Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
53. Kembali ke Kampus


Hari ini semuanya kembali normal, Zahra dan Tria sudah akan kembali ke ranah pendidikan—menjadi mahasiswi kembali. Sedangkan Rio dan Rizki sudah kembali dalam dunia perkantoran sejak tanggal 2 Januari lalu.


Hari pertama masuk di ajaran baru, Zahra dan Tria berangkat diantar oleh Rio. Sekaligus menyelesaikan pendaftaran Tria, karena laki-laki itu sekarang menjadi wali juga untuk adiknya yang satu itu. Jadi, ia yang mengurus semuanya.


"Sayang, hari pertama kamu kuliah di sini, buat first impression yang baik, oke? Jangan kayak dia, tuh." Bibi menunjuk Zahra dengan dagunya, sedangkan gadis itu tengah terduduk dengan memandang serius ke arah ponselnya. Tria hanya terkekeh mendengarnya.


"Ya masa, dia baru pertama masuk ospek, udah berani ngelawan senior." Rio kesal ketika mengingat hari pertama adiknya masuk Merpati Putih, apalagi ia yang waktu itu menjadi ketua ospek. Sudah matahari bersinar terik, ditambah kelakuan adiknya yang membuat aliran darahnya memuncak. Lagi, pada waktu itu ada pemuda yang sama mengesalkan dengan adiknya, yang sekarang mereka malah menjadi sepasang kekasih.


"Yee, paan sih. Gue mulu." Zahra mencibir pelan, selalunya yang buruk-buruk jatuh pada dirinya.


"Udah, sana brangkat. Nanti abang telat gara-gara nganter kalian," ucap bibi. Mereka bertiga menyalami tangan bibi kemudian mengikuti Rio yang telah keluar terlebih dulu.


Kalau Rizki sudah berangkat dari pagi tadi, katanya di kantor ada jamuan. Entah dalam rangka apa.


Banyak program studi yang dapat diambil di Merpati Putih. Salah satunya program studi fisika dan kimia. Pas banget, ternyata jurusan itu ada di fakultas MIPA. Soalnya dulu saat di Newyork Tria memang mengambil jurusan tersebut. Mendukung banget sama IQ-nya yang tinggi.


Tria resmi pindah ke Merpati putih, di Indonesia lagi karena, hubungannya dengan Zahra sudah membaik. Dulu dia memang diungsikan ke Newyork sebab dimusuhin oleh Zahra. Karena keduanya sudah tidak bermusuhan lagi, gadis itu memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Indonesia. Tria memang satu tahun lebih muda dari Zahra, tapi gadis itu sekarang sudah semester 4. Sama seperti mantan rivalnya. Saat SMA, ia memang menempuh program akselerasi.


Sekitar 20 menit mereka baru sampai di Merpati Putih, itu karena mereka memakai mobil. Juga karena, Rio adalah salah satu pengendara yang taat berlalu lintas, kecuali kalau dalam keadaan genting.


Bugatti Veyron yang memarkirkan diri di salah satu parkiran, membuat beberapa mahasiswa atau mahasiswi menghentikan sejenak aktivitas mereka. Menunggu siapa yang akan keluar dari mobil abu-abu merah itu.


Pintu mobil terbuka, sepasang sepatu keluar terlebih dahulu, dilanjutkan dengan tubuh proporsional seorang pria yang sangat mereka kenal. Gadis dengan kaus putih bergaris yang dipadukan dengan jaket denim keluar dengan tas serutnya. Mereka berdiam diri sebentar di sebelah mobil, sampai seorang gadis berambut pirang dengan crop sweater dan leging hitam berjalan ke arah keduanya.


Zahra merangkul gadis yang baru mendekat itu, ketiganya berjalan ke arah lobby.


"Eh, tuh lihat. Pak Rio nganter siapa lagi tuh selain Zahra?"


"Eh, ceweknya cakep. Gebet, ah!"


"Punya gue tuh!"


"Loh, itu kan cewek yang pernah sama Zahra waktu itu?"


"Eh, itu cewek kayaknya mau kuliah di sini, deh."


"Wahh, cecannya nambah lagi."


"Mau kemana?" Rio mencekal tangan adiknya yang akan beranjak.


"Nemuin anak-anak. Biasa, lagian kelas gue juga udah mau mulai," balas Zahra.


"Lah ini kan daftarannya Tria belum selesai. Siapa yang ngurusin?"


Zahra memutar bola matanya, apa kakaknya yang satu ini sudah mulai pikun? "Kakak lupa, ya? Gue kan udah ga ngurusin yang begituan lagi. Kampus ini pasti masih punya dokumentasinya, apa mau gue mintain?"


Rio menepuk dahinya, pria itu terkekeh pelan. Bagaimana bisa ia lupa, padahal ia sendiri yang menggagas ide itu. Bisa-bisanya. Rio mengacak pelan rambut adiknya, tersenyum jahil.


Zahra membenarkan tatanan rambutnya yang berubah berantakan. "Gue cabut!" Meninggalkan kedua orang itu yang masih berdiri di lobby.


Tria menggandeng tangan Rio, menariknya perlahan menuju rektorat yang berada di gedung sebelah. Tidak perlu diingatkan bukan bagaimana gadis pirang itu mengetahui keberadaan rektorat. "Ayok, nanti kakak telat ke kantornya."


Mereka yang masih memerhatikan Rio dari kejauhan memekik.


"Gila, ceweknya gandeng tangannya Pak Rio."


"Eh, dengar-dengar pacarnya Pak Rio anak sini juga. Senior kita."


"Ha, masa sih?"


"Lah, terus gimana tuh kalau pacarnya ngelihat mereka gandengan gitu?"


Kuping Tria dan Rio panas mendengar berbagai ucapan warga Merpati Putih, keduanya mempercepat langkah agar sampai di rektorat lebih cepat.


Setelah sampai di depan rektorat, Rio masuk tanpa mengetuk pintu. Diki sudah akan menggunakan suara beratnya jika Rio tidak menyapanya duluan. 


Laki-laki dengan jas abu-abu itu mengerutkan dahi tanpa memersilahkan kedua manusia itu untuk duduk. Tanpa disuruh pun mereka juga pasti akan duduk.


"Ada apaan?" tanya Diki tanpa basa basi, persetan di depan gebetan dan atasannya sekalipun. Yang jelas ia sibuk hari ini dan tidak mau diganggu. Diki bukanlah orang yang dengan mudah menyembunyikan ekspresi, pria dua puluh empat tahun itu cenderung blak-blakan. Kalau dirinya tidak suka, ia akan bilang tidak suka. Ia bukan orang yang suka mengekspresikan ketidaksukaan dengan kata-kata yang dipermanis.


"Bete amat muka lo, kenapa?"


"Gimana ga bete, baru juga masuk, kerjaan gue udah segunung aja. Permintaan pertukaran tenaga pendidik sama pelajar membludak semester ini. Belum lagi anggaran-anggaran tahun lalu yang sebagian udah raib. Kita ga ada pembangunan apa-apa tahun ini. Kayaknya perlu tindakan lebih lanjut deh, Yo."


Rio menghela napas. Memang anggaran untuk pembangunan atau perbaikan kampus hilang 30 persen, selalu seperti itu jika setelah pergantian kandidat. Rio dan Zahra sudah mencoba mengusut pelaku, tapi mereka seakan tidak mendapat petunjuk apapun. Selalunya anggaran yang hilang tersebut akan diganti oleh Ario Company.


Laki-laki itu menyerah, sayang sekali dengan sifat kepemimpinannya. Tapi masih banyak hal yang harus ia urus, jadi ia tidak memusingkan masalah kehilangan anggaran di Merpati Putih. Meskipun hal itu akan membuat si pelaku menjadi senang dengan kebijakan yang diambil Rio tersebut.


Diki mengeluarkan beberapa lembar kertas seperti blangko, kertas-kertas itu tersusun di dalam map coklat. "Lo ke sini mau nyelesein pendaftaran, kan? Lo isi aja, nanti kalau udah selesai bilang aja. Gue kelarin dulu kerjaan gue." Diki kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda.


Rio mengisi blangko tersebut, sedangkan gadis disebelahnya memilih menikmati wajah fokus Diki. Entah kenapa kalau laki-laki sedang serius, kadar ketampanannya semakin bertambah. Diki yang merasa diperhatikan menjadi tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya. Alhasil, pria itu hanya membolak-balik kertas yang berada di meja kerjanya.


"Nih, udah!" Rio kembali memberikan blangko itu pada Diki. Rektor Merpati Putih itu membaca kertas yang tadi telah diisi oleh Rio. Mengambil bolpoin lalu membubuhkan tanda tangannya di halaman terakhir. Terakhir, ia memberikan stempel resmi Merpati Putih di atas tanda tangannya. Setelah selesai, Diki menyimpan kembali map itu, akan ia berikan pada dekan fakultas yang berkaitan.


"Kalau gitu gue pergi dulu. Kuliah yang bener, nanti lo dianterin sama Diki." Rio mengacak rambutnya Tria, setelahnya laki-laki berpakaian kantor tersebut keluar dari ruangan Diki.


Diki dongkol, tidak kakaknya tidak adiknya, sama saja. Rio pergi tanpa berpamitan padanya, setidaknya bersikap sopan sedikit kepada bawahan itu akan lebih baik. Lagi pula, kapan seorang rektor mengantarkan mahasiswi baru? Pria itu pasti menjebaknya. Padahal ia tahu jika Diki harus segera menyelesaikan tumpukan kertas di mejanya.


"Iya, Bang."


...****...


Setelah menyelesaikan kelasnya pagi ini, Zahra menuju ke kantin bersama dua laki-laki yang selalu bersamanya.


Langkah mereka terhenti di meja kebesaran yang terletak di sudut belakang kantin. Zahra memanggil salah satu juniornya, menyuruhnya memesankan makan untuknya dan kedua temannya.


Mereka menikmati pagi menjelang siang ini dengan canda tawa. Tak lama tiga orang gadis datang ke meja mereka. Ketiganya duduk begitu saja tanpa menyapa.


"Kenapa muka kalian? Kusut banget," tanya Putra.


"Setrika dong," kekeh Zahra.


"Tau ga, sih? Dosennya tadi ngeselin banget, masa baru pertama masuk udah dikasih tugas seabrek," kata Ica sambil menggebrak meja.


"Santai dong." Tatapan tajam Devan membuat gadis berambut sebahu itu meringis.


"Iya, dia katanya dosen pertukaran gitu dari kampus sebelah. Sumpah, ngeselin parah, bawelnya behh," ucap Ina mendramatisir.


Ardelia memangku wajahnya. "Kan kalau gini jadi kangen Bu Puji, Huee."


"Lagian kenapa sih, Ra, harus ada pertukaran dosen segala?" tanya Ina setelah menyingkirkan handphone dari wajahnya.


Zahra mengidikkan bahu. "Tau. Yang ngurus begituan mah Kak Rio, gue mana paham." Gadis itu kembali memainkan game Moy yang baru saja ia download di ponsel kekasihnya, ponsel milik Putra.


Tiba-tiba ada suara yang menyahuti ucapan Zahra. "Apa? Nyebut-nyebut gue segala?"


Zahra melihat ke samping, didapatinya pria yang menjabat sebagai saudaranya itu tengah menatap ke arahnya. Sedangkan yang lain juga mengikuti arah pandang Zahra. "Kak Rio?" ucapnya terkejut.


Rio memberikan cengirannya kemudian duduk di sebelah Devan.


"Lo kok di sini? Harusnya lo udah di kantor dari dua jam yang lalu, kan?" pertanyaan Zahra terabaikan begitu saja oleh kakaknya. Pria itu malah sibuk memerhatikan lautan manusia yang sedang mengantri makanan. Jadi, di manakah Rio selama dua jam?


"Woeee!" Zahra kesal lalu menggebrak meja seperti yang dilakukan Ica tadi, hanya saja ini lebih keras—membuat penghuni kantin mengalihkan perhatian pada mereka. Membuat suasana yang tadinya ramai menjadi hening.


Devan langsung menenangkan Zahra dengan merangkul gadis di sebelahnya. Sedangkan mereka yang tadi mengalihkan atensi langsung menggelengkan kepala, kembali dengan aktivitasnya masing-masing.


Zahra mencebikkan bibir, mengembalikan ponsel Putra yang hampir dibantingnya. Laki-laki itu bersyukur dalam hati karena uangnya tidak akan digunakan untuk membeli ponsel baru.


"Serius banget, Bang? Ngelihatin apaan, sih?"


"Yaela, kacang-kacang." Ardelia tersenyum mengejek pada Putra, laki-laki itu juga diabaikan oleh Rio.


Seorang gadis dengan kardigan rajut camel keluar setelah berhasil menerobos kerumunan, langkah kaki menuntunnya untuk datang ke meja yang dihuni Zahra dan lainnya. Begitu kakinya berhenti melangkah, Rio berdiri seketika.


"Udah?" tanya Rio pada gadis dihadapannya.


Zahra melongok, memerhatikan kakak dan sahabatnya itu. Kini ia paham. "Yaela, modus doang lo nganterin gue sama Tria. Taunya mau ngapel," cibir Zahra dengan suara yang agak keras. Defi tertawa cantik, sedangkan Rio mendengkus kesal.


Rio menautkan tangannya pada tangan mungil milik Defi, lalu menepuk pundaknya Devan. "Nanti anterin Zahra sama Tria balik, ya? Thanks, Sob."


Rio melangkah setelah membuat ekspresi melongo di wajah Devan. Begitu Rio keluar kantin, suara yang tadi teredam kembali memunculkan eksistensinya.


"Kyaa, jadi itu pacarnya Pak Rio?"


"Wahanj*r, senior kita itu. Beruntung banget astaga!"


"Iya, dapetin Pak Rio. Udah  ganteng, baik, tajir lagi. Komplit banget, dah."


"Ahhh, jadi pengen juga sama Pak Rio."


"Wah-wah, mau jadi pelakor lo?"


"Betewe, pacarnya Pak Rio tadi cakep loh."


Zahra tertawa dalam hati. Kak Rio dipanggil 'pak'? Apa mukanya setua itu?


Devan merangkul pinggang Zahra kemudian mendekatkan bibirnya— membisikkan sesuatu. "Yahh, ga bisa berduaan sama kamu," ujarnya dengan suara yang dibuat sedih.


Zahra tergelak dengan ucapan Devan, sedangkan teman-temannya memandang bingung. "Tenang, cuma sehari. Besok Tria berangkat sama supir kok," bisik Zahra sambil memainkan jemari Devan. Memuntir-muntir sesuka hatinya.


"Hah, bener?" Devan tersenyum sumringah, tidak sadar jika dirinya kembali mengeluarkan suara.


Zahra mengangguk dengan tawanya. "Iya, bener." Zahra meyakinkan pemuda yang tengah Merangkulnya itu.


Devan mencium kening Zahra dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.


"Please deh, di sini masih ada yang jomblo ini!" Ica kesal melihat temannya yang bermesraan tidak tahu tempat.


Lain dengan Ica yang tampak kesal, Ina, Ardelia dan Putra justru menatap keduanya aneh.


"Kalian kenapa, dah? Menang tender?" tanya Ina heran, mewakili temannya yang lain. Kedua sejoli itu hanya tersenyum kecil. Mereka lanjut mengobrol sambil menunggu pesanan, karena hari ini kantin sangat ramai.