
Kebahagiaan yang mereka rasakan seolah tak ingin mereka lepas. Namun tiba-tiba Mella melepaskan pelukannya.
"Jun, apakah aku bisa meminta sebuah permintaan terakhirku ?." tanya Mella.
"Tentu saja sayang, katakanlah apa yang ingin kau minta." jawab Jun sambil sedikit kecewa.
Sebenarnya ia masih ingin melepaskan rindu, karena selama apapun mereka melepaskan rindu tapi rindu itu seakan takkan bisa terobati. Malah semakin rindu serindu-rindunya.
"Jun, permintaan terakhir ku adalah,..." ucapan Mella terhenti karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Jun.
Seakan tak rela jika Mella mengucapkan permintaan terakhirnya, Jun menutupnya dengan ciuman yang sangat lembut dan semakin dalam.
Mella terlena dengan kelembutan dan kasih yang Jun berikan, ia membalasnya dan keduanya kembali merenggut nikmatnya cinta dibawah cahaya senja.
Namun sayangnya ponsel Mella berdering, membuat keduanya mengakhiri kegiatan mereka meskipun mereka tidak rela untuk mengakhirinya.
"Halo Hani, ada apa ?." tanya Mella.
"Mella apakah kau sudah bersiap-siap, besok pagi-pagi sekali aku akan menjemputmu dan kau tidak boleh terlambat." ucap Hani.
"Kau tenang saja aku tidak akan terlambat." jawab Mella.
"Kalau begitu kirimkan alamat mu agar aku bisa menjemput mu." ucap Hani.
"Apa ? jadi selama ini kau belum tau dimana aku tinggal ?." tanya Mella tak habis pikir.
Tapi Mella akhirnya tersenyum karena memang selama ini ia belum pernah memberikan alamat tempat tinggalnya kepada siapapun termasuk Hani.
"Baiklah nanti aku kirim dan sekarang tutup dulu telponnya aku sedang sibuk." jawab Mella.
Tanpa menunggu jawaban dari Hani, Mella langsung mematikan ponselnya. Kemudian duduk kembali dalam pelukan sang Arjuna hatinya.
"Apakah akan kita lanjutkan lagi ?." tanya Jun seolah tak berdosa.
"Jun, aku punya permintaan terakhirku. Apapun yang terjadi hanya itu yang akan menjadi permintaan terakhir ku." jawab Mella dengan serius.
Jun terpaksa tersenyum, seandainya ia bisa mengatakan bahwa ia tidak ingin Mella mengucapkan permintaan terakhirnya itu.
Ia sangat sedih karena kebahagiaan yang baru saja ia rasakan adalah kebahagiaan terakhirnya bersama Mella.
Seandainya ia bisa menghentikan waktu maka, ia akan menghentikannya demi bisa bersama dengan Mella menikmati indahnya cinta.
"Jun." panggil Mella.
"Iya sayang katakanlah, meskipun itu awal dari perpisahan kita." jawab Jun.
"Apa maksudnya Jun ?." tanya Mella.
"Sayang boleh aku bertanya ?." tanya Jun.
"Sejak kapan kau belok bertanya tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu. Itu adalah ciri khas ku." ucap Mella.
"Sayang sebelum kau ucapkan permintaan terakhir mu, bolehkah aku tahu apa alasannya kau memanggilku dengan sebutan Jun, padahal itu bukalah nama ku." jawab Jun dengan serius.
"Karena kau adalah Arjuna ku, maka aku panggil Juna alias Jun." jawab Mella dengan Jujur.
Jun tersenyum mendengar penjelasan Mella. Ia sangat bahagia sekali karena Mella menganggapnya seperti Arjuna. Sungguh sangat romantis sekali.
"Sayang aku sangat bahagia mendengarnya. Sekarang katakan apa yang menjadi permintaan terakhir mu ?." tanya Jun dengan tersenyum pahit.
Mella mengucapkannya dengan penuh keyakinan, sementara Jun sangat terkejut dengan permintaan terakhir Mella.
Sebelum ia bisa menjawabnya tiba-tiba tubuhnya bergetar sangat hebat dan perlahan tubuh itu berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya yang lama kelamaan menghilang entah kemana.
Mella yang mengetahui hal itu langsung berteriak dan memeluk erat tubuh Jun yang lama kelamaan semakin hilang bagaikan tertelan bumi.
Mella menangis histeris karena kini Jun telah pergi entah kemana, meninggalkannya seorang diri.
"Arjun ! " teriak Mella sambil menangis.
Mella bangkit dan berlari kesana-kemari mencari keberadaan Jun. Namun kemanapun ia mencari sama sekali ia tidak bisa menemukan Jun.
Jun hilang bagaikan tertelan bumi. Mella terduduk lemas dilantai, air matanya tak dapat ia bendung lagi. Terbayang saat awal mereka bertemu, hingga benih-benih cinta itu tumbuh dari kedekatan mereka selama ini.
Mella tak menyangka jika permintaan terakhirnya malah membuatnya kehilangan Jun untuk selamanya.
"Jun seandainya aku tau seperti ini akhirnya, maka aku tidak akan pernah mengucapkan permintaan terakhirku."
"Lebih baik kita seperti itu saja, terikat oleh perjanjian diatas cinta yang tulus dan suci ini. Seharusnya aku tidak serakah karena ingin memiliki mu."
"Jun ! jangan pergi aku mohon." ucap Mella sambil menangis dan bersujud.
Ia benar-benar menyesal dengan keputusan yang ia ambil. Padahal ia berfikir bahwa permintaan itu hanya akal-akalan saja.
Mella benar-benar menyesal. Kini kepada siapa ia harus mengadukan masalah ini. Siapa yang akan menjadi pelindung dan penjaganya saat ini.
Mella hanya bisa berharap agar Jun bisa kembali ke sisinya lagi. Meskipun ia harus berkorban karena cintanya berlabuh di dunia yang berbeda .
Mella seperti orang gila, ia benar-benar terpukul dengan semua ini. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Jun kini telah pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
Untuk tetap melanjutkan perjalanan hidupnya, Mella kini seperti sudah kehilangan arah dan tujuan. Ia menghabiskan waktunya untuk menangis dan memanggil nama Jun.
Sesekali Mella kembali berteriak memanggil nama Jun.
"Jun, mengapa kau tidak mengatakan bahwa permintaan terakhir ini adalah akhir dari hubungan kita selama ini."
"Aku mohon kembalikan lah Jun, kembalilah jangan pernah pergi meninggalkan aku seorang diri. Kembalilah Jun." ucap Mella penuh dengan penyesalan.
Ia menangis, ia berfikir betapa kejamnya dunia ini. Semua orang-orang yang ia sayangi dipaksa untuk pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
Mella kemudian bangkit dan mencari lampu ajaib tempat Jun selama ini tinggal. Ia menggosok-gosok kembali lampu tersebut dengan harapan Jun akan keluar kembali dan membuat perjanjian baru dengan dirinya.
Tapi apapun yang Mella lakukan Jun tak pernah keluar dari lampu tersebut. Mella benar-benar rapuh saat ini. Ia seakan jatuh untuk yang kedua kalinya.
Terjatuh dan terpuruk dalam lubang derita yang begitu dalam. Dengan putus asa, Mella mengambil sebuah cangkul dan berjalan keluar dari apartemennya.
Mella berjalan menuju sebuah taman yang ada di tengah-tengah apartment tersebut. Kemudian dengan berderai air mata Mella mulai mencangkul dan hendak mengubur lampu ajaib yang pernah ia temukan waktu itu.
Namun ia sedikit ragu, ia berfikir dan berharap bahwa Jun akan kembali datang untuk dirinya melalui lampu ajaib tersebut.
Mella memeluk lampu tersebut sambil kembali terisak-isak. Setelah puas ia kembali masuk kedalam apartemennya dan menyimpan kembali lampu ajaib tersebut.
Dengan sebuah harapan bahwa Jun akan kembali datang menemui dirinya, karena permintaan terakhirnya belum sempat Jun penuhi seperti perjanjian diantara mereka.
Setitik harapan itulah yang membuat Mella menghapus air matanya dan bangkit untuk melanjutkan perjalanan hidupnya.