
Zahra menatap Rio yang membangunkannya, ia menatap senyuman manis Rio. Entah perasaannya saja atau memang akan ada sesuatu, ia merasa kalau sebentar lagi ia akan kehilangan senyum itu.
Rio mengibaskan tangannya di depan wajah seorang gadis yang sedang menatapnya. Pria itu menepuk pipi adiknya pelan, tapi ekspresi gadis itu berlebihan. Dia terkesiap dan wajahnya menatap Rio kesal.
Rio balas menatap adiknya lalu menaikkan alis. "Kenapa? Ngelihatin guenya gitu banget."
"Ga papa," jawab Zahra pelan. Zahra mengikis jarak diantara mereka, lalu menempelkan bibirnya di pipi Rio.
"Gue mandi dulu, ya?"
Rio mengacak gemas rambut Zahra, ia mendaratkan kecupan selamat paginya di dahi gadis itu. "Mandinya jangan lama-lama, yang di bawah udah nunggu," pesan Rio.
Zahra mengangguk lalu masuk ke kamar mandinya, sementara Rio bergerak merapikan kasur adiknya. Ia memang suka sekali kebersihan dan kerapihan, maka jarang juga bibi memasuki kamarnya karena sudah bersih dan rapi.
Setelah menyiapkan peralatan mandinya, Zahra segera melucuti pakaiannya dan menjeburkan diri ke bathtub. Ah, segarnya air dingin di pagi hari, membuat matanya yang masih sedikit terpejam menjadi terbelalak—merasakan sensasi air dingin yang berusaha meremukkan tulangnya. Ditambah dengan harumnya mawar yang membuat ia bersemangat melakukan aktivitas.
Zahra menggosok badannya, ia baru menyadari satu hal dari kemarin. Ia menunduk, menatap dadanya, di situ hanya ada satu bandul dengan lambang api. Di mana bandul dengan bentuk love?
Zahra segera mengakhiri sesi mandinya dan bersiap. Gadis itu menjambak kesal rambutnya, pikirannya kacau.
"Gimana bisa hilang?"
Dalam sekejap kamar yang tadinya rapi telah berubah menjadi kapal pecah. Zahra gelisah, ia tidak bisa menemukan kalung itu di mana-mana. Semua yang ada di kamar Zahra telah berantakan, mereka berada di tempat yang tidak seharusnya. Tapi, gadis dengan rambut basah itu belum menemukan kalung milik mendiang ibunya.
Padahal, itu benda terakhir sebagai petunjuk untuk menemukan keluarga ibunya.
Ternyata begini rasanya kehilangan?
Gelisah! Panik! Merasa bersalah.
Ketukan pintu terdengar. "Ra. Ayo turun!" bukan terdengar seperti ajakan, tapi lebih ke perintah. Zahra tahu, itu suara Rizki.
Gadis itu segera merapikan bajunya— membuka pintu sedikit kemudian menutupnya dengan cepat, sebelum Rizki tahu kekacauan yang diperbuatnya.
Rizki menatap Zahra aneh, kemudian mengidikkan bahu, memilih membiarkan. Kadang kala Zahra sering berbuat demikian. "Ayo turun!"
Zahra menetralkan wajahnya, ia tersenyum manis agar Rizki tidak mencium bau kebohongan. Gadis itu harus bisa mengendalikan diri karena Rizki itu berbahaya. Berbaya untuk segala rahasianya!
Zahra mengandeng tangan Rizki, kemudian menempelkan kepala di lengan kakaknya agar dirinya lebih baik.
Setelah acara makan selesai, Zahra segera kembali ke kamar.
"Benda itu tidak ada di kamar ini."
Zahra bingung harus mencari di mana, hilangnya kapan 'pun ia tidak tahu. Akhirnya ia menelepon anak buahnya untuk mencari benda itu di tempat-tempat yang ia kunjungi beberapa hari terakhir.
Agar tidak memancing kecurigaan, Zahra tetap pergi kuliah seperti biasanya. Di samping itu, ia juga mencari kalung itu di kampus.
Zahra sampai di rumah dengan lesu, ia melemparkan tas serutnya ke kasur. Kamarnya rapi kembali, pasti bibi yang merapikannya. Ia terduduk lemas di lantai sambil menyandarkan diri di tepi ranjang.
"Huft ... gimana ini? Xavier dan lainnya belum ngasih kabar apa-apa ke gue." Zahra memijat pelipisnya pusing. "Kalung itu penting banget buat gue, cuma itu kenangan langsung yang ditinggal sama mami. Kayaknya firasat gue bener." Lagi-lagi ia menghela. "Kak Rio bakalan marah banget kalau tau hal ini."
Zahra meringkuk, menelungkupkan wajahnya di antara kedua kakinya dan menangis dalam diam. Gadis itu membasahi bibirnya, lalu menghela lelah. Tidak ada gunanya ia seperti ini.
Zahra menarik napas dalam, memejamkan mata dan menenangkan dirinya sendiri. Gadis itu berdiri lalu menghapus air matanya. Ia mengganti pakaian dengan pakaian santai, lalu mulai mencari kalungnya yang terjatuh.
Tidak menemukan apa-apa di lantai atas, bahkan di kamar kakaknya sekalipun, ia kemudian turun. Mencoba menelusuri lantai bawah.
Ia mulai mencari dari tempat yang sering ia kunjungi di rumah ini. Dapur, ruang keluarga, tempat ibadah, garasi, setelah dari tempat-tempat itu ia tidak mendapatkan apa-apa, lalu beralir ke ruangan lainnya. Tidak ada benda terdeteksi, padahal ia sudah memakai alat pelacak.
Zahra kembali ke ruang keluarga, ia membongkar sofa, barangkali kalungnya terselip di antara tumpukan sofa.
"Nyari apa?" Suara berat seseorang membuat Zahra terkejut, ia membalikkan badan menghadap asal suara. Zahra mendapati Rio berdiri tak jauh darinya, masih dengan jas yang melekat. Pria itu pasti baru sampai. Zahra menatap Rio, yang menatapnya dengan alis terangkat—menunggu jawaban.
Rio mendekati Zahra yang terdiam, lalu memukul pelan lengannya. Zahra terkesiap dan meringis. "Nyari apa?" ulang Rio dengan pertanyaan yang sama.
Zahra mengerjab beberapa saat. "Eh, i–itu ... cari earphone, iya—earphone." Zahra menampilkan wajah bodohnya, tapi hal itu malah membuat Rio percaya. Laki-laki itu menatap Zahra dengan senyum.
"Pakai aja punya gue," tawar Rio.
Zahra menggeleng. "Lebih nyaman sama earphone gue, udah biasa aja gitu nempel di telinga."
Rio terkekeh mendengar alasan asal Zahra, laki-laki itu menyentil pelan dahi adiknya. "Rasanya sama aja kali." Rio menatap kembali gadis sweater hijau itu, "gue ke atas dulu, nanti gue bantu cari," lanjutnya.
Zahra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian melanjutkan mencari kalungnya. Beberapa menit kemudian gadis itu merasakan seseorang menepuk bahunya.
"Sibuk banget lo, nyari apaan, sih?"
Zahra memutar bola matanya. "Dateng-dateng ngagetin. Kebiasaan banget," ucapnya sambil menatap Rizki dari atas ke bawah.
"Nyari, paan? Muka lo dari tadi gue lihatin kelihatan panik."
"Cuma nyari earphone."
"Jangan bohong, gelagat lo udah aneh dari pagi!"
Percuma bohong pada Rizki, laki-laki itu telah terlebih dulu menangkap kebohongan Zahra. Gadis itu menghela napas, lalu menghempaskan diri ke sofa, hal yang sama juga dilakukan oleh Rizki. Akhirnya Zahra memilih menceritakan masalahnya pada Rizki, laki-laki itu akhirnya membantu Zahra mencari kalungnya yang hilang.
Lama mereka mengobrak-abrik ruang keluarga, tapi tidak menemukan apa-apa.
"Kita cari di tempat lain, pasti ketemu!" ucap Rizki, Zahra hanya berharap ucapan Rizki benar adanya.
Zahra mengangguk lemah dan mengikuti Rizki. Sama seperti sebelumnya, mereka tak menemukan apa-apa. Sudah seluruh rumah mereka itari, nyatanya mereka tak menemukan apa-apa.
Zahra menatap nyalang kaca di depannya, ingin sekali ia membogem kaca itu hingga pecah. Harus ke mana lagi ia mencari kalung maminya?
"Gimana kalau kalungnya ga ketemu? Kak Rio bisa marah sama gue," ucapan lirih. Zahra mengalihkan pandangan pada Rizki, menatapnya kakaknya itu putus asa.
Rizki balas menatap adiknya, lalu menyelipkan rambut Zahra yang menjuntai bebas. "Lo jangan jadi pesimis, kita pasti bisa nemuin kalung itu ...."
Zahra meraup kasar wajahnya. "Gue ga tau kapan kalung itu hilang, gue baru nyadar pagi ini. Andai gue tau kalau kalung itu ga ada, pasti lebih mudah nemunya karena hilangnya masih baru," sesal Zahra.
"Kalung siapa yang hilang?"
Zahra membelalakkan mata ketika mendengar suara tersebut, itu suara Rio. Zahra dan Rizki sontak menoleh ke belakang. Di sana telah ada Rio dengan pakaian santainya, tengah menatap nyalang Zahra—dengan kedua tangan bersedekap dada. Perlahan Rio mendekati keduanya, ia berdiri di depan mereka.
"Kalung mami kan, yang hilang?"
Boom!
Bagaimana Rio tahu? Hening beberapa saat. Zahra tersenyum dan mendekati Rio, gadis itu menggeleng sembari tersenyum manis. "Earphone gue yang hilang, kan dia biasanya gue buat kalungan gitu."
Rio menatap adiknya, tangannya terangkat untuk mengusap pipi Zahra. Gadis itu lega, ternyata Rio percaya padanya. Tapi itu hanya berlangsung beberapa saat, Rio menampar pipi mulus Zahra seketika. Zahra terkejut, gadis itu memegangi pipinya yang memanas. Baru kali ini Rio kembali menamparnya setelah sekian lama.
"Bang ...." Rizki pun terkejut melihat Rio bisa berbuat seperti itu pada Zahra, yang ia lihat selama ini Rio yang selalu menerima segala jenis kelakuan ajaib Zahra. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Rizki kehilangan suaranya untuk sesaat, ia masih mencoba memahami dengan yang Rio lakukan.
"Kenapa, Kak?"
"Kenapa? Lo kira gue ga tau? Gue kecewa sama lo, Ra. Kecewa! Kayaknya bibi salah nitipin kalung itu sama lo, lo itu ga guna!"
"Kak ...." Zahra memegang bahu Rio tapi pria itu langsung menepisnya. Bahkan, Rio mendorong Zahra hingga duduk di lantai.
Rizki kaget dengan yang Rio lakukan. Kenapa Rio menjadi kasar?
Rizki yang berniat membantu Zahra berdiri, malah ditendang oleh Rio. Laki-laki itu jongkok di depan Zahra, lalu mencengkeram dagu adiknya dan memaksa menatapnya.
"Lo ga tau aja kalau mami nangis tiap hari sambil meluk kalung itu. Dia berharap suatu saat nanti dia bisa nemuin keluarganya make kalung itu. Tapi apa balasan lo, lo malah hilangin itu. Lo hilangin kalung mami. Lo emang anak ga berguna Zahra, ga guna!" Rio menampar Zahra berkali-kali, bahkan pria itu menjenggut rambut Zahra asal.
Rizki berusaha menjauhkan Rio dari Zahra, tapi laki-laki itu malah mendapat hadiah bogem mentah dari abangnya. Rio menatap Rizki berang. "Jangan ikut campur urusan gue, lo bukan siapa-siapa di sini!" Rio menjambak rambut Zahra hingga gadis itu berdiri.
"Lep–lep–pasin kak ... kepala gue sakit ...," Zahra merintih, kepalanya saat ini sungguh pusing. Rio menjenggut rambutnya beberapa kali dan membenturkan kepalanya pada tembok. Kepala Zahra serasa ingin pecah, Rio benar-benar menyiksanya.
"Lo itu egois, Ra. Egois! Lo cuma mikir diri lo, tanpa mikirin perasaan nyokap. Padahal dia udah berkorban buat lo, buat nyelamatin lo dari orang yang pengen bunuh lo. Tapi balasan lo apa?" Rio menjenggut rambutnya kembali. "Nyokap udah ga ada itu gara-gara siapa, gara-gara lo. Gara-gara lo dia ada di Bandung, malah dia dibunuh sama adik suaminya. Terus balasan lo kayak gini, lo—"
"Darel, cukup!" Bibi berdiri di ujung ruangan, dengan Tria yang memeluknya erat. Gadis itu ketakutan melihat sisi lain Rio.
Sementara Zahra mulai meneteskan air matanya, jadi selama ini Rio memendam sepercik kebencian pada dirinya. Dirinya yang telah menyebabkan mami meninggal?
"Aa–ku? Ja–jadi mami meninggal itu karena aku? Aa–ku pembunuh ibuku sendiri!" Zahra meninju pelan tembok di sampingnya. Kenapa selama ini ia tidak sadar, jika ia telah menjadi pembunuh maminya sendiri?
Bibi berjalan mendekati Zahra, tapi berhenti seketika begitu mendengar suara Rio. "Jangan mendekat, jika tidak ingin keadaannya lebih buruk!"
Bibi memejamkan matanya, Rio yang seperti ini berbahaya. Wanita itu sudah mengetahui sisi lain Rio dan sepertinya saat ini laki-laki itu sedang marah besar dan meluapkan sedikit emosi yang ditahannya.
Rio mencengkeram Zahra kembali. "Iya ... lo pembunuh!" Rio menghempaskan tubuh mungil Zahra ke lantai. Laki-laki itu mendekati telinga Zahra. "Jangan pernah kembali ke mansion ini, jika lo ga bawa balik kalung itu!" Rio memasang seringainya, setelah itu menjambaknya kasar. "Ingat! Jangan pernah kembali atau lo tau akibatnya!" Rio mengabaikan semua orang yang ada di situ, ia berjalan santai menaiki tangga. Mengabaikan bibi yang meneriaki namanya.
"Rio sialan!" umpat Rizki, setelah itu bergerak mendekati Zahra yang terduduk di lantai sembari menangis.
"Sayang ...." Bibi mengusap bekas jenggutan Rio. "Masih sakit, ya?"
Zahra mengangguk.
"Apa benar kalung milik ibumu hilang?"
Zahra memeluk bibi. "Maafin Zahra, karena ga bisa jaga kepercayaan buat jaga kalung mami. Aa-aku pembunuhan mami, Bi."
Bi Heni mengusap bahu Zahra pelan.
"Engga sayang, kamu bukan pembunuh. Rio aja yang terlalu berlebihan." Bibi mengisyaratkan Rizki untuk menyusul Rio ke atas. Wanita itu heran dengan sikap Rio yang menurutnya berlebihan, seperti bukan Rio.
"Tapi Kak Rio bilang aku ini pembunuh," ucap Zahra lirih.
Bibi mencium puncak kepalanya, mengusap bahunya pelan, berusaha menenangkan, "Enggak, Sayang. Kamu bukan pembunuh!" tekannya pada Zahra.
"Kak Zahra mau gue ambilin air?"
Zahra menggeleng pelan, setelah itu melepaskan pelukannya. "Maaf, bisa tinggalin aku sendiri?"
"Kamu ga akan aneh-aneh, kan?" Bukannya berburuk sangka, tapi bibi sudah hafal di luar kepala bagaimana Zahra itu. Dulu saat Zahra seperti ini, dia biasanya menyakiti dirinya sendiri dengan pisau lipat yang selalu dibawanya kemana pun. Kalian masih ingat, bukan?
Zahra menggeleng, kemudian menunduk. "Aku butuh sendiri."
Bibi mendekatkan wajahnya pada Zahra, kemudian bibir itu menempel di puncak kepala gadis dengan rambut acak-acakan tersebut."Jangan aneh-aneh, bibi ga suka."
Bibi mengajak Tria pergi, tepatnya ke kamar Rio. Namun, gadis berlesung pipi itu menolak, dirinya masih syok dengan apa yang baru disaksikannya. Apa yang ada di otak Rio, sehingga berani berbuat demikian pada adiknya?
...***...
Karena Rio mengunci kamarnya, Rizki dengan terpaksa mendobrak pintu itu. Setelah hentakan ke-lima, baru pintu itu mau terbuka. Ia yakin jika engsel dan lubang kuncinya pasti akan bermasalah setelah ini. Rizki terkejut melihat kamar Rio yang seperti kapal pecah, di dinding sebelah kiri terdapat kaca retak yang terdapat aliran darah.
Rizki yang tadinya tersulut emosi langsung khawatir ketika mendapati Rio tidak ada di kamar. Tapi tunggu, ada suara gemericik air dari kamar mandi. Apa Rio ada di dalamnya?
Rizki menendang pintu tersebut hingga salah satu engselnya patah. Laki-laki itu masuk dan terkejut melihat keadaan Rio.
Rio terduduk, tertunduk di lantai kamar mandi dengan ditemani guyuran shower. Panah pengatur suhu air menunjukkan warna biru, yang artinya air shower yang mengalir itu air dingin. Rio menghukum dirinya sendiri.
Rizki segera mematikan shower tersebut, kalau tidak, Rio bisa masuk angin.
"Jangan dimatiin, goblok!" sentak Rio keras, pria berkaus hijau v-neck itu menjambak rambutnya yang basah.
Rizki menatap sengit abangnya itu. "Lo gila! Lo sebenarnya kenapa, si? Kayak bukan Rio yang gue kenal."
Rio mengusap air yang ada di wajahnya, kembali mengarahkan tangan pada rambutnya, mengacaknya kesal. "Gue kelepasan, Riz. Kelepasan!"
"Maksud lo?"
"Darel!" Bibi masuk dengan wajah dingin, wanita itu sangat marah pada Rio. Ada apa sebenarnya dengan Rio? Bahkan bibi tidak peduli jika Rio kedinginan, lalu masuk angin saat ini.
Rio yang melihat bibi langsung berlutut di depan wanita itu. "Maaf bi, Rio kelepasan. Rio ga bisa nahan lagi waktu Zahra bilang, dia ngilangin kalung mami."
Bibi bahkan tidak mau disentuh Rio, wanita itu menatap kosong dinding yang ada di depannya. "Kamu udah janji ga bakal kayak gini lagi, Yo!"
"Maaf, Bi .... " Bibi menggerakkan kakinya, bergerak mundur ketika Rio kembali meraih kakinya.
"Kali ini kamu ga nyakitin dia secara fisik aja, tapi kamu udah membuka luka lama yang ia sendiri tidak mau mengingat-ingat lagi. Adik kamu itu baru sembuh, kamu ingat ga apa yang udah terjadi sama dia? Hilangin ego kamu! Dengan kamu mengatakan dia pembunuh ibu kalian, itu bisa membuat kondisi Zahra lebih buruk. Kesehatan mentalnya sudah terganggu. Kamu jangan membuatnya tambah stress, dong!" Bibi menaikkan nada suaranya di kalimat terakhir.
Rio menunduk tidak berani berucap. Jika saja ia bisa menahannya, ini tidak akan terjadi. Rio bukannya tidak menyayangi Zahra, tapi ia hanya kecewa dan rasa itu semakin menggelapkannya.
Saat Zahra dan ibunya pergi, di situ ia hancur. Ia menjadi kesepian, karena Deron dulu acap kali mengabaikannya. Tapi, setelah tiga bulan lamanya, akhirnya Deron kembali memperhatikannya. Sejak saat itu kekesalannya pada adiknya perlahan terlupakan. Zahra yang membawa ibunya pergi.
Rio sudah berusaha menghilangkan benih kebencian walau sebiji jagung, tapi nyatanya sampai sekarang rasa itu tidak pernah hilang. Rio sudah berusaha membendung, tapi laki-laki itu yakin jika suatu saat kekecewaan, kekesalan, kebencian, yang ada padanya akan meledak. Ia cukup sadar dengan hal itu.
Rasa sayang terhadap Zahra memanglah besar, tapi ketika rasa itu dipancing dari titik pusatnya langsung. Rasanya semua kasih sayang itu seakan pergi seketika.
"Maaf, Bi. I lose control, it is very difficult for me to control the body if my heart wants to. Please, forgive me."
"Temui Zahra, minta maaf padanya!"
Rio mendongak, menatap bibi dari bawah, akhirnya setitik cahaya muncul.
"Orang yang telah membuka lukanya, maka orang itu bertanggungjawab untuk menutup lukanya kembali!"
Janji Rio saat itu, ia sangat mengingat ikrar yang ia ucapkan sendiri dari hati. Rio segera berdiri dan mencium punggung tangan bibi.
"Makasih udah percaya sama Rio, makasih udah ngingetin Rio."
Bibi mengusap kepala Rio, wanita itu tersenyum kecil saat melihat sebulir air mengalir di pipi Rio. "Air mata ini sebagai bukti ketulusan kamu. Jika Zahra belum mau memaafkanmu, berarti dia memberimu waktu untuk introspeksi diri."
Rio mengangguk dan mencium tangan bibi sekali lagi. Setelah itu, Rio berlari keluar.
Sedari tadi Rizki hanya menjadi penonton setia. Bibi tersenyum ketika menoleh pada Rizki. "Itu sisi lain Rio, sama kayak kamu, benci sama adiknya walau sedikit. Tapi efek luka yang ditimbulkan teramat besar. Bibi harap itu jadi yang terakhir."
Rizki membalas senyum bibi. "Itu pelajaran untukku. Orang yang terlihat sangat menyayangi bukan berarti dia tidak menaruh benci. Dia bisa menakutkan jika kegelapan menguasai diri. Setelah aku melihatnya langsung, aku percaya kalau itu memang Rio, karena aku pun pernah mengalaminya."
Mereka sama-sama terdiam, berharap Zahra mau memaafkan Rio dan melupakan segala yang telah terlontar dari balik bibir itu. Tapi, tentu tidak semudah yang mereka harapkan. Entahlah. Rio tadi juga sangat keterlaluan menurut mereka, semoga saja Zahra cepat kembali. Meskipun tidak mudah, gadis dengan rambut gelombang itu pasti akan segera berbaikan dengan Rio.
Lamunan mereka buyar saat Rio berteriak panik. Mereka langsung menyusul Rio dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.