Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 22. I love you


Mella perlahan mendekati Gani. Ia mensejajarkan tingginya dengan Gani agar mempermudah komunikasi di antara mereka.


"Apakah Gani mengenal om itu ?." tanya Mella sambil menunjuk foto ayahnya.


Gani mengangguk, dengan tetap memperhatikan foto yang terpasang di dinding itu. Terlihat Gani mencoba mengingat sesuatu.


"Kalau tidak salah, om itu pernah menolong ayah dan ibu Gani, saat om Dul dan teman-temannya memaksa agar ayah dan ibu berjualan itu." ucap Gani dengan sedikit menyipitkan matanya.


"Pernah menolong ayah dan ibu Gani ?." tanya Mella.


"Iya, om itu yang menyelamatkan ibu dari teman-teman om Dul. Dan Gani dengar om itu sempat bilang akan melaporkan mereka ke polisi." jawab Gani.


"Lalu apa lagi yang Gani ingat ?." tanya Mella penasaran.


"Tidak ada, karena Gani dibawa pergi oleh om Dul." jawab Gani dengan jujur.


"Baiklah, jika Gani tidak mengetahuinya. Itu adalah ayah kak Mella dan yang itu ibu dan juga kakaknya kak Mella."


"Jika Gani mengingat sesuatu, bisa ceritakan dengan kakak. Tapi jika Gani ingin beristirahat, Gani boleh beristirahat agar Gani bisa tumbuh dengan sehat." ucap Mella.


Gani mengangguk, kemudian ia melangkah sambil menguap menuju ke kamarnya. Sementara Mella melangkah keluar bersama dengan Jun.


Keduanya duduk di bangku yang ada di halaman. Menikmati suasana dan kesejukan udara malam dibawah cahaya rembulan.


Bercerita dan bercanda, berbincang-bincang tentang peristiwa yang mereka alami hingga kedekatan mereka selam ini.


"Jun, terimakasih atas semua waktu yang kau berikan selama ini." ucap Mella dengan tulus.


"Jangankan waktu jiwa raga ini siap aku berikan untuk mu." jawab Jun dengan tersenyum tulus.


Mella yang mendengar gombalan dari Jun, ikut tersenyum. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka berdua.


Sepanjang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Meskipun hanya sebuah gombalan dari mulut manis mereka, keduanya sama-sama sangat berbahagia sekali.


Disaat keduanya sedang menikmati suasana bahagia. Dul yang merupakan orang kepercayaan Jendral Pranoto, memperhatikan dari jauh.


Hanya saja ia melihat Mella yang duduk seorang diri sambil tersenyum menatap bulan yang bersinar terang, memberikan cahaya pada alam semesta ini.


"Apa yang gadis itu lakukan ?. Ini adalah saat yang tepat untuk menangkap gadis itu." ucap Dul.


Kemudian ia melemparkan sebuah botol kearah Mella, namun dengan cepat ditangkis oleh Jun. Sehingga botol tersebut kembali ke arah Dul tanpa ia ketahui.


"Mengapa aku meras sedikit pusing, dan mengapa semuanya terasa gelap ? bukankah hal ini seharusnya terjadi kepada Mella ?." ucap Dul sambil menggelengkan kepalanya agar lebih baik.


Perlahan namun pasti, Dul mulai pusing kemudian ia terjatuh dan pingsan di tempatnya. Senjata makan tuan, itulah kata yang tepat untuk Dul.


Maksud hati ingin membuat Mella pingsan dengan botol yang sudah ia isi dengan obat bius, yang jika menguap maka orang disekitarnya bisa pingsan karena menghirup udara dari obat tersebut.


Dengan mudahnya Jun, mengingat tubuh Dul di tiang teras rumah, kemudian ia mengambil beberapa barang berharga serta dompet milik Mella.


Setelah semuanya siap, Jun meletakkan barang-barang tersebut dibalik baju Dul. Setelah itu ia meminta Mella untuk memanggil petugas keamanan yang berjaga.


Dengan alasan ada pencuri dirumahnya yang kebetulan saat ini sedang pingsan karena ia berhasil memukul pencuri tersebut.


Disaat petugas datang, kebetulan Gani terbangun karena suara berisik yang berasal dari luar. Ia segera keluar untuk melihatnya.


"Nona, ini barang-barang milik anda, dan kami akan membawanya sebagai barang bukti dan juga pencuri ini ke kantor polisi." ucap petugas keamanan itu.


"Tunggu !." teriak Gani.


Kemudian Gani berlari dan mendekati pamannya yang kini telah diborgol kedua tangannya.


"Om, katakan dimana ayah dan ibuku ?." tanya Gani sambil menatap wajah Dul.


"Kedua orang tuamu sudah mati dan pergi ke neraka." jawab Dul dengan cuek.


"Om bohong! ayah dan ibu tidak mungkin mati, Om berbohong !." teriak Gani.


Namun Dul malah tertawa terbahak-bahak, melihat Gani yang menangis dengan histeris karena ucapan dari Dul.


"Jangan berkata bohong, katakanlah yang sebenarnya kepada Gani. Kasihan ia masih terlalu kecil untuk berpisah dari kedua orangtuanya." ucap Mella.


"Kalian berdua adalah anak-anak yang bernasib sama, sama-sama yatim piatu." ucap Dul tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Om bohong !." ucap Gani sambil berjalan mundur dengan berurai air mata.


Setelah itu ia berbalik dan berlari menuju kamar. Ia tidak ingin mendengar apapun dari mulut pamannya itu.


Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tidak percaya bahwa saat ini, ia telah menjadi yatim piatu.


Gani menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Sementara Mella mengurus laporan pencurian yang dilakukan oleh Dul. Agar Dul segera diproses oleh pihak kepolisian.


"Mella, hidup ini begitu kejam bukan ?. Asala kau tau jika orang tua Gani adalah penyebab peristiwa yang dialami oleh keluarga mu."


"Tapi kau malah menolong anak dari orang yang menyebabkan kehancuran keluargamu. Hahahaha!." ucap Dul sebelum ia dimasukkan ke dalam penjara.


Mella hanya tersenyum, ia mencoba berfikir apa yang baru saja dikatakan oleh Dul. Tetapi ia mencoba mengabaikan perkataan Dul.


Setelah selesai mengurus semua hal tentang pencurian yang dilakukan oleh Dul, Mella segera kembali kerumahnya.


Setelah tiba di rumah, ia mencari Gani. Terlihat Gani tertidur dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


Dengan lembut Mella membenarkan posisi Gani, mengusap air matanya setelah itu menyelimuti tubuh Gani.


Setelah memastikan keadaan Gani, barulah Mella keluar dan ia segera masuk keluar dari dalam kamarnya.


Ia merebahkan tubuhnya di kursi ruang keluarga, menjadikan paha Jun sebagai bantal sambil menatap kearah foto yang ia pajang belum lama ini.


"Jun, apakah sebenarnya yang terjadi ? mengapa Dul mengatakan bahwa orang tua Gani sebagai penyebab kehancuran keluarga ku ?." tanya Mella.


"Mungkin konflik antara ayah dan Jendral Pranoto ada hubungannya dengan orang tua Gani. Dan bukankah Gani mengatakan bahwa ia pernah melihat ayah menyelamatkan ibunya dari anak buah Jendral Pranoto." ucap Jun.


Dengan lembut Jun membelai lembut wajah Mella, dengan penuh kasih Jun menyanyikan sebuah lagu untuk Mella.


Ia ingin agar gadisnya itu cepat terlelap dan segera menjemput mimpi indahnya. Ia ingin agar gadis yang telah memiliki hatinya itu bisa beristirahat dengan tenang dan melupakan sejenak apa yang terjadi.


"I love you Arjuna ku." ucap Mella sambil tersenyum.


Kemudian ia mulai memejamkan matanya. Namun Jun yang mendengar apa yang dikatakan oleh Mella tidak rela jika pujaan hatinya itu belum mengulangi apa yang baru saja ia ucapkan untuknya.