
"Kenapa kalian baru cerita ke aku sekarang? Kemana aja kalian selama ini? Apa ga sepeduli itu sama aku sehingga kalian ngerahasianin ini? Aku seharusnya tau dari kecil siapa keluargaku, kalian sebenarnya anggep aku apa?"
Gadis itu menatap bengis kepada tiga orang yang berada di kamarnya. "Aku tunggu saat kalian nyeritain ini? Kalian pikir aku cuma diam aja tanpa mencari kebenaran kenapa keluarga ini hancur? Apa kalian pikir aku seneng hidup di keluarga yang pecah kayak gini?" Zahra menggeleng. "Aku juga pengen punya keluarga utuh seperti yang lain. Lima tahun aku nunggu kalian, tapi ga ada satu pun dari kalian yang mau cerita sama aku?"
Kali ini gadis itu menatap pria yang berada di ujung ranjangnya, ia terlihat kecewa. "Dulu emang aku manja, sombong, tapi setiap ada orang ngedeketin, aku selalu cari tau siapa dia. Dari mana asalnya, keluarganya." Dia terkekeh pelan. "Kamu pikir aku mau kamu lec*hin gitu aja? Enggak, aku cuma mau kamu sadar kalau aku itu adik kamu. Ga seharusnya kan kamu ngelakuin itu sama aku. Kamu dibutakan oleh amarah dan ego. Kamu pernah tau aku nangis karena kak Rio yang lebih milih main sama Tria—tapi kamu diam aja dan ga peduli. Padahal aku berharap kamu bisa sedikit peduli sama aku dan ngelupain apa yang terjadi dulu. Dan puncaknya kemarin, apa setelah kamu ngelihat aku yang hampa—baru kamu mau buka mata? Apa aku harus berkorban lagi biar kalian ga nutup apa pun dari aku?"
Ketiganya terdiam dan terkejut ketika Zahra sudah mengetahui hal ini sejak lima tahun lalu. Itu artinya sejak Deron masih ada di sisi mereka.
"Zahra, kamu?" Bibi mengatupkan bibir kemudian menggeleng tak percaya.
Zahra tersenyum miris pada dirinya sendiri. "Aku tau bibi sering bicara santai sama Kak Rio, bibi sering meluk, ngusap kepalanya, bibi juga sering kan marahin dia. Tapi kalau sama aku, mungkin bibi cuma mau mendengarkan keluh kesahku tanpa mau mendekapku, itu pun kalau terdesak bibi baru mau melakukannya. Bibi selalu kaku kalau bicara, sedangkan dengan kalian?" Zahra menatap Rio dan Rizki. "bibi lebih santai, cocok kalau disebut ibu dan anak. Kalau sama aku? Seperti ada pembatas."
Rio segera merengkuh adiknya, ia tak sanggup lagi mendengar racauan Zahra. Pria itu mengecup pucuk kepala dan kening Zahra berkali-kali. "Maaf, Princess. Apa yang kamu mau tau? Kita akan ceritakan semuanya sama kamu."
Zahra menggeleng. Menenggelamkan wajahnya di dada sang kakak, membuat kemeja Rio basah akan air mata. "Aku mau kalian, aku mau keluarga utuhku. Aku capek pura-pura dan menutup mata."
"Dek, maaf," Rio menggumamkan maaf berkali-kali. Zahra memeluknya erat. Rizki bergeser tempat duduk mendekati Zahra berusaha menggenggam tangan yang dingin itu, tangan Rizki ditepis keras.
"Zahra ... gue," Rizki menggeleng sejenak, "kakak minta maaf banget sama kamu, sorry udah ngecewain kamu dan maaf buat semuanya."
Zahra berbalik menatap Rizki yang menatapnya sendu. "Kamu mau balas dendam sama papi tapi lewat aku? Apa segitu ga percayanya kamu sama orang tua sendiri—sehingga percaya sama orang yang kamu kenal belum sampai lima menit. Aku wajar kalau itu anak kecil, tapi kamu? Kamu laki-laki dewasa yang udah bisa mikir ini bener apa salah, apa kamu ga mau nyari tau apa yang sebenarnya terjadi?"
"Zahraa ...."
"Kenapa kalian ga cerita sama aku dari dulu?"
Rizki menghela napas. "Semuanya salah gue, Ra, sekali lagi maaf. Mungkin terdengar klise, tapi dengerin permintaan maaf gue sampai bosen. Mereka nunggu waktu yang tepat, mereka ingin gue balik ke rumah ini, melupakan kejadian yang lalu. Tapi sakit hati itu udah tertanam di hati gue, sampai lo datang dan ngerubah gue. Mungkin mereka takut kalau lo ga nerima fakta ini, mereka ga mau lo mikirin ini."
Zahra menggeleng kuat. "Apa seperti itu pandangan kalian? Aku tau, mungkin kalian berharap dengan luka batinku akan sembuh jika aku ga mendengar kisah keluarga ini. Tapi kalian salah, aku menderita karena ketidakjujuran kalian. Kalau hari ini papi masih hidup, mungkin aku juga akan marah sama dia. Aku tau, kalian ngerahasianin ini sampai Kak Rizki mau diajak pulang, kan? Gimana kalau dia ga pernah pulang, apa yang akan kalian lakukan? Kalian mau bohong sampai kapan?"
"Sayang, sebagai sahabat orangtua kamu. Bibi merasa sangat bersalah, memang harusnya kamu tau hal ini sejak awal. Kamu maukan maafin bibi?"
"Aku capek, mau tidur."
"Zahra, maafiin bibi ya, Sayang?"
Zahra tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Aku maafin kalian, tapi ya itu. Aku mau keluarga ini utuh kembali."
Rizki menarik Zahra ke dekapannya saat Rio mengurai pelukannya. Pria itu melakukan yang Rio lakukan sebelumnya. "Makasih, Ra. Makasih."
Zahra balas memeluk Rizki, ia lupa dengan luka tusuk yang dibuatnya.
Rio akan mengambil Zahra kembali saat melihat Rizki yang meringis. Rizki menggeleng kepala tanda tak apa. Lagi pula, untuk saat seperti ini ia harus menepis rasa itu. Sakitnya tidak terlalu parah jika dibandingkan luka milik Zahra.
"Tapi kakak boleh minta kamu jujur juga. Dari mana kamu tau cerita ini?" tanya Rio dengan dahi berkerut. Pertanyaan Rio mendapat anggukan dari Bi Heni dan Rizki.
Zahra mendongak ke arah Rizki. "Sorry."
"No problem," jawab Rizki sambil mengusap rambut Zahra.
Gadis itu menghapus air matanya, kemudian menyandarkan diri pada Rizki. "Aku suka banget main ke kantor papi. Waktu itu papi lagi rapat dan yahh, ruangan papi sepi. Aku yang ga tau mau ngapain ya usil, tiba-tiba dari rak papi ada yang jatuh. Buku kecil semacam agenda gitu, terus sampulnya coklat. Aku ambil dan baca—akhirnya aku tau."
"Apa yang kamu ketauhi di buku tersebut?"
Gadis itu tersenyum manis. "Sesuatu yang ga kalian tau."
Bibi mengerutkan dahi penasaran. "Apa itu?"
"Alasan papi pergi selama satu tahun." Zahra menyadari bahwa ketiganya terkejut namun ia kembali melanjutkan ceritanya.
"Papi sayang banget sama kalian, keluarga yang ia tinggalkan saat itu. Dia emang memiliki masalah yang ga mau istrinya sampai tau. Papi punya masalah sama orang yang entah siapa, mereka bermasalah sejak papi menikah. Setiap hari, papi diliputi rasa cemas dan khawatir, sampai Kak Rio lahir. Dia seneng akhirnya punya anak, tapi orang itu—musuh papi ingin Kak Rio ga hidup.
"Sewaktu baru lahir, bayi Kak Rio dicuri waktu di ruang inkubasi. Hal itu cuma papi yang tau, dia nyuruh anak buahnya buat cari tau keberadaan bayinya. Setelah ketemu, baru dia ambil bayinya dan kasih pelajaran ke orang itu.
"Musuhnya emang ga mau kalau keluarga ini tentram, dia pengen kita hancur. Hari itu, setelah papi mengungkapkan perasaannya pada Mama Areta, seseorang meneleponnya jam 4 pagi. Rahangnya mengeras setelah mendapat kabar tersebut. Dia berpamitan pada istrinya yang sedang tertidur, lalu ke mansion utama. Dia sakit waktu ngelihat bantal mami yang basah dan meluk bantal papi.
"Saat Kak Rizki lahir pun sebenarnya papi tau. Dia sudah memasang cctv mini di ruang bersalin jauh-jauh hari. Dia bersyukur dikaruniai anak cowok lagi. Dia lihat dari tempat persembunyiannya dan udah mempersiapkan nama. Dia selalu memantau kalian. Kalian bisa simpulkan sendiri apa yang terjadi selanjutnya."
"Sepertinya ada yang kurang, Dek. Waktu papi pulang, entah kenapa gue ngerasa itu bukan papi walaupun wujud mereka sama."
Zahra memandang Rio sekilas, gadis itu terkekeh pelan. "Iya, dia sebenarnya ga mau kayak gitu ke kalian. Aku tau, papi berubah dingin dan menjauh, bahkan dia ga ngakuin Kak Rizki sama mama. Dia emang pengen kalian ga terlalu bergantung sama dia, alasan utamanya supaya kalian benci dia. It's so simple, papi ga mau kalian sedih jika dia tiba-tiba ga ada di sisi kalian.
"Sampai dua Minggu kemudian, mama lihat papi menyendiri di ujung kolam. Di situ papi yang rapuh akhirnya ceritain semuanya ke mama. Akhirnya mama tau apa yang dihadapi papi saat itu. Malam harinya, saat kalian tidur, papi—mami sama mama kumpul bertiga, mereka berusaha cari jalan keluar. Sebelumnya mami udah diceritakan sama mama. Jalan keluarnya, karena publik udah terlanjur tau bahwa Kak Rio anak papi, jadi dibiarkan. Tapi, untuk Kak Rizki engga—dia tidak dipublikasikan dan aktanya dipalsukan, tapi dibuat seasli mungkin.
"Esoknya, semua berubah. Papi menjadi hangat sama kalian. Keluarga ini tentram dan sang pengacau ga suka. Masih ingat dengan penyerang tiba-tiba di taman?"
Ketiganya mengangguk kaku, terutama Rizki yang mulai merasakan ngilu kembali. Zahra menenangkan dengan menggenggam tangannya.
"Setelah insiden itu, papi ga mau bawa kalian keluar lagi. Dia khawatir. Kalian pernah minta adik perempuan, kan? Permintaan kalian itu akhirnya dikabulkan sama Tuhan. Saat usia Kak Rizki mendekati 2 tahun, mami hamil. Sedangkan papi ketar ketir lihat hasil USG-nya waktu tau calon anaknya kali ini perempuan. Bahkan, dia mau janin yang dikandung mami saat itu—di rawat di panti asuhan. Bukannya dia ga seneng anaknya cewek, tapi dia tau kalau anaknya yang ini bakalan jadi sasaran empuk musuhnya.
"Awalnya semua baik-baik saja, sampai gue lahir. Bayi itu pucat dan nangis seharian, dia ga mau dipisahin barang sedetik aja sama ibunya. Padahal berat badan bayi itu kurang, harusnya memang masih di ruang inkubasi, tapi keajaiban terjadi. Air ASI mami keluar lancar, dalam sehari aja berat bayi itu udah kembali normal. Kulitnya juga perlahan kembali memerah. Mereka bersyukur untuk itu.
"Tapi masih ada aja orang yang berniat jahat. Kekhawatiran itu terjadi, ada seseorang yang lolos dari pengawal papi, dia menerobos masuk ke ruang rawat mami. Papi yang saat itu di kamar mandi terkejut karena dengar suara tangisan bayi dan teriakan istrinya. Dia segera keluar dan gue gagal dibawa mereka.
"Mami minta pulang setelah itu, padahal kondisinya belum sembuh total. Gue keluar sebelum waktunya, itu karena seorang OB yang ternyata musuh dalam selimut nambahin obat ke minuman mami saat mereka ke kantor bersama. Tapi syukurlah, bayi itu keluar dengan selamat.
"Pengacau itu ga puas dengan keharmonisan keluarga ini, dia akhirnya mencoba menghasut Kak Rio—tapi ga mempan. Dia mencoba memutar otak dan menghasut Kak Rizki—ga mempan juga. Akhirnya cara terkahir, dia bikin cerita palsu tentang papi yang memaksa mama saat mami ga mau ngasih ke papi. Dan ceritanya itu dicocokkan dengan fakta kalau papi pernah ga nganggep kakak sebagai anaknya. Dan itu berhasil. Awal kehancuran kita. Kak Rizki memilih menjauh dan mengajak mama pergi, akhirnya tinggal kita berempat.
"Tapi ga semudah itu, papi harus rela mengorbankan salah satu istrinya. Yahh, mami mau karena dia ga mau anaknya kenapa-kenapa. Mami dan papi cerai dan mami menikah dengan seorang duda anak satu di daerah Bandung. Duda itu partner kerja papi dan dia memang butuh seorang istri buat mendampinginya dan membantunya ngurus balita yang berusia 2 tahun. Saat itu emang gue belum punya akta dan akhirnya nama yang tertera di akta gue adalah nama papa, bukan nama papi.
"Setelahnya mereka ga kontakan, tapi papi selalu dapat kabar dari papa. Soalnya papa biasanya video atau foto kita diam-diam. Papi juga sering kok ketemuan sama mama, sebagai formalitas di depan Kak Rizki mereka menandatangani surat cerai itu. Tapi kakak ga pernah tau kalau mereka ga pernah sidang. Surat cerai itu berakhir di tempat sampah.
"Kalian yang selama ini menganggap papi sama mama udah cerai, kalian salah. Mereka masih tetap suami istri yang sah.
"Papi nulis semua di buku itu, tapi yang diperbolehkan kita tau cuma yang aku ceritakan tadi. Banyak bagian yang udah dirobek dan itu ga sedikit. Sepertinya dia sengaja meninggalkan buku itu. Setelah papi ga ada, aku langsung bawa buku itu sebelum Kak Rio ataupun Om Aldo nemuin buku itu duluan."
Zahra melepaskan tangan Rizki yang melilit pinggangnya, kemudian berjalan ke meja belajarnya. Ia membuka laci terakhir dan mengambil buku kecil dengan sampul coklat. Gadis itu berdiri di samping nakas. "Aturan tetap aturan, salah satu alasan kenapa aku ga memperbolehkan kalian mendekati meja belajarku karena buku ini," Zahra menunjukkan buku itu, "aku mau kalian jujur sama aku. Dan kalau kalian kira aku membual atau merekayasa, kalian bisa baca buku ini sendiri."
Zahra memberikan buku itu pada Rio, kemudian berbalik menuju pintu. "Aku mau sendiri, kalian ga usah cari aku. Kalau aku udah tenang, aku bakalan balik." Zahra menutup pintu kamarnya sebelum ketiga orang tersebut mengucapkan sesuatu.
Gadis itu menghapus kasar cairan bening yang keluar kembali dari tempatnya bersemayam. Dia berjalan ke ruangan yang ada di depan tangga. Zahra mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya. Dia memasuki ruangan bernuansa hijau muda tersebut. Zahra menutup ruangan itu kembali.
Ruangan ini kedap suara, ruangan di mana kedua orangtuanya beristirahat. Hanya ia yang mempunyai kunci ruangan itu, karena kuncinya hilang saat Deron di kantor dan ia mengambilnya diam-diam.
Sementara kunci satunya, hilang saat Deron kecelakaan. Kecelakaan yang ia yakini bahwa itu direkayasa oleh Deron sendiri, karena sudah tiga kali ia melihat seseorang yang mirip dengan ayahnya. Sekarang ia tahu dari mana asal uang-uang yang masuk ke rekeningnya tersebut.
Zahra mengambil pigura kedua orangtuanya, yang masih tersusun rapi tanpa debu. "Aa-ku yakin papi masih ada di sini. Aku lihat papi saat di club kemarin, aa–ku tumbang dan saat itu aku dengar suara laki-laki yang mirip dengan papi. Saat bangun, aku udah di tempat dokter Syella, padahal yang tau tempat itu cuma Bang Revan dan Xavier. Sedangkan, mereka sibuk nyari aku saat itu. Papi di mana? Aa-ku kangen, sekarang kakak udah kembali? Papi seneng, kan?
"Aa-ku udah berhasil bawa Kak Rizki kembali, setelah mengorbankan sesuatu yang berharga dalam diri ini. Aa-ku sedih, tapi akhirnya keluarga ini utuh lagi. Pi, kembalilah bersama mama. Aa–ku tau, mama masih sama papi. Saat itu, aa-ku mendengar seseorang membicarakanku, dia Bi Lasmi dan entah siapa. Saat Bi Lasmi keceplosan memanggil dia nyonya dan saat itu aku sadar kalau mama masih ada.
Papi kapan pulang? Zahra kangen ...."
Zahra memeluk pigura tersebut hingga terlelap di kamar orangtuanya.
...****...
Tengah malam, Zahra tak nyaman dengan tidurnya. Ia merasa seseorang tengan mengganggunya.
Orang itu mengambil pigura yang berada di pelukan Zahra dan menggantinya dengan guling. Dia menyelimuti Zahra dari dada hingga ujung kaki.
Dia tersenyum melihat gadisnya tumbuh dewasa. Ia mendekatkan diri pada Zahra, merapikan rambut yang berantakan lalu mencium keningnya sekilas, karena tak mau membangunkan gadisnya.
"Good night. Get well soon, Baby. Thank you for sacrificing and bringing your brother back. I see you, Princess Ario."
TBC!!!!
JANGAN LUPA LIKE SAMA KOMEN GAESS
SEE YOU 🌹