Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
42. Permintaan Maaf


Putra meraih tangan Ina. Gadis itu mencoba menarik tangannya, tapi Putra malah menggenggamnya lebih erat.


"Lepasin!" Ina menarik tangannya, seakan tangan Putra berlapis bakteri mikroba jahat yang perlu dihindari.


Putra menatap gadis dihadapannya sendu. "Gue minta maaf, beneran! Lo mau 'kan maafin gue?"


"Lo kira maafiin lo semudah membalikkan telapak tangan, hah?" Ina membuka suara, menatap laki-laki yang menatapnya sendu. "Atas apa yang udah lo lakuin, lo baru minta maaf? Basi tau ga!"


Putra semakin menggenggam tangan Ina lebih erat lagi. "Sorry udah ngerusak lo. Tolong maafin gue ...."


"Lo kira gue bisa lupa gitu aja, gue ga bisa. Gue bukan orang yang ga punya harga diri, Put. Lo ga bisa seenaknya atas gue. Lo kira, lo itu siapa? Mendam semuanya sendiri itu sakit Put, sakit. Lo emang ga pernah peduli, karena lo terlalu senang dengan dunia lo. Sampai-sampai gue lo jadiin pelampiasan nafsu bejat lo itu! Gue ngejar lo bukan tanpa alasan!" kata Ina dengan penekanan yang jelas di setiap kalimatnya.


"Maka dari itu, gue pengen lo maafin gue. Gue ga tau kalau ternyata berefek besar, gue ngeliat lo have fun sama hidup lo selama ini, jadi gue pikir ga ada masalah. Gue minta maaf untuk itu." Suaranya mengecil di akhir kalimat, Putra memalingkan wajah, malu dengan Ina. Fakta bahwa dirinya tidak lebih baik dari gadis itu seakan menamparnya.


"Lo ga akan ngerti isi hati orang kalau liat cover-nya doang. Gue ga pengen lo ngulangin kesalahan yang sama, cukup gue yang jadi korban lo. Jangan gituin temen-temen gue. Apalagi cewek sama gebetan lo, munafik kalau selamat ini lo ga kepengen sama mereka."


Putra kembali menatap Ina. "Gue emang brengs*k di mata orang-orang, tapi gue ga mau dibilang brengs*k di mata temen gue sendiri. Gu-gue khilaf, gue khilaf malam itu. Tolong Na, maafin gue ...."


Ina diam, Putra tetep merengek padanya. Diamnya bukan berarti ia tidak peduli dan tidak mau memaafkan kesalahan orang. Tapi ia sedang mencari tahu, apakah laki-laki di hadapannya ini serius dengan ucapannya atau hanya ingin sekadar mendapat maaf belaka?


"Oke, Put. Gue maafin lo," kata Ina setelah sekian lama terdiam. Putra yang terlalu senang langsung memeluk Ina erat.


"Makasih, Na. Makasih," gumamnya tulus. Ina tersenyum kecil lalu membalas pelukan Putra sambil menepuk-nepuk punggungnya.


Setelah sepersekian detik barulah Putra melepas pulukan mereka. Tapi anehnya laki-laki itu malah menunduk.


"Kenapa?" tanya Ina heran.


Putra tersenyum kikuk. "Maaf, tapi setelah ini gue ga bisa sama lo. Gue cintanya udah sama orang lain. Dan ... gue minta tolong sama lo buat jangan sakitin gebetan gue." Ia memang brengs*k, sekali brengs*k tetap brengs"k. Bisa-bisanya setelah meminta maaf malah mengatakan hal yang mungkin melukai Ina.


Gadis itu terkekeh. "Ga papa kok. Gue kemarin dikasih siraman rohani sama cewek lo. Gue sadar, kalau yang selama ini gue lakuin cuma obsesi buat dapetin lo. Dan lo tau kan, gue obsesi kenapa? Emang sih, ga salah kok apa yang dia bilang. Jadi, ya gue ga masalah kalau akhirnya lo ga bisa jadi milik gue."


Putra kembali memeluk gadis dihadapannya, tapi setelah itu langsung melepaskannya. "Makasih banyak, Na."


"Ha-ha, iya sama-sama. Btw, lo ga jemput Una? Ntar nunggu loh dianya."


Laki-laki itu menggeleng. "Karena sekarang lo yang lagi ada sama gue, jadi lo yang gue prioritasin."


"Apaan sih? Ngaco lo."


"Aha–ha. Kenapa? Salting ya?" Sebenarnya kemarin Putra sudah memberitahu gebetannya bahwa hari ini tidak bisa menjemputnya. Putra jujur jika ia akan meminta maaf pada Ina, Una memaklumi hal itu.


"Sekarang lo mandi, siap-siap, habis itu ke dapur. Gue udah buatin makanan." Gadis itu mengangguk.


Putra menunggu Ina di meja makan, di depannya sudah ada dua porsi makanan yang masih hangat. Selang beberapa menit, Ina datang dengan pakaian yang menandakan bahwa ia siap pergi ke kampus.


"Sorry, adanya cuma mie sama telur."


Ina mengangguk kemudian menarik kursi di depan Putra. Ia tersenyum kemudian meraih piringnya. "Ga papa, kok. Bibi emang belum belanja bulanan, makasih, ya."


Mereka menghabiskan makanan dalam diam, hanya ada suara dentingan sendok. Setelah selesai makan, Putra dan Ina mencuci alat makan itu bersamaan.


"Rumah lo sepi banget dari semalem, orang-orang pada ke mana?"


"Kalau bonyok si, di luar kota, biasa, bisnis gitu. Kalau bibi palingan lagi ke rumah saudaranya. Biasanya izin ke gue, mungkin karena gue ga di rumah, jadi dia kirim pesan. Gue juga belum cek handphone soalnya." Ina mengeringkan piring kemudian meletakkannya di tempat semula.


"Ngomong-ngomong soal handphone, gue udah hapus postingan yang kemarin. Semoga ga ada yang hujat lo lagi ya, kalau ada tinggal laporin ke gue aja."


"Hhh, iya. Makasih."


"Dah yuk, berangkat." Gadis itu menganggukkan kepala lalu keluar rumah mengikuti Putra.


...****...


Sepasang muda mudi keluar dari mobil. Salah satunya terlihat cemberut, dia membanting pintu mobil lalu berjalan dengan cepat.


"Ra, tunggu!"


Terlihat seorang laki-laki mulai menyamakan langkah dengannya. "Kenapa? Masih ngambek?" tanyanya setelah menyamakan langkah.


"Kamu sekongkol ya sama mereka. kan udah aku bilang, ga usah jemput aku hari ini."


"Kan ini demi kamu. Kamu ga denger mereka tadi ngomong apa? Ada teror yang jelas-jelas ditujukan buat kamu. Mereka khawatir, jadi mereka minta tolong aku buat jagain kamu."


Gadis itu menghela nafas. "Halah, palingan juga orang iseng. Cuma kayak gitu, santai aja kali!"


"Ini udah dua kali Ra, ga mungkin itu cuma iseng. Ditambah mereka nerornya langsung ke mansion kamu, itu menandakan kalau mereka ga main-main."


Gadis itu sedikit menelaah ucapan laki-laki di sampingnya. Betul juga! Kan gue jadi ke inget sama kak Rio pas rebutan pisau di mall. Enggak-enggak, abang-abang ga boleh masuk ke permainan murahan ini. Kalau sasaran mereka gue, berarti gue juga yang harus nyelesein ini semua, batin Zahra.


Devan menyentuh pipi Zahra, gadisnya memandang kosong. "Ra! Kok malah bengong?"


Zahra terkesiap, menoleh pada Devan, tak sadar bahwa mereka berhenti di tengah jalan. "Eh, apa?"


"Kamu mikirin apa?" Devan mengisyaratkan Zahra untuk kembali melangkah.


"Engga kok. Ya udah aku minta maaf. Aku tau mereka ngawatirin aku dan ya ... mungkin ini mereka lakuin karena ga mau kehilangan aku."


"Nah, gitu dong. Senyum dulu biar cantiknya nambah." Gadis itu tersenyum, memamerkan senyum indahnya pada Devan.


"Ini baru Zahra!" katanya, lalu merangkul gadis di sebelahnya, menjaga-jaga jika nanti Zahra berhenti tiba-tiba.


"Ke kantin dulu aja ya, kan tadi kamu ga sempet sarapan gara-gara tengkar sama saudara kamu itu," ucap Devan pengertian.


"Iya! Mana aku laper banget lagi." Zahra mengusap perut datarnya, memperlihatkan ekspresi melasnya pada Devan. Laki-laki itu terkekeh lalu mencubit pipi Zahra gemas.


"Zahra! Devan!"


Lantas kedua sejoli itu menghadap belakang, siapa kira-kira yang memanggil mereka dengan suara toa.


Mereka yang memanggil menghampiri pasangan tersebut.


"Kenapa?" tanya Zahra begitu dua curut telah berada di sampingnya.


"Mau ke kantin ya?"


"Ikut dongg ...."


"Ya, maaf."


"Kan emang gini suara gue, Ra. Ngehina ya, lo?"


"Siapa juga yang ngehina lo? Unfaedah banget!"


"Udah-udah, malah berantem. Tu kantinnya udah deket," lerai Devan.


Mereka telah sampai kantin, melangkah menuju meja pojok yang telah menjadi daerah kuasa mereka.


Zahra menggebrak meja. "Woyy! Berduaan aja lo, awas yang ketiganya setan." Zahra duduk diikuti Devan lalu Ica dan Ardelia.


"Wihh, dah akur lo berdua."


Putra terkekeh dengan penuturan Devan. "Iya nih, diteror mulu gue sama kanjeng ratu." Putra melirik Zahra yang berada di sampingnya, sedangkan gadis itu nampak tak peduli.


Lain dengan Devan dan Zahra yang terlihat biasa saja, Ica dan Ardelia terlihat canggung saat mereka satu meja dengan Ina.


"Biar gue yang mesen, kalian mau apa?" Zahra berdiri diikuti Devan.


"Gue temenin!" ucap Devan.


"Kita samain aja," tutur Ica.


"Oke!"


Di meja itu tersisa mereka berempat. Putra diam saja, namun juga risih dengan keadaan hening seperti ini.


"Baikan aja kalian, dari pada canggung gini. Gue aja udah," kata Putra malas, kembali menguyah ciloknya.


Ina menghela napas. "Gue aja deh yang mulai. Temen-temen maafin gue ya, selama—"


"Stop! Biar gue aja!"


"Kelamaan. Gue minta maaf ya, sama lo. Harusnya kita itu nemenin lo pas masa down, tapi kita malah ikutan jauhin lo."


Ardelia mengangguk. "Iya tuh. Sorry ya, Na!"


"Wihh, dah maaf-maafan aja lo. Lebaran masih lama kali!" Zahra datang dengan membawa makanan mereka. Kebetulan kantin sedang sepi, jadi makanan itu lebih cepat sampai di meja konsumen.


Ica ingin menoyor kepala Zahra, tapi langsung dicegah oleh Devan. "Udah-udah, ntar makannya tumpah lo ga jadi makan!"


Ica akhirnya mengurungkan niatnya, kembali duduk dengan cemberut setelah ditegur Devan. Sedangkan Zahra tersenyum mengejek pada Ica.


Mereka makan, tapi salah satu dari mereka malah terlihat melamun. Atas ulahnya tersebut membuat perhatian teman-temannya jatuh padanya.


"Kenapa lo?"


"Gini, kan abis ini ada liburan akhir tahun sama tahun baru—"


"Terus kenapa?"


"Bentar, gue belum selesai ngomong elah!"


"Iye, terus?"


"Gimana kalau kita liburan bareng aja, itung-itung ngirit biaya juga kan. Kalian 'kan punya geng sendiri-sendiri, jadi nanti juga makin rame. Gimana?"


"Lah terus kita nyewa penginapannya gimana? Takutnya ntar ga cukup."


"Gampang itumah!"


"Halah, gampang-gampang. Kalau kita nyewa dua tempat, terus satunya mahal satunya murah mampus lo!"


"Tenang ... nanti gue suruh abang-abang nyeponsorin liburan kita. Biar mereka yang ngurus liburan kita, nanti kita tinggal leha-leha aja."


Putra menjitak kepala Zahra, sedangkan gadis itu membalasnya dengan cubitan. "Mana bisa gitu ...."


"Udahlah, pokoknya kalian data aja siapa yang mau ikut. Ntar tinggal konfirmasi ke gue. Gampang, kan?"


"Kita emang mau liburan kemana?"


"Puncak aja, puncak. Enak tuh."


"Apaan puncak? Mantai aja lah."


"Bosen. Pantai mulu, kemarin kan habis dari pantai juga."


"Ke luar negeri gimana? Belum pernah, kan?"


"Mata lo! Akhir tahun ini, lo tau bokek ga, sih?"


"Lah udah tau bokek malah holiday. Gimane, sih?"


"Udah-udah, pokonya kalau udak fiks kabarin gue. Gue mau kelas dulu, udah jam sembilan, nih," putus Zahra, membuat teman-temannya yang tadinya berdebat menjadi diam.


"Tumben? Biasanya lo juga masuk telat-telat mulu," cibir Ardelia.


Zahra mengerling jahil. "Biasa, baru dikasih uang bulanan gue. Jadi ya, gue ga mau ngecewain mereka. Lagian, gue juga udah tobat, capek gue dihukum mulu."


"Dikasih berapa lo?"


"Sepuluh juta."


"Dari siapa?"


"Dari masing-masing, jadi totalnya dua puluh juta ... bwa–ha–ha."


"Songong lo, j*r!" Ica merealisasikan niatnya dengan cara menjitak Zahra sekarang. Zahra membalas Ica kemudian pergi begitu saja, meninggalkan teman lainnya yang masih melongo.


Tak lama kedua laki-laki yang ada di meja tersebut sadar. "Eyy, kita juga duluan ya. Bye!" Mereka melangkah pergi mengikuti Zahra yang hampir sampai di kelas. Memang kelas mereka kali ini dekat dengan kantin, berada di lantai satu pula. Capek mereka itu mendapat kelas di lantai empat terus.


***


Jangan lupa jejaknya yaaa