
Mella memasuki area sekolahnya yang baru, sekolah ini jauh lebih bagus dari yang ia bayangkan. Sebuah sekolah swasta yang terdiri dari pendidikan anak usia dini hingga universitas.
Sebuah pendidikan yang lengkap dengan bangunan dan fasilitas yang mewah dan luar biasa. Sangat jauh berbeda dengan sekolahnya yang lama.
Setiap satuan pendidikan dipisahkan oleh sebuah pagar, tetapi mereka bisa berinteraksi satu dengan yang lainnya.
Mella memerkirakan mobilnya setelah itu ia bertanya dimana ruang kepala sekolah, agar ia bisa segera mengikuti tes dan mendapatkan kelas untuk melanjutkan pendidikannya.
Ia disambut baik oleh orang-orang yang ia temui, para dewan guru dan juga kepala sekolah begitu menghormatinya.
Meskipun Mella adalah orang baru tetapi mereka begitu akrab seolah mereka sudah kenal lama.
"Mella, melihat dari hasil tes yang kau kirimkan dari pendaftaran online itu. Kami merasa perlu melakukan tes ulang lagi."
"Sebelumnya kami minta maaf, bukannya kami meragukan kemampuan yang kau miliki. Tetapi jika kau memang mampu maka kau akan mendapatkan kelas yang sesuai untuk mu." ucap sang Kepala sekolah.
"Maksud bapak bagaimana ? apakah hasilnya belum memenuhi standar ?." tanya Mella.
"Bukan begitu, nilainya sangat sempurna. Untuk itu kami harus melakukan tes ulang agar kau tidak salah dalam memilih kelas yang pas untuk mu." ucap sang kepala sekolah.
Mella mengangguk ia tak keberatan dengan tes ini. Apapun alasannya pasti kepala sekolah mempunyai tujuan yang baik, semoga saja begitu pikir Mella.
Setelah itu Mella diberikan beberapa soal oleh guru yang bertugas untuk memberikan tes ulang untuk Mella.
Dengan mudah Mella mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh pihak sekolah. Ia sama sekali tidak menemukan kesulitan apapun.
Sejak ia mempunyai pengetahuan yang luar biasa itu, ia seolah-olah mengerjakan soal-soal untuk anak TK. Semua ilmu pengetahuan telah ia serap dan kuasai dengan mudah.
Setelah melihat hasilnya, pihak kepala sekolah memberikan soal lagi untuk Mella dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Namun lagi-lagi Mella dengan mudah menyelesaikannya. Sang kepala sekolah tersenyum melihat hasil yang Mella kerjakan.
"Mella, karena kau telah lulus dari tes ini maka kami memutuskan bahwa kau tidak kami terima di sekolah SMA ini." ucap sang kepala sekolah.
"Maksud bapak saya tidak lulus ?." tanya Mella dengan bingung.
"Bukan, kau lulus dengan hasil yang sempurna. Seperti yang saya bilang tes ini untuk membantu mu menentukan kelas yang sesuai untuk mu."
"Hasilnya kau tidak layak masuk di SMA kami, karena kau lebih layak untuk masuk ke perguruan tinggi."
"Untuk ijasah SMA kau bisa mendapatkannya setelah kau mengikuti ujian tahun ini. Dan kau bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan surat keterangan dari sekolah kami." jelas kepala sekolah dengan tersenyum.
Mella sangat terkejut, ia bahkan bisa mendapatkan semuanya dalam satu kesempatan. Mendapatkan sekolah SMA dan juga universitas dalam satu waktu.
Setelah memahami maksud kepala sekolah, akhirnya Mella memilih melanjutkan pendidikannya ke universitas yang sama dengan sekolah itu.
Tak menunda waktu, Mella langsung diarahkan ke pihak universitas untuk melakukan tes masuk sekaligus melakukan tes kelas apa yang cocok untuk Mella.
Lagi-lagi Mella tidak menyangka akan hal itu. Mella benar-benar bahagia sekali dengan apa yang terjadi hari ini.
Memang tidak salah ia memilih sekolah ini. Sekolah yang benar-benar melihat kemampuan para siswa dan mahasiswa nya. Bukan dari kemampuan keluarga mereka.
Sekolah yang benar-benar mengutamakan ilmu pengetahuan para siswanya bukan kemampuan orang tuanya.
Setelah mengikuti serangkaian administrasi, saat ini Mella resmi menjadi salah satu siswa dan juga mahasiswa di yayasan pendidikan tersebut. Dan Mella bisa lulus SMA dan juga universitas dalam satu waktu di tahun ini.
Sebuah keajaiban yang Mella dapatkan, seandainya ayah dan ibu serta kakaknya masih hidup pasti mereka akan sangat bangga dengan prestasi Mella.
Tapi sayangnya semua pencapaian ini Mella dapatkan setelah mereka semua pergi meninggalkan ia seorang diri di dunia ini.
Mella akhirnya kembali ke apartemennya, ia beristirahat sejenak setelah beraktivitas hampir seharian di yayasan pendidikan itu.
Tak terasa ia terlelap, meninggalkan sejenak keinginannya untuk melewati jalan kehidupan yang masih panjang itu bersama Jun.
Sementara Jun sedikit lebih tenang melihat Mella yang tertidur pulas itu. Artinya saat ini Mella tidak akan mungkin mengucapkan permintaan terakhirnya.
Dan artinya ia masih bisa bersama dengan Mella untuk Waktu yang lebih lama, ya setidaknya sampai Mella ingat dengan permintaan terakhirnya itu.
Jun tersenyum, ternyata keputusan Mella untuk pindah ke kota L ini sangat tepat. Mella bisa diterima dengan baik oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal siapa Mella.
Tapi itu lebih baik dari pada mereka tau siapa Mella. Setidaknya Mella akan dilihat dari kemampuan yang ia miliki bukan dari keluarga mana ia berasal.
Sementara paman dan bibinya yang kini menempati rumah Mella, sedang berfikir bagaimana caranya agar mereka bisa memiliki rumah itu seutuhnya.
Mereka ingin merebut rumah itu dari tangan Mella. Keserakahan telah menguasai mereka berdua. Tapi mereka lupa bahwa masih ada orang-orang yang sama seperti mereka.
Terutama anak buah Jendral Pranoto yang kehilangan pekerjaannya karena gudang tempat mereka bekerja itu hangus terbakar.
Terutama Dul dan juga Melly. Sejak awal mereka ingin merebut rumah itu. Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Mella.
Karena menurut mereka rumah itu adalah rumah yang sangat istimewa. Dimana semua orang yang berniat jahat tidak bisa menyentuhnya.
Kini setelah mereka mengetahui bahwa yang tinggal di rumah itu adalah orang-orang yang tidak jauh berbeda dengan mereka.
Dul dan juga Melly menyusun rencana untuk merebut rumah itu dari tangan paman dan juga bibi Mella. Sama seperti paman dan juga bibi Mella yang mulai menyusun rencana untuk merebut rumah itu dari tangan Mella.
Keserakahan dan ketamakan seorang manusia akan sangat mengerikan dari seekor binatang. Jika seekor binatang sudah mendapatkan mangsanya maka mereka tidak akan pernah mau merebut mangsa binatang lainnya.
Atau mereka akan berhenti untuk berburu. Berbeda dengan manusia, selam mereka mampu mereka akan berburu sebanyak-banyaknya seolah-olah mereka lupa bahwa semua yang mereka buru itu tidak akan mereka bawa ke liang kubur.
Ketamakan dan keserakahan itulah yang akan mereka bawa untuk menghadap Tuhan sang pencipta Alam ini.