Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
7. Musuh dalam Selimut


Dering alarm menggema di seluruh penjuru kamar, suaranya yang nyaring tampak mengusik tidur seorang gadis. Sebuah tangan mungil meraba-raba nakas, setelah menemukan yang dicarinya ... benda itu terhempas.


Suara serpihan kaca yang jatuh membuat gadis itu tersenyum. Zahra mengeratkan selimut dan guling yang dipakainya.


Sementara di luar kamar, tampak seorang pria tengah membenarkan tatanan dasinya. Pria itu menajamkan pendengaran ketika mendengar suara barang pecah, setelah itu menggelengkan kepala.


Pria itu menghampiri seorang wanita yang tengah membersihkan kamarnya.


"Bi," panggilnya seraya mengangkat tas kantor.


Wanita yang dipanggil 'bi' itu pun menoleh. "Kenapa, Den? Ada yang tertinggal?"


"Bukan, Bi. Itu adik saya, kayaknya mecahin kaca balkon lagi. Nanti bibi bangunin, ya? Sama ... telepon tukang, biar dibenerin kacanya, untuk biayanya nanti saya transfer," paparnya memberi penjelasan.


Wanita itu mengangguk. "Baik, Den."


Pria itu menyalami dan mencium tangan wanita di depannya. "Rio berangkat dulu."


"Iya, hati-hati."


Setelah menyelesaikan tugasnya di kamar Rio, Bi Heni membawa alat tempurnya ke kamar sebelah. Kamar yang ditempati oleh ratu tidur.


Pintu terbuka, pandangan bibi terpaku pada alarm dan kaca balkon yang tak lagi utuh. Wanita itu membereskan pecahan kaca terlebih dahulu, setelahnya membuka gorden dan jendela agar cahaya mentari dapat masuk.


Bibi melangkah ke tepian ranjang, wanita itu menarik paksa selimut yang dipakai oleh Zahra. Tidur gadis itu terusik, kemudian sepasang mata yang tadinya terpejam mulai menunjukkan eksistensinya.


Gadis itu menatap bibi, yang menyapu di sebelah ranjang. "Jam berapa, Bi?"


"Eumm, sepertinya jam delapan," ucap Bi Heni mengira-ngira, wanita itu tidak melihat jam dinding di kamar Zahra. Maka ia menjawab dengan waktu yang ditunjukkan semasa berada di kamar Rio. Mungkin hanya selisih sedikit.


Gadis itu melipat selimutnya, kemudian menata peralatan tidurnya agar elok dipandang. Setelah merapikan semuanya, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Netra itu berhenti pada sebuah pintu kaca yang berlubang, dibawahnya terdapat serpihan kaca dan jam yang tak lagi berdetak.


Tanpa bertanya pun, Zahra tahu jika penyebab pintu kaca berlubang tersebut ialah dirinya.


Tangannya kembali meraba nakas yang berada di samping ranjang, gadis itu menaikkan alis ketika jemarinya menyentuh benda pipih licin. Zahra mengambil benda tersebut dan mengamatinya. Gadis itu tersenyum kecil.


"Udah dibalikin aja HP gue, biasanya juga seminggu baru dibalikin," monolognya pada diri sendiri. Gadis itu bernapas lega. Kejadian yang terjadi dua hari yang lalu, bukanlah sesuatu yang pertama untuk gadis itu. Untung saja, kali ini Rio lebih berbaik hati.


"Bi, Zahra minta izin bawa Tria ke kampus yah, kali aja dia pengen jalan-jalan. Masa liburan di rumah terus?" tanya Zahra pada bibi.


"Bawa ajalah, lagian nanti bibi juga mau pergi. Kasian kalo sendiri," jawab bibi.


"Emang bibi mau ke mana?" tanya Zahra heran.


"Biasalah. Mau spa, luluran gitu biar kulit bibi tetap cantik dan sehat."


Zahra tersenyum simpul kemudian mengangguk. "Ya udah, Zahra mau mandi dulu."


Bi Heni mengangguk, lalu melangkah keluar karena pekerjaannya telah usai. 


Zahra keluar kamar mandi, gadis itu memasukkan handphone ke saku celananya, kemudian keluar kamar. Langkah kakinya berhenti di pos satpam.


"Pak Mahes," panggil Zahra pada salah satu orang yang sedang menikmati kopi paginya.


"Iya, Non?" Salah satu orang itu menoleh.


"Tolong siapin mobil saya, saya mau pakai," kata Zahra pada Pak Mahes.


"Baik, Non."


"Oh ya, siapin juga mobil satunya. Nanti kamu antar bibi."


"Baik, Non."


Gadis itu meninggalkan pos satpam. Kedua kaki jenjangnya menuntun ke rumah minimalis yang berada di belakang mansion. Tanpa salam maupun mengetuk pintu, Zahra masuk begitu saja.


"Bi," panggil Zahra.


"Ya, Non?" Bibi yang sedang bersiap di kamar langsung keluar ketika mendengar suara Zahra.


"Nanti bibi perginya sama Pak Mahes aja, no taxi dan no angkot," perintah Zahra.


"Baik, Non."


...****...


Ferrari yang dikendarai seorang gadis bersurai elang, telah berjejer rapi di parkiran kampus Merpati Putih. Dari mobil itu pula, keluar dua orang gadis dari sebelah kanan dan kiri mobil.


Tanpa banyak bicara, Zahra mengajak Tria ke ruangan rektor terlebih dahulu.


Di ruangan itu telah ada seorang pria yang tengah fokus pada laptop di depannya.


"Bang!" Zahra menepuk pundak pria itu pelan.


Kak Zahra berani amat gituin kepala kampus, batin Tria bertanya-tanya


"Dokumentasi tugas kemarin dibawa siapa?" tanya Zahra to the point.


Diki menghentikan ketikannya, pria itu menoleh pada Zahra yang berdiri di belakangnya. "Asisten lo tuh. Tapi ... sejak kapan lo punya asisten?"


"Kepo, lo." Zahra menjulurkan lidahnya mengejek.


"Ga ke kelas? Ngapain ke sini? Ini juga anak siapa yang lo bawa-bawa?" Diki menunjuk seorang gadis yang berdiri tepat di samping Zahra.


"Malas gue, enakan di sini. Oh ya, dia Tria. Anaknya bibi yang di luar negeri, dia pulang karena liburan," ucap Zahra.


Diki mengangguk-angguk.


"Sana masuk! Mau disita lagi HP lo?"


Zahra menggeleng. "Gue ada urusan, nanti kalau udah selesai gue balik ke sini, kok. Tri, lo di sini dulu, ya? Nanti gue jemput. Bang, titip adik gue." Tanpa menunggu jawaban, Zahra pergi begitu saja. Meninggalkan Tria dan Diki yang melongo dibuatnya.


"Dari pada berdiri di belakang gue, mending duduk di situ." Diki menunjuk kursi yang berada di depan meja kerjanya.


"Santai kalau sama gue. Kenalin, gue Diki, biasa dipanggil Bang Diki. Temannya Rio sama Zahra." Diki mengulurkan tangan pada Tria, gadis itu dengan senang hati menerima uluran tangan tersebut. Senyum manisnya saat menerima uluran tangan membuat pria di depannya tertegun. Gadis berlesung pipi yang manis.


"Tria," katanya ramah.


"Nama yang manis, semanis orangnya."


Tria tersenyum malu mendengar gombal recehannya Diki.


"Akrab banget ya, sama Kak Zahra?" tanya Tria canggung.


"Ya, begitu. Gue kenal Rio udah dari lama, tentang bagaimana kehidupannya sampai-sampai gue juga akrab sama adiknya. Gue juga punya adik, seumuran lo deh kayaknya. Lo sih, kelamaan di luar negerinya."


Obrolan hangat tercipta di rektorat, sesekali Diki bercerita tentang keluarganya.


Di sisi lain ....


Zahra terlihat menelepon seseorang. Gadis itu duduk santai di salah satu kursi yang ada di taman kampus.


Setelah membuat janji, Zahra segera ke parkiran. Gadis itu pergi ke Uly's Group, perusahaan akomodasi berkembang di bawah kendali Zahra. Perusahaan yang ia dirikan dari omzet penjualan di kafe milikinya, tabungan, transferan, dan keuntungan dari pembelian saham.


Selain uang saku sepuluh juta per bulan, dia juga mendapat kiriman sebesar sepuluh juta. Entah siapa yang mentransfernya? Nomor rekeningnya pun, tidak pernah bisa dilacak siapa pemiliknya.


Rio juga mengaku mendapat transferan sepuluh juta tersebut, uang itu masuk secara rutin ke rekening mereka masing-masing. Biasanya transferan itu masuk di pertengahan bulan. Dari nominal yang tidak sedikit, Zahra dapat membeli beberapa lembar saham dari perusahaan sukses.


Dari komisi yang didapatnya, Zahra dapat merealisasikan pembangunan kafe impian. Kafe yang berdiri saat Zahra kelas dua SMA itu berkembang pesat. Banyak pebisnis yang sering melakukan meeting di cafenya, tak jarang juga mereka memesan ruang VVIP. Anak muda yang berkunjung ke kafenya pun beragam, mulai dari yang berseragam putih biru hingga mahasiswa. Apalagi disaat weekend, cafe itu penuh dengan sepasang kekasih yang berpacaran maupun yang sudah menikah, tak jarang mereka juga mengajak buah hatinya.


Dari omzet yang besar tiap tahunnya, pada tahun ketiga pembangunan, gadis itu membuka peluang usaha baru. Usaha akomodasi, di awal berdirinya usaha hanya bermodalkan villa kecil di puncak. Namun dengan sedikit perbaikan, villa itu akhirnya ramai pengunjung. Beberapa bulan kemudian, bisnis itu merambah ke hotel yang berada di pusat kota. Saat yang sama, pembangunan perusahaan pusat mulai berjalan. Awalnya hanya perusahaan kecil yang terdiri dari 2 lantai, sekarang perusahaan tersebut berkembang menjadi 8 lantai.


Usia Uly's Group juga terbilang muda, karena ia berdiri satu tahun yang lalu. Awal Zahra memasuki dunia perkuliahan. Saat ini Uly's Group menambah cabang hotel baru di daerah Tanggerang. Pembangunannya diperkirakan selesai dua bulan lagi, hotel tersebut akan resmi dibuka setelah asisten Zahra memutuskan benang merah.


Rio tahu akan hal itu? Jika kafe iya, karena sebelumnya Zahra telah meminta izin pada kakaknya jika ia akan membuka kafe. Rio juga ikut menyumbang dana saat awal pembangunan Ra Kafe.


Jika perusahaan, Rio tidak tahu akan hal itu. Zahra mengurus semua dengan bantuan Revan, Defi dan Rani. Surat perizinan dan lain-lain diurus oleh mereka, kecuali saat penandatanganan pemilik resmi Uly's Group. Bahkan, gadis itu memberikan 5 juta untuk tutup mulut sang petugas dan memberinya sedikit ancaman agar merahasiakan kepemilinan sah dari Uly's Group.


Gadis itu hanya mengunjungi perusahaan sebulan sekali. Pekerjaannya ia kerjakan dari rumah, kalau urusan kantor sudah ia percayakan pada sahabatnya. Sahabat yang merangkap sebagai asisten pribadi.


Setelah menempuh perjalanan panjang, karena letak perusahaan dan kampus terbilang jauh, akhirnya Zahra sampai di Uly's Group. Satpam menyambut kedatangannya, sementara gadis itu hanya menebar senyum.


"Pagi Nona," sapa seorang resepsionis.


"Pagi," balasnya ramah sambil tersenyum. Gadis itu menaikkan alis saat menangkap gelagat orang di depannya ingin mengungkapkan sesuatu. "Ya, Rika. Katakan saja!"


"Itu nona, sedang ada rapat pemegang saham. Salah satunya, ada Pak Darel dari Ario Company. Mereka saat ini sedang berada di kantin."


Gadis itu mengerutkan kening saat mendengar penjelasan resepsionis di hadapannya. "Sebentar, kalau Rani ada di atas lalu yang ikut rapat siapa, ya?"


"Pak Elvin, asisten Bu Rani."


Huft, untung tadi gue parkirnya di tempat khusus gue, batin Zahra lega.


Zahra mengangguk. "Ya udah, kamu telepon kantin. Suruh bawakan mocktail sama snack seperti biasanya. Antar ke ruangannya Rani."


"Baik, Nona."


Zahra menaiki lift khusus, gadis itu langsung memasuki ruangan sekretarisnya. Dengan santai gadis itu duduk di depan gadis yang sedang mengutak-atik file.


Rani melirik sekilas, kemudian menyingkirkan laptop dihadapannya agar dapat melihat wajah Zahra.


"Jadi, apa yang lo dapat kemarin?"


"Pengamat yang bagus, kecurigaan lo benar. Dia ada niat jahat sama lo. Kalau yang lainnya beres, mereka ga ada masalah."


Zahra mengangguk. "Katanya dokumentasi ada sama lo?"


Gadis di hadapan Zahra tersenyum cerah, lalu mengambil kembali laptopnya. "Filenya ada di sini, kalau lo mau mojokin dia, lo bisa pakai," gadis itu membuka sebuah file lalu menghadapkan laptopnya pada Zahra, "lo pasti suka videonya."


Zahra mem-play video tersebut.


"Benar-benar lo, Na! Gue ga nyangka kalau lo bisa makan teman sendiri, ternyata lo polos-polos bangsat."


Mereka tertawa bersama setelahnya.


"Terus sama cewek polos itu gimana? Tadi kan Putra ngedeketin dia terus?"


"Tenang aja, gue akan buat drama seakan-akan di sini dia yang salah, bukan gue. Biar dia yang makan segala kemarahan Zahra. Kalian jangan lupa urus teman-temannya juga. Mereka itu berani, ga kayak cewek polos itu."


"Gue setuju. Enaknya Arel sama Ify kita apain, ya?"


"Kita bully dia. Seret mereka ke toilet, abis itu siram sampe basah kuyup, botakin palanya."


"Dan, jangan lupa buat gunting itu bajunya. Kalau perlu panggil om-om sekalian, biar makin abis  mereka." 


"Ish, serem deh gue bayanginnya. Kalau kita ketahuan gimana? Kita bisa di drop out dari kampus. Kalian mikir ga sii, kita itu skripsinya udah dekat, bentar lagi lulus. Gue ga mau perjuangan gue selama ini sia-sia cuma karena rencana ini."


"Elah, gitu aja takut. Ga pinter amat sih, lo. Ya kali kita ngelakuinnya di kampus, helloww, mikir dong. Kita bakal lakuin ini di luar kampus."


"Besar juga nyali lo."


"Gimana dengan Zahra? Apa rencana lo?"


"Gue bakal buat masa depannya hancur, gue udah ada senjatanya."


"Maksud lo ... lo gak kepikiran buat bikin dia ga virgin, kan?"


"Tepat, gue udah siapin siapa yang akan terlibat." 


Zahra mem-pause videonya lalu mengumpat pelan. Gadis itu geram, kenapa pelopornya harus sahabatnya sendiri? Sial!


Rani menatap Zahra. "Lokasinya di bar dekat rumah salah satu dari mereka. Ketiga cewek itu cabe-cabean kampus, lo tau kan?"


"Lisa, Mia, sama Ratri?"


"Iya. Gue ga tau kenapa mereka bisa temenan. Lo hati-hati aja, waspada lah pada orang-orang di sekeliling lo."


Seorang office boy masuk mengatarkan pesanan Zahra, mereka larut membahas tentang pekerjaan dan proyek mereka.


Zahra berpamitan pada Rani, tak lupa mengucapkan terimakasih. Gadis itu kembali ke kampus dengan membawa beberapa laporan.


Zahra kembali ke ruangan rektor, melihat ruangan itu kosong, gadis itu mengambil HP-nya lalu menelepon Tria. Ternyata mereka sedang berada di kantin.


Sementara Zahra, gadis itu mencari pacarnya yang entah kemana. Nomornya pun tidak aktif. Ia hanya ingin memastikan apakah pacarnya sedang mendekati mahasiswa baru atau hanya rumor semata.


****


Uyeee, gue update.


Hayoo ngaku, siapa yg nungguin ini cerita up?


Kalau yg udah baca versi sebelumnya pasti tau siapa musuh dalam selimut itu.


Jangan lupa vote sama komennya, juga likenya


See you 😘