Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 10. Laboratorium


Saat ini Mella dan sudah berada di sorum mobil, ia membeli sebuah mobil sederhana agar bisa berpergian tanpa harus berjalan kaki atau menggunakan kekuatan yang Jun miliki.


"Jun, bagaimana caranya aku membawa mobil ini ? mengendarai sepeda motor saja aku tidak bisa." tanya Mella saat sudah berada di dalam mobil barunya.


"Kau tinggal memejamkan mata, dan mobil ini akan berjalan kearah yang kau inginkan." jawab Jun.


"Tapi aku ingin sekali bisa mengemudikan mobil sendiri." ucap Mella.


"Kalau begitu kau harus belajar !." jawab Jun.


Mella mengangkat kedua bahunya. Ia tidak tau kepada siapa ia harus belajar untuk mengemudikan mobil. Namun, Jun dengan sabar mengajarkan Mella cara mengemudikan mobil dengan sabar.


Dan dengan kekuatan yang ia miliki, maka Mella dapat mengendarai mobil dengan cepat. Dengan senyum yang menghiasi wajahnya Mella mengemudikan mobilnya untuk berkeliling menikmati suasana indah.


Keduanya bercerita kesana kemari, terutama Mella yang tidak berhenti berbicara tentang masa lalunya. Mella kemudian pergi ke pemakaman umum tempat keluarga kini berada.


Setelah sampai Mella berbicara dan menceritakan semua yang ia hadapi, dan ia memperkenalkan Jun. Karena ia kini hanya bersama dengan Jun.


Jin yang ia temui di tempat ini tanpa sengaja, namun telah mengubah kehidupan Mella. Dengan berlinang air mata, Mella memanjatkan doa untuk ayah,ibu dan juga kakaknya.


"Ayah, ibu dan kau kak. Mella pamit pulang terlebih dahulu. Kapan-kapan Mella pasti akan mengunjungi kalian lagi." ucap Mella.


Kemudian ia bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan Mella hanya diam membisu. Dan sesekali air matanya menetes mengingat semua kenangan indah bersama keluarganya.


"Mengapa kau jadi pendiam begini ?." tanya Jun.


"Aku sedih, saat mengingat semua kenangan indah yang pernah aku lalui bersama keluarga ku. Jun apakah aku boleh meminta lagi padamu ?." tanya Mella.


"Tentu saja, kau masih punya dua permintaan. Seperti yang pernah aku ucapan kepadamu waktu itu. Apakah kau sudah mempunyai permintaan kedua ?." tanya Jun sambil menatap kearah Mella.


"Ya, aku sudah memikirkan permintaan kedua itu." jawab Mella.


Kemudian Mella menghentikan mobil di pinggir jalan. Ia kemudian termenung sejenak setelah itu ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Jika kau sudah memikirkannya maka segera katakanlah. Aku akan berusaha mengabulkannya, asal jangan kau meminta aku menghidupkan kembali keluarga mu." ucap Jun.


"Jun, permintaan kedua ku adalah tolong beri aku kepandaian dan kecerdasan yang sangat luar biasa. Agar aku bisa menguasai semua ilmu pengetahuan yang ada di muka bumi ini."


"Agar aku bisa membuktikan kepada seluruh dunia, bahwa keluarga ku tidak bersalah, terutama ayahku. Beliau adalah orang yang sangat baik." ucap Mella dengan meneteskan kembali air matanya.


"Aku akan mengabulkannya." jawab Jun.


"Benarkah ?." tanya Mella.


Jun, hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, Jun membawa Mella kesebuah perpustakaan yang sangat besar. Dengan kemampuannya Mella dapat menyerap semua ilmu pengetahuan yang tercatat di dalam buku-buku yang berada di dalam perpustakaan itu.


Tubuh Mella seperti sebuah magnet yang mampu menyerap seluruh ilmu pengetahuan yang tercatat dalam perpustakaan itu. Dalam sekejap Mella bisa merasakan dan mengingat semua catatan-catatan tersebut.


Setelah itu, Jun membawa Mella kesebuah laboratorium agar Mella bisa melakukan eksperimen dari penemuannya.


"Nona sekarang saatnya kita membuat sebuah bukti dimana ayahmu tidak bersalah." ucap Jun.


"Bagaimana caranya ?." tanya Mella dengan bingung.


"Nona, kau kini bukanlah Mella yang dulu. Kini kau adalah Mella yang baru, Mella si jenius yang bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain berkat ilmu pengetahuan yang kau miliki."


"Jadi kau bisa mentransfer seluruh ingatan mu tentang kejadian yang sebenarnya. Kau bisa menyimpannya sebagai sebuah video dalam sebuah file."


"Setelah itu tinggal kau serahkan video tersebut kepada yang berwajib, dan kau tinggal menemui saksi mata sebagai penguat tuntutanmu di pengadilan nanti." jelas Jun.


Mella tersenyum mendengar penjelasan Jun. Ia segera bangkit dan mencium kedua pipi Jun setelah itu ia memeluknya dengan sangat erat.


"Terimakasih Jun, terimakasih untuk semuanya." ucap Mella sambil tetap memeluk tubuh Jun.


Jun terkejut melihat reaksi Mella. Wajahnya merah merona seperti udang rebus, jantungnya berpacu lebih kencang dan reflek ia membalas pelukan Mella.


'Mella kau memelukku ? bahkan kau mencium pipiku. Ah rasanya tubuh ini melayang terbang tinggi ke awan. Mella apa sebenarnya yang terjadi ? apakah aku mulai mencintaimu ?.' batin Jun sambil menepuk-nepuk pundak Mella.


"Sekarang mulailah kerjakan apa yang ingin kau kerjakan. Jangan sampai fajar menyingsing dan para manusia yang biasanya berada di sini datang." ucap Jun.


Sebenarnya ia tak ingin melepaskan pelukan ini, tetapi ia harus ingat akan apa yang harus ia lakukan untuk mengabulkan permintaan Mella.


Membuktikan bahwa ayah Mella tidak bersalah. Beliau adalah korban bahak keluarganya juga menjadi korban.


Mella melepaskan pelukannya dan kembali mencium pipi Jun. Tersenyum reflek ia menunjuk bibir sebagi kode bahwa ia ingin dicium di tempat itu.


Tanpa pikir panjang Mella melakukannya, meskipun hanya sepintas lalu namun hal itu membuat Jun hampir pingsan. Tubuhnya terasa sangat ringan dan kemudian ia jatuh kelantai sambil menyentuh bibirnya.


Hal itu tidak diketahui oleh Mella. Kerena Mella sudah serius menatap ke layar monitor yang ada di hadapannya.


Ia memejamkan matanya, menggenggam sebuah alat yang akan ia gunakan untuk mentransfer semua ingatan tentang peristiwa yang terjadi saat itu.


"Jun, tolong bantu aku !." ucap Mella.


Jun yang sedang pingsan dilantai langsung bangkit saat Mella menyebut namanya. Dengan sigap ia membantu mewujudkan keinginan Mella.


Dengan cepat, ia mentransfer kekuatannya. Mentransfer ingatan Mella kedalam komputer sebelum mengubahnya menjadi sebuah video.


Hal itu berlangsung cukup lama, karena Mella hampir tak kuasa menguasai dirinya. Saat mengingat kembali peristiwa dimana ayahnya disiksa dan dipaksa untuk melakukan bom bunuh diri.


Terlebih saat mengingat bagaimana mereka dengan kejinya merenggut kesucian kakak kandungnya dihadapan kedua orang tuanya yang sudah tidak berdaya.


Hal itulah yang akhirnya membuat hati ayahnya luluh dan mau mengikuti kemauan bedebah itu. Namun ditengah perjalanan ayahnya berubah pikiran, sehingga ia menyerahkan dirinya kepada Polisi yang bertugas.


Dengan cara menunjukkan bom yang ada ditubuhnya, hal itu beliau lakukan dengan sangat apik sehingga terlihat seolah-olah beliau terdeteksi sebelum sempat melakukan bom bunuh diri.


Dengan cepat beliau ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Hal itu beliau lakukan karena tidak ingin ada korban lagi, beliau ikhlas keluarganya saja yang menjadi korban asal tidak ada lagi, nyawa-nyawa yang tidak berdosa menjadi korban keserakahan seseorang yang tidak bertanggung jawab.