
Mella dan Jun segera kembali meskipun sedikit kecewa, namun mereka tidak berputus asa, mereka masih punya bukti dimana kejadian pahit itu menimpa keluarga Mella hingga sang ayah terpaksa menuruti perintah Jendral biadab itu.
Sementara Jendral Pranoto tidak mau menerima kekalahannya itu. Ia meminta anak buahnya untuk membunuh Mella.
Ia tidak ingin jika nama baiknya akan hancur hanya karena gadis bau kencur seperti Mella. Bahkan ia akan memberikan imbalan yang sangat fantastis jika bisa membawa Mella ke hadapannya hidup atau mati.
Tentu saja hal itu membuat anak buah sang Jendral gelap mata. Dengan sangat yakin mereka akan membunuh Mella dengan cara menabrak mobil yang dikendarai oleh Mella.
Mereka segera pergi menyusul mobil yang dikendarai oleh Mella. Tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung tancap gas saat melihat mobil yang mereka cari tepat berada di depannya.
Dengan sangat yakin, mereka menambah kecepatan mobil mereka agar bisa segera menyelesaikan tugas mereka untuk menghabisi Mella.
Saat mobil mereka melaju dan hampir menyentuh mobil Mella, tiba-tiba saja mobil yang dikendarai oleh Mella terbang, sehingga mobil itu salah sasaran.
"Gila bagaimana ini bisa terjadi ? mana mungkin mobil bisa terbang." ucap anak buah Jendral Pranoto tanpa bisa mengurangi kecepatan mobilnya.
Bukannya mobil Mella yang mereka tabrak tetapi mobil lain yang ada di depan mobil Mella. Mobil mereka langsung ringsek karena kecepatan yang begitu tinggi.
"Jun apa yang terjadi ?." tanya Mella saat melihat sebuah kecelakaan maut di depannya.
"Kecelakaan akibat main kebut-kebutan". jawab Jun asal.
Mella tak ambil pusing, ia kembali memejamkan matanya sambil bersandar. Ia masih kecewa dengan keputusan hakim.
Karena masih menunda keputusannya. Mella menyesal karena hingga saat ini belum menyerah video dimana kejadian tragis itu menimpa keluarganya.
Tak terasa mereka hampir saja sampai di rumah. Namun lagi-lagi mobil yang mereka kendarai malah melaju ke arah yang berbeda. Karena Jun melihat ada beberapa mobil yang sudah menunggu mereka di dekat rumah.
Sehingga mobil-mobil yang membawa anak buah Jendral Pranoto hanya bisa bengong, melihat mangsanya lepas begitu saja.
Mereka merasa kecewa sehingga ingin membakar rumah milik Mella. Mereka segera mengambil bensin yang sudah mereka siapkan.
Setelah itu segera menyiramkan bensin tersebut kerumah Mella, namun bukannya rumah Mella yang mereka siram tetapi mobil-mobil mereka sendiri.
Hingga mobil-mobil itu terbakar barulah mereka sadar akan tindakan konyol yang mereka lakukan. Mereka saling pandang satu sama lainnya.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ?." ucap salah satu dari mereka.
"Aku juga bingung." jawab yang lainnya.
Tak lama banyak warga yang berdatangan karena melihat sebuah kebakaran besar. Kemudian mereka beramai-ramai memadamkan api yang telah melahap mobil-mobil itu.
Saat mereka hendak meninggalkan tempat tersebut, terlihat mobil Mella memasuki pekarangan rumah. Mereka segera berputar arah menuju ke rumah Mella.
Lagi-lagi mereka dibuat bingung karena mereka tidak bisa memasuki perkampungan rumah Mella. Tubuh mereka seakan ada yang menahan.
"Apakah kau merasa ada yang aneh dengan rumah ini ?." tanya salah satu dari mereka.
"Iya aku merasa rumah ini dilindungi oleh sesuatu yang tak sat mata." jawab yang lainnya.
"Seratus buat Kalian ! kalian benar sekali." ucap Jun tanpa memperlihatkan wujudnya.
"Siapa yang baru saja bicara ?." tanya salah satu diantara mereka.
"Harun, apakah kalian ingin pergi ke rumahku ?, jika demikian berapa bom yang ingin kalian pakai untuk menghiasi tubuh kalian." jawab Jun dengan iseng.
"Mamamana mungkin kau bisa bicara ?." tanya salah satu diantara mereka sambil tak terasa celananya sudah basah akibat kencingnya sendiri.
"Aku bisa bicara karena aku ingin mengungkapkan sebuah kebenaran tentang bos kalian." jawab Jun.
Setelah itu, dengan kekuatannya ia menginginkan sebuah Bom ditubuh orang-orangnya Jendral Pranoto. Tubuh mereka semakin bergetar.
Mereka sangat ketakutan sekali, tiba-tiba ada sebuah bom yang sudah diaktifkan dan diikat di tubuh mereka secara bersamaan dan sewaktu-waktu bisa meledak.
"Bagaimana apakah ini seru ? apakah kalian menikmati permainan ini ?." ucap Jun sambil memutari mereka dan kalo ini AIA membawa sebuah tembak.
Sehingga anak buah Jendral Pranoto, semakin ketakutan sekali. Karena pistol itu bisa terbang dan kini memutari mereka.
Tentu saja mereka semua ketakutan sampai mereka semua kencing di celana. Melihat hal itu Jun semakin tertawa terbahak-bahak.
"Jika kalian ingin pergi, segera pergilah dan temui bos kalian. Bom yang ada di tubuh kalian tidak akan ada yang bisa melepaskannya."
"Kecuali aku sendiri yang akan melepaskannya. Jadi pilihan kalian ada dua, pertama kalian harus mengaku dihadapan hukum bahwa ayah Mella melakukan hal ini karena ancaman dari Jendral Pranoto."
"Dan jika hal itu kalian lakukan, maka bom itu akan terlepas dari tubuh kalian dan kalian pun bisa selamat."
"Dan begitu juga sebaliknya, Jadi silakan.nikmati permainan ini. Dan sampaikan salamku kepada Jendral Pranoto." jelas Jun.
Setelah mendengar penjelasan itu, mereka segera meninggalkan tempat tersebut guna menyelamatkan diri.
Ada yang berlari menuju rumah mereka, ada pula yang berlari menuju rumah Jendral Pranoto. Dengan terengah-engah anak buah yang berlari ke rumah Jendral Pranoto itu dengan ketakutan.
Bunyi detik dalam bom yang ada ditubuhnya membuat ia semakin ketakutan. Sang jendral kemudian meminta ahli penjinak Bom namun tetap tidak bisa mengatasi bom yang ada ditubuh anak buahnya.
Mereka berusaha untuk melepaskan bom tersebut namun juga tetap tidak bisa. Seolah bom tersebut telah menyatu dengan tubuhnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?." tanya Jendral Pranoto.
"Bos kata hantu itu, jika saya bersedia untuk mengakui semua kebenaran tentang kematian tuan Harun maka bom ini akan lepas dengan sendirinya."
"Namun sebaliknya jika saya berbohong dan tetap menyembunyikan kebenaran itu, maka bom ini akan meledak sewaktu-waktu."
"Bos tolonglah saya, saya mohon bos. Saya masih ingin hidup. Saya juga masih punya keluarga yang harus saya jaga bos." ucap anak buah Jendral Pranoto itu dengan bersimpuh memohon pertolongan dari orang yang selama ini ia bela.
"Aku akan menolong mu, berdirilah." ucap Jendral Pranoto.
Pria itu lalu berdiri dan sedikit menjauh dari majikannya. Kemudian ia mengucapkan terimakasih. Namun sang Jendral malah mengeluarkan sebuah pistol dan menembakkannya kearah anak buahnya itu.
Namun, sayangnya peluru itu, terjatuh bak membentur sebuah besi pelindung. Jendral Pranoto terkejut melihat hal tersebut.
"Bos Anada, anda ingin membunuhku ?." tanya pria itu dengan putus asa.