
Hari ini Zahra lebih aktif meskipun masih kesulitan untuk berjalan. Gadis itu berpegangan pada benda untuk menopang langkahnya, kakinya memang masih terasa berat untuk melangkah, tapi rasa nyerinya cukup berkurang.
Rizki yang mengetahui adiknya sedang berjalan turun sambil berpegangan pada pembatas tangga, laki-laki itu langsung langsung berlari—membantunya berjalan.
"Mau kemana? Tadi kan udah dibilang, diem di kamar aja. Ngeyel banget si!" Namanya juga Zahra, kalau tidak keras kepala, tentu bukan Zahra.
"Bosen. Cari suasana aja," jawabnya santai.
Rizki mendudukkan adiknya di kursi meja makan, ia menuangkan segelas air lalu meminumnya. Tangannya kembali menuangkan segelas air, lalu ia berikan pada Zahra.
"Sepi amat? Bibi kemana?"
"Ke pasar sama Thamrin. Tria baru aja berangkat sama Diki."
Zahra manggut-manggut. Rizki menuntunnya ke ruang di mana mereka biasanya bersantai. Ruang keluarga itu tampak lenggang tanpa ada bodyguard yang biasa berdiri di sudut ruangan. Rizki mendudukkan Zahra terlebih dulu, tangannya meraih remote yang berada di samping alat play station, memberikan pada gadis di sebelahnya.
Zahra menerima dengan senang hati, ibu jarinya menekan tombol dengan warna merah. Tak lama kemudian, benda persegi panjang dengan ukuran 32inch itu menyala.
Seorang bocah dengan baju merah melaju dengan sepedanya yang super ajaib, jika saja sepeda seperti itu diproduksi. Zahra pasti akan membelinya.
"Jangan panggil aku anak kecil, paman!" Bocah itu kembali mengayuh pedal sepeda, tatapannya tak lepas dari dua pria dengan badan besar dan otot kekar tersebut. Sepeda itu mulai melayang, bergerak menuju dua pria yang diliputi amarah.
Bocah itu terus mengayuh, bagian belakang sepeda berputar—menggampar dua pria yang bersiap melawannya. Tambahan dengan peluru telur ceplok yang menghiasi wajah keduanya.
Televisi terus bicara, menayangkan bocah kaus merah yang kini tampak asik memukuli orang yang ingin mencelakainya.
"Kak, semua bodyguard yang ditawan udah balik, udah baikan juga?"
Rizki mengunyah biji metenya, laki-laki itu mengerutkan dahi. Sebenarnya ada satu hal yang mengganggu pikirannya. "Udah semua. Kondisi mereka ga separah lo, tapi ... mereka ditemuin Robby bareng sama anak Black Devil dan beberapa orang lainnya yang ga sempat Robby kenali identitasnya. Kira-kira mereka siapa, ya? Dan kenapa Black Devil bisa jadi tawanan mereka?"
Zahra tertegun sejenak mendengar perkataan Rizki, ah sudahlah. Pasti mereka juga langsung kabur begitu di bebaskan. "Bagus deh kalau mereka semua baik-baik aja. Soal Black Devil, gue ga tau kalau mereka juga ditawan."
Rizki melingkarkan tangannya di leher adiknya, lalu mengamati wajah Zahra yang sumringah saat melihat bocah kurus berkaus biru tengah bercerita, lebih tepatnya mengarang— pada bocah berkaus merah. Adiknya itu bersenandung kecil.
Tangan Rizki bergerak menyentuh luka bekas sayatan di leher Zahra, lalu menekannya sedikit. Gadis yang hanya mengenakan crop top dan hotpants tak meringis ataupun mengerang, berarti luka sayat yang berada ditubuh itu dan luka-luka lainnya telah mengering.
Rizki memberikan kecupan pada bekas luka itu, kemudian menyandarkan kepala pada bahu adiknya, meskipun untuk melakukannya ia harus menurunkan badannya sedikit.
"Kak, lo ga nemuin dompet sama handphone waktu nyariin gue?" tanya Zahra, maniknya terus menatap pada benda lebar yang membuat seluruh atensinya terfokus pada tayangan di depannya.
"Emm, itu. Di laci nakas, batrenya lobet. Tenang, isi dompetnya masih lengkap kok."
Zahra terkejut saat Rizki bilang seperti itu, berati kakaknya ini mengecek isi dompetnya? Ya sudahlah, di dompet itu juga tidak ada sesuatu yang menarik. Mungkin isinya hanya kartu kredit yang diberikan oleh Rio dan Rizki secara percuma, sisanya hanya nota pembayaran.
"Ya udah. Biarin aja di situ."
Zahra kembali merapatkan bibir, perhatiannya fokus kembali. Sesekali ia juga ikut mengunyah biji mete, yang selalu dilakukan Rizki ketika biji mete yang berada di mulutnya habis.
...****...
"Ini dibenerin dulu laporannya, masih acak-acakan banget. Kalau sudah kasih saja pada Max!" Rio menutup map hijau tersebut, ia berikan kembali pada karyawannya.
"Baik Pak Darel, kalau begitu saya permisi dahulu."
Rio berdehem singkat, laki-laki itu fokus kembali pada laptop di depannya.
Seseorang mengetuk pintu. Rio mempersilahkan orang itu masuk. Seorang pria dengan setelah yang hampir sama dengan Rio memberi hormat. Berdiri di samping kursi yang dikhususkan untuk tamu Darel Ario.
"Siang, Pak. Sekretaris dari Jo Company ingin menemui bapak," ucap Max, sekretaris dari Rio.
Rio mengerutkan dahi. "Loh, kita bukannya tidak memiliki mitra kerja dengan perusahaan Jo Company? Jangan bergurau, Max!"
"Maaf, Pak. Pak Zaldi, sekretaris Jo Company memaksa ingin bertemu bapak, katanya ada sesuatu yang penting."
"Kalau begitu, suruh tunggu di lobby."
"Beliau ingin berbicara dengan bapak secara pribadi, keperluan pribadi— tanpa ada sangkut pautnya dengan perusahaan."
Rio mengangguk saja dari pada pusing. "Baiklah, suruh dia ke sini."
"Permisi, Pak." Rio mengangguk dan mempersilahkan Max keluar.
Sekretaris Rio itu datang kembali setelah beberapa saat, pria itu kembali mengetuk pintu.
"Masuk, Max!" sahut Rio dari dalam.
Laki-laki dengan blazer navy tersebut berucap, "Ini Pak Zaldi, beliau yang ingin berbicara pribadi dengan Pak Darel."
Rio mempersilahkan tamunya untuk duduk. "Max, minta salah satu office boy mengantar minuman untuk tamu saya."
Max mengangguk. "Baik, Pak. Jika ada keperluan lain, bapak bisa segera menghubungi saya."
"Terimakasih, Max."
Max keluar setelah mengucapkan permisi pada atasa dan tamunya.
Rio berdehem singkat, meminimalisir canggung di antara mereka. "Jadi, ada sesuatu apa yang mengharuskan bapak menemui saya secara pribadi?" tanya Rio sopan, menghadap pria yang lebih tua darinya itu.
"Sebelumnya perkenalkan. Saya Zaldi Anderson, kuasa hukum Tuan Deron, almarhum ayah Anda."
Rio tentu saja terkejut, selama ini ia tidak mengetahui jika ayahnya mempunyai kuasa hukum sendiri. Tapi ini benar atau hanya orang yang mengaku-ngaku saja? Rio sedikit mengingat-ingat masa lalunya. Benar, pria dihadapannya ini memang kuasa hukum ayahnya, ia beberapa kali pernah bertemu dan berbincang saat kematian ayahnya.
Rio menjabat tangan Zaldi, pria itu menerima uluran tangan Rio dengan rasa lega dan tenang.
"Apa kabar Pak Darel?"
"Saya baik, seperti yang bapak lihat. Bapak sendiri bagaimana?"
Pria itu menggeleng pelan. "Ada beberapa masalah dalam amanah yang saya emban, saya ingin menyelesaikannya bersamamu dan keluarga kamu."
Rio masih menenangkan pikirannya yang berputar setelah Zaldi menceritakan tujuan sebenarnya ke Ario Grup.
...****...
Rizki dan Zahra yang tak beranjak dari ruang keluarga itu dikejutkan oleh ponsel Rizki yang tiba-tiba berdering. Zahra mendengkus kesal. Mengganggu saja, pikirnya.
Rizki segera mengangkat panggilan itu sambil me-loud speaker karena permintaan Zahra. Setelah mendengar permintaan saudara tertua, si bungsu segera mematikan televisi.
Rizki langsung saja menggendong adiknya ke kamar. Ia mengganti pakaiannya, kemudian menghampiri Zahra yang tengah memakai jaket. Lagi-lagi Rizki ingin menggendong adiknya itu untuk sampai mobil, tapi permintaan itu segera ditolak oleh adiknya. Selama ia masih bisa menggunakan kakinya, ia tidak akan merepotkan orang.
Perjalanan dari mansion ke Ario Grup membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai, jika itu perjalanan normal. Sudah menjadi kebiasaan jika Jakarta gudangnya macet, ini sudah pukul sebelas, saat macet-macetnya jalanan Jakarta. Mereka sampai jam sebelas lewat empat puluh menit karena kemacetan tersebut.
Rizki segera memarkirkan mobilnya lalu membantu Zahra turun. Mereka disambut oleh satpam.
"Loh, Nona. Itu kakinya kenapa?" tanya Rosalia, resepsionis yang saat ini bertugas di lobby.
"Hanya kecelakaan kecil, ga masalah. Bentar lagi juga sembuh," jawab Zahra sembari tersenyum.
Sementara Rizki mengisi buku tamu. Semua orang di kantor memang sudah tahu status mereka, hal itu dilakukan Rio supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lagi pula, jika ada penghianat—Rio pasti segera menuntaskan hidup penghianat itu. Tidak akan ia biarkan dunia luar mengetahui siapa saja sosok keluarganya. Semua tamu yang datang, entah itu siapa—diwajibkan mengisi buku tamu untuk arsip perusahaan.
"Udah, nih." Rizki memberikan buku itu pada Rosalia.
"Terimakasih."
"Ros, kita ke atas dulu, ya," ucap Zahra.
Rosalia mempersilahkan mereka pergi. Rizki kembali memapah adiknya menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Kantor Rio terdiri dari delapan belas lantai. Lantai paling atas hanya ditempati oleh ruangan Rio dan sekretarisnya, Max. Tentu saja lebih besar ruangan Rio, ruangan Max hanya berukuran 5×5m saja.
Rizki dan Zahra langsung masuk begitu saja, mereka tidak mengetuk pintu. Karena itu sudah kebiasaan mereka jika bertamu ke kantor satu sama lain. Keduanya tidak menyangka jika ada tamu khusus kali ini, karena biasanya Rio akan berbicara dengan tamunya di ruang meeting.
"Om Zaldi," ucap Zahra terkejut, saat mendapati Rio tengah berbincang-bincang dengan orang yang mengurus kasus papanya dulu.
Rizki langsung membawa Zahra ke sofa yang telah disediakan di ruangan Rio. Zaldi mengamati Zahra, ia tahu penyebab Zahra seperi itu. Itu semua karena rahasia yang disimpannya terbongkar.
"Masih sakit?" tanya Rizki.
"Kaku aja, efek berdiri lama kayaknya, padahal tadi cuma jalan bentar."
Rizki mengangguk, kemudian mengusap punggung adiknya. Sementara netranya beralih menatap Rio dan seorang pria yang mengamatinya dan Zahra bergantian.
"Mari." Rio mempersilahkan Zaldi untuk duduk di sofa, agar mempermudah pembicaraan mereka. Keduanya berhadapan dengan Rizki dan Zahra.
"Perkenalkan, mereka adik-adik saya. Rizki dan Zahra. Saya yakin bapak sudah mengenalnya sebelum saya mengenalkan keduanya."
Zaldi mengangguk, terakhir dia hanya menemui Rio saat kematian Deron. Ternyata mereka sudah sebesar ini. Anak-anak yang dulu dipisahkan oleh Deron telah bersatu kembali, Zaldi tersenyum melihat suasana ini.
"Perkenalkan, saya Zaldi. Kuasa hukum ayah kalian, kalian juga bisa menyebut saya pengacara keluarga."
"Lah, bukannya om itu pengacara yang disewa Papa Johan?" Zahra segera menyahuti. Sementara dua kakaknya hanya terdiam mendengar interaksi Zahra dan kuasa hukum itu.
"Memang benar. Dulunya saya bekerja pada firma hukum yang mengurus tentang hak waris. Kemudian, saya bertemu keluarga Tuan Johan, mereka menjadikan saya kuasa hukum pribadi keluarganya. Sebelum Tuan Johan meninggal, dia mengenalkan saya pada seorang laki-laki yang tak lain dan tak bukan ialah mantan suami dari istrinya saat itu, ayah kalian.
Sebelum Tuan Johan kecelakaan hari itu, ia menitipkan surat wasiat pada saya, begitu juga dengan Tuan Deron sebelum raganya pergi sore itu. Dua keluarga besar di Indonesia menitip amanah pada saya sebagai pihak ketiga yang dipercaya untuk menyampaikan surat wasiat. Mereka menitipkan pesan untuk anak-anaknya ketika mereka telah beranjak dewasa."
Zaldi mengeluarkan satu big map dan di dalamnya ada dua buah map tipis. Zaldi membuka map warna merah terlebih dahulu, di luar map tersebut terdapat nama sang pemilik, 'Johan Frendo Aditama'.
"Zahra ...."
Gadis itu menatap Zaldi kembali, setelah paruh baya di depannya menyerukan namanya.
"Tuan Johan memberikan seluruh hartanya untuk anak-anaknya yang ditinggalkan. Ia tidak memberikan apapun pada istrinya sebab ia merasa, jika istrinya tak akan lama menyusul. Di sini tertulis, pembagian hak waris dibagi secara adil, tidak peduli kalian anak kandung atau anak sambung."
Zaldi menatap Zahra. "Sudah waktunya kalian menerima hak masing-masing. Kamu dan Raisha mendapatkan bagian yang sama. Tapi, sampai saat ini Raisha masih belum ditemukan. Saya dan kepolisian sudah mencarinya bertahun-tahun, bahkan di data kependudukan, nama Raisha Rifandi invalid. Tidak ada nama Raisha Rifandi di data kependudukan mana pun.
Dugaan sementara, gadis itu mengalami musibah saat pergi atau bisa saja ia mengubah identitasnya.
Surat ini mengatakan jika salah satu putrinya tiada, maka seluruh harta peninggalan Tuan Johan akan jatuh pada putrinya yang masih hidup. Dan itu hak kamu, Zahra."
Zahra menggeleng, ia tak bisa menerima ini. Tidak, itu bukan miliknya, semua itu milik Raisha. Raisha pemilik sah dari isi wasiat itu. "Enggak, itu hanya milik Raisha. Saya bukan siapa-siapa di situ, itu murni milik Raisha. Saya yakin Raisha masih hidup sampai sekarang, hanya saja saya juga belum menemukannya. Setelah saya menemukan Raisha, saya akan hubungi, Om. Saya sangat berterimakasih pada papa saya yang memberikan sebagian asetnya itu untuk saya, tapi maaf. Saya tidak bisa menerimanya."
Zahra menatap Zaldi memohon, Zaldi mengembuskan napas dan menutup kembali map itu. "Baik saya bisa tunggu, tapi apabila Raisha benar-benar tiada, semuanya mutlak milik kamu."
Zaldi membuka map kedua, map kali ini berwarna hitam dengan tulisan, 'Deron Devranel Ario'. Di sini juga menerangkan hak waris, Zahra mendapat bagian kecil karena dia seorang perempuan. Rio dan Rizki mendapat 35% masing-masing dari harta Deron. Sedangkan Zahra mendapatkan 30% saja. Semua itu adalah aset yang telah ditinggalkan dan dikelola ketiganya.
Satu kantor utama, lima belas kantor cabang yang telah berdiri di setiap kota, satu mall beserta isinya, satu universitas beserta isinya, satu mansion, satu restoran utama, sepuluh restoran cabang. Untuk barang berharga yang berada di mansion, yang terhitung warisan adalah sembilan buah mobil, masing-masing mendapat tiga buah dengan nilai yang sama.
Di lemari kaca yang dulunya kamar tidur Deron dan Zaskia terdapat uang senilai 200 juta, emas batangan seberat 15 kilogram dan sejumlah kotak perhiasan senilai 150 juta. Di situ tertulis jika semau itu adalah sisa harta dan wajib di donasikan pada yang berhak. Warga fakir miskin maupun panti-panti yang ada di Jakarta dan sekitar.
Zaldi menjelaskan perincian harta waris beserta antek-anteknya. Pusing mereka mendengarnya, mereka mengikuti saja seperti yang telah Deron perincikan bagian masing-masing. Untuk saat ini semua itu mereka kelola bersama, tapi setelah mereka semua menikah, bagian masing-masing akan dikelola mereka bersama keluarga barunya.
Zaldi menatap kedua map itu lega, akhirnya beban yang dipikulnya sedikit berkurang. Ia kembali memasukkan dua map tersebut ke dalam big map.
"Saya mau tanya. Om saya, Dion. Kenapa bisa mengetahui tentang harta waris ini, dua keluarga pula?" tanya Zahra menuntut.
Rio dan Rizki terkejut mendengarnya. Sudah Zaldi duga sebelumnya, pasti Zahra akan menanyakan hal ini. Mereka sama-sama menatap Zaldi, meminta penjelasan.
"Hari itu, tepatnya dua bulan yang lalu, saya salah membawa pekerjaan. Pekerjaan yang belum selesai itu akhirnya saya bawa pulang. Saya lembur seharian karena semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Dion diberikan pada saya. Saya begadang, hari itu saya kesiangan. Hari sebelumnya, saya memang ingin menyortir kembali berkas-berkas itu dan belum sempat saya rapikan. Berkas yang saya bawa tercampur dengan berkas yang berada di rumah.
Entah karena terburu-buru atau asal ambil berkas, saya langsung ke kantor. Dan apesnya berkas yang saya bawa adalah berkas wasiat milik Tuan Johan dan Tuan Deron, sampul mapnya sama dengan berkas milik kantor. Saya memberikan berkas itu yang saya kira berkas kantor pada Dion. Dia memerhatikan berkas itu dan menyeringai.
Dia membaca keduanya dan mengangguk. Kedua berkas itu sama-sama menguntungkan Zahra jika dilihat, tapi kenyataannya itu adalah sebuah kesalahan. Apalagi saat membaca map milik Tuan Deron, di situ tertulis bahwa Zahra mewarisi 40% harga keluarga, yang sebenarnya hanya 30%. Saya yakin itu salah ketik, karena setelah saya perhatikan baik-baik jumlah kalian adalah 70%, jadi untuk Zahra hanya tersisa 30%.
Soal harta Tuan Johan, kalau Raisha memiliki harta itu, mereka akan merebutnya dengan mudah. Tapi masih ada kamu, Zahra, kamu pasti tidak akan membiarkannya. Sekalipun kamu menolak pemberian Tuan Johan, kamu akan tetap menjadi mangsa utama Dion, karena kamu dianggap penghalang rencana mereka. Apalagi setelah kamu mendapat bagian 40% dari Tuan Deron. Kuncinya, jika kamu gugur maka yang lain juga akan gugur seperti kamu. Jika kamu pergi duluan, maka yang lain akan segera menyusul.
Maaf, mafkan saya. Karena saya semuanya jadi rumit. Saya berusaha mengambil berkas ini kembali saat Dion dikabarkan menghilang. Dan berkas ini sengaja ditinggalkan di kantor. Maafkan saya, saya seharusnya hati-hati dan teliti. Karena saya, kamu jadi seperti ini Zahra."
Rio dan Rizki sempat terdiam dengan penjelasan panjang Zaldi, tapi mereka juga tidak akan menyalahkan paruh baya itu. Mungkin, inilah takdir yang harus diterima adiknya.
Lain dengan Zahra, gadis itu malah menatap kosong Zaldi. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tangannya terkepal seakan-akan mencari pelampiasan atas emosi yang tiba-tiba meluap. Tak lama sebuah bayang-bayang terlintas di benaknya, membuat dirinya kembali kesulitan bernapas. Napasnya kembali tersengal, bersamaan dengan tangan Rizki yang dicengkeramnya kuat.