Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 16. Kelakuan sang Jendral


Mella dan Jun telah menunggu beberapa hari untuk sidang kedua, kini hari itu telah tiba. Keduanya kembali mendatangi tempat persidangan dengan hati yang lebih tenang.


Pasalnya mereka telah menyiapkan bukti-bukti yang akan memberatkan sang Jendral. Bahkan ucapan sang Jendral saat pertama kali bertemu telah mereka buat menjadi sebuah video.


Karena Mella mampu mentransfer ingatannya menjadi sebuah video agar bisa dilihat oleh banyak orang.


Bahkan Jun, juga sudah mendapatkan bukti bahwa sang Jendral juga mempunyai pekerjaan terlarang selain menjadi seorang Jenderal.


Jendral Pranoto yang kebetulan datang hampir bersamaan dengan Mella, langsung berjalan cepat agar bisa beriringan dengan Mella.


Dengan cepat Jun, membuat perisai untuk Mella. Ia tidak ingin jika Jendral brengsek itu sampai menyentuh Mella, meskipun hanya sekedar berjabat tangan.


Ia tidak ingin jika tangan kotor sang Jendral menyentuh tangan gadis yang begitu baik dan lembut itu.


"Nona Mella tunggu !." ucap sang Jendral.


Mella hanya menoleh kemudian ia tersenyum sambil melipat kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf, kemudian Mella berjalan kearah toilet.


"Mengapa kita kesini ?." tanya Mella.


"Aku tidak ingin kau dekat dengan jendral brengsek itu." jawab Jun dengan jujur.


"Siapa juga yang mau, o iya apakah semua bukti sudah kau siapkan ?." tanya Mella lagi.


"Siap bos, semua sudah saya siapkan." jawab Jun dengan sok manis.


Mella tersenyum melihat tingkah Jun, yang begitu over protektif terhadap dirinya. Namun Mella sadar hal itu Jun lakukan untuk kebaikannya juga.


"Apakah kita serahkan saja bukti itu kepada pengacara ?." tanya Mella.


"Jangan, biarkan semua bukti aku yang akan menyimpannya. Aku tidak bisa percaya kepada mereka. Karena Jendral brengsek itu pasti akan menggunakan segala cara untuk memenangkan kasus ini." jawab Jun.


Mella mengangguk kemudian mengajak Jun untuk segera meninggalkan toilet dan segera memasuki ruang sidang.


Namun langkah mereka terhenti saat melihat Jendral Pranoto sedang duduk menunggu mereka. Dengan kemampuannya Jun merubah penglihatan Jendral Pranoto.


Sehingga ia melihat wanita yang lewat dihadapannya adalah Mella. Tentu saja hal itu membuat sang Jendral salah sasaran.


Jendral Pranoto segera mencekal lengan wanita itu. Dengan tatapan penuh nafsu, Jendral Pranoto langsung mendorong wanita itu ke sudut ruang yang sedikit gelap.


Dengan gerakan yang sangat cepat, sang Jendral langsung memulai aksi bejatnya itu. Dan dengan kecepatan yang Jun miliki, beberapa wartawan yang kebetulan hendak meliput berita persidangan sang Jendral dan seorang gadis remaja mendatangi tempat tersebut.


Hal itu tidak mereka sia-sia dengan cepat mereka merekam dan mengambil beberapa foto, tindakan yang dilakukan oleh sang Jendral berhasil mereka simpan.


Saat menyadari hal itu, sang Jendral segera menghubungi para anak buahnya dari dunia hitam. Ia tidak ingin jika namanya tercoreng hanya karena tindakan yang ia lakukan terhadap Mella terpublikasikan.


"Cepat urus para wartawan sialan. Jika mereka tidak mau menghapus rekaman dan foto itu habisi saja mereka semua. " ucap sang Jendral.


Mella segera menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan sang Jendral, yang menganggap nyawa manusi tidak mempunyai harga sama sekali.


"Sebegitu hebatnya anda sehingga nyawa seseorang tidak berharga bagi anda. Apakah yang ayahku lakukan sehingga anda tega menghabisinya dengan cara menyembuhkan tangan." ucap Mella sambil bertepuk tangan.


"Nona Mella apa yang kau katakan ? apakah kau ingin mengulangi hal yang baru saja kita lewati ?." tanya sang Jendral tanpa rasa malu.


"Apakah anda tidak salah Jendral ? lihatlah wanita yang baru saja bersama dengan anda saat ini tengah menangis dan sedang di wawancarai oleh wartawan." jawab Mella.


Kemudian Mella melangkah meninggalkan Jendral Pranoto yang bingung melihat situasi yang terjadi. Ia kemudian merampas salah satu kamera milik salah seorang wartawan.


Dan setelah ia melihat dengan seksama ternyata benar apa yang dikatakan oleh Mella. Wanita yang baru saja bersamanya ada wanita lain bukannya Mella seperti yang ia ingat.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ? soal !." ucap Jendral Pranoto sambil membanting kamera milik wartawan tersebut.


Saat ini ia tidak habis pikir bagaimana bisa salah orang, padahal jelas-jelas ia menarik tangan Mella saat ia baru saja keluar dari kamar mandi.


Saat ia sedang memikirkan hal yang terjadi, ajudannya memanggil karena sudah ditunggu di ruang sidang.


Kemudian mereka segera berjalan memasuki ruang sidang, dan sidang pun segera dimulai. Tahap demi tahap berjalan seperti yang diinginkan oleh Mella dan Jun.


Berdasarkan bukti-bukti yang disajikan dan juga para saksi yang dihadirkan semua membuktikan bahwa ayah Mella tidak bersalah.


Namun hakim ketua belum mengambil keputusan, karena pihak dari Jendral Pranoto masih menyanggah dan siap menghadirkan seorang saksi yang bisa membuktikan bahwa ayah Mella bersalah.


Hal itu tentu saja membuat Mella dan Jun merasa kecewa. Ia tidak menyangka bahwa Jendral Pranoto masih mempunyai rencana untuk membalikkan sebuah fakta.


"Maaf hakim ketua yang terhormat, ini ada sebuah video yang mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi yang mulia." ucap pengacara Mella.


Setelah bukti tersebut diserahkan, maka video tersebut segera diputar. Dalam video tersebut terlihat bahwa Jendral Pranoto sedang mengancam berbincang-bincang dengan Mella diruang persidangan.


Jendral Pranoto dengan jelas mengatakan jika Mella mau menutup kasus ini, maka ia akan melindungi Mella dan bahkan akan menjadikan Mella sebagai wanita simpanannya.


Bahkan dengan terang-terangan Jendral Pranoto mengatakan bahwa dengan kekuatan dan kekuasaan yang ia miliki, Mella tidak akan bisa memenangkan kasus ini.


Karena ia telah berpengalaman dalam bermain dengan hukum. Wajah Jendral Pranoto menjadi sangat memalukan.


Ia tidak habis pikir bagaimana bisa rekaman itu ada dan dihadirkan oleh pihak Mella. Bahkan orang yang berada di kelompoknya saja tidak mengetahui hal tersebut.


"Hakim ketua yang terhormat, dengan ada bukti tersebut apakah anda akan tetap memperpanjang waktu persidangan ini ?." tanya Mella dengan berani.


"Saudari Mella, bukti tersebut belum bisa membuktikan bahwa Jendral Pranoto bersalah. Dan pihak kami masih bisa membuktikan bahwa ayah anda memang bersalah."


"Dan klien kami tidak terbukti bersalah. Jadi jangan paksa hakim ketua untuk mengambil keputusan yang salah." ucap pengacara Jendral Pranoto.


Suasana menjadi riuh karena semua yang hadir dalam ruang persidangan tersebut saling berbincang-bincang dan mengutarakan pendapat mereka masing-masing.


Hampir semua orang mulai meragukan kebenaran yang diucapkan oleh Jendral Pranoto. Dan mereka mulai percaya bahwa pak Harun tidak bersalah.


Beliau melakukan hal tersebut karena paksaan dan ancaman dari seseorang yang belum jelas siapa orang tersebut. Dalam keriuhan tersebut hakim ketua memutuskan akan menunda kembali sidang tersebut dan meminta untuk kedua belah pihak menyiapkan bukti-bukti dan saksi yang lebih kuat.