
Pagi ini suasana mansion Ario sedang tegang, bibi dan Tria sudah mendengar penjelasan Rio dan Rizki pagi ini. Suasana bertambah tegang kala mereka mendengar suara rintihan dari lantai dua, tepatnya dari kamar tuan putri di mansion ini.
Keempat manusia itu berlari, ingin menjadi pemenang—siapa yang akan membuka pintu hitam itu terlebih dulu. Rio segera membuka pintu itu, ketiga manusia yang mengikutinya terkejut ketika mendapati pemandangan yang baru saja mereka bahas.
Rio dan Rizki segera melakukan apa yang dilakukan semalam, bahkan Gery juga meninggalkan cairan itu dan beberapa jarum suntik. Cairan itu digunakan apabila Zahra belum sadar, jika sudah maka cairan itu juga akan berbahaya. Kalau Zahra telah sadar, Gery meminta mereka memulangkan cairan itu.
Tiga menit berlalu. Zahra stabil kembali, lebih cepat dua menit dari kemarin. Mereka sebenarnya berat jika harus meninggalkan Zahra dalam keadaan seperti ini, tapi apalah daya.
Semuanya keluar setelah keadaan Zahra membaik, menyiapkan segala keperluan mereka untuk rutinitas yang akan dijalani.
Rio memilih keluar terakhir, laki-laki itu ingin bersama Zahra lebih lama sebelum ia pergi ke kantor.
Pria dengan kaus marun v-neck itu berdiri, saat ingin melepaskan tangannya yang menggenggam Zahra— tangan itu malah tak bisa lepas. Tangan mungil adiknya menggenggam erat tangannya—seakan tak mau berpisah, tak mau ditinggalkan.
"Kak ...," gumam Zahra lirih.
Rio terkejut mendapati adiknya bergumam. Ekor matanya melirik sekilas, pelupuk itu masih terpejam erat. Apa benar tadi suara Zahra?
Ngigo mungkin, pikir Rio. Ia berusaha melepaskan tangannya, tapi tangan itu malah menariknya untuk kembali duduk di pinggir ranjang.
"Please, stay," Zahra meracau, seperti beberapa menit lalu, mata itu masih terpejam. Hanya tangannya yang bereaksi.
Rio menghela napas, mengusap lembut pipi adiknya. Wajah yang pucat itu kembali bersemu, kulitnya sudah tak sedingin tadi malam. Rio kembali mendaratkan bibirnya di kening sang adik, kemudian membalas genggaman itu. Laki-laki itu menegakkan diri, menjauh dari wajah Zahra.
"Riz, Rizki," Rio berteriak keras, agar penghuni kamar yang berada di depan ruangan ini dapat mendengar suaranya.
Rizki yang mendengar teriakan itu segera bergegas, laki-laki yang telah mengenakan setelan kaus dan blazer krem dan celana bahan senada—membuka pintu hitam dengan wajah cemas. Bagaimana tidak, saudaranya itu tiba-tiba berteriak panik. "Kenapa?"
"Telepon dokter Adrian, suruh ke sini sekarang!"
Tanpa banyak berkata, anak tengah Ario itu segera menelepon dokter yang dimaksud, tanpa tahu sebenarnya yang terjadi. Ia mendekati ranjang si bungsu, Rio masih menunduk menatap tangannya.
"Zahra ga mau lepasin tangan gue," Rio berucap pelan, memandang Rizki yang menaikkan alis.
Rizki tersenyum kecil, ikut duduk di pinggir ranjang si bungsu. "Perkembangan yang menarik, sepertinya dia akan segera sadar," ucap Rizki yakin.
"Mudah-mudahan." Rio sangat berharap, sepertinya Rizki benar. Pergerakan kecil yang dilakukan tubuh Zahra membuat kedua kakaknya tersenyum.
Bibi muncul, wanita itu masih mengenakan celemek abunya. Di belakangnya, seorang pria yang sepertinya berusia tiga puluhan ikut masuk. "Abang, ini dokter Adrian udah datang."
Rizki menyingkir, berdiri di sebelah Bi Heni—membiarakan dokter Adrian melakukan tugasnya. Dokter itu mengganti perban di kedua luka Zahra, serta menyuntikkan cairan pereda nyeri.
Selesai melaksanakan tugasnya, pria itu segera membereskan barang-barangnya. Menatap Rio dan lainnya. "Sejauh ini keadaannya normal, peredaran darahnya berjalan lancar. Lukanya sudah mulai menutup, dua hari lagi perbannya sudah bisa dilepas. Ini memang perkembangan yang bagus, sepertinya Nona Zahra mengingkan Anda—Tuan Rio untuk menemaninya saat ia bangun." Pria itu tersenyum memandang genggaman tangan itu, sepertinya Zahra tidak berniat melepaskan tangan kakaknya. "Apa ada keluhaan lain?"
"Ah, semalam dan pagi ini pernapasannya terganggu. Napasnya memburu, kalau kata temen saya, itu efek yang ditimbulkan oleh racun tersebut. Adik saya mengalami masa yang sulit di alam bawah sadarnya. Bagaimana menurut medis keadaan seperti itu?"
Dokter Adrian mengangguk. "Itu memang efek samping racun tersebut, jika penanganannya terlambat, maka pasien akan sulit tertolong. Efek dari racun itu memang besar." Pria itu menarik napas, mengeluarkannya dengan pelan. Ia muak sekali dengan orang yang menyalahgunakan obat-obatan. "Siapa orang yang tak bertanggungjawab telah menggunakan obat dengan dosis tinggi tersebut?" Ia berucap lirih, menggeleng pelan. "Pada orang normal, sedikit saja menggunakannya atau bahkan satu tetes maka orang itu akan sulit disembuhkan. Jika di rehap pun membutuhkan waktu yang lama, beruntung daya tahan tubuhnya baik. Dia hanya perlu pergi ke psikiater setelah sadar."
Rio mengangguk. "Baik, Dok. Sejauh ini adik saya memang sering bertemu psikiater akhir-akhir ini. Saya yakin dokter sudah memelajari riwayat trauma adik saya. Menurut sikiater pribadinya, traumanya semakin parah. Kami harus selalu mengawasinya. Dia juga sudah mulai berhalusinasi, menganggap orangtua kami masih ada." Laki-laki itu tersenyum kecut, sepertinya adiknya masih belum bisa berdamai dengan masa lalu.
"Nanti suster Raya mungkin tidak ke sini, mengingat nona yang mungkin akan terbangun dalam jarak dekat. Saya sudah memperlambat pergerakan cairan itu, besok suster Raya akan datang untuk melepas infusnya. Tapi jika Nona Zahra belum mau membuka mata, suster Raya akan mengganti infusnya. Pemberian obat dan vitamin dapat dilakukan secara manual. Saya sudah menulis resepnya, obat itu akan diantar asisten saya nanti."
"Terimakasih, Dok. Kami akan segera memberi kabar jika adik kami telah siuman."
"Mari ke bawah, dokter menginginkan teh atau kopi?" tanya Bi Heni, wanita itu menginginkan agar dokter itu singgah sebentar di kediaman mereka.
"Terimakasih Bu Heni. Saya ada jadwal operasi setelah ini, mungkin jika ada waktu luang saya dan keluarga akan bertandang."
Bibi terkekeh. "Kami tunggu kehadiran Anda dokter Adrian, suatu kehormatan untuk menjamu dokter."
"Anda sangat baik, Bu. Kalau begitu saya permisi, terimakasih undangannya."
"Mari saya antar." Rizki berjalan beriringan dengan dokter Adrian.
Bibi mendekati Rio dan memegang bahunya. "Kamu hari ini ga usah ke kantor, lebih baik kamu temani Zahra."
Tentu saja, tanpa disuruh ia akan menemani adiknya. Pria itu mengangguk.
"Bibi ke bawah dulu ya, masakan bibi belum selesai. Nanti bibi bawain camilan ke sini."
"Iya, Bi. Makasih."
...****...
Rio menepis tangan jahil yang memencet-mencet hidungnya. Tidak mungkin juga kalau bibi, tadi wanita itu pamit ke rumah belakang. Dan bibi jika membangunkan Rio hanya dengan tepukan di bahu, lalu untuk apa bibi memainkan wajahnya?
Tunggu dulu, jika bukan Rizki ataupun bibi, lalu siapa? Mana mungkin Tria, gadis itu mana berani berbuat demikian. Lalu siapa? Tidak mungkin kan, kalau Zahra, atau mungkin saja.
"Kak ...."
Rio seperti mendengar suara Zahra dalam tidurnya dan saat ini gadis itu sedang mengganggu tidurnya. Itu yang Rio lihat dalam mimpinya.
"Ra .... Gue mau tidur, capek banget semalem lembur," erang Rio dalam tidurnya.
Seseorang kembali menoel-noel pipi Rio. "Buka dulu matanya ...." Suaranya terdengar manja, masih menatap Rio yang terpejam nyenyak. Sepertinya kakaknya itu memang kelelahan.
Rio menyingkirkan tangan itu, lalu menutupi wajahnya dengan guling yang tadi dipeluknya. Seseorang itu terkikik geli, lalu tangan mungilnya menarik perlahan guling yang dipakai Rio dan menggantinya dengan tubuhnya.
Dia menduselkan kepalanya ke ceruk leher Rio, sebelum kembali menutup mata ia lebih dulu mengecup dagu tegas kakaknya. Ia rindu tubuh ini, wajah ini, aroma ini. "Selamat tidur."
...****...
Rizki baru saja pulang dari kantor. Jam menunjukkan pukul empat sore. Rumahnya sepi sekali, hanya ada bodyguard yang berjaga.
"Bang Rio ke mana? Tumbenan, biasanya jam segini nonton televisi," gumam Rizki saat melewati ruang keluarga yang kosong. Laki-laki itu segera masuk ke kamarnya dan membersihkan diri.
Rizki telah menyelesaikan ritual mandinya. Ia memakai kaus abu-abu dan jeans selutut. Terakhir ia menyisir rambutnya agar tampak rapi.
Rizki keluar kamar, ia ke kamar yang berada di depan kamarnya. Kamar adiknya. Memang kebiasaannya bertandang ke kamar itu, sejak Zahra sakit.
Rizki membuka pintu kamar adiknya, alangkah terkejutnya ia saat melihat kedua saudaranya tengah tidur berpelukan. Rizki tersenyum kecil, ternyata benar firasatnya bahwa Zahra akan segera sadar. Dan ya, sekarang matanya telah membuktikannya sendiri.
Rizki menepuk bahu Rio, seperti biasa. Ketika rasa lelah Rio telah sepenuhnya hilang, maka dengan menepuknya saja pria itu pasti akan membuka mata. Rio melihat ke arah orang yang menepuknya tanpa melepaskan pelukan.
"Udah balik?" tanya Rio, sepertinya nyawanya belum sepenuhnya kembali. Kalau ia melihat Rizki di depannya, itu artinya adiknya itu sudah pulang.
Rizki menggangguk, lalu mengisyaratkan Rio untuk melihat sesuatu yang dipeluknya. Rizki tahu, Rio pasti tidak sadar jika yang dipeluknya itu adiknya. Bukan guling Hello Kitty milik Zahra.
Rio terkejut ketika melihat Zahra yang dipelukannya, rasanya ia tadi memeluk guling—bukan tubuh adiknya yang terbaring di sampingnya. Dan guling itu sekarang berada di bawah kaki Zahra.
Rio menoleh ke Rizki kembali. "Jangan bilang kalau ...?"
Rizki hanya mengangguk lalu duduk di samping Rio. "Pasti lo ga sadar kalau Zahra udah bangun?"
Rio menggeleng. "Pantes, tadi gue ngerasa kayak ada yang mainin pipi sama hidung gue." Rio terkekeh pelan lalu mengusap rambut adiknya. Pria itu meminta tolong Rizki untuk mengambilkan guling yang berada di bawah kaki Zahra. Setelah kembali mendapatkan guling Hello Kitty itu, Rio melepaskan pelukan adiknya perlahan dan menggantinya dengan guling. Mereka membiarkan Zahra kembali beristirahat.
...****...
Setelah mengetahui bahwa Zahra sudah sadarkan diri, Rio segera mengabari dokter Adrian. Tak lama kemudian, seorang pria dengan jaket hijau tampak mengantarkan bingkisan obat dan vitamin dari dokter kepercayaan keluarga Ario.
Waktu makan malam telah tiba. Rizki sedang bersiap di meja makan sambil mengecek data kenaikan saham. Sedangkan Rio pergi ke kamar Zahra untuk membangunkan gadis itu. Laki-laki berjambul itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu, dilihatnya Zahra lelap sambil memeluk guling.
Rio duduk di pinggiran ranjang. "Zahra," ucapnya, sambil menggoyangkan badan mungil adiknya. Zahra hanya menggeliat pelan, setelah itu ia kembali memeluk gulingnya. Rio mengambil paksa guling itu, si bungsu itu sedikit mengerang, kemudian mengubah posisinya menjadi telentang dengan salah satu tangan bergerak memukul paha Rio.
Rio sabar saja, ia melanjutkan usahanya untuk membangunkan gadisnya. Menggoyangkan badan ialah pilihan selanjutnya, tapi gadis itu seakan belum mau membuka matanya. Akhirnya cara terkahir, Rio mengecupi seluruh wajah Zahra. Menoel-noel pipinya seperti yang Zahra lakukan tadi siang. Alhasil Zahra sedikit membuka matanya walau masih mengeriyip. Gadis itu mengucek matanya pelan lalu menguap. Rio terkekeh melihat itu.
"Udah cukup tidurnya, Dek. Kamu harus bangun." Rio sedikit mencondongkan tubuhnya dan mengusap dahi Zahra yang berkeringat.
"Ka–kakk," kata Zahra lirih.
"Syukurlah, kamu udah sadar. Kakak kangen sama kamu," balas Rio. Tangannya kembali membelai pipi adiknya yang semakin tirus itu, tak apa—mungkin setelah ini pipi itu akan gemuk kembali. Sebelum kejadian itu, ***** makan adiknya besar—sehingga membuat pipi yang tadinya tirus menjadi gemuk.
Zahra balas mengusap pipi kakaknya, menatap laki-laki itu penuh kerinduan. "Aku kembali."
"Kamu harus kembali!"
Rio membantu Zahra duduk, pria itu memeluk Zahra sebentar sebelum akhirnya membantu Zahra berjalan dengan memapahnya. Adiknya itu mengeluhkan kakinya, saat ia bangun tadi kakinya terasa berat dan nyeri. Rio mengerti, saat dibuat jalan pasti kaki iku sangat sakit, oleh karena itu ia memapahnya. Sebenarnya Rio menawarkan gendongan, tapi Zahra memilih untuk dipapah saja.
Mereka berdua sampai di meja makan. Rizki menyambut adiknya sumringah, mereka berpelukan sebentar sebelum menyantap makan malam dan Zahra meminum obat atas perintah kedua kakaknya. Memang tidak mengurangi rasa sakit, tapi obat itu membantu mengeringkan luka kaki Zahra. Obat itu juga memberikan efek kantuk yang luar biasa, karena saat obat itu bekerja maka rasa sakitnya luar biasa pula.
Zahra memaksa untuk menemui bibi, tapi Rizki langsung menggendongnya kembali ke kamar. Dia memberi pengertian untuk adiknya agar tidak memaksakan diri karena dirinya masih proses pemulihan. Bibi pasti akan menjenguknya, Zahra tidak perlu menghawatirkan hal itu.
Rio dan Rizki menemani Zahra sampai gadis itu tertidur, menemani gadis kecilnya sampai efek obat itu bekerja. Gadis dua puluh tahun itu meringis dalam tidurnya, pasti akibat obat yang diminumnya. Rio dan Rizki menenangkan Zahra yang kesakitan dalam tidurnya.