
Mella meneteskan air matanya lagi, dan hal itu tentu saja membuat Jun tidak rela. Ia merasakan sakit yang luar biasa jika air mata gadisnya menetes karena kesedihan yang ada di dalam hatinya.
Dengan lembut Jun, menghapus air mata Mella dengan kedua ibu jarinya. Setelah itu ia bawa tubuh sang kekasih dalam pelukannya.
Ia akan melakukan apa saja demi sang pujaan hati, memberikan semuanya agar sang kekasih bisa selalu tersenyum.
"Sayang, kau jangan bersedih lagi. Chika bukanlah apa-apa dan dia bukan siapa-siapa. Jika kau bisa mengalahkan Jendral biadab itu kau juga pasti bisa mengalahkan Chika." ucap Jun sambil memeluk tubuh sang kekasih.
Sementara Mella masih terisak-isak dalam pelukannya. Sebenarnya ia tak mengerti mengapa banyak orang yang tidak menginginkan dirinya. Apa kesalahan yang telah ia lakukan.
Apakah yang harus ia lakukan saat ini. Mella Masih bingung dengan semuanya ini. Ia berfikir setelah hakim menyatakan ayahnya tidak bersalah maka semuanya akan baik-baik saja.
"Sayang, bagai mana jika kita melakukan percobaan baru ? kau bisa mengasah ilmu pengetahuan mu disini." ucap Jun sambil menatap wajah yang sedang bersedih itu.
"Maksud mu ?." tanya Mella.
"Kau saat ini telah mempunyai ilmu pengetahuan yang luar biasa. Namun hal itu tidak akan pernah di akui oleh dunia jika kau tidak memberikan sebuah bukti yang nyata." jelas Jun.
"Kau benar ! aku harus memanfaatkannya. Jika Chika ingin aku keluar dari sekolah ini boleh saja tapi aku akan keluar sebagai pemenang dan aku akan meninggalkan sekolah ini dengan nama baik dan dengan ijasah kelulusanku." ucap Mella dengan penuh keyakinan.
Kemudian ia menghapus air matanya, dan mulai tersenyum. Jika Chika ingin berperang dengannya maka ia harus jadi pemenangnya.
"Nah itu baru kesayanganku." ucap Jun sambil mendekap Mella kembali.
Keduanya saling berpelukan, saling menguatkan dan saling mencurahkan segala rasa. Mella melepas pelukannya dan menatap wajah Jun yang sangat tampan itu.
Dan hal itu tentu saja tidak Jun sia-siakan. Dengan lembut ia menikmati bibir ranum Mella yang sudah menjadi candunya.
Keduanya saling membalas, dan semakin memperdalam tautannya. Melupakan apa yang baru saja terjadi. Menikmati indahnya cinta.
Setelah beberapa saat akhirnya Mella mengakhiri permainan itu. Ia kemudian berjalan mendekati sebuah komputer dan ia duduk dengan wajah yang merah merona.
"Sayang, mengapa kau akhiri permainan ini ? aku mau lagi." ucap Jun sambil berbisik disamping Mella.
Mella tersenyum dan Manarik Jun agar duduk di sampingnya. Dengan cepat Jun duduk di samping Mella kemudian ia memeluk tubuh Mella.
Ia tidak rela mengakhiri permainan itu, tapi ia juga tidak mungkin memaksanya. Ia takut jika ia tidak bisa mengendalikan diri sehingga hal itu akan menghancurkan Mella.
"Jun, apa yang harus kita lakukan sekarang ?." tanya Mella.
"Kita lanjutkan lagi yang tadi, aku masih ingin." jawab Jun dengan suara yang sedikit serak.
"Kau ini." jawab Mella dengan mendaratkan jarinya di pinggang Jun.
Tanpa memberikan kode, Jun langsung memberikan hukuman untuk Mella karena dia kali mencubitnya. Ia ***** lagi bibir ranum Mella.
"Ini hukuman karena telah mencubit aku dua kali." ucap Jun dengan menatap penuh kasih gadis cantik di sampingnya itu.
"Kau ini, maunya menang sendiri." jawab Mella dengan menyembunyikan wajahnya karena malu.
Jun hanya tersenyum melihatnya. Mella semakin cantik dengan wajah yang merona seperti itu. Dengan lembut Jun memeluk tubuh Mella.
"Sayang bagaimana jika kita mencoba sesuatu yang baru ?." ucap Jun.
"Sesuatu yang baru ? jangan bilang kau ingin melakukan yang lebih jauh dari yang tadi." jawab Mella.
Ia takut Jun menuntut lebih dari yang baru saja mereka lakukan. Ia sadar sebenarnya ia juga ingin yang lebih dari itu tapi ia takut terjerumus dalam lembah dosa.
Meskipun ia sangat mencintai Jun, tapi mereka tidak boleh melakukan apa-apa yang memang seharusnya tidak boleh mereka lakukan.
Saat ini saja ia sudah kecanduan dengan bibir Jun, ia tidak ingin kecanduan yang lainnya. Karena itu akan sangat berbahaya.
"Hayo, kau berfikir mesum ya ?." goda Jun.
Jun tersenyum melihat ekspresi Mella. Sebenarnya ia juga sangat menginginkan hal yang lebih dari yang baru saja mereka lakukan. Tapi itukan tidak mungkin.
Ia tidak ingin memulainya dengan kesalahan, ia ingin memulainya dengan cara yang benar. Cara yang benar bagaimana kok saya jadi bingung sendiri.
Mella tersenyum, ia malu karena pikirannya ternyata salah. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya karena malu namun bagaimana lagi.
Saat ini Jun, tepat berada disampingnya. Ingin menjadi kecil dan menenggelamkan diri ke lubang semut sekalipun, Jun pasti bisa melihatnya.
"Sudahlah jika kau memang ingin yang lebih dari yang tadi, aku siap melakukannya." ucap Jun menggoda Mella lagi.
"Kau ini." jawab Mella sambil memukul-mukul tubuh Jun.
Dengan sigap Jun melakukan pertahanan, dan keduanya akhirnya tertawa bersama. Suaranya memenuhi ruang laboratorium itu.
Sementara mereka yang tidak sengaja melintas, hanya bisa menggelengkan kepalanya, bagaiman mungkin mereka bisa tertawa di ruang laboratorium yang seharusnya menjadi tempat paling serius.
Sementara bagi dia sejoli yang sedang kasmaran itu, di manapun mereka berada cinta telah menguasai keduanya. Merajut kasih dengan tulus tanpa perduli dengan apa yang orang lain pikirkan.
Sementara Chika tersenyum puas, setelah hampir satu jam Mella tidak kembali ke dalam kelasnya. Ia akhirnya bisa bernafas dengan lega.
"Apa yang membuatmu terlihat begitu bahagia ?." tanya Raisa sahabatnya.
"Mulai sekarang kita tidak perlu melihat wajah Mella lagi." jawab Chika dengan jujur.
"Kenapa ? memangnya Mella kemana ?." tanya Raisa dengan polosnya.
"Kau diam saja ! yang penting aku tidak perlu khawatir lagi. Karena tidak ada yang bisa menyaingi ku di sekolah ini." jawab Chika dengan tersenyum puas.
Sementara Raisa hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak mengerti dengan ucapan Chika.
Bagaimana mungkin ia bersaing dengan Mella. Dari segi manapun Mella jauh lebih baik dari Chika, hanya saja Mella anak orang miskin dan kini menjadi yatim piatu.
Tapi Raisa tak mau ambil pusing dengan hal itu, yang jelas ia masih bisa menumpang di bawah ketiak Chika demi menunjang kebutuhannya.
Keduanya kemudian melanjutkan pelajarannya meskipun sebenarnya mereka bingung dengan materi pelajaran yang diberikan oleh guru yang ada di depan.
Bagi mereka yang penting hadir dan mengikutinya dengan tertib itu sudah sangat baik sekali, dari pada mereka bolos atau melakukan sesuatu yang semakin membuat mereka dikenal sebagai siswi yang bermasalah.