Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 49. Wanita luar biasa


Setelah selesai berbincang-bincang mereka akhirnya dipersilahkan untuk berisitirahat. Ibu Della telah menyiapkan kamar untuk mereka berdua. Hani meninggalkan Mella yang sedang menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Ia berjalan menemui bibinya, ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang dialami oleh Mella sehingga bisa begitu dekat dengan Mella sahabat kecilnya yang kini menjadi dosen pembimbing baginya.


"Bi sebenarnya apa yang dialami oleh keluarga Mella dan bagaimana bisa Mella sangat dekat dengan bibi ?." tanya Hani.


"Hani Mella adalah gadis yang sangat luar biasa. Saat itu, ayahnya harus dihukum mati karena dugaan bom bunuh diri disebuah Gereja."


"Ibu beserta kakaknya menghalangi hukuman itu dengan tubuh mereka sendiri. Sehingga secara bersamaan mereka meninggal ditangan para penembak jitu."


Ibu Della kemudian menceritakan awal mula bertemu dengan Mella. Secara tidak sengaja ia menemukan seorang gadis yang masih berseragam SMA yang pingsan setelah hukuman itu terjadi.


Dan ternyata gadis itu adalah Mella, satu-satunya keluarga yang masih hidup dan juga saksi bagaimana semua peristiwa pahit itu menimpa keluarganya.


Belum lama ini Mella membuka kasus yang menimpa sang ayah, dan ia bisa memenangkan kasus tersebut dan berhasil membuktikan bahwa sang ayah bukanlah seorang penjahat seperti yang dituduhkan selama ini.


Dan kebenaran terungkap karena Mella, keluarga Mella hanyalah korban dari keserakahan dan kebiadaban seorang Jendral yang merupakan gembong perdagangan manusia dan obat-obatan terlarang.


Meskipun hanya seorang diri tetapi Mella bisa mengungkapkan sebuah kebenaran dan menuntut keadilan untuk sang ayah.


Sayangnya ia semakin dijauhi oleh orang-orang disekitarnya. Mungkin itu alasannya ia memilih pindah ke kota L.


"Hani, waktu itu kau bilang ingin mengunjungi bibi bersama teman kuliah mu ?." tanya ibu Della.


"Iya bibi, Mella adalah teman satu kampus dengan Hani. Dia adalah anak yang luar biasa. Saat mendaftar di sekolah SMA yang kebetulan satu yayasan dengan kampus Hani, Mella ternyata mempunyai kelebihan yang luar biasa."


"Sehingga ia dites oleh guru-guru dan para dosen, dan hasilnya ia langsung bisa duduk di bangku universal bersama dengan Hani."


"Bahkan ia telah selesai mengerjakan skripsi hanya tinggal menunggu waktu wisuda saja, Hani jauh tertinggal bi." jelas Hani.


Ibu Della tersenyum mendengar penjelasan Hani. Ternyata Mella adalah anak yang luar biasa. Mungkin saja jika ia berasal dari keluarga yang kaya saat ini namanya akan digadang-gadang sebagai orang yang sangat luar biasa dan ia bisa mendapatkan pendidikan diluar negeri.


Menjadi salah satu mahasiswa yang mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Sayangnya Mella adalah anak yang berasal dari keluarga sederhana mungkin bahkan ia berasal dari keluarga yang kurang mampu.


Sehingga nasib buruk menimpa keluarganya. Hah seandainya, hanya itu kata yang terucap dari lubuk hati ibu Della.


Bahkan ia sendiri mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan Mella. Hanya karena ia membantu Mella melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh Jendral Pranoto kini ia harus rela dimutasi ke kota ini.


"Kenapa bibi melamun ?." tanya Hani.


"Tidak bibi hanya berfikir ternyata Mella adalah anak yang luar biasa. Semoga ia selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT." jawab ibu Della dengan tulus.


Hani mengangguk ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh bibinya. Dan ia sangat bangga mengenal Mella, seorang wanita yang tanggung dan berjiwa besar.


Meskipun kehidupan memperlakukannya dengan kejam, namun ia bisa melaluinya dengan menjadi yang terbaik. Ia bersyukur bisa mengenal seseorang seperti Mella.


Sementara Mella merebahkan tubuhnya dengan berselimut air mata. Ia sangat sedih mengenang semua peristiwa pahit yang ia alami.


Sehingga Allah menghadirkan Jun dalam kehidupannya. Namun sayangnya kini Jun entah kemana. Ia kembali seolah diri lagi.


Mella sangat merindukan Jun, seandainya ia tau hal ini akan terjadi maka ia tidak akan pernah mengucapkan permintaan terakhirnya.


"Jun kamu dimana ?." ucap Mella dengan pelan.


Tubuhnya kembali bergetar karena menahan tangis kesedihannya. Ia sangat merindukan Jun saat ini. Karena hanya Jun yang menemani setiap langkah dalam kehidupannya semenjak sang ayah pergi bersama ibu dan juga kakaknya.


Mella kembali larut dalam kesedihannya. Seolah-olah hidup ini begitu kejam terhadap dirinya, bahkan Jun yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia berbagai, kini harus pergi meninggalkan dirinya seorang diri.


"Jun kembalilah aku mohon, aku mohon jangan pergi tinggalkan aku sendiri. Bawalah aku kemanapun kau pergi."


"Jun ku mohon, keluarlah dan bawa kau pergi bersama mu. Aku tidak peduli dengan semua ini. Aku hanya ingin kau selalu berada di samping ku."


Ucap Mella disela-sela tangis dan kesedihannya. Mella menumpahkan semuanya dalam derai air matanya.


Mungkin karena terlalu lelah, akhirnya Mella tenggelam dalam lautan mimpi. Sehingga saat Hamil memasuki kamar tersebut, Mella sama sekali tidak mengetahuinya.


Hani mendekati Mella yang telah memejamkan matanya. Dengan lembut ia menghapus jejak-jejak air mata yang masih tersisa di pipinya.


Dengan lembut Hani menyelimuti tubuh Mella, setelah itu ia ikut berbaring di sebelah Mella. Ia ingin segera menyusul Mella.


"Mella kau sungguh luar biasa. Ketegaran mu dan kesabaran mu dalam menjalani kehidupan ini membuat aku semakin mengagumi dirimu."


"Mella aku bangga bisa mengenal dirimu, kau adalah wanita yang luar biasa. Aku ingin kau tahu bahwa aku selalu ada untukmu jadi jangan kau bersedih dan merasa sendiri di dunia ini." ucap Hani.


Kemudian Hani ikut berbaring disamping Mella. Menjemput mimpi indah bersama sahabat kecilnya yang sebentar lagi akan pergi meninggalkan dirinya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


Keduanya kini terlelap dalam mimpi indahnya masing-masing. Mencoba melupakan sejenak kejadian-kejadian yang mereka alami.


Mengistirahatkan tubuh mereka agar bisa melanjutkan perjalanan hidup yang masih panjang. Sementara ibu Della menyiapkan makan malam untuk mereka.


Beliau sibuk beraktivitas di dapur. Ia ingin menghidupkan makanan yang spesial untuk keponakannya dan juga Mella gadis yang sangat luar biasa itu.


Tak lama kemudian tercium aroma makanan yang sangat menggugah selera. Sehingga membangunkan Mella dan juga Hani yang masih memejamkan matanya.


"Ehm wangi sekali, aku jadi lapar." ucap Mella sambil mengusap-usap kedua matanya.


"Kau benar perutku jadi sangat lapar, bahkan rasa lapar ini mampu mengusir rasa kantukku." ucap Hani.


Keduanya kemudian langsung bangkit menuju sumber aroma yang sangat menggugah selera itu. Tanpa mencuci muka kedua langsung menghambur kemudian duduk di meja makan.


Mereka sungguh sudah tidak sabar untuk menikmati makanan yang wanginya sungguh luar biasa itu.