
Setelah semuanya berkumpul barulah mereka bisa menikmati makan malam yang istimewa itu. Mereka begitu menikmati hidangan yang tersaji di meja makan sambil sesekali bercanda dan tertawa.
Sebuah keharmonisan keluarga yang sangat Mella rindukan. Semenjak kepergian mereka, Mella hanya bisa nikmati makanannya ditemani oleh Jun.
Lama sekali ia tidak merasakan kehangatan keluarga seperti saat ini. Rasa rindu itu kembali hadir dalam hatinya.
Merindukan sang kekasih hati yang kini entah dimana. Selama ini hanya Jun yang selalu ada disampingnya baik suka maupun duka.
"Mella apakah makannya kurang enak ?." tanya ibu Della.
"Tidak Bu, makanannya sangat luar biasa enaknya. Hanya saja Mella jadi teringat masakan ibu saya. Dulu setiap malam kami selalu menikmati makan malam bersama." jawab Mella.
Kemudian ia menundukkan kepalanya, ia tidak bisa melupakan kenangan indah itu dan ia ingin mengulang kembali kenangan indah bersama keluarganya.
"Mella kamu yang sabar ya, suatu saat nanti kebahagiaan pasti akan menghampiri wanita kuat dan hebat seperti mu." ucap Hani.
Ia sangat kasihan dengan Mella. Nasib begitu kejam merenggut seluruh keluarganya meninggalkan Mella seorang diri dan harus berjuang sendirian dalam menjalani kehidupan ini.
"Terimakasih Hani." jawab Mella dengan tulus.
Mereka kembali menikmati makan malam tersebut dan mereka berusaha agar Mella tidak teringat dengan kesedihannya.
Mella sangat bahagia bisa ikut mengunjungi keluarga Hani yang ternyata adalah ibu Della. Orang yang pernah menolong dirinya disaat ia kehilangan keluarganya waktu itu.
Satu-satunya orang yang perduli dengan dirinya disaat semua orang pergi menjauh dan meninggalkannya.
Sayangnya beliau harus dimutasi ke kota lain agar tidak bisa membantunya lagi saat itu. Tapi kini takdir mempertemukan mereka kembali dengan suasana dan keadaan yang lebih baik lagi.
Mella bersyukur saat ini Mella mempunyai seorang sahabat dan juga saudara seperti Hani dan juga ibu Della.
Terkadang orang asing terasa seperti seorang saudara sedangkan seorang saudara terasa seperti orang asing.
Tapi jika kita selalu menghiasi hati kita dengan kebaikan dan juga kejujuran pasti Allah akan mendatangkan orang-orang baik disekitar kita untuk menemani dan mewarnai jalan kehidupan yang harus kita lalui.
Begitulah kunjungan Mella dan juga Hani kerumah ibu Della. Kini keduanya telah kembali ke rumah masing-masing.
Melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa. Mella selalu membantu Hani agar bisa segera lulus dari universitas dan bisa mengejar mimpinya.
Hari-hari Mella lalui tanpa Jun yang menemani. Ia mengikuti ujian SMA dengan sangat mudah tanpa hambatan apapun.
Setelah itu ia kembali ke universitas untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa.
Hari silih berganti, kini Mella telah menerima ijazah SMA dan sebentar lagi ia juga akan diwisuda. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
"Ayah, ibu dan kau kak, lihatlah aku kini telah lulus SMA dan sebentar lagi aku akan diwisuda tinggal menunggu hari saja."
"Seandainya kalian masih ada pasti kebahagiaan ini akan lebih sempurna dan seandainya Jun masih ada disamping ku pasti ia bisa menjadi wakil kalian."
"Tapi dimana Jun sampai saat ini aku belum mengetahuinya. Dan siapa yang akan menghadiri acara wisuda ku nanti ?." ucap Mella sambil menatap foto keluarganya.
"Jun kamu dimana ? apakah kau telah melupakan aku ?." batin Mella.
Mella berjalan menuju balkon kamarnya. Ia masih teringat dibawah cahaya senja mereka terakhir kalinya melepaskan rindu.
Mengukir indahnya cinta bersama, kini hanya dirinya saja yang merindukan sang pujaan hati dibawah cahaya senja ini.
Keindahan senja memang sungguh luar biasa, tapi sayangnya itu adalah awal datangnya malam dan gelap.
Sama seperti yang ia alami, dibawah cahaya senja ia merengkuh indahnya cinta dan merupakan awal gelapnya dan sunyi nya perjalanan hidup ini tanpa hadirnya sang kekasih.
"Jun, apakah kau masih ingat saat kau berjanji akan selalu menemaniku sampai kapanpun ? Dan apakah kau masih ingat dibawah cahaya senja ini kita memadu kasih ?." tanya Mella.
Namun tak satu jawaban yang ia dapatkan. Hanya sebuah angin yang membelai mesra wajah ayunya yang terlihat sayu itu.
Sejak kepergian Jun, Mella seakan kehilangan semangat hidupnya. Ia seakan kehilangan separuh jiwanya.
Seakan dunia akan runtuh, Mella seakan pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya. Ia hanya berharap ada sebuah keajaiban yang datang untuk menolongnya.
"Ya Allah hamba mohon hadirkan Jun kembali dalam kehidupan hamba." ucap Mella dengan suara yang bergetar.
"Jun, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tidak akan pergi sebelum mengabulkan tiga permintaan ku ?."
"Tapi apa buktinya kau pergi sebelum bisa mewujudkan permintaan ku yang ketiga. Kau pembohong Jun, kau pembohong." ucap Mella.
Air matanya tak bisa ia bendung lagi, saat ini ia benar-benar sangat merindukan sosok Jun. Meskipun mereka berbeda dunia namun nyatanya Mella sangat mencintai Jun.
Kini rasa rindu itu semakin menyiksanya, seperti tindihnya kepada sang ayah dan juga ibunya dan juga rindunya kepada sang kakak.
Sebuah rindu yang sangat menyakitkan karena rindu itu tidak mungkin bisa terobati. Rindu yang paling berat adalah rindu kepada orang yang telah pergi meninggalkan dunia ini.
"Jun, aku sangat merindukanmu. Datanglah Jun, setidaknya muncullah walau hanya sedikit saja dihadapan ku."
"Muncullah sebagai obat rasa rindu yang semakin membelenggu ku ini. Datanglah Jun, mari kita takut kembali cinta dan kasih sayang yang pernah ada."
Mella kemudian duduk di sudut balkon. Ia menangis disudut rindu. Menangis karena terlalu rindu kepada seseorang yang entah masih ada atau sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri.
Mella tak habis pikir, mengapa permintaannya waktu itu justru memisahkan dirinya dan juga Jun. Padahal ia meminta agar Jun berubah menjadi manusia dan ia ingin agar Jun menjadi kekasih halalnya.
Tapi sayangnya permintaan itu justru membuat Jun menghilang entah kemana. Apakah ia salah karena meminta Jun menjadi manusia dan juga sebagai kekasih halalnya ?.
Dan bukankah jika Jun tidak bisa memenuhi permintaannya maka Jun seharusnya masih tetap berada disampingnya ?.
Sama seperti saat ia meminta Jun untuk menghidupkan kembali seluruh keluarganya waktu itu ?.
Lalu bagaimana bisa kini Jun pergi sebelum ia bisa memenuhi permintaannya ?. Hanya sebuah tanya yang Mella sendiri tidak tau apa jawabannya.
Mella masih tenggelam dalam rindu dan air mata. Dibawah cahaya senja ia hanya bisa berharap semua kenangan indah itu bisa terulang kembali untuk mewarnai kehidupannya ini.
Agar ia bisa lebih tegar karena ada seseorang yang siap menjadi sandaran disaat ia mulai merasa lelah dalam perjalanan hidup ini.