Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
86. Pernyataan Devan


Devan dan Zahra tengah berjalan ke perpustakaan. Sedangkan Putra, laki-laki itu lebih memilih menemani gebetannya.


Hahhh, ini pertama kalinya Zahra akan memasuki perpustakaan kampus setelah kuliah hampir dua tahun. Di tengah perjalanan, Zahra merasakan semburan panas dari organ bawahnya. Ini hari kedua jadwal menstruasinya, pasti sangat deras.


Zahra menarik Devan menuju salah satu toilet, meminta laki-laki itu untuk menunggu di depan. Beberapa menit kemudian, Zahra sudah kembali ke hadapan Devan dengan senyum cerahnya. Rasanya nyaman jika permukaan itu kembali kering, bukan lembab.


"Sayang," panggil Devan, ketika mereka akan masuk ke perpustakaan. Saat ini mereka berada di depan perpus.


Zahra menghentikan langkahnya, menatap laki-laki di sebelahnya dengan tanya. Semilir angin yang terus berdatangan membuat suasana hati Zahra kian damai.


"Ayo duduk dulu, aku pengen ngomong sesuatu," ucap Devan. Menarik Zahra ke tepi teras, di mana untuk memasuki perpustakaan harus menaiki lima anak tangga terlebih dulu.


"Katanya tadi habis dari perpus mau beli buku kalau referensinya ga ada, sekarang kenapa ngajak duduk di sini?" tanya Zahra dengan heran. Menaikkan sebelah alisnya sembari sebelah tangan membersihkan permukaan lantai.


Devan meraih tangan kiri Zahra, pemuda itu berada di sebelah kiri, bersandar pada tiang. Mengusap ibu jarinya pelan, setelah itu menoleh pada gadis disebelahnya yang memandang bingung. "Ra ...."


"Kenapa, sih? Ada yang aneh sama aku?" Zahra yang ingin melepaskan tangannya malah ditarik kembali oleh Devan.


Tangan Devan bergerak menuju kepala Zahra, membantu menyelipkan rambut Zahra yang berantakan karena terpaan angin. "Mau dikuncir ga? Kayaknya kamu ga nyaman?"


"Eumm, iya sih. Agak gerah, cuman aku lupa bawa kuncirnya."


Devan melepaskan tas ranselnya, membuka resleting paling kecil. Mengeluarkan sisir mini dan sebuah kuncir. Zahra yang paham langsung membelakangi Devan, mempersilahkan laki-laki itu untuk merapikan rambutnya. Zahra jadi membayangkan jika Devanlah yang mendandani anak perempuan mereka kelak. Ahh, memikirkan itu membuat pipi Zahra sedikit bersemu.


"Dah, beres."


Zahra langsung berbalik badan, kembali mendaratkan ciumannya pada pipi Devan. "Makin sayang nih, he–he."


Devan terkekeh renyah, meminta Zahra untuk menghadapnya. Menggenggam kedua tangan gadisnya dan tersenyum lembut. Menatap sang gadis intens. Menarik napas panjang dan mengembuskannya. Sungguh, belum terucap saja jantungnya tak berhenti disko.


Setelah meneguhkan hatinya, kembali ia tarik napas panjang. Sementara Zahra masih menunggu apa yang Devan katakan, sepertinya laki-laki ini sedang tidak main-main.


"Kalau makin sayang, kamu mau ga lebih sayang sama aku? Memulai hubungan resmi kita mulai hari ini?" ucap Devan dengan tegas, maniknya tak berhenti menatap Zahra yang kini terlihat shock.


Zahra mengerjab pelan, kembali meraih kesadarannya. Sepertinya penyakit jantung disko Devan menular pada dirinya. Angin menerpa keduanya, seakan memberi ruang sendiri pada dua sejoli yang yang sedang menyatakan cinta.


Perkataan Devan masih terngiang-ngiang di benaknya, suara tegasnya, tatapan memujanya yang lembut penuh cinta. Tangan dinginnya yang kini masih ia rasakan, membuktikan jika laki-laki ini benar-benar serius.


"Ka–kamu nembak aku?" Zahra tersenyum polos.


Devan mengangguk kecil. Menatap Zahra sekilas kemudian menunduk. "Aku bingung gimana nembak cewek, tahu sendiri aku ga pernah yang namanya pacaran. Deket sama cewek juga pas kuliah. Aku ga romantis, ya? Maaf kalau gitu." Manik hazel itu kembali menatap manik coklat dengan lembut. "Gimana? Kamu mau jadi kekasihku?"


Zahra tersenyum cerah, menggoyangkan tangannya pelan. "Kamu masih bertanya? Ya maulah." Zahra terdiam sejenak, memandang Devan yang kini tampak shock, kembali ia terkekeh. "Dari segi mana pun, kamu tuh lebih unggul dari Putra." Setelah atensi Devan kembali teralih padanya, ia melanjutkan ucapan, "Restu Kak Rio dari awal udah dapat, aku lebih dekat sama mamamu daripada mamanya Putra, kamu lebih pinter dan tanggung jawab dan ... kamu yang lebih banyak nyentuh aku daripada Putra. Untung banyak kamu tuh, buat apa juga nolak? Rugi tahu."


Devan tergelak heboh, membuat beberapa pasang mata yang sejak tadi mengamati mereka menjadi terkejut. Laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya, mencubit hidung Zahra lumayan lama. "Kamu tuh, aku udah deg-degan tahu."


Keduanya terkekeh bersamaan. Devan merangkul Zahra, membuat jarak satu jengkal itu terkikis. Mendekap gadisnya erat. "Masih ga nyangka, aku berhasil dapetin cewek yang kuincar dari SMP."


Zahra terkekeh, membalas rangkulan Devan dengan melingkarkan tangannya di pinggang kekasih barunya. "Tapi kenyataannya kayak gini, kan?" Dan mereka kembali terkekeh bersama. Saling memandang hangat dan kecupan singkat kembali Zahra dapatkan di keningnya.


Masih dalam keadaan mendekap Zahra, bahkan gadis itu kini ikut merasakan debaran jantung kekasihnya yang tak menentu. "Aku bersyukur, akhirnya Tuhan ngasih aku kesempatan buat jagain kamu. Semoga bisa selamanya kayak gini, ya?"


Zahra mengangguk dalam diam, mendaratkan kecupan singkatnya pada dagu Devan. Setelah itu berbincang hangat sambil menikmati sore. Masih ada satu jam lagi untuk menjelajah perpustakaan. Untuk saat ini, keduanya ingin menghabiskan waktu untuk duduk bersama terlebih dulu.


Resminya hubungan mereka ditandai oleh postingan akun gosip kampus, yang memposting foto mereka dan telah mendapatkan tujuh ribu like dalam lima menit.


Semoga Tuhan mengabulkan keinginan keduanya untuk bersama hingga maut memisahkan, semoga Tuhan merestui hubungan keduanya.