ke bank ? yang ada baru sampai pintu gerbang saja aku sudah diusir." jawab Mella putus asa.


"Serahkan semuanya kepada ku." ucap jin tersebut.


Kemudian dalam hitungan detik, pakaian yang Mella kenakan sudah berubah. Bahkan penampilan Mella saat ini sangat cantik bak seorang putri.


Tak cukup sampai di situ, jin itu memberikan Mella sebuah kaca yang sangat besar, agar Mella bisa melihat penampilannya saat ini.


"Coba kau lihat apakah masih ada yang kurang ?." tanya jin tersebut.


Mella melihat dirinya dalam sebuah cermin yang ada dihadapannya. Ia sangat takjub melihat penampilannya kini. Ia berputar beberapa kali untuk memastikan penampilannya.


Meskipun terlihat sederhana namun ia sangat cantik, seperti baru saja ia di rias oleh seorang di salon kecantikan.


"Terimakasih, selama ini aku belum pernah berpenampilan seperti ini. Dan baju ini sangat bagus sekali." ucap Mella dengan tersenyum bahagia.


Kalau begitu sebaiknya kita segera pergi agar kau bisa segera makan dan membeli sebuah rumah atau sebuah istana seperti yang kau inginkan." ucap jin tersebut.


"Kita akan pergi tapi setelah aku membeli makan, aku sangat lapar sekali sejak kemarin aku belum makan." ucap Mella.


Mella segera berjalan menuju sebuah warung makan yang tak jauh dari tempatnya. Ia membawa uang yang diberikan oleh orang baik yang melintas didepannya tadi.


"Halo cantik mau pesan apa ?" ucap penjual itu dengan ramah.


Semua mata menatap kearah Mella. Seorang bidadari cantik dengan balutan kain syar'i kini tengah berdiri di hadapan mereka.


"Saya hanya ingin pesan nasi sayur sama teh manis saja." jawab Mella dengan sopan.


Ia segera duduk di bangku yang masih kosong. Ia sangat lapar sekali. Ia sebenarnya merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di tempat itu.


"Hai cantik, bolehkah aku ikut bergabung ?" tanya salah satu dari mereka.


Tanpa basa-basi lelaki itu langsung duduk di hadapan Mella. Ia menatap wajah Mella dengan seksama dan tangannya ingin meraih tangan Mella.


Tentu saja hal itu tidak akan dibiarkan begitu saja oleh jun, jin yang sejak semalam menjadi teman Mella.


Dengan jail Jun, mengambil seekor cicak yang ada di dinding, kemudian ia memasukkannya ke dalam baju lelaki iseng itu.


Spontan hal itu menjadi bahan tertawaan para pengunjung rumah makan tersebut. Mella hanya tersenyum puas melihat hal itu.


Tak lama kemudian, pesanan Mella telah sampai. Ia langsung melahap makanan yang ada dihadapannya itu dengan rakus.


Ia sudah tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya. Saat ini ia hanya ingin makan sampai kenyang, dengan cepat Mella menghabiskan semua pesannya.


Setelah itu ia segera membayar dan segera keluar untuk menghindari orang-orang yang berniat negatif kepadanya.


"Jun, bagaimana caranya agar kita segera sampai ke sebuah bank ?." tanya Mella.


"Itu soal mudah." ucap jin tersebut.


Kemudian hanya sekejap mata mereka telah sampai di pelataran sebuah Bank yang begitu besar. Kemudian Mella segera masuk dengan didampingi oleh Jun.


Mella disambut baik oleh salah satu scurity yang berjaga di bank tersebut, kemudian ia di antar ke sebuah ruangan untuk menemui manager bank tersebut.


Setelah itu scurity tersebut kembali dengan aktivitasnya semula. Sementara Mella langsung menemui manager bank tersebut dan langsung mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke bank tersebut.


Tak butuh waktu lama, karu yang semalam ia dapatkan dari Jun, kini telah diaktifkan dan bisa digunakan. Alangkah terkejutnya Mella melihat nominal uang yang kini ia miliki.


Entah berapa digit angka yang dalam waktu singkat telah mengubah hidupnya itu. Mella tak mampu berkata apa-apa lagi.


Hanya rasa syukur yang luar biasa. Baru tadi pagi ia menjadi seorang pengemis kini ia menjadi seorang konglomerat.


Mella segera pergi meninggalkan bank tersebut. Ia ingin mencari tempat tinggal sementara agar ia bisa beristirahat dengan tenang.


Mella membeli sebuah rumah sederhana, ia tidak ingin memperlihatkan bahwa ia sekarang sudah menjadi orang yang sangat kaya.


"Bukankah kau ingin membeli sebuah rumah mewah ?." tanya Jun dengan bingung.


"Jun, bagaimana bisa aku tinggal di rumah mewah seorang diri, dan apa kata orang jika tiba-tiba aku membeli rumah mewah."


"Tidak semua orang memandang kita dengan positif, kebanyakan orang akan memandang kita negatif."


"Aku hanya ingin mempunyai tempat tinggal dan bisa makan setiap hari tanpa harus mengemis. Aku ingin menyelesaikan pendidikan ku terlebih dahulu baru mewujudkan keinginan ku yang lainnya." jawab Mella.


Jun tersenyum mendengar penjelasan Mella, ia bersyukur karena Mella bukanlah orang yang serakah.


"Terserah kau saja, sekarang katakan apa permintaan mu yang kedua ?." tanya Jun penasaran.


"Kalau masalah itu belum aku pikirkan. Sekarang aku hanya ingin beristirahat, menjalani kehidupan ku sebagai seorang hamba." jawab Mella.


Setelah itu Mella segera keluar untuk membeli beberapa pakaian dan peralatan sholat. Tak lupa ia membeli beberapa bahan kebutuhan pokok.


Tak lupa ia membeli perlengkapan sekolah. Karena ia besok berencana untuk memulai aktivitasnya seperti biasa.


Setelah semua cukup, Mella segera kembali ke rumah barunya. Di rumah yang baru ini, ia ingin memulai kehidupan barunya.


Meraih mimpi tanpa didampingi oleh kedua orang tuanya dan juga sang kakak. Mella harus bisa ikhlas menjalani peran barunya sebagai seorang yatim piatu.