
Semua yang ada di ruangan itu memberikan hormat kepada seseorang yang baru saja datang, dan suasana menjadi hening. Orang tersebut memperlihatkan pak Harun dari atas sampai bawah, kemudian tersenyum.
"Jadi kau orang yang telah menyelamatkan mangsaku ?." tanya orang tersebut.
"Maaf maksud anda ?." tanya pak Harun bingung.
Orang tersebut kemudian melihat ke arah Dul, meminta agar ia menjelaskannya. Kemudian Dul menjelaskan semua hasil pengawasnya. Dan laporan dari mata-mata mereka.
Kondisi wanita yang diselamatkan oleh pak Pak Harun kini dalam kondisi koma dan tidak ada perkembangan sama sekali.
Dan Pak Harun terbukti menyelamatkan wanita tersebut dari sebuah rekaman video yang diambil oleh mata-mata tersebut.
"Kau telah membantu mereka, dan telah menyebabkan aku rugi besar. Untuk itu kau harus melunasi semua kerugian yang aku tanggung." ucap orang tersebut.
"Maaf saya masih belum mengerti mengapa menolong wanita itu membuat anda rugi besar ?." tanya Pak Harun.
Plak ! tanpa basa-basi salah satu dari mereka menampar wajah pak Harun. Wajah yang teduh itu menjadi merah karena bekas tamparan orang itu.
"Kau telah menyebabkan suami wanita itu mempunyai kesempatan untuk membakar barang dagangan kami, karena kami sibuk mengejar mu." ucap Dul.
Pak Harun hanya diam, apapun yang akan ia katakan pasti tidak akan bisa diterima oleh mereka. Pak Harun hanya beristighfar dalam hati dan memohon pertolongan dari Allah.
Kemudian Jendral Pranoto melangkah mendekati pak Harun dan mengelilinginya. Kemudian ia berhenti tepat di hadapan pak Harun.
"Kau hanya punya tiga pilihan, membayar tunai kerugian yang aku alami, atau menyerahkan dua gadis yang masih perawan untukku atau bisa juga kau melakukan perintahku untuk menghabisi rival Bisnisku." ucap Jendral Pranoto.
"Maaf tuan dari ketiga pilihan itu saya tidak dapat melakukannya semua. Saya hanya orang miskin dan saya tidak mungkin untuk menculik anak gadis orang apalagi untuk membunuh seseorang." jawab Pak Harun dengan jujur.
"Aku tidak menerima penolakan. Jika kau tidak mempunyai uang maka serahkan anak gadismu. Dan jika kau tidak mau keduanya maka kau harus melakukan apa yang aku perintahkan untuk membunuh rivalku itu."
"Kau jangan khawatir, kau hanya akan melakukan sesuatu arahan dari anak buah ku. Dan tanpa dicurigai oleh seseorang kau bisa membunuhnya dengan mudah." jelas Jendral Pranoto.
"Tapi tuan saya, ... ." ucap Pak Harun dihentikan oleh Dul.
"Lebih baik menuruti perintah Jendral Pranoto demi keamanan keluarga mu." ucap Dul.
Pak Harun hanya bisa menghela nafasnya, ia tidak tau harus berkata apa. Mana mungkin ia melakukan semuanya.
Seandainya ia mempunyai uang maka lebih baik ia membayar tunai kerugian yang dialami oleh Jendral Pranoto. Dari pada harus menyerahkan seorang gadis yang akan diperlakukan seperti apa oleh mereka. Atau bahkan menjadi seorang pembunuh.
Semuanya tidak dapat beliau lakukan. Beliau hanya bisa berharap sang Jendral berubah pikiran. Tapi beliau juga penasaran siapa orang yang menjadi rivalnya itu.
"Sekarang kau boleh pulang, dia hari lagi anak buahku akan datang meminta jawaban mu, bagaimana caranya kau membayar kerugian yang aku tanggung itu." ucap Jendral Pranoto.
Kemudian pak Harun dipersilahkan oleh anak buah mereka keluar dari tempat tersebut. Dan mereka berpesan agar pak Harun tidak macam-macam jika ingin keluarganya aman.
Dan pak Harun bertanya kepada mereka apa yang terjadi pada wanita itu. Dari keterangannya pak Harun baru mengetahui bahwa Jendral Pranoto terlibat dalam perdagangan manusia dan juga prostitusi.
Kini beliau akhirnya mengetahui mengapa ia diminta untuk menyerahkan dua gadis perawan, ternyata untuk bisnis haram tersebut.
Pak Harun kembali melanjutkan langkahnya. Beliau ingin secepatnya meninggalkan tempat tersebut. Namun lagi-lagi ia kembali harus berhenti karena ada sebuah kontainer yang menghalangi jalannya.
Ia berhenti dan memperhatikan apa sebenarnya yang dimuat dalam kontainer tersebut. Dari percakapan orang-orang yang sibuk itu beliau mengetahui bahwa barang-barang yang ada di dalam gudang tadi adalah narkoba dengan bermacam-macam jenis.
Pak Harun tak habis pikir, bukankah Jendral Pranoto sudah mempunyai jabatan yang tinggi yang pastinya kehidupan ekonominya jauh lebih baik daripada keluarganya.
Tapi mengapa beliau masih melakukan bisnis haram tersebut. Tanpa mau memikirkannya lagi pak Harun segera mencari jalan pintas untuk bisa segera sampai di rumahnya.
Setelah sampai beliau langsung menceritakan semuanya kepada istri dan juga anak sulungnya. Mereka bertiga hanya bisa berdoa semoga pak Harun dan keluarganya mendapatkan perlindungan dari Allah.
Setelah lebih tenang, pak Harun berinisiatif untuk melaporkan apa yang beliau lihat, dengan harapan Beliau bisa terlepas dari jeratan sang Jendral.
Beliau mendatangi kantor polisi untuk melaporkannya, dengan semangat dan sebuah harapan agar masalah yang beliau hadapi bisa teratasi tanpa merugikan siapapun.
Namun apa yang terjadi, laporan pak Harun ditolak dengan alasan tidak ada bukti yang mendukung laporan tersebut.
"Pak saya harap bapak lebih bijak lagi, untuk membuat laporan dan untuk menindaklanjuti laporan tersebut kami membutuhkan sebuah bukti. Tapi karena bapak tidak mempunyai bukti maka kami tidak bisa menerima laporan bapak." ucap polisi itu.
Tanpa bisa melakukan apa-apa lagi, pak Harun akhirnya meninggalkan kantor polisi tersebut. Saat beliau keluar dari kantor polisi beliau melihat salah satu anak buah Jendral Pranoto juga anggota kepolisian.
"Wajar saja jika laporan ku tidak mereka terima, ternyata ada di antara mereka yang merupakan anggota Jendral Pranoto." ucap pak Harun lirih.
Kemudian tanpa pikir panjang pak Harun meninggalkan tempat itu dan beliau menuju kesebuah masjid.
Beliau ingin mengadukan semuanya kepada sang pencipta. Beliau yakin akan kasih sayang Allah dan beliau yakin akan pertolongan dari Allah.
Dengan khususnya beliau mengadukan semuanya, semua masalah yang saat ini beliau hadapi. Tetesan air matanya sebagai bukti bahwa saat ini beliau benar-benar berada dititik yang paling berat.
Setelah semuanya selesai, beliau segera kembali kerumah. Dan menceritakan semuanya kepada sang istri.
"Pak bagaimana ?" tanya sang istri.
"Bu, ternyata laporan bapak di tolak dengan alasan bapak tidak mempunyai sebuah bukti. Padahal ternyata mereka adalah anggota Jendral Pranoto itu sendiri." jawab pak Harun dengan kecewa.
"Ya sudah pak, kita cari solusi lainnya. Semoga ada jalan keluarnya". ucap sang istri mencoba mendukung sang suami agar tidak berputus asa.
Tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Setelah dibuka ternyata Dul sudah berada di depan pintu.
Tanpa permisi Dul langsung masuk kemudian duduk di kursi sambil menyalakan sebatang rokok.