Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
94. Zahra dan Ardelia


Zahra dan Ardelia turun dari kendaraan roda empat dengan warna navy tersebut. Keduanya berjalan beriringan menuju kantin gedung B, karena memang kedua temannya telah menunggu di sana.


"Lo udah berkali-kali nginjak rumah gue, lah gue baru sekali doang nginjak rumah lo. Berasa adil ga sih?" tanya Zahra, ketika keduanya hampir mendekati kantin.


Ardelia terkekeh geli. "Ya siapa suruh tiap diajakin ke rumah nolak, salah lo sendiri kali." Ardelia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lagian, tiap diajakin main ada aja alasan lo. Nih ya, seandainya lo tahu kalau kembaran nyokap Lo tuh mami gue, ya udah dari dulu kita ngerti kalau kita ternyata saudaraan."


"Iya kaka Lia yang cerewet." cibir Zahra pelan. Meskipun usia mereka sama, tapi Ardelialah yang terlahir lebih dulu, dia juga merupakan anak dari kakaknya Zaskia. Jadi, Ardelia itu kakak bagi Zahra.


"Berasa tua banget gue lo panggil gitu," ucap Ardelia sedikit kesal.


"Hehe, kapan lagi coba ada orang sepantaran lo manggil kakak. Gue doang ini." Setelah mengucapkan itu, Zahra langsung kabur menuju meja yang ditempati Ina dan Ica. Zahra mendudukkan diri begitu sampai di meja tersebut.


"Tumben lo berangkat sama Adel. Ada angin apa, nih?" tanya Ica.


Fakta yang terungkap tiba-tiba kemarin, memang belum diketahui banyak orang selain Ina dan Gery. Kekasih Zahra pun belum mengetahui mengenai hal ini.


"Ngeselin banget sih lo!" ucap Ardelia sambil duduk. Ia masih sebal dengan Zahra.


Ina tertawa, menoleh ke arah Icha sambil tersenyum mengejek. "Lo belum tahu berita hot kan, Ca?"


"Berita apaan? Ngaco lo, gue tuh selalu update berita terpanas tahu. Kan dari kemarin berita terpanasnya masih tentang Zahra sama Devan? Emang ada yang baru?" tanya Ica agak Bingung.


Memang benar, berita fantastis tentang Zahra dan Devan yang menjalin hubungan masih menjadi trending topik hingga saat ini. Untuk penggosip seperti Ica pantang sekali tertinggal berita panas.


"Ga tahu aja lo ... ini tuh lebih dari sekadar panas. Udah gosong malah." Ina semakin memanas-manasi Ica, dirinya juga terkekeh dengan perkataannya barusan yang terkesan berlebihan.


Ardelia dan Zahra menyimak obrolan kedua gadis di depan mereka, juga sudah bisa menebak berita apa yang ada pada otaknya Ina.


Ica mengerucutkan bibirnya, menyambar minuman good day kesukaannya. "Apaan, sih? Bagi tahu lah, biasanya gue juga ngasih tau lo kalau ada yang hot-hot."


"Kayaknya yang ini lebih baik ga usah di kasih tahu deh." Ardelia mengedipkan sebelah matanya ke Ina. "Mulut lo kan ember, Ca," imbuhnya bercanda.


Zahra terkekeh mendengar gurauan Ardelia. "Bener tuh, ntar langsung nyebar satu kampus."


"Lo kok ikut-ikutan mereka sih, Ra. Biasanya juga di pihak gue," gadis itu memanyunkan bibirnya.


Zahra tersenyum manis. "Kek ga tahu mereka berdua aja lo. Ntar juga tahu sendiri."


"Pagi, Sayang." Devan datang dari arah belakang, mengusak rambut kekasihnya gemas. "Ciee, yang punya saudara baru." Laki-laki itu menarik-turunkan alisnya sambil sesekali melirik pada gadis di samping Zahra.


"Iya lah tahu, tadi ketemu sama laki lo, Na. Dia cerita sama gue tentang kalian," jawab Devan. Ia juga sama terkejutnya, tidak pernah ia sangka akan seperti ini hubungan mereka. Juga merasa terharu akan kebesaran hati keluarga besar Hartarajasa yang menerima kehadiran Rizki dan Raisha, meskipun keduanya bukanlah keturunan dari Zaskia.


"Laki lo, Na. Padahal gue mau nyurpresin doi ... rencananya mau pamer kalau gue ada saudara lagi. Eh tahunya, udah keduluan laki lo," cibir Zahra pada Ina, dengan memasang muka datarnya.


"Yeee jangan marah ke gue lah, sono lo gasak aja si Gery, emang rada ember juga sii, sama nih kek ini anak," ucapnya sambil melirik Ica, yang hanya terdiam kebingungan.


Ica yang dilirik hanya memerhatikan mereka semua dengan kening berkerut heran, padahal dirinya ialah ratu gosip. Tapi kenapa, ia tidak mengetahui ada hal yang lebih hot dari kabar peresmian hubungan Devan dan Zahra. Ia juga menoleh pada sahabatnya, Ina, yang tampak anteng sambil tersenyum cerah. "Na, bagi tahu dung ada apa ini sebenarnya, janji deh ga bakalan nyebar infonya. Kepo banget nii ...." Ica memohon dengan menunjukkan puppy eyes pada Ina, yang membuat gadis tersebut bergidik geli.


"Dihh, mulut lo ember, ga mau gue," tolak Ina, dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ia belum mau membuka mulut, sementara dua sahabatnya yang terlibat masih terlihat engga untuk membuka rahasia. Akan lancang dirinya jika memberitahukan info ini kepada Ica.


"Janji, ga akan ember lagi kok. Beneran, Inaa." Ica menunjukkan kedua jari telunjuk dan tengahnya, kemudian merubahnya menjadi jari kelingking. "Beneran janji? Ada kalian juga lho ... masa cuma gue doang yang ga tahu apa-apa." Ica menatap semuanya dengan mata berkedip lucu.


Kedua saudara yang baru bertemu itu saling pandang, sampai akhirnya keduanya menemukan sesuatu yang telah mereka sepakati bersama. "Ya udah, nanti kita main ke rumah gue yahh, udah lama kan ga main ke rumah gue," ajak Ardelia pada semuanya.


"Wahh, mau Dell ... kangen banget sama masakan Tante Azkia," seru Ica antusias.


"Okey, kalau gitu nanti kita kumpul di sini lagi, ntar ke rumah Adel ramaian yaa." Zahra memberikan keputusan yang pada akhirnya disepakati oleh semuanya. Keduanya akan menceritakan semuanya pada Ica di rumah Ardelia.


Sekalian Zahra juga ingin melatih dirinya dengan berinteraksi dengan Azkia. Dirinya tidak mau menjadi manusia lemah yang terus menerus terjebak dalam ruang kegelapan. "Kalau gitu, gue sama Devan ke kelas duluan yaa, byeee gaess," lanjutnya, kemudian melangkah dengan digandeng Devan menuju kelas mereka.


...****...


Keempat sekawan itu pun akhirnya sampai di kediaman Bapak Vero Ardiansyah dan Ibu Azkia Moreta Wahyu. Kedatangan empat sekawan itu disambut antusias oleh Ny. Azkia, yang tidak lain ibu dari Ardelia. Mereka menyalami wanita itu.


"Tante Kia," ucap Zahra saat dirinya mencium punggung tangan ibu dari Ardelia.


"Zahra, akhirnya kamu main ke sini lagi. Temennya Lia tuh, cuma kamu aja yang jarang ke sini. Lihat tuh, mereka udah anggap ini rumahannya sendri. Kamu jangan sungkan kalau ke sini, ini rumah kamu juga," ucap Azkia, yang tadi memandang ke arah teman-teman anaknya yang makan, kini kembali mengarahkan pandangan pada gadis di hadapannya.


"Iya Tante, mulai sekarang Zahra akan sering main ke sini. Sekalian ngunjungin Kakek dan Om Rivan. Rumah kalian ternyata deket banget."


Azkia terkekeh pelan mendengar ucapan Zahra. "Iya nih, Kakek kamu ga mau jauh-jauh dari Lia, kan waktu itu cuma Lia yang jadi kesayangannya. Makanya Om kamu bikin rumah di sini, kebetulan dulu ini memang lahan kosong, Om kamu juga ga tega misahin Lia dan Kakekmu, apalagi Kakekmu kalau ngeluh soal kerjaan pasti ke ayahanya Lia


"Om Rivanmu itu mana mau bantu-bantu di perusahaan, dia itu ya ... hidupnya ga mau jauh-jauh dari kebun bunga Nenekmu. Bang Rivan itu, paling dekat kalau sama Nenekmu, makanya dia memilih untuk menjaga apa yang ditinggalkan Nenekmu."


Pandangannya kemudian menerawang ke depan, sambil menggenggam kedua tangan Zahra. "Dan sekarang, Bang Rivan udah ketemu sama putranya, dia udah coba berbagai cara beberapa hari terakhir ini untuk mendapatkan maaf dari putranya. Tapi ... ya emang dasar gennya ga meleset, putranya juga punya sifat kerasa kepala seperti bapaknya. Jadi, Tante mau minta tolong sama kamu Zahra."