Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 31. Kepergian Nelly


Setelah semua siap Jendral Pranoto segera membawa Nelly ke kamar Mr.R yang sudah menunggunya.


"Om apakah menjadi seorang pelayan harus berpenampilan seperti ini?." tanya Nelly yang sedikit risih dengan pakaian yang terbuka itu.


"Tentu saja, kita harus menyesuaikan tempat dimana kita bekerja. Kau akan melayani tamu disebuah hotel bintang lima."


"Dimana tamu itu adalah orang yang sangat kaya raya dan merupakan orang yang berpengaruh di negaranya dan negara kita."


"Jadi kau harus merubah penampilan mu agar tidak memalukan. Sebagai seorang pelayan yang profesional kau harus menyesuaikan penampilan mu." jelas Jendral Pranoto.


Nelly mengangguk, ia berfikir begitu juga. Bagaimana jika ia berpenampilan seperti biasanya dan masuk ke sebuah hotel, pasti ia dikira tukang sampah atau bahkan seorang pengemis.


Setelah sampai, Nelly dibawa menemui Mr.R disebuah kamar hotel khusus pelanggan VIP. Nelly begitu terpesona saat melihat kemewahan hotel tersebut.


Jantungnya berdetak kencang, ia sangat gugup sekali. Ini adalah pengalaman pertamanya keluar tanpa didampingi oleh kedua orang tuanya.


Apalagi ia akan memulai bekerja, dan hal yang membuatnya gugup adalah ia harus melayani seorang pejabat negara.


"Om apa yang harus aku lakukan nanti ?." tanya Nelly untuk mengatasi rasa gugupnya.


"Kau hanya perlu menuangkan minuman yang sudah tersedia didalam sana, sedikit demi sedikit. Dan kau tinggal mengikuti perintah dari tamu itu." jawab Jendral Pranoto.


Nelly mengangguk lagi, hanya menuangkan minuman itu hal yang sangat mudah pikirnya. Ia tidak menyadari bahaya sedang mengintainya.


Seekor singa buas sedang menunggunya, ingin segera mencabik-cabik tubuhnya yang masih sangat suci itu.


Setelah mengetuk pintu dan menyerahkan Nelly, Jendral Pranoto segera pergi meninggalkan Nelly dan juga Mr.R.


Mr.R memperhatikan Nelly dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sungguh sempurna, sesuai yang ia inginkan.


"Tuan apakah tuan mau saya tuangkan minuman itu ?." tanya Nelly mencoba memberikan pelayanan terbaik pikirnya.


"Tentu saja manis, mari kita minum bersama." jawab Mr.R.


Nelly melangkah perlahan, dan mengambil minuman yang telah tersedia. Setelah menuangkannya Nelly memberikan gelas kecil itu untuk Mr.R.


Dengan cepat Mr.R menenggak minuman itu dan segera menarik tubuh Nelly. Ia sudah tidak sabar ingin menikmati mangsa yang ada didepannya.


Nelly terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri, namun kekuatan Mr.R jauh lebih kuat dari pada tenaganya.


Dengan kasar Mr.R merobek pakaian yang Nelly kenakan. Sehingga tinggal pakai dalamnya saja. Nelly berteriak dan meminta pertolongan.


Namun siapa yang bisa mendengar teriakannya, ruangan yang kedap suara itu menenggelamkan jeritan dan tangisnya.


Nelly tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia baru sadar bahwa perkataan kedua orang tuanya adalah benar adanya.


Seandainya ia menuruti perintah kedua orang tuanya, maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Tapi masih telah menjadi bubur. Kini Nelly hanya bisa meratapi nasibnya.


Menjadi pelampiasan nafsu lelaki hidung belang. Merelakan takdir yang begitu kejam untuk dirinya. Setelah beberapa kali menikmati pelepasannya. Mr.R meninggalkan Nelly yang lemah dan tak berdaya.


Tak cukup sampai di situ penderitaan yang Nelly alami. Tak lama setelah Mr. R pergi, Jendral Pranoto datang dengan seorang gadis cilik.


Gadis itu adalah Melly, anak gelandangan yang menjadi pesuruhnya. Jendral Pranoto meminta Melly untuk membersihkan tubuh Nelly.


Setelah itu mengganti seprai yang ternoda bercak merah darah dari Nelly. Setelah selesai Melly keluar meninggalkan Nelly yang setengah sadar itu.


Tak menunggu lama, Jendral Pranoto memulai aksi bejatnya. Ia melampiaskan nafsunya yang sejak tadi ia tahan. Tak perduli bagaimana kondisi Nelly. Yang ia pikirkan hanyalah menyalurkan hasratnya.


Nelly tak bisa berbuat apa-apa, bayangan kedua orang tuanya dan juga Gani adiknya terlintas dalam benaknya.


Penyesalan yang teramat dalam, seandainya ia mendengarkan nasihat kedua orang tuanya pasti ia tidak akan seperti ini.


Seharusnya ia percaya bahwa tidak ada pekerjaan dengan hasil yang besar tanpa pengalaman kerja. Dan tidak ada pelayan dengan hasil yang besar kecuali menjadi pelayan lelaki hidung belang.


Perlahan Nelly menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan sebuah penyesalan yang mendalam. Hidupnya harus berakhir di tangan dua lelaki hidung belang.


Tubuhnya yang masih belia tak sanggup menahan perlakuan-perlakuan kasar para lelaki yang menjadi budak setan itu.


Tanpa kata, hanya air mata yang membasahi wajahnya sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.


Setelah hasratnya tersalurkan barulah Jendral Pranoto menyadari bahwa gadis remaja yang ia tiduri itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Dengan cepat ia segera merapikan penampilannya dan segera memanggil orang-orang kepercayaannya. Mengantarkan jenazah Nelly ke rumah Dul yang merupakan paman dari Nelly beserta uang yang diberikan oleh Mr.R.


Dul yang tidak mengetahui duduk permasalahannya menjadi bingung saat menerima jenazah keponakannya itu.


Dengan tangan gemetar Dul segera menghubungi kedua orang tua Nelly. Dan menyampaikan berita duka kerena Nelly telah pergi untuk selamanya.


Bagaikan disambar petir, kedua orang tua Nelly tak menyangka bahwa putrinya akan kembali kepangkua nya tanpa nyawa hanya tinggal jasadnya saja.


Melihat kondisi tubuh sang putri membuat kedua orang tuanya pingsan. Mereka melihat begitu banyak luka lebam dan tanda-tanda merah bekas bercinta dan masih tercium aroma ****** seorang lelaki.


Dul tak bisa menjelaskannya, kini ia sadar bahwa keponakannya telah menjadi pelampiasan nafsu lelaki hidung belang dari luar negeri itu.


Hanya saja ia tidak menyangka bahwa keponakannya akan pergi begitu cepat. Sebenarnya jauh dari lubuk hatinya yang terdalam ia merasa menyesal mengapa harus keponakannya yang menjadi korban.


Tapi apa daya ia tak mampu mencegahnya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah segera mengurus pemakaman Nelly dan segera menutup kasus ini agar tidak ada yang membahayakan keselamatannya.


Dengan bantuan orang-orang Jendral Pranoto, Dul memakamkan Nelly, setelah itu ia mengurus kedua orang tuanya agar segera mendapatkan pertolongan medis.


Ia juga membawa Gani, agar ia bisa membantu mengasuhnya selama kedua orang tuanya dirawat di rumah sakit.


Karena begitu terpukul atas peristiwa yang menimpa anak sulungnya, kedua orang tuanya Nell dalam kondisi yang sangat kritis.


Sementara Gani tidak tau apa-apa, yang ia tau bahwa ayah dan ibu sedang pergi karena urusan pekerjaan, sehingga ia harus tinggal bersama pamannya.


Tak terasa sudah satu Minggu berlalu sejak kepergian Nelly. Kedua orang tuanya juga sudah lebih baik kondisinya. Namun mereka berniat untuk menuntut balas atas kematian anaknya Nelly yang begitu tragis.