
Semua peserta liburan sudah berkumpul di ruang utama, tentu saja untuk sarapan. Mengisi perut kosong dengan sekotak nasi.
"Eits, jangan ada yang ambil sendiri, nanti berantakan kayak kemarin. Awas minggir!" Zahra membelah kerumunan yang temannya ciptakan.
Nasi kotak favorit mereka. Menu kali ini sekotak nasi seperti biasa dengan lauk daging salmon, udang, sambal bawang berserta dabu-dabu yang dibungkus secara terpisah dan tumis sayur.
Beberapa remaja membuat kerumunan sehingga menyebabkan nasi kotak itu sulit dijangkau.
Memang benar, jika kemarin lauk dan nasinya berantakan. Itu karena mereka berebut nasi kotak tersebut, takut kalau tidak dapat. Padahal nasi yang dipesan berjumlah 25 buah, mustahil jika ada yang tidak dapat. Jikalau ada, pasti salah satu dari mereka berbuat sesuatu.
"Udah, ga usah ribut. Kalau kalian ribut, ga kita kasih nih makanannya," peringat Rizki.
"Halah, palingan lo makan sendiri kalau kita ribut. Ya, ga?" Rey dengan jiwa rusuhnya kembali, pria berusia dua puluh tiga tahun itu berusaha mengompori yang lain.
"Lo semua mau makan ga, sih?" Zahra kesal pada teman-temannya yang sulit diajak kerjasama.
Setelah senyap, gadis berkaus kuning polos oversize dengan gadis bergaun crop top hijau dengan motif dedaunan dan bunga-bunga–tengah membuka kantung plastik merah besar yang berisi kotak putih dengan panjang 25 centimeter di tiap sisinya. Kedua gadis itu membagikan tiap kotak pada individu yang berada di sana, menyisakan 2 kotak yang nanti akan dibagikan pada orang beruntung yang mereka temui.
Hari ini mereka akan ke pantai Waiwo. Kali ini mereka berangkat agak siang sedikit, karena tempat yang dituju juga lumayan dekat. Tidak seperti kemarin yang lama perjalanannya 5 hingga 6 jam. Kali ini hanya 15 menit dengan naik kendaraan bermotor mereka sudah sampai di pantai Waiwo.
Jam delapan lewat empat puluh menit waktu setempat, mereka telah sampai di pantai. Hawa sejuk dan rindangnya hutan hijau seakan menyambut mereka yang baru datang. Pantai Waiwo memang tidak terlalu besar, namun soal keindahan tidak perlu ditanyakan lagi.
Hamparan pasir putih yang luas menjadi sasaran mata telanj*ng mereka. Mereka berlarian menuju bibir pantai, seolah siapa yang sampai duluan akan menikmati semua yang ada di tempat itu.
Belum puas mereka menikmati pemandangan daratan yang tak habis-habis, mata mereka sudah dimanjakan kembali oleh air laut yang jernih. Airnya yang jernih membuat batu karang dan ikan-ikan kecil di sepanjang bibir pantai jadi terlihat.
Bahkan mata mereka akan semakin dimanjakan dengan lapisan pemandangan pulau-pulau yang terlihat dari kejauhan. Sungguh, semua hal yang ada di pantai Waiwo ini membuat mereka tidak ingin beranjak dari pasir yang baru mereka pijak.
Di sini mereka melakukan banyak hal, seperti snorkeling, berjemur, membangun istana, menuliskan sesuatu di pasir, ataupun bermain jetski.
Pantai ini juga memiliki dermaga, mereka berombongan menuju dermaga tersebut. Di sana mereka memberi makan ikan-ikan kecil di sekitar pantai dengan menggunakan mie instan atau kepalan nasi putih. Hanya dengan menaruh makanan di telapak tangan dan menenggelamkannya ke air, ikan-ikan kecil yang berwarna-warni akan mendekat dan mulai memakan makanan di tangan tersebut.
"Anj*r, geli tangan gue dikecupin sama ikan-ikan mungil." Una segera mengangkat telapak tangannya ketika makanan itu habis. Ia masih bergidik. Laki-laki dengan kaus putih di sebelahnya itu malah memberikan remahan mie, lalu mencelupkan tangan Una kembali. "Kak Putra!"
Laki-laki itu terkekeh renyah. "Terapi ini," kekehnya.
"Habis ini kita makan aja, gimana? Kebetulan udah jam makan siang," usul Ardelia. Gadis itu baru saja melihat jam yang melingkari lengannya, apalagi matahari sudah semakin terik.
"Tapi di sini hanya ada resort sebagai tempat makan, gimana?" tanya Devan bimbang. Memang mereka sepakat untuk makan di luar kali ini.
"Ya udah, ke situ aja. Dari pada kalian kelaparan." Bi Heni memandang ke-22 remaja itu, meminta pendapat. Atau jika mereka menolak, bisa langsung kembali ke Waisai untuk makan di restoran yang berada di sana.
"Kalau gitu, yuk kita serbu makanannya," kata Ica heboh, gadis itu berjalan duluan melewati yang lainnya.
Mereka masuk tempat tersebut dan memesan meja serta makanan. Tak berapa lama makanan yang mereka pesan telah terhidang di hadapan mereka satu per satu.
Mereka memakan makanan tersebut dengan senang karena kelaparan, kecuali satu orang.
Ina langsung berlari menuju toilet yang diketahuinya dari salah satu pelayan resort. Resort yang mereka tempati ini terbuka untuk umum, siapa saja boleh makan di tempat itu.
"Hoekk." Lagi-lagi Ina memuntahkan cairan dari perutnya. Setelah selesai, gadis yang mengenakan crop top orange tua yang dipadukan dengan kemeja senada tersebut berkumur.
Ina memandang dirinya di cermin. "Gue kenapa, ya? Kok akhir-akhir ini suka aneh?" tanyanya heran pada diri sendiri. Gadis itu berpikir sejenak sembari mematut bayangannya yang terpantul di cermin mini itu.
"Apa jangan-jangan ... gue? Gak, gak mungkin!"
Gadis itu keluar dari toilet dengan terburu-buru, tak sadar jika sedari tadi ada orang yang mengawasinya dari balik pintu.
Selang beberapa menit, gadis kucir pendek itu kembali memasuki toilet dengan menggumam, "Semoga ga, semoga ga!" Gadis itu memasuki toilet yang sama, kali ini ia menutup pintunya.
Dia kenapa? batin seseorang yang masih berada di balik pintu. By the way, orang yang bersembunyi ini maksudnya bersembunyi di balik pintu utama toilet. Dengan langkah perlahan, gadis kucir kuda tersebut menutup pintu itu, mencoba mencegah orang lain masuk. Oke, jangan ditiru, kasian pengunjung lain jika ingin ke toilet.
Orang itu mendekati toilet yang dimasuki Ina tadi dengan perlahan, agar tidak menimbulkan suara. Ia mendekatkan telinganya pada pintu toilet. Suara yang di dalam tidak jelas, yang terdengar hanya suara gemericik air.
Sementara itu, Ina yang berada di toilet menunggu dengan harap-harap cemas. "Kalau itu bener ...." Gadis itu mengusap perut datarnya. "Gak, gak mungkin. Gue ga mau!" Pertahannya runtuh seketika, apa ketakutan terbesarnya akan segera terjadi?
Gadis itu memeluk benda mungil panjang yang di genggamnya, sambil merapalakan doa—semoga yang ada di pikirannya tidak terjadi. Mengingat juga di bulan ini ia belum mendapatkan jadwal menstruasinya, yang biasanya jatuh pada awal bulan dan pertengahan. Tapi ini sudah akhir bulan dan kurang dari empat hari, bulan akan segera berganti.
3 menit ....
"Kenapa belum keluar juga ...?"
5 menit ....
Ina melihat lagi benda itu dengan takut, gadis itu berdecak. Belum keluar juga.
7 menit ....
9 menit ....
10 menit ....
"Mungkin udah keluar kali ya?" Dengan perlahan gadis berambut ombre tosca itu mengintip benda yang di genggamnya. Dia melepaskan kepalan tangannya secara perlahan.
"Du–dua ga–ris?" Ina menjatuhkan benda itu, terpampang jelas dua garis merah yang mengartikan bahwa ia positif mengandung.
Ia meraih benda itu lagi, ditatapnya lekat-lekat. Ternyata penglihatannya tidak salah, benda itu memang bergaris merah. Ina melempar benda itu ke segala arah.
"I–i–iini ga mung–kin, kan? Gu–gue ... ga mung–kin, kan?" Tubuhnya luruh bersamaan dengan air mata yang mulai jatuh semakin deras.
Ia memegangi lututnya. "Gu–gue ha–mil? Enggak-enggak!" Ina menggeleng sambil tetap sesenggukan. Tangannya bergerak menghapus setiap cairan yang keluar dari matanya, tapi ia tetap tak bisa mencegah cairan bening itu untuk tumpah.
"Gu–gue han–cur, gue hancur!" Ina menangis frustasi di dalem toilet. Menyisakan tanda tanya besar pada orang yang masih berusaha menguping di balik pintu.
...****...
"Mereka berdua kemana, si? Pergi dari tadi kok ga nongol-nongol, ini nih yang ga gue suka! Ngilang-ngilang, ga jelas lagi ngilangnya kemana." Rio kesal karena menunggu adiknya yang tak kunjung kembali. Bilangnya lima menit, tapi hampir tiga puluh menit, Zahra tidak menampakkan dirinya.
Gadis yang menyelesaikan makannya lebih cepat itu berpamitan untuk berkeliling resort sebentar, namun hingga kini ia belum kembali.
Pria dengan kemeja biru itu menunggu di depan resort bersama kekasihnya, siapa lagi jika bukan Defi. Sementara yang lain sudah kembali ke pantai untuk menghabiskan sore mereka.
"Udah, sabar. Coba lo telepon," saran Defi sambil mengusap lengannya Rio.
"Oh iya, kok gue ga kepikiran." Rio menepuk dahinya, menertawakan kebodohan yang dibuatnya. Ia mulai menekan nomor Zahra yang sudah hafal di luar kepala. Panggilan pertama dan kedua tidak diangkat.
"Coba, sekali lagi!"
Rio mengangguki usul gadisnya, ia mencoba sekali lagi. Lama panggilan itu berdering, hingga suara kering seorang gadis menyapa pendengarannya.
"Halo. Kenapa, Kak?"
"Lo di mana? Masih di resort?"
"Eng–i–iya ... masih, Kak," jawab Zahra gugup hampir keceplosan.
"Cepetan keluar, gue nunggu di luar, nih!"
"A–anu, Kak. Gue masih nyariin Ina. Nanti kalau Inanya udah ketemu, gue pasti nyusulin kakak kok."
"Awas, ya! Kalau sampe kamu ketahuan bohong, lo gue seret paksa!"
"Iya, Kak. Behh, lo tega banget sama gue."
"Nanti cepetan balik! Kakak tunggu kamu di pantai. Kalau gitu gue tutup, ya?"
"Iya, Kak." Setelah menjawab demikian, Zahra langsung mematikan sambungannya.
Defi menoleh pada kakak dari sahabatnya itu. "Di mana dia?"
"Masih di dalem, nyariin Ina. Udah yuk, kita duluan. Tadi udah gue bilang suruh nyusul." Rio merangkul pinggang Defi mesra, menunjukkan jika gadis yang memakai kaus couple yang serupa dengan miliknya itu, kekasihnya. Pria berkacamata hitam itu memandang penuh smirk pada pengunjung lain yang tertarik dengan gadisnya.
"Yukk!"