Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
46. Hari yang Ditunggu-tunggu


Tahun ajaran selama setengah tahun telah berakhir, mereka menebusnya dengan liburan bersama untuk me-restart ulang pikiran mereka agar tetap jernih.


Sekelompok remaja telah berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka membawa koper minimalis, yang masing-masing membawa satu koper, beserta slinbag bagi perempuan. Sedangkan para laki-laki hanya membawa ransel gunung.


Mereka tengah gelisah menunggu beberapa bagian yang saat ini belum sampai. Juga bagian terpenting, yaitu yang mensponsori liburan mereka kali ini.


Ada sekitar enam perusahaan yang mensponsori liburan gratisan mereka. Wah, enam perusahaan itu baik sekali.


Sementara mereka yang berada di bandara gelisah, lain dengan dua pria yang tengah bersabar menunggu tambatan hatinya berkemas.


Zahra keluar dari mobil, diikuti dua orang lainnya. Pak Mahes membantu mengeluarkan koper mereka dari bagasi.


"Saya titip mansion ya, Pak. Kurang lebih satu minggu saya dan keluarga tidak berada di rumah. Nanti kalau saya sampai di bandara kembali, saya akan menghubungi bapak," kata Zahra.


"Baik, Nona. Saya dan yang lain pasti akan menjaga mansion dengan baik."


Zahra tersenyum mendengarnya. "Terimakasih, Pak. Saya sudah titip banyak camilan pada anak-anak, saya rasa itu cukup untuk satu minggu."


"Terimakasih, Nona."


"Kalau begitu, kami pergi dulu."


"Silahkan ...."


Zahra dan dua orang itu berjalan  menuju sekelompok remaja yang telah berkumpul. "Udah datang semua?" tanyanya begitu sampai.


"Belum, Ra. Abang-abang lo sama ceweknya belum ada," jawab Jaka.


"Ya udah, kalian check-in duluan, biar gue yang nunggu mereka." Zahra membalikkan badan, menghadap Bi Heni dan Tria. "Kalian, ikut mereka aja. Biar aku yang nunggu kakak."


Bi Heni mengangguk. "Bibi ke sana dulu, ya?"


"Iya, Bi. Titip temen-temen bentar ya, nanti kalau nakal tempeleng aja."


Bibi terkekeh lalu menatap ke enam belas remaja akhir tersebut. "Ayo, kita check-in duluan," ajak bibi pada peserta liburan. Mereka semua mengikuti bibi dan Tria.


Tak lama kemudian, sedan putih datang. Keluarlah empat manusia dari dalamnya. Seorang supir keluar lalu membantu mengeluarkan koper.


"Lama amat kalian, ditungguin juga," maki Zahra pada mereka.


"Sorry, Ra. Mereka siap-siapnya lama, kita sampai jamuran nungguinnya," keluh Rizki pada kedua gadis yang berdiri di samping mereka, sedangkan keduanya meringis mendapati wajah kesal Zahra.


"Iya, persis kek nungguin lo. Lama banget," sambung Rio.


"Udahlah. Lo berdua ngapain aja, sih? Yang lain udah pada nungguin tau. Persiapan kemarin-kemarin, kenapa baru kalian siapin pagi ini, hah?" omel Zahra pada dua gadis yang tadi bersama kakaknya.


Rio tak kaget lagi ketika melihat Zahra mengomeli pacar dan gebetannya Rizki. Tapi lain dengan Rizki, ia terdiam. Terkejut bagaimana Zahra bisa akrab dengan kedua gadis itu, mengomelinya pula—padahal mereka belum mengenal. Yang lebih mengejutkan, kedua gadis itu meminta maaf pada Zahra.


"Semalem kita ketiduran waktu beres-beres. Maafin, yak." Defi berbicara sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Zahra baik deh, anaknya cakep tapi kalau kayak emak-emak gini cakepnya ntar ilang lohh," tambah Rani memohon.


Zahra memutar bola matanya. "Udah deh. Kita langsung nyusul yang lain aja, bac*tnya dilanjut ntar aja pas di dalem."


Sontak kedua gadis itu memeluk Zahra kegirangan, berjalan beriringan mengikuti teman mereka yang sudah check-in terlebih dulu. Meninggalkan kopernya bersama dua pria tersebut.


Sebelum mereka melangkah lebih jauh, Zahra lebih dulu berteriak, "Kak, jangan lupa kopernya!"


Dengan berat hati, Rio dan Rizki menyeret koper gadis mereka. "Pak, tolong bawain koper adik saya!" perintah Rio pada supir yang tadi dibawanya.


"Baik, Tuan."


Setelah mereka berkumpul, Zahra mengabsen kembali anggota liburannya. Tujuannya supaya tidak ada yang ketinggalan, siapa tahu dari mereka ada yang masih di kamar mandi atau berjalan-jalan di sekitar.


Masih ada waktu 15 menit sebelum take off, para penumpang diharapkan memasuki pesawat dan menunggu penerbangan di dalam.


Mereka berangkat pukul 10 WIB dan sampai di Bandara Domine Eduard Osok Sorong pukul 4 WIT. Jakarta menuju Sorong membutuhkan waktu kurang lebih empat hingga lima jam, tergantung cuaca dan jalur yang dilalui.


Sampai di bandara Sorong, mereka disambut oleh lima mobil. Mobil-mobil ini membawa mereka dari bandara menuju pelabuhan Sorong. Dari Sorong ke pelabuhan membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit.


Setelah sampai di pelabuhan, mereka menaiki kapal menuju Waisai. Ibu kota Raja Ampat. Mereka membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk sampai di Waisai, itu karena mereka sedang mengirit. Jika saja mereka menggunakan fasilitas kapal cepat, mereka akan tiba di Waisai lebih cepat 2 jam.


Empat jam kemudian, mereka telah tiba di dermaga Waisai. Di sana mereka menyewa kendaraan untuk mengantar ke penginapan. Sesampainya di penginapan, para sopir membantu mengeluarkan barang dari bagasi.


Mereka memasuki penginapan yang akan ditempati selama liburan. Mereka berkumpul di ruang utama. Ruangnya besar, sehingga mereka bisa menghilangkan rasa lelah akibat perjalanan panjang. Ada yang langsung duduk di kursi, selonjoran di samping meja, berbaring di karpet. Ruang tamu itu sekarang lebih mirip disebut penampungan orang terbuang dari pada ruang utama.


Zahra kembali mengecek peserta liburannya, masih lengkap kah atau mungkin ada yang terselip.


Fandi tiba-tiba berdiri sambil memegangi celananya. "Woyy, toilet di mana, anj*r? Kebelet gue!"


"Mana tau, kita aja baru sampai," jawab Jaka.


"Udah-udah. Itu belakang lo kan ada kamar, nah di dalamnya ada toiletnya," kata Putra.


Fandi berbalik badan, segera memasuki salah satu kamar yang berada di belakangnya.


"Di sini kamarnya ada berapa?" tanya Zahra pada barisan laki-laki yang ia tugaskan untuk mencari penginapan.


"Lima kamar dengan tiga ranjang. Masing-masing kamar ada toilet dan Ac-nya," jawab Devan.


"Gue bagi ya kamar kalian, kecuali kamar gue sama keluarga bakalan dijadiin satu. Setelah gue bagi ga ada yang boleh protes. Ini kan liburan bareng, mungkin diantara kalian ada yang belum akrab, jadi kalian gue pencar sama anak geng lain. Ngerti kalian semua?"


"Serah lo, Ra! Penting kita tidur."


"Iya. Apalagi kalau cewek sama cowok sekamar. Ughh, seneng banget gue," sambar Fandi yang baru saja keluar dari toilet. Ia membenarkan pakaiannya yang masih berantakan.


Ica menoyor kepala Fandi, laki-laki urakan tersebut memilih duduk di sampingnya. Sedangkan yang lainnya memutar bola matanya malas.


Zahra lalu mengumumkan teman kamar teman-temannya. Dari pengumuman tersebut diperoleh hasil sebagai berikut.


Kamar 1              Kamar 2            Kamar 3


-Diki                  - Rey               - Ina


-Rezal                - Revan                - Ica


-Putra                - Devan                - Una


-Fandi                - Jaka                    - Rani


                          - Willy                  - Mita


Kamar 4          Kamar 5


-Defi                  - Bi Heni


-Ardelia            - Rio


-Arel                  -Rizki


-Ify                     -Tria


                           -Zahra


"Gimana? Kalian setuju sama temen kamar kalian? Atau ada yang mau protes, kalau ada silahkan tidur di sini."


Revan menoyor kepala Zahra. "Basa basi lo ga guna, anjay!"


"Dih," cibir Revan pelan.


"Udah-udah. Jadi kita mau ke mana hari ini?" tanya Rey. Dari gerak tubuhnya, kelihatan sekali jika pria itu hiperaktif, tidak sabar ingin segera menjelajahi Raja Ampat.


"Istirahat bisa kali, Bang. Bersih-bersih juga, nata barang," sambar Mita. Gadis yang mengenakan jaket berbulu tersebut meregangkan otot tubuhnya, yang serasa kaku karena perjalanan panjang.


"Iya, bener, Kak. Capek tau dikendaraan mulu," keluh Arel, diangguki kedua sahabatnya.


"Itu mah, kalian cewek-cewek. Kalau kita mah langsung caw aja bisa." Willy berusaha mengompori yang lain, ia ingin ngopi, tapi tidak tahu dimana cafe terdekat dari penginapan. Malam-malam begini enaknya menikmati yang hangat-hangat, bukan?


"Ga deh. Bener kata cewek-cewek, lagian ini udah malem. Kita istirahat aja, besok kita ada rute panjang. Masih ada satu jam sebelum jam tidur, kita gunain buat beres-beres," nasihat Diki pada lainnya.


"Nahh, bener tuh, Bang!" Yang lain manggut-manggut menyetujui usul Diki.


"Kalau gitu silahkan ke kamar masing-masing." Rizki mempersilahkan teman-temannya agar segera beberes dan membersihkan diri.


Mereka bergegas menuju kamar masing-masing, tapi lain dengan tiga saudara ini. Mereka masih diam di tempat.


"Nyalain TV coba, Kak?"


Rio mengangguk, mencoba mencari-cari remot dari televisi yang berada di depan mereka. "Remotnya ga ada, Ra."


"Cari lagi!" Zahra ikut mencari remot.


Zahra dan Rio mencari remot sampai ke lubang semut pun mereka cari. Sudah ditanyakan juga pada ratu semut, tapi ia tidak tahu.


Lain Rio dan Zahra, lain pula dengan Rizki yang asik memakan permen sunduknya, entah dari mana pria dua puluh dua tahun itu mendapatkannya.


Rio menepuk-nepuk pundak Rizki, berharap adiknya itu tersedak.


"Woyy, apaan sih?" seru Rizki marah, membuat acara makan permennya terganggu.


"Bantuin kek nyari remot!"


"Lu holkay bang, kalau mau nonton lewat handphone aja udah bisa, ga usah make remot segala," balas Rizki, laki-laki itu masih menikmati permennya.


"Ngirit coeg, lagi pula sinyal disini agak susah. Ngerti ga lo?"


"Iye-iye, gue bantuin." Rizki akhirnya mau membantu kedua saudaranya untuk mencari remot, masih dengan permen rasa melon yang menempel di mulutnya.


Mereka mencari remot di kolong meja, sarang laba-laba, kolong-kolong kegelapan juga mereka cari. Sofa juga sudah berantakan karena mereka mencari remotnya di bawah sofa, siapa tahu benda persegi panjang itu terselip di sana. Nyatanya, setelah ruang utama seperti kandang sapi pun remotnya tidak ditemukan.


"Kak, kok ga ada si? Mana televisinya ga ada tombol powernya lagi, datar kek tembok madrasah."


"Coba gih cari lagi! Yang teliti nyarinya!" suruh Rio.


"Emang lo berdua mau liat apaan sih? Ngebet amat pengen nyalain itu TV." Rizki berdecak kesal, ingin menyerah saja rasanya.


"Itu lho, biasa. Dua bocak pitak, eh botok ... botak maksudnya," koreksi Rio.


"Emang Upil-Ipil malem-malem gini masih ada? Bukannya udah ganti sinetron, ya?" tanya Rizki memastikan.


"Ga main sinetronnya hari ini, Upil-Ipil ada episode spesial hari ini. Kan lo tau adik lo pemuja kartun. Mana mau dia lewatin episodenya gitu aja," ucap Rio menjelaskan.


"Dia kan liat di YouTube bisa?"


"Susah sinyal, ngirit juga, j*r. Gue udah bilangin dari tadi juga."


"Kalau dia yang mau nonton, ngapain kita ikutan nyari?"


"Gue juga mau nonton elah. Udah deh lo bantuin aja!"


Semakin beratankan pula ruangan itu, benar-benar bukan seperti ruang utama penginapan.


Bantal sofa tercecer di mana-mana, karpet yang debunya sudah seabad juga melayang layang. Vas bunga yang tadi di meja juga sudah menggelinding tak tahu kemana.


"Kalian bertiga ... ngapain?" tanya seseorang.


Ketiganya menoleh, mendapati pelototan tajam dari wanita yang menjadi ibu bagi mereka. "Anj*r, bibi?" kaget mereka.


"Kalian lagi ngapain, hah?"


Mereka berkumpul menjadi satu, berdiri dihadapan Bi Heni. Sangat mirip seperti anak kecil yang terkena marah ibunya. Mereka saling senggol, tidak ada yang berani bicara. Jika masalah seperti ini, bibi sangat menyeramkan. Ketiganya tidak berani mendongak, menatap mata tajam wanita itu.


"Lo aja, Bang. Lo kan abang!"


"Iya, Kak. Ngalah dong sama adik-adiknya."


"Lo berdua kenapa jadi ngumpanin gue?"


"Heh, malah bisik-bisik segala? Ini kenapa ruang utamanya jadi kandang macan? Kalian ngapain, sih?" geram bibi pada ketiga manusia di depannya.


Rio disenggol lagi oleh kedua saudaranya. Dasar, adik laknat. "A-anu bi ... kita nyariin remot," jawab Rio takut-takut.


"Apa? Nyari remot? Bisa seberantakan ini? Pokoknya bibi ga mau tau, 5 menit ruangan ini harus rapi kembali. Kalau dalam 5 menit ruangan ini masih berantakan, kalian bertiga tidur di luar!"


"I-iya, Bi," jawab mereka.


Bibi beranjak, langkahnya terhenti di samping lemari etalase. "Nunggu apa kalian? Ayo rapikan!"


Nasib-nasib, batin Rio dan Rizki.


Kalau lo bukan bibi, lo aja yang gue suruh beresin, batin Zahra.


Dengan segala kekuatan seribu gajah, akhirnya ruangan itu kembali seperti sedia kala. "Udah, Bi ... udah beres", kata Zahra sambil menyeka keringat yang mengalir dari pelipisnya. Kebetulan sekali bibi keluar dari kamar.


"Bagus kalau begitu!"


"Bi. Bibi tau remot ga, sih? Kita nyariin dari tadi kok ga ketemu?" tanya Zahra ketika bibi akan kembali ke kamar.


"Ga tau. Emang ngapain sih nyariin remot, nanti juga muncul sendiri."


"Ih, bibi. Akunya mau nonton, kan biasanya malem-malem gini aku nonton," ucap Zahra sambil tersenyum paksa.


"Ya bibi ga tau lah," jawabnya ngegas.


Revan muncul dari kamar, menunjukkan benda persegi panjang dengan warna abu-abunya. "Sorry, ini remotnya kebawa gue." Saat merapikan barangnya, ia menemukan remot itu di samping ransel miliknya. Ia baru ingat jika jari gabutnya memainkan benda dengan banyak tombol itu. Memainkannya sembari menunggu giliran mandi.


"B*ngs*t lo, Bang Van!" teriak Zahra kesal. Rio menyenggol lengan adiknya yang baru berkata kasar.


"Adek, ngomongnya!"


"Maaf, Bi ...."


Zahra melempar sandal yang dipakainya ke arah Revan. Sandal jepit itu berhasil mengenai abang angkatnya tersebut.


"Sini lo, Bang! Rasain swall*w gue!" Akhirnya mereka kejar-kejaran di penginapan, tempat mereka berteduh itu menjadi ramai.


Sementara itu mereka yang sedang di kamar, tengah mengintip dan menahan tawa. Mereka mengintip sejak bibi memarahi tiga bersaudara tersebut.


"Mau kemana lo, anj*r?"


"Ampunnnnn!"