Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 30. Ingin bekerja


Mella memandang wajah wanita yang ada di depannya itu dengan seksama. Ia sangat penasaran bagaimana ceritanya wanita ini bisa bertemu dengan sang ayah.


"Ibu, bisakah ibu ceritakan bagaimana ayahku bertemu dengan ibu ? dan apakah ibu tau apa yang menyebabkan ayahku bermasalah dengan Jendral Pranoto itu ?." tanya Mella dengan serius.


Wanita itu terdiam beberapa saat, kemudian beliau menghela nafas panjang. Dan setelah itu barulah beliau mulai menceritakan semuanya yang beliau ketahui.


"Sebenarnya ayahmu tidak ada hubungannya dengan Jendral Pranoto. Bahkan ibu yakin beliau tidak pernah mengenalnya sama sekali."


"Semua berawal saat tanpa sengaja ayahmu melihat ibu dan suami ibu sedang di aniaya oleh anak buah Jendral Pranoto."


Wanita itu menghela nafasnya panjang, kemudian ia menghembusnya perlahan seperti sedang menata hatinya.


"Jendral Pranoto adalah seorang bandar narkoba dan juga terlibat dalam perdagangan manusia, khususnya perempuan."


"Anak ibu yang pertama adalah salah satu korbannya. Jendral Pranoto tanpa sengaja melihat wajah anak ibu saat mengantarkan makanan untuk pamannya Dul yang kebetulan adalah anak buah Jendral Pranoto."


\*\*\*\* Flashback\*\*\*\*


"Permisi ! Om, ini ada makanan dari ibu." ucap Nelly.


Tapi sayangnya tak ada jawaban dari dalam rumah, karena pintu sedikit terbuka, Nelly mencoba mengintip dari luar.


Terlihat di ruang tengah ada sebuah cahaya remang-remang dan terlihat ada beberapa orang yang sedang berbisik-bisik.


"Permisi ! Om, ini Nelly. Om ada dimana ?." panggil Nelly sekali lagi.


Namun lagi-lagi tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Nelly masuk untuk melihat siapa dan sedang apa mereka di dalam sehingga tidak mendengar panggilannya.


Nelly langsung menuju ruang tengah dimana ada beberapa orang yang sedang melakukan sesuatu.


"Diam aku tidak perduli apapun yang terjadi, bawa anak perawan untuk ku malam ini." ucap seseorang yang memiliki wajah bule.


"Baik tuan, anda tenang saja. Malam ini pesanan anda akan sampai tepat waktu." jawab Jendral Pranoto.


Setelah itu pria yang berwajah bule itu langsung bangkit dan meninggalkan ruangan itu diikuti oleh beberapa anak buahnya.


Sesaat ia melihat Nelly yang kebetulan masuk hendak mencari Dul pamannya. Kemudian ia memberikan kode kearah Jendral Pranoto. Setelah itu ia pergi entah kemana.


"Maaf jika saya mengganggu, saya hanya mencari paman saya Dul." ucap Nelly saat melihat Jendral Pranoto memperhatikannya dari atas sampai bawah.


"Oh tidak masalah, pamanmu Dul sedang keluar untuk membeli beberapa kebutuhan. Silakan duduk kita tunggu pamanmu bersama-sama." jawab Jendral Pranoto.


Kemudian dengan rasa takut dan cemas Nelly menuruti perintah Jendral Pranoto. Ia duduk di pojok sofa sambil *******-***** jarinya.


Jendral Pranoto memperhatikan Nelly dengan seksama, setiap inci tubuhnya tak luput dari perhatiannya.


"Apakah kau mau uang banyak gadis cantik ?." tanya Jendral Pranoto.


"Tentu saja, pasti semua orang menginginkan uang banyak. Tapi saya masih sekolah jadi belum bisa mendapatkan pekerjaan." jawab Nelly dengan jujur.


"Jika kau mau om bisa membantu mu untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak." jawab Jendral Pranoto dengan tersenyum licik.


Nelly mencoba memikirkan tawaran dari Jendral Pranoto. Ia berfikir pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang banyak tetapi tidak membutuhkan ijazah.


"Jangan bingung, pekerjaan mu hanya melayani seorang pelanggan saja. Jadi tidak perlu ijazah atau pengalaman kerja."


"Hanya melayani seseorang ? seperti membuatkan minum ?." tanya Nelly.


Jendral Pranoto mengangguk, ia tersenyum karena gadis remaja di depannya itu mulai masuk kedalam perangkapnya.


"Bagaimana apakah kau mau ?." tanya Jendral Pranoto.


"Baiklah jika hanya menjadi seorang pelayan aku pasti bersedia." jawab Nelly dengan senyum manisnya.


"Kalau begitu bersiaplah, kita akan segera berangkat." ucap Jendral Pranoto.


"Baiklah aku harus berpamitan kepada ayah dan juga ibuku. Tapi bagaimana dengan makanan ini ?." tanya Nelly.


"Pergilah dan segera berpamitan kepada ayah dan ibu mu. Semakin cepat semakin baik. Dan untuk makanan ini biarlah di situ saja, nanti saya yang akan menyampaikan kepada Paman mu." jawab Jendral Pranoto.


Tanpa ragu, Nelly mengiyakannya. Ia segera pergi meninggalkan ruang rumah itu dan segera berpamitan kepada ayah dan ibunya.


Disepanjang jalan ia berfikir setelah mendapatkan uang yang banyak ia akan membeli sebuah motor baru. Agar ia tak perlu lagi berjalan kaki untuk pergi ke sekolah.


Setelah sampai Nelly segera mengutarakan keinginannya untuk bekerja paruh waktu sebagai seorang pelayan.


Tentu hal itu membuat ayah dan ibunya tidak setuju. Bagaimana mungkin ada seorang pelayan yang digaji mahal apalagi belum lulus sekolah dan tidak mempunyai pengalaman kerja.


"Nak, siapa yang menawari mu pekerjaan itu ?." tanya sang ayah.


"Itu temannya paman Dul. Sekarang ia sedang menunggu Nelly." jawab Nelly dengan jujur.


"Teman pamanmu ! siapa dia nak ?." tanya sang ibu yang mulai khawatir dengan putrinya.


Nelly hanya menggelengkan kepalanya, ia lupa tidak bertanya siapa lelaki tadi yang telah menawarinya pekerjaan.


"Nak, jangan kau pergi kesana. Tidak semua teman paman Dul itu baik nak. Lebih baik kau bersembunyi di rumah saja dan jangan pernah keluar, di luar sangat berbahaya." ucap sang ayah dengan khawatir .


"Tapi yah, Nelly ingin bekerja agar bisa mempunyai motor baru." jawab Nelly dengan kecewa.


Ia tak rela jika impian yang sudah didepan mata, tak bisa ia raih. Padahal ia sungguh sangat menginginkan sebuah motor baru.


Tak perlu mahal yang terpenting ia bisa memiliki sebuah motor baru. Namun sang ayah malah melarangnya dengan alasan yang tidak masuk akal.


Dengan menghentakkan kakinya Nelly masuk kedalam kamarnya. Namun ia bukannya mendengar perkataan kedua orang tuanya, ia malah bersiap-siap secara sembunyi-sembunyi.


Setelah yakin aman, ia segera keluar dari kamar dan perlahan meninggalkan rumah menuju rumah pamannya.


Ia sangat ingin bekerja agar semua impiannya menjadi kenyataan. Nelly berjalan dengan tergesa-gesa karena takut ketahuan oleh kedua orang tuanya.


Setelah sampai ia segera menemui Jendral Pranoto. Ia mengatakan siap berangkat untuk segera bekerja agar segera mendapatkan hasil yang banyak.


Tentu saja hal itu disambut gembira oleh Jendral Pranoto. Ia segera membawa Nelly ke sebuah hotel bintang lima dimana kliennya sudah menunggu.


Sebelum itu ia membawa Nelly kesebuah salon kecantikan. Ia ingin mendandani Nelly agar Mr.R tidak kecewa dengan pesanannya.


Nelly yang kebetulan mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang sempurna, hanya perlu polesan sedikit saja sudah memperlihatkan kecantikannya yang natural.


Bajunya yang sedikit terbuka membuat benjolan di dadanya terlihat begitu menggoda. Seandainya itu bukan pesanan Mr.R tentu saja Jendral Pranoto tidak akan memberikan kepada orang lain sebelum dirinya mencicipi terlebih dahulu.