Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
79. Seperti di Negeri Dongeng


Gadis yang masih mengenakan dress scarlett itu membuka mata, kamar dengan nuansa biru laut itu menyambutnya. Ini seperti di cerita dongeng saja, dirinya diculik, kemudian berakhir di sebuah kamar yang rapi dan bersih.


Ia mengenali kamar ini. Kamar dengan meja belajar yang memuat banyak rahasia. Apa yang dilakukan si penculik itu padanya? Kepalanya agak pusing sekarang. Ia akan minta penjelasan lain kali.


Gadis itu kembali mengerjab, matanya masih menyesuaikan dengan cahaya mentari yang menyinari kamar ini.


Setelah kembali di kamar ini, ia merasa aneh dengan gaun yang dipakainya sekarang. Ini bukan style-nya, tapi bagus saja jika orang-orang memujinya karena gaun ini. Ia duduk dan bersandar di kepala ranjang. Tangannya terulur menyentuh benda pipih hitam di atas nakas. Menghidupkan dayanya, setelah satu menit, layar ponsel itu menyala.


Manik coklat itu mengamati sesuatu yang ditunjukkan di sudut atas ponsel. "Oh, Good. Sepuluh persen." Ia segera bangkit, mengambil charger yang ada di laci nakas, kemudian menyambungkan kabel itu dengan ponselnya. Handphone itu mengisi daya sekarang.


Lalu apa yang akan ia lakukan jika sudah kembali ke rumah ini. Kalung itu belum ia dapatkan. Ia belum siap keluar, jika dirinya bertemu kakaknya nanti, apa yang akan ia katakan? Ia tidak mau mengecewakan saudaranya itu. Nyatanya kalung bandul love itu belum kembali padanya.


Knop pintu di putar, pria berkaus navy dengan jambul itu masuk ke kamarnya dengan sengaja. Memandang dirinya tajam dan menusuk. Pria itu berjalan ke arahnya.


Zahra bergeming di tempatnya, ia hanya menunggu dan mengerjab. Ia tidak mungkin menghindar lagi, ia berada di kamarnya sekarang.


"Zahra!" ucap pria itu dengan suara beratnya.


Zahra menunduk, bergetar di tempatnya. Sudah lama ia tidak mendengar pria itu menggunakan suara itu, bahkan saat kemarin menghajarnya—suaranya masih terdengar ringan. Pasti dia lebih murka dari kemarin. Ia siap dengan segala kemungkinan yang ada.


Zahra merapatkan tubuhnya ke kepala ranjang, kakinya tertekuk ke atas, sementara kepalanya bertumpu pada lututnya. Tangannya mengapit erat lututnya. Ia tidak mau menatap kakaknya jika sedang marah. Pria itu menyeramkan.


"Kakak bisa hajar aku sekarang, aku pulang ga bawa apa-apa. Aku ga berhasil nemuin kalung mami," ucapnya dengan suara bergetar.


Telapak tangan yang hangat dapat ia rasakan mendarat di kepalanya, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan kakaknya kali ini. Mungkinkah memukul kepalanya?


Usapan lembut di rambutnya kembali ia rasakan. Ia tidak mau berharap kali ini, bisa saja usapan lembut itu akan berubah menjadi pukulan keras yang menghantam kepalanya.


Ia menunggu pukulan itu, namun sudah sejak lama pria itu hanya mengusap rambutnya. "Kak ...?"


Usapan itu menghilang, mungkin tangan itu sedang bersiap memukulnya. Tarikan dapat ia rasakan, merengkuh tubuhnya erat. Ia masih belum berani menatap kakaknya, jika ini mimpi, ia tidak mau terbangun. Mimpi yang selama beberapa hari ini ia nantikan.


Pucuk kepala dan keningnya dihujani kecupan bertubi-tubi. Ia mendengar seseorang yang merengkuhnya terisak kecil. Seseorang itu menyembunyikan wajah di lekukan lehernya, leher yang bebas dari kain itu terasa basah sekarang.


"Maafin kakak, Dek .... Jangan kayak gini. Maaf ...."


Suara berat itu bergetar di lehernya, keduanya sama-sama terisak.


"Kak ... aku ga berhasil nemuin kalung itu."


"Ga papa, ga papa, yang penting kamu kembali. Maafin kakak, kakak bodoh banget hari itu."


Dapat Zahra rasakan, hidung mancung itu menggesek lehernya dengan sengaja, membuatnya kegelian.


"Kak ... kalung itu ga ketemu."


"Ga papa, Baby. It's, okey." Tangan yang tadinya melingkari tubuh mungil itu kini merayap ke atas, beralih membuat gadis yang direngkuhnya menatapnya. Manik coklat yang serupa itu bertemu, memancarkan binar kerinduan yang saling menghangatkan. "Kamu maafin kakak, kan?" Telapak tangannya yang besar menangkup pipi tirus itu. "Maaf, Sayang."


Gadis itu melepas tangkupan itu. Sang pria menghela napas, dengan berat hati ia melepaskan pipi adiknya. Tangan mungil itu bergerak memeluk pinggang kakaknya, menyandarkan kepala di dada bidang itu.


"Dek ...?"


"Kakak natap aku kayak gitu, berasa aku jadi Defi, deh. Kakak ga perlu minta maaf, itu salah aku." Manik coklat itu mendongak, menatap kakaknya yang kembali mendekapnya erat. "Kakak pantas kok hukum aku."


Kecupan kembali di layangkan pada kening adiknya yang tertutup rambut itu. "Kakak kelewatan, Baby."


"Aku memang pantas dapetin itu."


Pria itu menggeleng tegas. "Kakak juga salah, ga seharusnya kakak melampiaskannya sama kamu."


"Aku pantas menerimanya."


"No, Baby. Kakak khilaf waktu itu. Kakak dikuasai amarah."


Yah, memang. Zahra memang tahu-menahu kehidupan di mansion ini karena Bona menceritakan pada dirinya. Kakaknya sakit, ia mengetahuinya. Ia mengetahui semuanya. Kakak tertuanya itu menyesali perbuatannya.


Zahra melepas pelukan mereka. "Aku mau istirahat dulu, Kak. Entah apa yang Devan lakuin, tapi tiba-tiba semuanya gelap dan aku ga sadarkan diri."


"Kalau gitu, kakak akan buat perhitungan sama dia!"


"Ga usah, Kak. Lupain aja. Kakak keluar saja, aku mau tidur."


"Kamu ga makan siang, Dek? Kakak yakin kamu belum sempat makan siang."


"Nanti aja, Kak. Aku mau tidur dulu aja."


"Kakak nemenin kamu tidur aja, kangen ...." Tangan Rio mulai menjalar, menepuk punggung adiknya pelan. Bersenandung lirih seperti saat Zahra sakit hari itu.


Gadis itu terkekeh kecil, ia juga merindukan kakaknya yang satu ini. Zahra mulai menyamankan diri di pelukan Rio, memeluk leher kakaknya. Ia suka aroma mint ini. Manik coklat itu kembali terpejam dengan bonus dekapan hangat yang selama beberapa hari tidak ia rasakan.


...***...


Rio menguap, mengerjab pelan. Ia melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Jam satu," gumamnya pelan. Ia menoleh ke samping, di mana adiknya masih terlelap dengan nyenyak.


Kalau tidur dengan Zahra ya seperti ini, ia bisa tidur hingga dua jam, padahal biasanya hanya setengah jam. Ia menarik tangan yang menjadi bantal adiknya dengan perlahan. Pria itu bangkit, menyibak selimut yang dipakainya.


Tangannya bergerak menggoyangkan bahu adiknya. "Dek, bangun ...." Setelah beberapa detik, adiknya itu baru menggerakkan badan.


Manik coklat itu terbuka remang, sebelah tangannya bergerak mengucek-ucek matanya. Ia mendongak, menatap pria berkaus navy yang sedang merapikan selimutnya. "Kakak laper," ucapnya merengek.


Rio menghela lelah. "Buru bangun, diajak makan tadi ga mau. Gue juga laper, nih."


Zahra segera bangkit, kemudian melihat ponselnnya, ternyata ponsel itu sudah terisi penuh. Ia segera melepas charger dari colokan listrik. Membiarkan ponsel itu tergeletak di nakas, ia sedang tidak mood melihat isi ponselnya. Apa lagi chat dari teman-temannya yang memberondongnya.


"Ayo!"


"Iya, Kak."


Zahra berjalan dengan gontai, gadis itu bergelayut manja di lengan Rio. Menempeli pria itu sambil berjalan.


Keduanya keluar kamar, Rio berhenti sebentar di kamar yang berada di sebelah kamar Rizki. "Lo ingat papi ngomong apa waktu menunjukkan kamar ini?"


Zahra membuat pose seperti berfikir, padahal ia sudah tahu jika Raisha menempati kamar itu. "Eum, kamar Kak Raisha, jika kita berhasil menemukan dia. Tapi, dia—"


"Itu emang udah jadi kamar Raisha. Putra mengantarkannya ke sini, kakak tahu lo udah tau lebih dulu," Rio memotong ucapan Zahra. "Lo ke club kan, malam itu?"


Gadis itu mengangguk sedih. "Padahal kita udah saling kenal dari lama, tapi dia ga mau jujur sama gue. Padahal gue udah berusaha nyari dia, tega banget."


Rio mengusap rambut adiknya pelan, lalu mengecup pucak kepalanya. "Dia pasti punya alasan tertentu, Ra."


"Tapi kalau dia mau lebih terbuka sama gue, alasan itu ga akan berguna ketika dia bermaksud nolak kembali pada kita."


"Semua orang punya pemikiran sendiri, apa yang terbaik untuk kita, belum tentu terbaik seperti pemikiran mereka."


Saat keduanya akan melanjutkan langkah untuk turun, pintu kamar Rizki terbuka. Seseorang memeluk Zahra dari belakang, kedua tangannya melingkari leher gadis dengan gaun scarlett yang masih melekat di tubuhnya.


"Sorry, Ra. Gue terlalu malu untuk mendekati lo dan ... gue ga mau lo kenapa-kenapa kalau masih dekat sama gue."


Zahra melepas tangan yang merangkulnya dengan paksa, gadis itu berbalik badan. Menatap manik coklat terang yang tak lepas memandangnya sendu.


"Lo ga dekat gue aja gue masih bisa kenapa-kenapa, jadi alasan lo itu ga masuk. Lo ga mikirin perasaan gue gimana, ga mikirin orang yang masih sayang sama lo. Lo pergi seperti belasan tahun lalu, tanpa mikirin gimana keadaan gue di jalan sendirian. Lo egois, munafik. Gue ga mau dekat-dekat sama orang munafik kayak lo." Zahra berbalik badan, menarik Rio untuk ikut dengannya. Mengabaikan Raisha yang terpaku di tempatnya.


Rizki yang hanya memerhatikan sejak tadi, bergerak mendekati Raisha. Memeluk gadis itu dari samping, menghapus bulir yang jatuh dari manik coklat terang tersebut. "Udah, ga usah dipikirin omongannya Zahra, dia cuma kecewa bentar aja. Laper tuh anak, mood-nya buruk ya gitu. Udah, ga usah dipikirin." Pria itu merangkul gadis di sebelahnya. "Udah, yuk lanjut game-nya. Nanti kalau suasana hatinya udah baikan, lo baru samperin lagi. Bang Rio nanti juga bujuk Zahra kok, tenang aja." Rizki menarik anggota baru itu kembali ke kamarnya.


"Gue takut Zahra ga mau maafin gue, dia benci sama gue, Riz."


"Lupain dulu Zahranya, dia kalau ngambek emang susah di bujuk. Apalagi kalau lagi kecewa, ga beda jauh sama abangnya. Biarin hatinya lega dulu, ga usah dipikirin. Daripada lo capek mikir, terus lo sakit, nahh, baru tuh dia nyamperin lo."


"Jadi gue harus sakit dulu?" Raisha membuka gagang pintu.


"Ya ga harus gitu. Nanti kalau suasana hatinya udah bersahabat, dia pasti bisa diajak ngomong." Rizki segera menarik Raisha sebelum gadis itu memikirkan adik bungsunya kembali.


...***...


Zahra dan Rio telah selesai dengan makan siangnya. Pria itu masih menunggui adiknya yang tengah mencuci piring.


"Lo ga bisa gini, Ra. Raisha ga bisa lo abaikan gitu aja, lo ga kasian?" Rio mulai membahas topik sensitif di antara kedua perempuan itu.


"Bukan gitu, Kak. Gue, sebenarnya udah ga papa sama dia, tapi dia harus belajar buat lebih terbuka sama kita. Gimana kalau kedepannya ada masalah, dia dalam posisi sulit, tapi kita ga bisa berbuat apa-apa karena ga tau kondisinya kayak gimana." Zahra meletakkan peralatan yang sudah bersih itu ke tempat semula.


Gadis bersurai coklat itu mengambil air dingin di kulkas, kemudian menenggaknya. "Kakak ga usah khawatir, nanti malam kalau ga ngantuk gue samperin dia ke kamarnya. Sekarang gue mau ke bibi dulu, bibi pasti belum tau kalau gue diculik ke sini."


"Dek, please. Bukannya kamu udah lama pengen ketemu Raisha, dia udah menyesal dengan perbuatannya. Kondisi mendesaknya, Ra."


Zahra mengangkat kedua tangannya, berjalan ke arah Rio. Mencium pipi kakaknya itu sekilas. "Kakakku tersayang, kakak ga perlu khawatir, udah gue bilang, kan? Gue cuma butuh waktu aja. Janji deh, nanti malem."


"Nahh, itu baru Zahra! Gue ga mau besok lihat kalian masih diam-diaman."


Gadis itu tersenyum tipis, kembali mencium pipi Rio, kemudian berjalan ke pintu belakang menuju rumah Bi Heni. Rio menggelengkan kepala, ia segera bangkit meninggalkan meja makan.