
Saat malam mulai menjelang, hampir semua insan terlelap dalam peraduannya, termasuk Mella. Ia terlelap melupakan sejenak kejadian-kejadian yang telah ia lewati, dengan mengurai air mata.
Sementara Jun, dengan kemampuannya membuat perisai yang melindungi rumah Mella. Bahkan ia memilih beristirahat di ruang tamu untuk memastikan bahwa kekasih hatinya bisa beristirahat dengan tenang.
Agar bisa menyongsong hari esok dengan penuh semangat dan suka cita. Jun bisa merasakan betapa lelahnya Mella menjalani kehidupan ini.
Dan benar saja, tamu yang tak diundang mendatangi rumah Mella. Dengan tenang Jun menghampiri tamu tak diundang itu yang tengah berusaha membuka pintu pagar rumah Mella.
"Bro jangan diam saja, bantu aku membuka pintunya ?." ucap salah satu dari mereka.
"Alah buka pintu saja tidak bisa ! dasar pemalas." ucap rekannya.
"Coba kalau kau bisa !." jawabnya tak mau kalah.
Dengan penuh percaya diri, rekannya tersebut berjalan dan mendekati pintu dan hendak menendangnya, namun ia langsung jatuh terjungkal karena di dorong oleh seorang.
"Eh Bedul, jangan main-main, kalau tidak mau dibantu bilang dong." ucap lelaki yang beradab kekar itu sambil mencoba berdiri.
"Aku tidak melakukan apa-apa, kau saja yang ingin bermain-main. Maklum masa kecil tidak bahagia." ucap temannya sambil menahan tawa.
"Kurang ajar ! kau meremehkan aku ya. " ucapnya langsung mengarahkan tinjunya.
"Woi sabar dulu, dengar penjelasan ku, ..., " ucapnya belum selesai bogem mentah telah mendarat tepat di pipinya.
Tak mau kalah, mereka saling beradu tinju. Setelah mereka dipisahkan oleh rekannya yang lain. Barulah mereka berhenti.
Namun, Jun tidak puas dengan hal itu. Ia mengambil sebongkah batu lalu melemparkannya kearah keduanya.
pria itu langsung menatap kearah temannya yang lain. Dengan sangat kesal keduanya berjalan mendekati kedua rekannya yang lain. Tanpa basa-basi mereka langsung melayangkan tinjunya tepat ke sasaran.
Mereka berempat akhirnya terlibat baku hantam didepan rumah Mella. Hal itu memancing amarah warga dan penjaga keamanan.
Mereka berempat langsung ditangkap dan segera diserahkan kepada yang berwajib. Karena melakukan tawuran di gang perumahan warga.
Jun yang melihat hal itu tersenyum puas. Ia bahagia melihat kempat penjahat itu telah diringkus oleh Polisi.
Namun hal itu berbanding terbalik dengan Jendral Pranoto, yang ang saat ini tengah memendam amarahnya.
Beliau begitu marah, bagaimana bisa anak buahnya begitu ceroboh membiarkan semua tindakannya bisa tersorot kamera cctv.
Dengan penuh emosi Jendela Pranoto membanting asbak yang ada dihadapannya sehingga hancur berkeping-keping.
"Sabar bos, sebentar lagi gadis itu akan berada dibawah kendali bos." ucap anak buahnya.
"Kau benar, dia ternyata lebih cantik daripada kakaknya. Dan dia lebih ranum tentu rasanya akan lebih nikmat dan menggairahkan." ucap Jendral Pranoto dengan pikiran mesumnya.
Terbayang kembali bagaimana ia merenggut kesucian perempuan yang merupakan saudara kandung Mella.
Ia terbakar gairah saat melihat wajah cantik itu, ketakutan dibalik tubuh ibunya yang juga gemetar. Tanpa berfikir panjang ia melakukan hal gila itu.
Kini ia melihat wajah cantik Mella yang jauh lebih cantik dari kakaknya dan mempunyai aura yang sangat kuat. Kecantikannya begitu murni.
Tak lama kemudian, ponsel yang ada di tangannya berdering. Ada sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.
"Halo, maaf ini dengan siapa ?." tanya Jendral Pranoto.
"Halo maaf, ini kami dari kepolisian. Anak buah anda telah kami amankan kerena telah membuat ke kacauan di jalan Bahagia, ...," belum selesai orang yang di sebrang sana berbicara, Jendral Pranoto langsung mematikan ponselnya.
"Jemput anak buah mu yang tidak berguna itu, setelah itu langsung lenyapkan saja agar tidak menimbulkan masalah." perintahnya tanpa melihat wajah orang yang ia perintah.
Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu untuk segera kembali ke rumahnya. Ia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui apa yang ia lakukan selain menjadi seorang abdi negara.
Namun hal itu tak luput dari penglihatan Jun. Sebuah berita yang akan membuat Mella semakin bahagia karena akan memberikan sedikit titik terang mengapa ayah Mella bernasib naas seperti itu.
Jun menyelidiki semuanya, ia ingin mengetahui apa sebenarnya hubungan antara pekerjaan sang jendral dengan ayah Mella. Sehingga sang jendral tega berbuat sekeji itu kepada ayah Mella.
Namun, ia juga harus tetap menjaga keamanan dan keselamatan Mella. Ia tidak ingin kekasihnya itu menjadi budak sang jendral yang melebihi iblis.
Saat Jun sedang berfikir, ia mendengar suara yang begitu merdu dan menenangkan hati. Mella melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Septi malam-malam sebelumnya, setelah sholat malam Mella selalu membacanya. Jun berjalan mendekati kamar Mella. Ia tersenyum dan terhanyut dalam indahnya ayat-ayat suci Al-Qur'an yang Mella baca.
"Subhanallah, tidak salah hatiku memilih dia. Sungguh seorang gadis yang sempurna." batin Jun.
Hatinya semakin meleleh saat ia mengenal Mella lebih dekat, ia bersyukur bisa bertemu dengan Mella. Dan Mella masih belum mengatakan permintaan terakhirnya.
Artinya masih ada waktu untuk ia dan Mella bersama. Tapi bagaimana jika tiba-tiba Mella mengucapkan permintaan terakhirnya ?. Apakah hubungan mereka akan segera berakhir ?.
Jun, seakan tak rela jika hal itu terjadi. Tapi sudah menjadi perjanjian yang tertulis untuknya, jika ada seorang manusia yang bisa membebaskannya dari guci itu.
Maka ia akan menjadi abdinya selama manusia itu belum mengucapkan permintaan ketiganya. Dan hubungan itu akan berakhir setelah manusia itu mengucapkannya.
Ia bisa kembali bebas dari hukumannya dan ia harus kembali ke alamnya yang sesungguhnya. Dan artinya ia tidak bisa kembali bersama Mella.
Apa yang harus ia lakukan ? Jun meneteskan air matanya. Ia sangat takut sekali kehilangan Mella, ia rela melakukan apapun agar bisa dengan Mella untuk selamanya.
"Jun, apa yang kau lakukan ?." tanya Mella yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Aku hanya ingin mendengarkan suara mu." jawab Jun berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Apa yang membuatmu menangis ?." tanya Mella sambil menghapus air mata yang masih tersisa disudut mata Jun.
"Aku hanya terharu mendengar kau melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang begitu indah." jawab Jun masih mencoba berbohong.
"Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dari ku Jun ?." tanya Mella sambil menatap wajah Jun.
"Tidak, aku serius. Tadi aku baru saja mengurus anak buah penjahat yang ingin mengusik mu. Dan saat aku masuk aku mendengar kau sedang mengaji."
"Aku begitu terharu, mengapa gadis sebaik kamu harus mengalami semua kepahitan ini. Kau berhak bahagia sayang." ucap Jun dengan suara yang gemetar.
Mella langsung memeluk Jun, ia bersyukur karena telah memiliki Jun yang selalu ada untuk dirinya. Sementara kesedihan di hati Jun semakin parah, rasa takut kehilangan itu semakin menghantuinya.