
"Ga bisa, Ra! Hati gue udah tertutup sama orang tak bertanggung jawab kek dia!" ucapnya, sambil menunjuk wajah Rivan dengan telunjuknya.
Zahra segera menurunkan jemari Revan yang mengarah tepat pada wajah Rivan. "Abang jangan nunjuk-nunjuk gitu dung, ga sopan!"
"Persetan sama kesopanan! Bersikap sama orang kek gini ga perlu sopan santun!" bentak Revan.
"Abang jangan ngomong kayak gitu. Apa Tante Kirana ngajarin Abang hal yang ga bener? Engga, kan? Tolong lah, apa sih yang membuat Abang sampai saat ini belum mau memaafkan Om Rivan? Kesalahan apa yang dibuat Om Rivan sampai Abang ga mau maafin?
"Gimana pun juga, jika kesalahan itu ga terjadi. Abang juga ga akan lahir. Om Rivan tetep ayah Abang. Tolong jangan kayak gini. Tolong jangan debat lagi, yah. Kami capek dengernya, kasian Kakek kalau harus denger kalian debat lagi. Zahra mohon ...."
Zahra berlalu dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, rasanya ia tak sanggup berdiri lebih lama di antara keduanya. Perselisihan antara ayah dan anak itu mengingatkan dirinya pada kedua orang tuanya, ia sangat merindukan mereka.
Ia masuk kembali ke kamar sang kakek. Wahyu yang belum sepenuhnya tidur hanya menatapnya dengan pandangan sayu. Gadis itu duduk di lantai, menangis di samping ranjang kakeknya. Ia menelungkupkan wajahnya ke bawah, menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan.
Sempat ia bayangkan. Kala itu, ia baru saja memberitahu Revan hal kecil terkait ayahnya. Namun, respon Revan membuat dirinya tak nyaman. Sama seperti saat ini, setelah keduanya dipertemukan. Sesuatu yang tak ingin menjadi kenyataan itu, nyatanya tak sesuai harapan. Rasa benci itu telah bercokol di hati, rasa yang tak seharusnya ada dan berkembang.
Wahyu hanya bisa mengusap kepala cucunya. Dirinya yang masih dalam keadaan lemah belum bisa terlalu banyak bergerak. Sedih rasanya, melihat cucunya yang lain dalam kepiluan. Jika saja fisiknya sedang baik-baik saja, ia pasti akan membenturkan kepala anak dan cucu nakalnya itu.
"Kek ... Zahra bingung bagaimana menyatukan keduanya? Maaf, kalau kedatangan Zahra ke sini menambah beban Kakek, tapi Zahra ga tahu harus mengadu sama siapa, Kek?? Zahra capek melihat orang bertengkar terus, Zahra pengen keluarga kita bersatu. Melihat mereka bertengkar, seperti melihat keluarga Zahra yang dulu.
"Maaf ya, Kek ... jika Zahra menambah pikiran Kakek. Kenapa Bang Revan juga susah maafin Om Rivan? Kurang apa pengorbanan Om Rivan selama ini?"
Dengan masih sesenggukan, ia mengangkat wajah. Memandang wajah sayu Wahyu, dapat ia lihat jika kakeknya juga merasakan kesedihan yang sama. Pastinya. Di saat usinya yang entah sampai mana akan bertahan, ia pasti berharap jika keturunannya dijauhkan dari segala percekcokan. Namun, di dunia itu tak ada yang sempurna. Hal seperti itu merupakan makanan sehari-hari.
Sering sekali, orang tua sedih bukan karena tidak diperhatikan oleh anaknya. Hal itu merupakan urusan ke sekian, jika melihat anak-anaknya terlibat perselisihan. Pikiran itu akan memenuhi otak dan mengakibatkan stres berkepanjangan. Apalagi jika sudah meninggal dan keturunan memperebutkan segala yang ditinggalkam, padahal telah dibagi secara adil. Orang yang tengah dalam tidur panjang itu, tidak akan bisa tidur nyenyak karena memikirkan ahli warisnya.
Meski orang tua sudah meninggal, bukan berarti jiwanya juga meninggal. Jiwanya masih memiliki kehidupan, seperti halnya manusia. Mereka juga merasakan sedih, senang, perasaan apa pun masih dapat mereka rasakan.
"Kek ... Nenek dan Tante Kirana pasti akan sedih sekali melihat pertengkaran mereka dari atas sana. Kek, nanti Zahra akan coba lagi mendamaikan mereka, tapi jika nanti tidak berhasil, Zahra minta maaf. Jika nantinya Zahra gagal."
Ia berdiri, mengusap sisa lelehan air mata yang masih membanjiri pipinya. Wahyu menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, mengisyarakatkan agar cucunya mau menemaninya beristirahat hingga ia terlelap nanti. Dengan harapan, ia tak lagi mendengar percekcokan yang akan berlangsung lagi bila mereka memulai lagi.
Zahra mengangguk, ia merebahkan tubuhnya di samping sang kakek. Menyelimutinya dan ikut memejamkan mata. Semoga semuanya membaik ketika ia bangun nanti. Ia menggantungkan harapan, ketika bangun nanti, mengharap semuanya baik-baik saja.
...***...
"Revan, apa yang menyebabkan kamu sangat membenci Papa? Tidak bisakah kamu memaafkan kesalahan Papa? Tolong Van, cuma kamu anak Papa. Setelah berpisah dengan Ibumu, hati Papa mati rasa.
"Papa tidak bisa mencintai wanita lain selain Ibumu, hanya kamu satu-satunya peninggalan Kirana yang tersisa. Tolong Van, beritahu Papa. Apa sesuatu yang membuat kamu begitu membenci Papa? Jika memang Papa bisa memperbaiki kesalahan itu, akan Papa lakukan. Papa akan lakukan apa pun supaya bisa dapat maaf dari kamu, Van!"
"Karena Anda, Mama saya meninggal!" ucap Revan dengan dingin.
"Revan, jika Ibumu meninggal, itu takdir. Takdir kami yang memang ditakdirkan tidak untuk bersama dan usia Ibumu juga pendek," balas Rivan dengan sedih.
"Tapi karena memikirkan Anda, Mama saya meninggal. Semua kesalahan Anda. Begitu tega Anda meninggalkan wanita hamil yang masih belia, membuat batinnya terluka. Itu semua karena kesalahan satu malam Anda! Jika saja, Anda tidak melakukan kesalahan itu Mama saya tidak akan meninggal," bantah Revan. Ia masih belum bisa menerima takdir jika ibunya telah pergi.
"Jika Papa tidak melakukan kesalahan itu, kamu tidak akan ada, Van," ucap Rivan dengan nada rendah.
Revan berdecih. "Saya juga tidak meminta lahir dari sumbangan benih Anda. Saya juga tidak ingin lahir dari kesalahan Anda!"
"Revan, tolong maafkan Papa. Papa saat itu masih belum bisa berpikir matang, Papa pengecut, Van. Iya, Papa salah dengan meninggalkan kamu dan Mamamu. Tapi, meskipun Papa sempat meminta Ibumu aborsi, sesungguhnya Papa juga ingin melihat Ibumu melahirkanmu. Papa tidak sungguh-sungguh memintanya aborsi, Papa hanya belum siap. Papa masih kelas 12 saat itu dan sebentar lagi akan ujian kelulusan."
Revan memukul rahang Rivan yang barusan berucap.
"Ujian kelulusan! Ha–ha–ha, Anda bisa ujian kelulusan dengan tenang. Sementara Mama saya, harus berdiam diri di rumah dan tak bisa lagi mengikuti sekolah karena perutnya yang semakin membesar. Bagaimana sebenarnya arti Mama saya bagi Anda, Tuan? Mama dihujat, dihina, sempat diusir juga dari tempat tinggalnya karena mengandung tanpa seorang suami.
"Sedangkan Anda dengan santainya ujian kelulusan? Di mana otak Anda? DI MANA?"
Revan sekali lagi menghantam rahang Rivan dengan keras, seketika terdekat bunyi retakan dari sana. Sudut bibir Rivan juga mengeluarkan darah. Sedangkan si target hanya terdiam, menerima setiap pukulan putranya dengan lapang dada. Karena ia berpikir, begitulah sang anak yang sedang meluapkan amarahnya pada ayahnya.
Napas Revan tampak memburu, ia menatap Rivan sengit. "Bagaimana jika Anda menyusul Mama saya pergi, agar saya dapat menerima maaf dari Anda? Anda juga bilang, masih mencintai Mama. Jika begitu, bukankah Anda senang, jika putra Anda ingin menyatukan kedua orang tuanya?" Ia tampak menyeringai.
Revan kini berjalan dengan pandangan tajam terarah pada ayahnya. Ia menampilkan senyum liciknya. Menampik kenyataan jika sang ayah ialah orang tuanya yang masih tersisa. Tapi, persetan dengan itu semua. Ia berjalan mendekati Rivan yang kini terduduk di lantai, akibat dari hantaman yang ia lakukan beberapa saat lalu.
"Revan, jangan! Papa tidak mengapa meninggal setelah mendapat maaf dari kamu. Tapi tolong, setidaknya berikan maaf mu pada Papa, agar kelak ruh Papa bisa pergi dengan tenang," ucap Rivan dengan serak menahan tangis.
"Apakah dengan memaafkan Anda, Ibu saya akan kembali? Akan hidup lagi?"
Revan membentak Rivan dengan cukup keras. Ia tidak tahu, jika ada beberapa pengawal yang berjaga di luar ruangan, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Maka, mereka segera mencegahnya. Bentakan itu juga membangun seorang gadis, yang tadinya tertidur nyenyak di samping kakeknya.