Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
78. Belum Waktunya


Gadis berambut bergelombang dengan dress scarlett selutut yang dipadukan dengan flat shoes senada, terlihat anggun dan cantik. Manik coklatnya berkedip bingung saat para maid menatap dirinya tanpa berkedip. Benarkah ini nona mereka?


"Ada apa? Jangan menatapku seperti itu." Gadis itu membuka suara, dirinya sedikit tidak nyaman sekarang. "Apa saya aneh memakai gaun ini?" Gadis itu menggerutu kecil, "Harusnya gue ga make gaun ini, kan gue jadi aneh. Ini semua gara-gara Xavi. Hihh, buat kesel aja."


"Ti-tidak, Nona. Nona sangat cantik."


"Iya, nona cocok dengan gaun itu."


"Baiklah, teman-teman. Karena nona sudah turun dan berpakaian rapi, itu tandanya kita harus segera menyiapkan sarapan. Kami permisi, Nona."


"Ah, iya. Terimakasih, Bibi."


Xavier datang diikuti pria lain. Duduk di sisi kiri dan kanan Zahra. Gadis itu beralih pada seseorang yang duduk di samping kirinya. "Kamu kemari, Bon? Apa kakak tidak mencarimu?"


Bona tidak menjawab, pria itu malah mengalihkan pertanyaan. "Pulanglah, Non. Seseorang menunggumu di mansion."


"Saya tau. Tapi saya harus menemukan kalung itu sebelum kembali. Apa ada kemajuan dari pencarian kalian?"


Xavier mengeluarkan ponselnya. "Ada satu tempat yang lupa kau sebut nona manis. Di tempat itulah kami menemukan petunjuk."


Manik coklat itu membulat. "Sungguh?" Suaranya terdengar antusias dan penuh pengharapan. "Kalian menemukannya?"


"Nona tidak ingat kalau mengantarkan Nona Ardelia ke rumah sakit?"


"Ah, benar. Saya mengantarkannya ke rumah sakit, tapi saya baru menyadari jika kalung itu tiada keesokan harinya."


Xavier terkekeh pelan. "Tepatnya kalung itu hilang di rumah sakit nona dan seseorang yang nona sebut kembaran Tuan Revan lah yang menemukannya."


Zahra mengamati ponsel itu, ini CCTV di rumah sakit. Manusia di sebelahnya pasti sudah membobolnya. "Ini serius? Akhirnya saya kembali menemukan tujuan hidup. Akan saya ambil kembali kalung itu dan saat kalian menemuiku, leher ini pasti sudah bertengger kalung bandul love itu," ucapnya dengan keyakinan. "Ahh, saya menyayangi kalian, gaji kalian akan naik untuk bulan ini."


"Hanya bulan ini, Nona? Saya bisa melakukan sesuatu yang lain agar nona menaikkan gaji di bulan berikutnya," ucap Bona dengan menggoda.


Zahra mematikan ponsel tersebut, mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya. Wajah itu menoleh ke kirinya. "Seharusnya kamu sudah menikah, Bon. Jangan jadi bujang kesepian di mansion ini. Kasian anak-anakmu yang terbuang, mereka pasti merengek untuk hidup. Setidaknya berilah kesempatan. Atau kau mau nonamu ini mencarikan seseorang yang cocok untukmu? Saya ini banyak kenalan."


Bona memutar bola matanya, gadis mungil di sampingnya ini mulai menggodanya. "Saya masih pria yang dengan berani untuk mengutarakan rasa pada seorang wanita, jadi jangan coba macam-macam, Nona."


Zahra kembali memandang ke depan. "Jangan menatap majikanmu seperti itu, kamu membuatku tak nyaman, Bon."


Kedua pria itu terkekeh pelan. Membuat nona mereka kesal adalah salah satu kegiatan refreshing favorit.


"Mereka belum muncul kembali, Xav?" Suara Zahra kembali terdengar serius.


Xavier terlihat menghela napas lelah. "Kami belum menemukannya sejak hari itu, sepertinya Tuan Deva juga demikian. Entah di mana tikus itu menyembunyikan diri," ucapnya kesal.


"Mereka tidak akan pergi jauh, tujuannya di sini belum tercapai. Mereka pasti mengawasiku. Saya ingin kamu, Bona—menemukan penghianat di mansion Ario, beserta bukti dan manusia yang masih bernapas. Ada yang aneh di situ, makanya saya memintamu mengikutiku hari itu. Saya sudah memeriksa CCTV, tapi sayang sekali—belum ku temukan sesuatu yang bagus. Tapi saya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Seperti biasa, serahkan pada Thamrin, kamu masih bawahannya di mansion itu."


"Akan saya lakukan titah, Nona."


Dua maid mulai menyajikan sarapan hari ini, Zahra dan kedua pria itu mengambil jatah makan paginya. Hanya ada suara dentingan sendok, mereka benar-benar menikmati sarapan dengan tenang.


Zahra meneguk habis susu paginya. Kali ini rasa vanila yang ia minum, sedangkan kedua pria itu tampak menikmati kopi murninya. Kopi yang rasanya pahit.


"Carikan saya taksi dengan tujuan Pegangsaan Dua, Xav."


"Nona bersiap-siap saja, taksi itu akan di depan dalam lima menit."


Zahra mengangguk, berdiri dari tempatnya. "Kalian berhati-hati lah ketika ke mansion ini, terutama kamu, Xav. Dari berita yang Bona berikan, mereka ingin mengetahui dirimu lebih banyak." Gadis itu berlalu sebelum Xavier membuka suara, kembali berjalan ke arah tangga.


...***...


Gadis dengan dress scarlett itu keluar dari taksi, rambut dan ujung dress-nya diterpa angin, membuat kedua benda itu beterbangan.


Zahra sampai di depan kebun bunga milik pria yang bertanggungjawab akan kalungnya. Flat shoes dengan warna senada itu mulai bergerak, berjalan memasuki kebun bunga itu.


Kebun itu tampak ramai, ia menggeleng takjub. Bunga di sini tampak segar-segar dan sehat. Harum bunga membawanya berkeliling, melupakan tujuan utamanya datang.


Kakinya terus melangkah, menyusuri lorong demi lorong yang ia lalui. Sesekali berjongkok untuk sekadar mengamati bunga yang ia temui. Tempat ini benar-benar menakjubkan. Tempat yang bisa memanjakan matanya. Lain kali, ia akan minta Rio untuk mengambil suplai bunga dari tempat ini.


Pemuda ceking dengan kulit kuning langsat  berjalan menghampiri gadis dress scarlett yang tengah berjongkok. Gadis itu terlihat mengamati salah satu varian bunga Lily.


"Maaf, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Pemuda itu berdiri di samping Zahra.


Gadis itu terkejut ketika mendengar suara seseorang, ia segera berdiri. Menemukan orang yang mengajaknya bicara. "Maaf ...?"


"Saya melihat Anda terlihat kebingungan, ada yang bisa saya perbuat?"


Zahra menampakkan senyumnya, sebelum itu ia menyelipkan salah satu rambutnya yang menjuntai menutupi wajah. Ia teringat kembali akan tujuannya, ia terlena oleh perkebunan ini. Apalagi di ujung taman, ia melihat tempat santai di sana. Juga beberapa list makanan ringan yang dapat dipesan. Perkebunan ini menyediakan yang pengunjung butuhkan.


"Sebenarnya saya ingin bertemu dengan Tuan Rivano Wahyudi. Owner perkebunan ini. Beliau bilang saya bisa berkunjung, beliau memberikan ini." Zahra menunjukkan kartu nama yang diberikan Rivan waktu itu.


Sepertinya pemuda di depannya itu salah satu karyawan di sini. "Maaf nona, sepertinya Anda kurang beruntung. Tuan Rivan tidak bisa hadir hari ini, beliau sedang sakit."


Zahra mengulum bibirnya kecewa, padahal ia sudah senang karena menemukan keberadaan kalung itu. Ia memainkan tangannya gelisah, jadi ia tidak jadi pulang hari ini?


"Sayang sekali. Semoga dia cepat sembuh, saya akan kembali bila Tuan Rivan sudah kembali."


"Saya akan memberikan kontak Tuan Rivan, Anda bisa menghubunginya untuk menanyakan keadaan."


Zahra menyerahkan kartu nama yang masih digenggamnya. "Anda tulis saja di baliknya, saya tidak membawa ponsel kali ini." Zahra tersenyum tipis.


Pemuda itu meraih kartu nama yang disodorkan gadis di depannya, ia mengambil bolpoin lalu menuliskan nomor bosnya. Setelah selesai, ia kembali menyerahkan kartu nama tersebut.


Gadis di depannya tersenyum tipis. "Kalau begitu saya permisi, terimakasih atas nomor dan bantuannya."


"Sama-sama." Ia membalas senyum itu. Senyumnya berbeda, hatinya menghangat. Sial, apa yang kau pikirkan dengan gadis itu?


Zahra keluar dari area kebun, langkah kaki membawanya pada taksi biru yang sejak tadi menunggu. Tangannya terulur untuk membuka pintu mobil. Setelah masuk, ia duduk nyaman di kursi penumpang. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan menunggu mobil sampai.


"Pak, kembali ke mansion."


Pengemudi taksi mengernyit heran. "Bukannya nona hari ini kembali ke mansion Ario?"


"Saya berubah pikiran."


Sopir itu memilih mengangguk, kemudian mulai menjalankan mobil. Sedan warna biru itu melaju dengan cepat, hari ini jalanan agak lenggang.


Sudah setengah jam mobil melaju, mobil itu kini tidak lagi melaju di jalan raya, namun mulai memasuki gang yang akan membawa ke mansion.


Tiba-tiba mobil hitam memotong jalan mobil biru. Sopir taksi membunyikan klakson berkali-kali, tetap saja mobil itu tak beranjak dari tempatnya.


Zahra menatap mobil hitam itu datar, gadis itu terdiam cukup lama. Ia mengenali mobil itu, ia hafal plat mobilnya. Bahkan, ia tahu siapa yang mengemudikan mobil itu. Mau bermain dengannya rupanya, Zahra tersenyum miring.


Sopir tetap menunggu keputusan nonanya.


"Lewat jalur lain, Pak. Kita mengalah saja," ucapnya tanpa ekspresi.


"Baik, Nona."


Mobil sudah akan bergerak ketika pintu di samping Zahra diketuk. Gadis itu menggeram kesal.


"Nona?" Sopir bertanya pendapatnya.


"Jalan saja, jangan pedulikan orang di luar!"


Mobil itu mulai bergerak mundur. Orang yang tadinya mengetuk pintu tidak menyerah, ia berusaha membuka pintu mobil, tapi tidak bisa. Sepertinya gadis di dalam menyuruh sopir itu untuk menguncinya.


Kali ini ia yang tersenyum miring, mengambil besi dengan bentuk lonjong yang biasa disebut palu. Ia tidak akan memohon pada kursi penumpang, kali ini ia mendekati sang sopir.


"Buka pintunya atau pintu itu akan saya hancurkan beserta majikanmu!" ancamnya, sambil menunjukkan benda yang ia bawa. Pengemudi taksi itu terkejut dengan ulahnya.


Ia dapat melihat gadis di kursi penumpang itu mengatakan sesuatu yang tak dapat ia dengar. Mereka berdebat sebentar.


"Buka pintunya, sebelum palu ini melukai nonamu!"


Tanpa mendengar perkataan dari majikannya, tangan sopir itu bergerak menekan tombol yang akan membuat pintu mobil terbuka.


Pemuda itu tersenyum senang. "Akan saya lebihkan gajimu."


Laki-laki itu kembali ke kursi penumpang, membuka pintunya lalu menarik seorang gadis yang menatapnya kesal.


"Apa yang lo lakuin, huh?" ucapnya bersungut-sungut.


"Jangan menolak jemputan ini, Sayang. Ini gratis, tentu saja akan membawamu ke mansion dengan selamat." Ia menarik gadis itu mendekat, memeluk pinggangnya erat.


"Devan! Apa-apaan sih, lo ga tau alasan gue pergi, jangan nahan gue!" Gadis itu berkilat marah, manik coklatnya menggelap.


"Aku tau sayang, aku tau."


"Jangan nahan gue. Salah satu benda kesayangan almarhumah mami menghilang, itu salah gue. Gue udah janji sama Kak Rio akan kembali dengan membawa kalung itu."


"Bang Rio ga ingin kalung itu lagi, dia pengen kamu kembali."


Manik yang menggelap itu berusaha mengeluarkan sosok yang sebenarnya, sosok yang dapat menghancurkan orang yang menghalangi tujuannya. Tangannya mencengkeram tangan yang melilit pinggangnya, berharap pemilik tangan itu kesakitan dan melepasnya. Tapi yang ia rasakan malah sebaliknya, tangan itu memeluknya semakin erat, tubuh yang sering mendekapnya kini mendesak tubuhnya.


"Devan, lepas!" Sosok itu mengeluarkan suara intimidasinya. Tangannya berusaha meloloskan diri. Flat shoes itu memijak berkali-kali kaki orang yang dengan sembarang memeluknya.


Pemuda itu tidak ingin menyakiti gadisnya. Sayang maaf, aku terpaksa melakukan ini, ucapnya dalam hati. Tangan satunya terangkat, beberapa jarinya bergerak memukul tengkuk sang gadis. Ini pertama baginya menggunakan ilmu yang diajarkan bosnya, sebenarnya ia tak boleh menggunakannya sembarangan. Tapi mau bagaimana lagi, gadisnya sangat pemberontak.


Gadis bergaun scarlett itu tak sadarkan diri dalam pelukannya. Ia segera menahan tubuhnya, tidak ia biarkan tubuh ini luruh ke tanah.


Sopir taksi itu keluar dari mobil. "Nona kau apakan?"


Pemuda itu terkekeh, sudah menduga pertanyaan itu akan keluar dari mulut sang sopir. "Nonamu ini tidak apa-apa, akan saya antarkan dia ke mansion Ario. Ngomong-ngomong, bagaimana kalau Anda memberitahu saya di mana persembunyian nonamu selama ini?"


Laki-laki paruh baya itu terdiam, kemudian kembali menatap pemuda di depannya. "Kau?" ucapnya geram, namun juga ragu, hanya saja keraguan itu tak terlalu nampak. Ia menangkap sesuatu yang menarik dari ucapan pemuda di depannya. Sebuah fakta baru.


Pemuda itu menampakkan senyum hangatnya. "Rupanya Anda pintar menebak. Jangan katakan pada nonamu jika saya bersekongkol dengan mantan kekasihnya. Biar dia yang mencaritahunya sendiri, tidak akan seru kalau kau memberitahunya. Tolong buka pintu kemudinya, dia akan kubawa dengan mobilku."


Sopir taksi mengangguk, ia berjalan menuju mobil hitam. Membuka pintu untuk orang yang ia jumpai kali ini. Pemuda itu segera meletakkan gadisnya dengan hati-hati, lalu menutup pintu mobil itu.


Pemuda itu mengeluarkan kertas dan bolpoin. "Tulis rekening Anda, saya sudah berjanji akan menambah gaji Anda."


"Tentu Tuan Devan, pastikan kau membawanya ke mansion Ario. Atau tuanku yang lain akan memotong gajiku." Paruh baya itu mulai menuliskan nomor rekeningnya, setelah selesai, ia berikan kertas itu pada pemuda di hadapannya.


"Tentu, jangan khawatirkan gajimu. Dia akan baik-baik saja, bahkan jika nonamu ini tidak sampai di mansionnya, akan ku ganti gajimu dengan lebih banyak."


"Tuan!" Sang sopir mendelik, menatap tajam.


"Saya hanya bercanda, jangan menatapku seperti itu." Pemuda itu memasukkan kertas itu ke saku jaketnya. "Baiklah, terimakasih telah mengantar gadisku, saya permisi." Pemuda itu memutari mobil, berjalan ke arah kursi pengemudi.


"Itu tugasku, jika kau lupa!"


Pemuda itu terkekeh tanpa menoleh. Saat mobil hitam itu berjalan melewati sopir taksi, yang masih menyaksikan bagaimana mobil itu membawa nonanya—mobil itu membunyikan klaksonnya tiga kali.


Setelah mobil hitam itu melesat, ia merogoh handphone yang berada di saku celananya. Ia menekan beberapa huruf, lalu menyentuh nama itu. Menempelkan ponsel itu ke telinga, menunggunya tersambung.


"Apa kau sudah mengantarnya?" sahut suara di seberang sana.


"Tuan Devan membawanya, dia berjanji mengantarkan nona ke mansion Ario. Tuan mau tau sesuatu yang saya temukan kali ini?"


"Katakan saja!"


"Kita harus bertemu, Tuan. Saya tidak ingin seseorang mendengarkan percakapan kita."


"Baiklah, nanti malam ku tunggu di mansion."


"Baik, Tuan." Paruh baya itu kembali memasukkan ponselnya. Ia kembali masuk ke kursi kemudi. Asap mengepul beberapa saat, menyebar ke seluruh penjuru, kabut asap yang tebal dan gelap. Asap itu menghilang bersamaan dengan mobil biru yang juga raib.


...***...


Devan baru saja keluar dari sebuah kafe bersama teman-temannya, mereka baru saja membicarakan konser amal yang akan diadakan Merpati Putih. Acara rutinan kampus untuk membantu orang yang membutuhkan. Sebagai anggota BEM yang baik, ia mengikuti rapat yang diadakan di salah satu cafe yang berada di Pegangsaan Dua.


Saat keluar kafe, ia melihat seorang gadis dengan gaun scarlett dan rambut gelombangnya yang tergerai indah. Ia tak percaya akan melihatnya di sini, di seberang jalan sana. 


Ia perhatikan gadis itu lekat-lekat, matanya tak salah lihat, itu memang dia. Dia yang ia cari, dia yang menghilang beberapa hari. Sosok itu, terlihat anggun siang ini.


Ia kembali memerhatikan gadis itu, dia memasuki kebun bunga di seberang jalan. Keberuntungan sedang berpihak padanya. Ia memutuskan untuk menunggu di sini, cafe ini juga tersedia outdoor yang tentu saja terletak di rooftop.  Ia memutuskan kembali menikmati sajian kopi cafe dan mengunyah camilan ringannya. Akan ia buntuti mobil yang membawa gadis itu, siapa tahu ia dapat petunjuk tentang tempat persembunyiannya.


Dua puluh menit kemudian, gadis itu tampak keluar dari kebun bunga dengan wajah lesu. Dia berjalan menuju mobil biru itu.


Ia segera turun dan membayar makanannya. Mobil biru itu mulai berjalan, sementara ia baru memasuki mobilnya. Mobil hitam melesat mengejar mobil biru, ia berusaha tak terlihat seperti penguntit.


Saat pertengahan jalan, ponsel yang berada di dashboard bergetar. Ia mengangkat panggilan itu sambil tetap mengemudikan mobil.


Sial! Ayahnya menyuruhnya segera kembali. Acara pertemuan keluarga digelar hari ini, memang bukan saat yang tepat sebenarnya. Ia mengacak rambutnya kesal.


"Hhh, gue harus segera nyelesein ini. Papa pasti ngomel kalau gue telat." Ia mendengkus, sebelah tangannya menarik tuas untuk mempercepat laju mobil. Sial! Sial! Ia jadi kehilangan kesempatan menguntit mobil itu lebih lama. Untuk mempercepat waktu, ia akan memotong jalan mobil biru itu ketika waktunya. Ugh! Ayahnya menghancurkan rencananya!