Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
66. Masa Kelam


Zahra memejamkan matanya, berusaha menguatkan dirinya atas perkataan Gery barusan. Ia tidak menyangka efek berseteru dengan omnya berakibat fatal seperti ini. Zahra mendongak menatap Rio, ia tersenyum hangat dan mengangguk. Tidak masalah sebenarnya jika ia tidak berjalan terlebih dulu, hanya saja ia memikirkan kedua kakaknya dan orang yang tinggal dengannya. Mereka pasti akan kerepotan mengurusnya. Huft, gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu Rio.


Syukurlah, mereka lega. Zahra mau mengerti keadaannya. Rio mendaratkan kecupannya pada kening Zahra, lalu mengusap puncak kepalanya.


"Ya udah. Kalau gitu pembicaraan kita tadi bisa dilanjut?"


Mereka semua mengangguk.


Rio segera menggendong Zahra. Kali ini mereka memutuskan untuk berbicara di ruang meeting saja. Tadi Rio sudah memerintahkan Max untuk berjaga di ruang meeting dan tidak mengizinkan seseorang menemuinya sampai pembicaraan selesai.


"Jadi gini, Ger. Sekarang kan perusahaan papa ga ada yang mimpin, gue takut perusahaannya jadi lebih buruk. Tadi gue sempat lihat ulasan sama laporan kerja punyanya Om Zaldi. Dan itu buruk banget, perusahaan bisa terancam bangkrut kalau begitu. Gue pengen lo perbaiki citra perusahaan itu. Gue pengen image-nya di masyarakat kembali baik," ungkap Zahra dengan tatapan memohon. Ia bersungguh-sungguh, ia telah memercayai Gery untuk melanjutkan mengurus salah satu aset papanya.


Gery mengangguk. "Gue bisa aja, Ra. Tapi sekarang gue udah kerja jadi sekretarisnya Om Stevan. Tante Hani udah ga kerja, dia pengen di rumah aja nemenin Ina, jadi gue diminta Om Stevan buat gantiin Tante Hani.


Gue udah janji sama dia."


"Please, Ger. Cuma lo harapan terakhir gue, Om Zaldi keberatan gue tunjuk, om milih tetap di posisinya. Lo yang lebih tau perusahaan itu di banding gue. Ya masa gue minta tolong sama Kak Rio dan Kak Rizki, ga mungkin. Mereka udah punya tanggungjawab masing-masing. Lo pasti sering kan, bantu-bantu Om Dion di kantor? Lo pasti ngerti. Gue ga mau perusahaan papa gitu terus, gue ga mau perusahaan itu hancur perlahan-lahan."


"Gue bisa. Gue mau nebus kesalahan papa ke Om Jo dan keluarganya. Tapi urusan gue sama Om Steven gimana?" Kening Gery berkerut, menatap Zahra yang malah menyunggingkan bibir.


Bibir pucat itu merekah mendengar ucapan Gery. "Yang penting lo ngurus itu perusahaan. Soal Om Steven biar jadi urusan gue. Om Zaldi setuju kan, kalau Gery yang memimpin perusahaan itu, selama pemimpin sebenarnya belum ditentukan?"


"Saya setuju-setuju saja. Pokoknya dia bisa dan dapat dipercaya."


"Gue akan jaga kepercayaan yang kalian kasih. Mungkin nanti yang akan gue perbaiki dulu kinerjanya."


Zahra melingkarkan tangannya pada bahu Gery, kebetulan duduk mereka berdua bersebelahan. "Gue kapan-kapan akan mampir ke perusahaan, kalau ada waktu longgar mungkin gue akan bantuin lo. Thank you, Ger."


Gery terkekeh lalu mengacak rambut Zahra. Entah sejak kapan, ia juga ingin melindungi bungsu Ario tersebut.


"Eh, tapi gue masih bingung," kata Zahra sambil memandang satu per satu lawan bicaranya. Mereka mengerutkan kening tak paham.


"Papi kan temenan sama papa, harusnya perusahaan mereka itu ada kerjasama apa gitu. Iki kok ga ada sama sekali?"


Bukannya menjawab, Zaldi dan Gery saling bertatapan, menukar pikiran dengan saling pandang. Sementara Rio, pria itu terdiam, juga mengatupkan bibir. Masa itu ... Rio tak mau mengingat itu lagi sebenarnya. Rizki sama bingungnya seperti Zahra, laki-laki itu mengerutkan kening.


Zahra menyadari jika ruangan ini mendadak terjadi tambahan atmosfer. Tidak ada yang mau bicara satu pun karena pertanyaannya barusan. Sepertinya ia harus menarik kembali pertanyaan itu.


Zahra menghela napas. "Oke, kalau kalian—"


"Biar gue yang cerita" sahut Rio, memotong ucapan Zahra. Gery dan Zaldi menjadi sedikit lega.


***


Deron baru saja berpulang pada Illahi dua minggu lalu. Rio yang saat ini sedang berkuliah akhirnya meneruskan perusahaan dan segala yang ditinggalkan Deron. Ia dibantu oleh sekretaris cantik, seseorang yang ditunjuk Aldo untuk menggantikan dirinya membantu Rio.


Sepulang dari kampus, setiap harinya—Rio langsung melajukan mobilnya ke Ario Grup. Begitu sampai, remaja dua puluh tahun itu langsung menuju ruangannya, di sana telah ada sekretarisnya dengan membawa sebuah tablet.


"Pak, sa-saham perusahaan kita hilang 50%," kata sekretaris itu dengan takut.


Rio saat ini ialah Rio yang dingin dan arogan. Emosinya sering sekali terpancing, terkadang Aldo harus menenangkan emosi keponakannya terlebih dulu sebelum mulai bekerja. Padahal laki-laki itu sudah tidak lagi menangani perusahaan pusat, ia memegang perusahaan cabang yang berada di Bandung.


"Apa? Gimana bisa?"


"Perusahaan Jo Company memutuskan hubungan kerja secara tiba-tiba. Kami sudah berusaha menghubungi perusahaan tersebut tapi mereka tidak merespon. Saham di perusahan kita hanya tersisa 30%, karena yang 20% sudah dijual pada Scrapetra Grup. Kita hanya punya tabungan saham di Laksanda Company 15%. Jadi total saham kita saat ini hanya 45%. Jika perusahaan pusat kondisinya seperti sekarang ini, bisa-bisa perusahaan cabang akan terkena dampak, Pak. Perusahaan ini bisa gulung tikar."


Rio mengacak rambutnya kasar. Ia limbung ke belakang, untungnya remaja itu terduduk di kursi kerjanya. Ia mengembuskan napas, menatap beberapa dokumen yang baru ia selesaikan. Ya, dirinya juga pulang membawa pekerjaan. Rio down setelah pemberitahuan itu.


Setelah saham perusahaan menurun, para konsumen pun juga banyak yang komplain dan akhirnya berpindah langganan. Ia bekerja keras, membangun perusahaan itu dari sisa-sisa yang ada. Berusaha untuk tidak memberatkan perusahaan cabang yang kini tengah berkembang. Ia mempromosikan jasa dan pelayanan serta benefit ketika menggunakan jasa Ario Group. Bahkan hampir satu bulan ia memutuskan untuk menunda kuliahnya, agar ia bisa fokus mengurus perusahaan.


Saat itu pula, hal sebaliknya dilakukan oleh adiknya, gadis yang baru menginjak SMA itu malah suka bersenang senang. Suka foya-foya dan lain sebagainya yang merugikan diri. Setiap hari kegiatannya hanya menghabiskan uang, tak peduli dengan sekolahnya. Nilainya sering di bawah KKM, kalau sama dengan KKM, berarti itu suatu kemajuan yang menarik. Maka saat itu pula, mulai retaknya hubungan persaudaraan mereka.


Rio yang kelelahan akan melampiaskan segalanya pada adiknya. Sebenarnya ia tidak mau melakukan hal yang menyakiti saudara sedarahnya tersebut, tapi gadis itu menutup mata. Tak peduli dengan kerja keras yang kakaknya lakukan.


***


Zahra merasa bersalah karena sudah mengungkitnya. Masa itu, masa gelap Rio yang seharusnya tak ia ungkit kembali. Membuka luka lama yang telah Rio pendam rapat-rapat. Rasa bersalah kembali menyergap Rio, tapi saat ini bukanlah saat yang tepat untuk menyesal. Yang harus dilakukan saat ini ialah menjaga adiknya, menjaga dan memberikan kasih sayang pada Zahra.


Sejujurnya itu juga salahnya, ia sama sekali tak mendukung kakaknya. Ia hanya bisa menambah beban Rio kala itu. Ia tak bisa menyalahkan Rio begitu saja. Pria itu sekarang kembali memandangnya dengan rasa bersalah. Zahra membalas tatapan dengan artian, 'Gue ga papa'. Dilihatnya laki-laki itu bernapas lega, tersenyum dan mengangguk dengan tetap memandangnya.


Zaldi menghela napas berat. "Maaf. Dulu saya sudah melarang Dion memutus hubungan kerja tersebut, tapi saya bukan siapa-siapa baginya. Dia tidak mendengarkan saya. Dia tidak mau rencananya terganggu, kalau dia masih meneruskan hubungan kerja ini."


"Ambil aja sisi positifnya. Sekarang lo jadi orang sukses tanpa bantuan papa, ya kan?" sahut Rizki. Rio mengangguk membenarkan.


"Bagaimana kalau kita ulang saja kerjasama yang dulu, kita mulai dari awal lagi?" tawar Zaldi.


Rio menimang dan berpikir, ada baiknya juga saran dari Zaldi. Ia sekaligus bisa membantu perusahaan papanya jika begitu. "Baik, saya terima. Mari ke atas, kita bicarakan lebih lanjut. Dek, lo di sini bentar ya, nanti gue turun kita langsung balik." Rio membenarkan blazernya, lalu keluar dari ruangan meeting bersama Zaldi.


"Mau kemana?" tanya Zahra pada Rizki, laki-laki itu juga berdiri.


Rizki menoleh sekilas, lalu berjalan ke arah pintu. "Cafe depan. Nanti kalau Bang Rio udah turun, suruh call gue, ya?"


"Oke."


Sekarang Zahra dan Gery saja yang berada di ruangan itu. Zahra sedang memainkan Mobile Legend di ponselnya Gery yang telah ia rampas paksa. Tak tahan hanya memerhatikan Zahra yang sedang menyerang kubu lawan, akhirnya ia membuka suara.


"Ra ... soal yang tadi jangan lo tanyain ke Marina, ya?"


"Hm."


"Beneran ya, dia masih sensitif sama topik itu. Ntar dia marah lagi sama gue."


"Hm."


"Ham hem, ham hem aja lo. Kayak sabyan."


"Hm."


Maniac.


Victory.


Gery menatap tak percaya ponselnya yang dimainkan Zahra. "Anjir. Baru juga lima menit. Pro player lo, Ra."


Zahra meletakkan ponsel Gery di atas meja, atensinya menatap Gery yang sedang kagum ke arahnya. "Kenapa?"


Gery menggaruk bagian belakang kepalanya. "Ina—"


"Ger, lo tenang aja. Gue ga akan maksa dia buat cerita apa pun ke gue, gue juga paham perasaannya. Kalau dia emang pengen berbagi sama gue, nanti juga dia bakalan cerita sendiri."


"Makasih, ya. Marina beruntung dapet sahabat kayak lo."


Zahra menggeleng. "Gue yang beruntung. Kalau dia ga nekat nyamperin gue waktu itu, akan lain lagi ceritanya. Kita ga akan di sini, ngobrol santai gini. Mungkin gue udah tewas, terus mayat gue kalian buang ke suatu tempat."


"Sorry, Ra."


Zahra memegang tangan Gery, menggenggam penuh keyakinan. Bibir pucat itu kembali merekah dengan senyum tipis khas Ulyana Zahra. "Thanks. Karena lo juga gue berhasil selamat." Zahra melepaskan genggamannya, kembali meraih ponsel Gery yang ia abaikan.


"Gue pake buat hubungin Om Stevan, ya? Semoga aja dia setuju sama permintaan gue."


Gery mengangguk. "Semoga, ya!"


Zahra mulai bernegosiasi dengan Stevan, sementara Gery hanya menjadi pendengar setia.