
Sejauh ini Jun masih berusaha untuk menghindari wanita yang begitu terobsesi dengan dirinya. Hingga bus yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang barulah ia bisa bernafas dengan lega.
Jun segera naik bus tersebut menuju ke kota L, kota dimana pemilik hatinya berada. Jun bisa membayangkan bagaimana Mella menangisi kepergiannya selama ini. Karena Jun tau bahwa hanya dia yang Mella punya saat ini.
"Sayang sabarlah sebentar lagi aku datang, dan akan mewujudkan keinginan mu. Menjadikan dirimu sebagai kekasih halal ku sebagaimana layaknya manusia pada umumnya." batin Jun.
Jun tersenyum membayangkan bahwa hubungan yang mereka bina selama ini akan diresmikan dihadapan penghulu dan para saksi.
Sepanjang perjalanan senyuman Jun tak pernah hilang. Layaknya ABG yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.
Waktu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikannya. Hingga saat yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa akhirnya datang juga.
Para mahasiswa datang bersama keluarganya untuk menyaksikan dirinya di wisuda. Sebagai bukti kelulusan mereka.
Hanya Mella yang datang seorang diri, tanpa ada orang tua, keluarga atau kerabat yang menemaninya. Mella hanya bisa tersenyum getir menjalani kehidupan ini.
Acara demi acara telah mereka lalui, hingga resmilah mereka diwisuda. Hingga saat acara mereka berfoto bersama teman dan keluarga.
Senyuman menghiasi wajah-wajah mereka, hanya Mella yang duduk seorang diri di sebuah taman. Ia termenung seorang diri, semua aksesoris yang ia gunakan masih terpasang dengan sangat rapi.
"Ayah, ibu dan kakak lihatlah aku sudah bisa lulus kuliah dan lihatlah nilai yang aku peroleh. Seharusnya aku bisa tertawa bahagia seperti mereka."
"Tapi saat ini aku hanya bisa melihat kebahagiaan mereka. Sedangkan aku hanya bisa duduk diam disini melihat mereka berfoto bersama keluarga mereka."
"Ya Allah, bukannya hamba tidak bersyukur atas apa yang telah engkau dikaruniakan kepada hamba, hanya hanya bersedih di moment sebahagia ini hamba hanya seorang diri." ucap Mella lirih.
Setitik air mata menetes di pipinya. Ia berusaha untuk bisa tegar menghadapi semua ini, tapi ternyata hatinya tetap saja tak kuasa menahan kesedihannya.
Mella hanya bisa membayangkan dirinya bisa seperti mereka, tertawa penuh dengan kebahagiaan bersama keluarga mereka.
Setelah itu Mella menundukkan kepalanya. Ia menatap kebawah sambil menggoyangkan kakinya. Ia tak tau harus melakukan apa agar perasaan sedihnya bisa segera berlalu.
Hingga satu persatu orang-orang berlalu meninggalkan tempat itu. Hanya menyisakan Mella yang masih duduk seorang diri menikmati kesedihannya.
Mendung mulai menutupi langit yang awalnya cerah, menggantungkan warna biru dengan warna hitamnya. Dihiasi oleh gemuruh yang menggelegar bersama kilat sebagai pelengkapnya.
Namun hal itu tidak membuat Mella bangkit, ia tetap duduk di tempatnya. Berharap akan ada seseorang yang datang untuk ikut merayakan acara wisudanya itu.
Walaupun Mella sendiri tidak tau siapa sebenarnya yang ia tunggu, tetapi ia enggan untuk berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Perlahan gerimis mulai turun membasahi semua benda yang ada di atas bumi. Perlahan namun pasti tubuh Mella mulai basah karena gerimis itu.
"Bahkan alam juga bisa merasakan kesedihan ku saat ini. Terimakasih alam, terimakasih hujan, setidaknya kau telah menyembunyikan air mata ku dengan kedatangan mu." ucap Mella.
Ia kemudian tersenyum sambil menatap langit, ia ingin menangis dengan keras, meluapkan segala rasa yang begitu sesak di dalam dada.
Mella tidak memperdulikan kondisinya yang semakin basah kuyup tersiram air hujan. Ia hanya ingin menangis, menangis dan menangis.
Entah apa sebabnya semua orang yang ia sayangi pergi meninggalkan dirinya seorang diri bersama air mata.
"Jun dimana kau saat ini ? apakah kau bisa mendengar panggilan hatiku ini ?."
"Jun kumohon jangan tinggalkan aku sendiri, katakan apa yang harus aku lakukan agar kau bisa kembali ke sisiku lagi ?."
"Jun bukankah kau berjanji tidak akan pernah pergi meninggalkan aku sampai permintaan ketiga aku ucapkan dan kau telah mewujudkan keinginan ku itu."
"Tapi mengapa kau pergi sebelum mewujudkan keinginan ku itu ? mengapa kau pergi meninggalkan aku Jun ? Mengapa kau pergi Jun ?." ucap Mella yang bertanya di balik air hujan.
Mella terhanyut dalam kesedihan dan air matanya, yang ia sembunyikan dibalik tetesan air hujan. Hingga sebuah payung menutupinya dari tetesan air hujan.
Perlahan Mella membuka kedua matanya, melihat sebuah payung yang telah melindunginya dari derasnya hujan.
Perlahan ada tangan seseorang yang mengusap wajahnya dengan lembut. Mella menatap kearah seseorang yang sedang tersenyum menatapnya dan memayungi keduanya.
Terlihat samar wajah tampan dihadapannya, Mella mengucek kedua matanya. Ia ingin memastikan bahwa orang yang ia lihat tersebut adalah nyata bukan halusinasi belaka.
"Apakah kau tidak merindukan aku selama ini ?." ucap Jun dengan tersenyum manis.
"Jun apakah kau nyata ? apakah ini bukan halusinasi ku saja ?." tanya Mella sambil mengusap wajah yang selama ini ia rindukan.
"Sayang aku nyata, aku bukan halusinasi dan aku bahkan bukan Jin lagi. Aku sudah menjadi manusia seperti yang kau minta." jelas Jun dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
Mella segera memeluk tubuh Jun, ia begitu sangat bahagia. Ternyata hatinya berkata benar bahwa akan datang seseorang yang akan menemaninya di tempat ini.
Ya orang itu adalah Jun, orang yang selama ini ia rindukan, orang yang selama ini membuatnya menangis dalam kerinduan.
Kini orang tersebut datang menemaninya, disaat semua orang telah pergi meninggalkan dirinya, disaat hujan datang menyembunyikan air matanya.
Kini Jun telah berada dalam pelukannya, ia tidak akan pernah melepaskannya lagi. Ia tak akan melakukan hal apapun yang akan membuat Jun pergi lagi dari kehidupannya.
"Terimakasih Jun, kau telah datang kembali dalam kehidupan ku ini. Terimakasih kau telah menemui ku lagi dengan kondisi seperti yang aku minta." ucap Mella.
"Jika begitu mengapa masih ada air mata ? bukankah keinginan mu telah terwujud dan aku kini telah berada dalam pelukanmu ?." tanya Jun sambil mengusap air mata Mella.
Mella tersenyum dan memeluk erat tubuh Jun. Keduanya berpelukan dibawah tetesan air hujan. Dan pada akhirnya Jun mengangkat tubuh Mella.
Membawanya kembali ke apartemennya, agar Mella tidak terserang demam akibat hujan yang entah sejak kapan mengguyur tubuhnya.
Jun dengan cepat berjalan menuju ke mobil yang masih setia menunggu kedatangan pemiliknya. Setelah mereka aman didalamnya Jun segera mengendarai mobilnya menuju ke jalan bahagia.
Tempat dimana kebahagiaan mereka akan terjalin dengan sempurna. Seperti nama jalan tersebut 'bahagia' begitulah yang mereka rasakan saat ini.