
Gadis dengan rambut gelombang itu tampak duduk santai di depan sebuah kaca, tangannya bergerak mengoleskan maskara pada bulu matanya. Kemudian lipstik dengan warna nude ia pulas pada bibir pinknya. Sorotan matanya yang tajam namun tampak tidak bersalah, membuat gadis yang kini full make up namun natural, tampak mengangumi diri sendiri yang terlihat berbeda.
Kali ini ia tampak menggunakan crop top hitam dengan model sabrina, yang bagian tengahnya terdapat cutting berbentuk segitiga kecil atau bermodel v.
Bagian bawahnya ia menggunakan hot pants yang dilapisi rok tutu dengan manik-manik tipis berbentuk lingkaran.
Rambutnya yang bergelombang itu tergerai dengan indah, lehernya bebas dari kalung apa pun, kecuali kalung yang baru ia kenakan. Sebuah kalung choker bermodel renda, dengan hiasan hati warna hitam yang tampak menawan. Lekuk lehernya tampak indah dan unik ketika memakai perhiasan itu. Untuk sepatunya ia menggunakan flat shoes model ballerina yang membuat penampilannya semakin menawan.
Terakhir, tangan mungilnya meraih eau de parfum dengan aroma mawar. Ia push botol itu hingga beberapa kali di tubuhnya, terakhir ia semprotkan pada pergelangan tangannya, kemudian ia gesekkan.
Ia tampak berdiri di depan cermin, menampilkan senyuman yang membuat hati siapa pun meleleh. Setelah mengambil slin bag dan memasukkan ponselnya, ia segera keluar kamar. Menatap kamarnya untuk beberapa saat, tersenyum kecil ketika melihat sudut demi sudut. "Mungkin aku akan merindukan kamar ini. Or, maybe not. Because there is a pleasant room waiting for me."
Setelah menutup pintu, ia segera menuruni tangga dengan senyum tipis— aroma khas bunga mawar semerbak seperti biasa. Beberapa waktu lalu, ia dan para bawahannya telah membuat suatu kesepakatan, meskipun via video call semata.
Mereka semua sedang di mansion saat itu, jadi Zahra dapat dengan mudah memberikan informasi. Ia sebenarnya agak ragu dengan rencananya, untuk memancing omnya itu keluar. Tapi bagaimanapun juga, ia harus melakukan ini supaya mereka cepat tertangkap. Masalah selesai dan ia akan berkumpul dengan keluarganya. Memang terdengar simple, tapi ia tahu. Rencana yang telah disepakati tidak sesederhana yang terdengar, ada resiko besar dibaliknya.
Di tengah perjalanan, ia dan Raisha saling bersinggungan, untung keduanya tidak sampai jatuh.
"Mau ke mana, Dek? Buru-buru banget," interupsi Raisha.
Zahra hanya cengengesan menampilkan gigi putihnya, ia terlalu terburu sampai-sampai tidak memperhatikan seseorang di depannya. "Maaf Kak, ini mau ke tempat kakek."
"Ohh, mau ke tempat kakek. Pantas rapi banget. Hati-hati loh yaa, jangan ceroboh kek tadi. Oh iya, nanti kalau hujan bermalam di sana aja ya, udah mendung tuh di luar."
Ia habis dari taman belakang tadi, sekedar menikmati angin dan merawat bunga-bunga kecil di sana. Merapikan tanaman juga, yang tampak sudah keluar design. Bercengkrama dengan tukang kebun mansion membuat ia lebih banyak memahami tentang tumbuhan.
Bagaimanapun, ia tidak biasa jika sendirian di rumah sebesar itu. Dua laki-laki di rumah itu pergi kencan dengan kekasih masing-masing. Tria sedang menginap di rumah temannya untuk menyelesaikan tugas kelompok. Sedangkan bibi diajak pergi oleh Azkia entah ke mana.
Sejak pagi memang Zahra mengurung diri di kamar, maka dari itu ia merasa kesepian dan memutuskan untuk berkebun. Sebenarnya banyak pengawal yang memang bisa diajak bercanda, tapi dirinya belum terlalu akrab dengan pengawal di rumah ini.
"Ya udah Kak, aku ke tempat kakek dulu yaa?"
"Iya ... udah izin sama yang lain juga, kan?"
"Udah, semalem kan udah bilang waktu kumpul tu. Pas makan malam pan udah bilang juga." Zahra memang sudah bilang jika akan pergi, maka dari itu ia sudah bersiap dari pagi untuk mempersiapkan semuanya.
"Oh iya, Kakak lupa. Ya udah sana berangkat. Ingaat pesen Kakak yaa,"
"Oke Kak, siap."
Keduanya pun berlalu. Raisha memasuki kamarnya sedangkan Zahra ke dapur. Ia mengambil puding mangga yang ia buat untuk kakeknya serta mile crepes untuk om dan abangnya.
...****...
Matanya mulai berkunang-kunang, rasa pusing akan pertengkaran itu mulai berefek sejak seminggu ini. Hatinya terasa ngilu melihat keduanya yang masih terlibat perselisihan.
Brakk!
"Kakek hati-hati," ucap Zahra, yang melihat kakeknya seperti akan terjungkal.
Pelayan itu sepertinya tak sanggup menahan berat kakeknya yang mulai bertambah karena akan kehilangan kesadaran diri.
"Ayok, Zahra bantu ke kamar." Zahra dan pelayan itu akhirnya membawa Wahyu ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Zahra meminta tolong pada pelayan itu untuk mengambilkan air putih, karena di kamar itu stok air sudah habis. Ia membaringkan sang kakek di kasur.
Ia sedih melihat laki-laki yang sekarang terbaring dengan mata terpejam. Dengan pelan, ia duduk di samping kakeknya terbaring. Mengusap lengannya dengan perlahan. "Kakek yang sabar ya, mudah-mudahan Zahra bisa buat mereka berhenti berdebat."
Setelah pelayan datang dengan membawa air, Zahra segera mengambilkan obat Wahyu yang tersimpan rapi di laci nakas. Untung saja air itu juga sudah dilengkapi dengan sedotan, jadi kakeknya tetap bisa minum meskipun dengan posisi terbaring.
Ia membantu kakeknya menelan pil dan meminum air. Wahyu merasa beruntung, disaat kedua orang itu bertengkar pasti ada orang yang tengah mengunjunginya. Entah itu cucunya yang lain, anak ataupun menantunya. Karena dengan hal itu akan mencegah dirinya berpikir lebih keras.
"Oh ya Kek, Kakek udah makan siang?"
Wahyu hanya menjawab dengan gelengan, sebab dirinya masih tak nyaman berbicara karena rasa pusing yang menderanya.
Seperti paham apa yang dirasakan oleh Wahyu, Zahra segera berucap, "Bentar ya Kek, Zahra usir dulu pengganggu itu." Cucunya itu tersenyum dengan raut wajah yang dibuat sabar. Padahal ia sangat kesal pada kedua orang yang tengah berdebat di suatu ruangan tersebut.
Gadis dengan rambut bergelombang itu menggeram tertahan, ia segera keluar dari kamar sang kakek. Menghampiri orang yang tengah adu mulut tapi tak kunjung usai.
"Kalian bisa berhenti ga, sih? Ganggu tahu ga? Ga malu tah, didengerin semua orang di rumah ini?" ucapnya dengan frustasi.
"Lo ga perlu ikut campur, Ra!" balas Revan sengit.
"Please, Bang. Abang tuh ga perlu kek begini. Abang ga ingat kalau Tante Kirana tetap mengharap hubungan baik antara Abang sama Om Rivan? Jangan egois lah, Bang!"
Ia berucap parau, rasa-rasanya sesak ketika Revan berkata bahwa ia tak perlu ikut campur. Padahal Revan sendiri yang membawanya masuk dalam lingkaran itu, karena hanya dirinya yang tahu. Hanya dirinya dan Rio yang menjadi tempat bersandar Revan saat itu.
Lalu, bukankah dengan begini, ia wajib meluruskan apa yang menjadi kesalahahfahaman di antara mereka?
"Coba deh, kalian berbicara dari hati ke hati! Apa sih sebenarnya yang membuat kalian berdebat ga perlu? Pusing tahu ga dengernya! Abang juga, jangan kayak anak kecil, udah gede juga. Kenapa masih ga terima kenyataan?"
"Ga bisa Ra! Hati gue udah tertutup sama orang tak bertanggungjawab kek dia!" ucapnya sambil menunjuk wajah Rivan dengan salah satu jarinya.