
Seluruh penghuni gudang itu menjadi kocar-kacir sendiri. Ada yang segera keluar untuk menyelamatkan diri dan ada juga yang mencoba menyelamatkan barang-barang berharga mereka sebelum keluar.
"Tunggu ! jangan dengarkan suara itu. Aku sudah memeriksanya dan aku tidak melihat ada siapapun di luar sana."
"Mungkin ini hanya sebuah jebakan. Jadi tenangkan diri kalian jangan mau dibodohi." ucap sang pemimpin.
"Tapi bos tadi aku melihat ada hantu di ruangan itu." ucap salah satu dari mereka.
"Hantu mana ada hantu disiang bolong !." jawab pimpinan mereka.
"Benar tuan, bahkan aku tau itu hantu siapa." ucap Melly yang baru saja sampai ke tempat itu.
Semuanya melihat ke arah Melly, termasuk Jun. Ia tak habis pikir ternyata Melly masih setia terhadap mereka. Jun hanya menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang kau maksud ?." tanya sang pemimpin.
"Itu adalah hantunya pak Harun. Bahkan semalam bos Dul dan saya juga diteror saat ingin menyelidiki rumah Mella anak pak Harun itu." jawab Melly.
"Anak pak Harun ? gadis bau kencur yang telah memenjarakan bos kita ?." tanya pria itu.
Melly mengangguk kemudian menceritakan semua yang mereka alami semalam, sehingga kini Dul harus dirawat di rumah sakit.
"Saya hitung sampai tiga, jika tetap tidak ada yang sayang dengan nyawanya maka silakan menikmati rasanya jadi daging panggang."
" Satu !." ucap Jun mulai menghitung waktu sebelum ia membakar tempat terkutuk itu.
Sebenarnya ia ingin segera membakar tempat tersebut, namun ia masih tidak tega karena banyak nyawa didalamnya.
"Dua !."
Banyak yang sudah berhasil keluar dan masih saja ada yang tidak mau mendengarkan peringatan dari Jun.
"Tiga !." ucap Jun.
Kemudian ia terbang keatas gedung dan menjatuhkan sebuah korek api yang sudah menyala. Tak lama kemudian tempat itu mulai terbakar karena sudah disiram bensin sebelumnya.
Barulah mereka yang berada didalam gedung itu lari tunggang-langgang untuk menyelamatkan nyawanya tanpa memikirkan nasib yang lainnya.
Dengan cepat api semakin membesar, membakar semua yang ada. Ribuan ton barang haram itu terbakar. Asap hitam mengepul di udara.
Kebakaran hebat itu membuat orang-orang berdatangan untuk menyaksikan apa sebenarnya yang terjadi dan mengapa gudang tua yang ada ditengah-tengah hutan itu bisa terbakar.
Dengan cepat para warga mengambil foto, video bahkan ada yang melakukan live streaming demi konten mereka.
Anak buah Jendral Pranoto berusaha untuk memadamkan api. Mereka menghubungi pemadam kebakaran untuk membantu mereka.
Dengan cepat mobil pemadam kebakaran datang untuk memadamkan api. Namun air yang seharusnya untuk memadamkan api justru menyiram anak buah Jendral Pranoto sendiri yang sedang berusaha untuk memadamkan api.
"Brengsek apa yang kalian kerjakan ! padamkan apinya bukan malah menyiram kami." ucap sang pemimpin dengan emosi karena sudah basah kuyup.
Mella dan Jun hanya tersenyum melihatnya. Mereka dengan iseng mengerjai petugas pemadam kebakaran. Jun mendatangkan seekor ular dan memintanya untuk masuk ke dalam celana sang petugas.
Tentu saja sang petugas yang berada didalam mobil pemadam itu lari terbirit-birit karena menghindari serangan ular.
Anak buah Jendral Pranoto berusaha mengendalikan mobil pemadam itu. Tapi lagi-lagi airnya bukan memadamkan api malah menyiram mereka sendiri.
Bagi warga kebakaran ini sungguh menguntungkan, karena tempat mereka bisa bersih dari barang-barang haram itu tanpa campur tangan mereka.
Para pembuat konten juga merasa puas karena mendapatkan informasi yang media dan pemerintah belum mengetahuinya atau sebenarnya pura-pura tidak mengetahui hal tersebut.
Mella mengajak Jun untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Ia sudah cukup puas karena telah menghapus kenangan yang pahit untuk sang ayah.
Dengan gemetar Mella menyimpan jam tangan milik sang ayah. Hanya itu satu-satunya barang peninggalan sang ayah.
Karena rumah mereka beserta isinya sudah disita oleh pemerintah dan telah dilelang dan kini semua barang-barang itu termasuk rumah mereka telah menjadi milik orang lain.
Betapa sakitnya hati Mella saat teringat kejadian itu. Sebuah peristiwa yang tidak mungkin ia lupakan seumur hidupnya.
"Apakah kau ingin memiliki rumah itu kembali ?." tanya Jun.
"Apakah kau bisa mewujudkannya ?.' tanya Mella.
"Tentu saja, ucapkanlah permintaan mu yang ketiga. Ucapkan bahwa kau ingin memiliki rumah itu beserta barang-barangnya sebagai permintaan mu yang terakhir."
"Maka semuanya akan terjadi dengan mudah. Aku bisa mengabulkannya asal jangan kau meminta aku untuk menghidupkan kembali seluruh keluarga mu." jawab Jun.
"Tidak, aku tidak ingin memiliki rumah itu lagi tanpa seluruh keluarga ku." jawab Mella.
'Syukurlah jika begitu aku masih mempunyai waktu untuk bersama mu.' monolog Jun.
Mella tersenyum pahit, sebenarnya ia sangat menginginkan rumah itu kembali. Tapi jika ia bisa memilikinya maka semua kenangan indah dan juga kenangan pahit yang dialami oleh keluarganya akan terbayang setiap saat.
Rasanya akan sungguh menyakitkan dibandingkan saat ini ia tinggal di rumah barunya. Ia harus belajar mengikhlaskan semuanya. Biarlah takdir ini memberikan pelajaran berharga untuk dirinya dan juga orang lain.
Agar tidak mudah mengambil sebuah keputusan sebelum mengetahui kebenarannya. Mella menghapus air matanya dan melanjutkan perjalanannya.
Hari ini ia tidak ingin pergi kesekolah. Ia ingin mengunjungi keluarganya. Ia ingin bercerita tentang semuanya.
Tentang Gani dan juga keluarganya dan tenang kebakaran yang melanda gudang terkutuk itu. Mella melajukan mobilnya menuju kepemakaman umum.
Ditengah-tengah perjalanan Mella melihat paman dan juga bibinya sedang terburu-buru. Ia penasaran tetapi ia tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka.
Mella tidak ingin hatinya terluka kembali, karena mereka sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Mella.
Mereka telah memutuskan hubungan persaudaraan diantara mereka. Terbayang kembali bagaimana mereka mengusir Mella waktu itu.
"Apakah mereka harus aku hukum ?." tanya Jun.
"Tidak, sehina apapun mereka tetap saudara ku. Biarlah mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan."
"Aku tidak mau menambah luka ini. Yang lalu biarlah berlalu. Aku ingin memulainya dari awal. Aku adalah Mella si yatim piatu yang tidak mempunyai seorang saudara pun." jawab Mella dengan suara bergetar.
Hal itu membuat Jun merasakan sakit yang luar biasa. Ia bisa membayangkan bagaimana perlakuan mereka terhadap Mella sehingga Mella bisa berkata seperti itu.
"Baiklah tapi hapuskan air mata mu. Ukir lah senyum indah diwajah mu. Buktikan bahwa kamu benar-benar ikhlas dengan semua ketetapan Allah dalam takdir mu." ucap Jun sambil memeluk tubuh Mella.
Ia tau hal ini sangat sulit bagi Mella, tetapi Mella harus bisa menjalani semuanya dengan ikhlas dan lapang dada.