Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
43. Menjemput Saudara


Halo gaess,, ada yang masih nunggu cerita ini? Kuharap masih. Maaf Minggu kemaren tidak up sama sekali, aku ada acara keluarga dan sedikit bermasalah dengan kuota. So, hari ini kemungkinan aku akan up beberapa part. Selama membaca....


****


10.40 PM


Zahra baru menyelesaikan pekerjaannya, tadi ia mampir ke kantor sebentar. Ternyata Elvin telah memersiapkan tumpukan kertas untuk ia bawa pulang. Matanya sangat lelah setelah memeriksa itu, huruf mungilnya bisa-bisa membuatnya sakit mata.


Zahra merenggangkan otot-ototnya setelah tiga jam duduk di kursi belajar.


Notifikasinya kembali berbunyi. Gadis itu berdiri, melangkah ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi sebelum tidur.


Wajahnya kembali segar setelah dari kamar mandi. Zahra mengambil ponselnya yang berada di meja belajar, kemudian membawanya ke ranjang.


"Duh siapa, sih? Malem-malem demen banget ngechat gue!" gerutu Zahra, tapi gadis itu tetap membuka handphone-nya.


...Tra.SlmaFzzz...


P


P


P


Kak, belum tidur, kan?


^^^Gila lo?^^^


^^^Ngapain ngechat gue malem-malem gini?^^^


Sorry, Kak


Gue ganggu, ya?


Ya maap:v


^^^Yeu, tu tau^^^


^^^Terus ngapain lo chat gue, any*ng?^^^


Emmm


^^^Paan?^^^


Gu-gue mau balik indo


...🧐...


Seriuss, kakkk


^^^Serius, minta gue sriuzin?^^^


^^^Lesbi dongg🤣^^^


🙄🙄


Plis deh, Kak


^^^Ape?^^^


Besok gue mgkin nyampe indo


^^^😬😬^^^


^^^Besok?^^^


Iyah.


Besok kalau udah landing gue kabarin


^^^Eh?^^^


^^^Lo besok dah nyampe?^^^


^^^Berangkat kapan emang?^^^


Habis ini, jam 12


^^^What the f*ck!^^^


Besok jemput ya, kalau dah gue kabarin


...🤨...


^^^Ha?^^^


^^^Apa peduli gue?^^^


Jemput la, plis laaaaa


^^^Pulang sendiri!^^^


😭😭


Ga kasian lo sama gue?


^^^Ga^^^


Temen-temen gue pada dijemput smua😭


Masa gue engga?


^^^Ga^^^


Pliss, hlaaa, Kaaaak😭😭


^^^BNYAK MAU LO ANY*NG^^^


^^^NGANTUK NIH GUE^^^


^^^MAU BOBO, DAH LAH...^^^


^^^BOBO GUEE...^^^


^^^GANGGU LO, TA*K^^^


Kak Zahra mah gitu😒


Tria ga laik🙄


Read


Sok lo, Kak


Pokoknya jemput gueeee


...👍🏻...


Thank you😘😘


Read


"Kasih tau kakak engga, ya? Kasih ga, ya?" Zahra mengetuk dagunya, sementara tangan satunya memegang handphone yang masih menampilkan room chat-nya dengan Tria tadi.


Memang tadi Zahra membalas chat Tria sambil rebahan. Itu salah satu posisi nyaman jika bermain handphone, tapi sangat berdampak bagi kesehatan mata.


Setelah memikirkan baik buruknya akhirnya Zahra memutuskan untuk memberi tahu kakaknya besok. Waktu sarapan. Bisa-bisa ketahuan jika dirinya belum tidur. "Bisa kena omel lagi gue, jam segini belum tidur. Lelah ini kuping dengerin ocehannya cowok di rumah ini," keluh Zahra lelah. Dia mematikan handphone lalu meletakkannya di nakas.


"Dah, bobo. Dream, i am coming." Zahra terlelap dengan memeluk gulingnya dengan erat.


Semenjak Zahra seperti orang linglung beberapa minggu yang lalu, memang Rio dan Rizki lebih memerhatikan gadis kesayangan mereka. Kadang menurut, kadang masabodo.


Itulah Zahra. Beruntung kedua kakaknya mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi, jika tidak—mungkin Rio kembali main tangan dengan gadis kesayangannya itu.


...****...


Suara dentingan sendok memenuhi ruang makan. Bibi membuat nasi goreng seafood pagi ini, makanan kesukaan tuan putri mereka.


Zahra memasukkan sendok terakhir ke mulutnya, lalu tangannya meraih segelas air dan meminumnya.


"Emm, ada yang mau aku omongin sama kalian."


Mereka melihat Zahra sejenak, lalu melanjutkan makannya.


"Apa itu?" tanya bibi.


"Tria nanti nyampe Indo, Bi."


"Hah?"


"Lah?"


"Loh? Kok dia ga ngabarin gue?"


"Tria mau pulang, Dek?"


"Iya, Bi. Anak gadis bibi mau pulang. Semalem dia ngeline aku." Zahra membuka ponselnya, menunjukkan room chat-nya dengan Tria semalam.


"Ohhh, anaknya bibi." Rizki mengangguk kemudian melanjutkan makannya.


"Kok ngeline lo? Bukannya ngeline gue?" Rio mengerutkan dahinya, biasanya memang Tria lebih sering mengirim pesan pada Rio, entah apa yang merasuki gadis berlesung pipi itu, sehingga mengirim pesan pada Zahra.


"Hmmm, mungkin lo udah ga dibutuhin sama dia," jawab Zahra tak acuh.


"Beneran dia pulang nanti?"


"Katanya si gitu, tapi masih nunggu kabar juga. Ya semoga, ga ada masalah sama penerbangannya."


Zahra berdiri dan membereskan alat makan. Bibi juga ikut berdiri lalu ikut membersihkan meja.


"Dek, lo ada kuliah?" Rio masih duduk di kursi sembari memerhatikan adiknya yang tengah mencuci piring. Sementara Rizki sedang membersihkan pelindung ponselnya, tapi pria itu juga membersihkannya di meja makan.


"Engga, free gue hari ini," jawabnya sambil mengeringkan alat makan yang selesai dibilas oleh bibi.


"Riz, hari ini ga usah ngantor dulu gimana? Kita kan boss, jadi libur sehari ga masalah, kan? Lo ga ada meeting hari ini?"


Rizki membuang tisu basahnya, kemudian menatap ponselnya berbinar—seperti mendapat ponsel baru. Maniknya menoleh pada Rio sebelum menghidupkan kembali ponselnya yang baru saja ia daya mati. "Usul yang bagus, pas banget. Ga ada meeting gue."


"Ya udah, telepon sekretaris lo gih. Gue juga mau nelepon sekretaris gue."


Rio segera mencari kontak sekretarisnya, meneleponnya—memberitahunya untuk menghandle segala pekerjaannya hari ini. Sementara Rizki masih menunggu ponselnya yang masih loading, setelah ponsel itu menyala stabil—Rizki juga mengikuti langkah Rio.


Wanita berdaster dengan motif bunga-bunga itu selesai merapikan meja. "Ya udah, bibi mau bersihin kamarnya Tria dulu. Udah dua hari belum bibi bersihin."


"Mau Zahra bantuin, Bi?"


Bibi menggeleng. "Makasih, kamu main aja sana!"


"Oke, Bi." Zahra mengacungkan ibu jarinya dengan senyum senang.


"Main PS, yokk. Kemarin gue baru beli CD baru," ajak Rizki setelah menelepon sekretarisnya, ia tersenyum puas. Melirik Rio yang masih mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Meskipun Rio tidak menatap Rizki, tapi laki-laki itu mengangguk setuju.


Zahra berkacak pinggang sambil menatap kedua kakaknya garang. Keduanya menaikkan alis bingung.


"Cari kegiatan yang lebih berfaedah napa!"


"PS-an itu juga berfaedah kali, Ra. Ini tuh buat merefresh otak, kita kan setiap hari kerja, jadi butuh hiburan gitu loh."


Rio menyimpan kembali handphone-nya.


"Kali ini gue setuju sama Rizki."


"Dari pada kalian nge-game ga jelas, mending siramin tanaman aja sana. Udah pada layu, tuh."


"Kan ada Pak Satyo."


Pak Satyo itu tukang kebun di rumah ini, kebetulan hari ini beliau sedang tidak datang.


"Ya terus apa salahnya kalau kalian bantuin dia? Toh kalian nyiramnya juga ga tiap hari, kan? Udah sana!" Zahra pergi berjalan ke ruang keluarga, meninggalkan duo R yang terbengong sesaat.


"Lo mau kemana?" tanya Rizki dengan berteriak.


Zahra berbalik badan, tersenyum jenaka. "Nonton Doraemon, he-he."


Rizki berjalan ke arah Zahra, menarik adiknya seperti induk kucing yang membawa anak mereka. Tidak peduli dengan Zahra yang merasa tercekik. "Nyiram sambil main air aja udah." Rizki berjalan melewati Rio, masih berusaha mengendalikan Zahra yang memberontak minta dilepaskan.


Rio memutuskan untuk mengikuti kedua adiknya itu, jika dipikir, main air lebih seru dari pada main PS. Masa kecil kurang bahagia memang.


...****...


"Zahra lama banget, semedi kali, ya?" Rizki hampir menghabiskan satu toples camilan karena bosan menunggu Zahra yang lama.


"Iya, nih. Tadi katanya suruh cepet-cepet," timpal Rio geram.


Dari arah tangga mulai terdengar derap langkah, lalu sesosok manusia dengan tubuh mungil muncul dihadapan Rio dan Rizki.


Zahra mengenakan crop top putih yang dipadukan dengan jaket denim dan celana cargo bermotif kotak hitam putih dan combat boots. Sementara Rio mengenakan hoodie abu-abu dan celana denim. Rizki memakai dalaman kaus putih yang dipadukan dengan jaket jeans dan celana senada.


Rio mengomeli adiknya karena terlalu lama di kamar. Tria pasti sudah menunggu lama, gadis manis tersebut mendarat dan langsung mengabari Zahra saat mereka masih menyiram tanaman sambil bermain tadi.


Rizki berdiri memisahkan, Tria bisa lebih lama menunggu jika keduanya seperti ini.


...****...


Di sinilah mereka sekarang, Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ketiganya turun dari mobil yang dikemudikan Pak Mahes.


"Den, saya tungguin di sini, ya?" ujar pak Mahes.


"Iya, Pak."


Pak Mahes menunggu di parkiran, sedangkan mereka bertiga berjalan ke arah gedung. Memilih menunggu Tria di lobby.


Saat di pertengahan jalan, mereka dihadapkan oleh sekelompok wartawan yang sedang mencari info terbaru.


"Pak Darel, Pak Rizki ... sedang apa kalian di bandara?


"Apakah kalian sedang ada pekerjaan bersama yang akan keluar negeri?"


"Ah, Nona Zahra Ulya. Sepertinya Anda sangat dekat dengan kedua pebisnis muda ini?"


"Bolehkah kami berfoto bersama kalian?


"Woyy, di sana ada Zahra. Jagoannya Merpati Putih."


"Mana-mana?"


"Itu ... yang lagi dikerubungin wartawan. Sama dua cowok yang digosipin suka antar jemput Zahra kalau ke kampus."


"Siapa? Cowok yang digosipin sama Zahra banyak lho."


"Eh ... itu Pak Rizki. Gue mau minta tips sukses di usia muda."


"***rr, ketemu konglomerat kita, ya?"


Yang awalnya diserbu oleh wartawan, jadi diserbu oleh pengunjung bandara.


Mereka memang hits, terutama duo R. Soalnya wajah mereka sering muncul di majalah sukses usia muda. Apalagi status Rio yang merupakan putra dari Deron dan cucu dari Dardero Davanendra yang merupakan pemilik perusahaan minyak, merajai ekspor ke negara maju dunia—dimasanya. 


Kalau Zahra banyak dikenal oleh anak-anak remaja, terkenal karena dia panglimanya Merpati Putih. Juga karena sering keluar masuk club-club yang ada di Jakarta. So, banyak orang yang mengenalnya.


Karena orang-orang tersebut mengerubungi mereka, bodyguard yang mengawasi majikannya tersebut turun tangan. Membelah jalanan untuk dilewati ketiganya. Para manusia haus tenar dan berita tersebut menghela kecewa.


Sesampainya di lobby, mereka menemukan gadis blonde dengan ujung rambut berwarna pink tengah memainkan ponselnya sambil menunduk. Gadis itu memakai gaun tosca selutut dengan flat shoes merah hati. Rambutnya yang tergerai berhiaskan bandana dengan motif polkadot. Di depannya ada dua koper berukuran tanggung.


Zahra berjalan pelan ke arah Tria, gadis itu duduk di bangku sebelah yang masih kosong. Terlalu fokus dengan handphone hingga tak merasakan seseorang duduk di sebelahnya. Zahra Merangkulnya dengan sengaja, membuat Tria menoleh terkejut.


"Kak Zahra, uwaa ...." Tria memeluk Zahra dengan ponsel yang setia di genggaman.


Kedua laki-laki itu mendekat pada dua gadis yang tengah berpelukan. "Ekhem."


Keduanya melepaskan pelukan. "Sorry, lama," ucap Rio, mewakili lainnya. Telunjuknya mengarah pada Zahra. "Dia tuh, lama banget siap-siapnya."


Zahra merotasikan bola matanya. Tria memandang Zahra dan Rio bergantian, kemudian menatap pria dengan jaket jeans itu.


"Ohh, i see. Kenalin, gue Rizki. Anaknya Mama Areta." Rizki mengulas senyum lebarnya, agar meninggalkan kesan positif saat pertama kali bertemu dengan Tria.


Tria menyambut uluran tangan Rizki, seketika fokusnya beralih pada kulit Rizki yang putih bersih. Membandingkan dengan dirinya yang sedikit lebih gelap, meskipun masih tergolong putih.


"Eh, hey?" Rizki menggoyangkan tangannya, membuat Tria tersadar dari pikiran bodohnya.


"Sorry, gue Tria."


Rio dan Zahra terkekeh sembari menggeleng kecil. Zahra dulu juga sempat membandingkan kulit pucatnya dengan kulit Rizki.


Rio mengisyaratkan dua bodyguard yang mengikuti mereka untuk membawakan koper Tria. Sebenarnya ia penasaran kenapa gadis itu membawa koper? Biasanya hanya membawa ransel saja saat liburan.


Zahra mendekati Tria yang tampak sudah akrab dengan Rizki, meskipun baru pertama kali mengenal. "Mau jalan-jalan ga? Atau ke starb*cks sebentar gitu?" tawarnya.


Tria mengangguk antusias. "Boleh. Tapi ibu ga lagi nunggu gue, kan?"


"Nope, bibi katanya tadi mau nyuci dulu."


"Oke."


Tria menggandeng Zahra, mereka sudah seperti saudara kembar. Berjalan keluar lobby, banyak orang yang memandang tanya. Siapa kira-kira gadis yang terlihat akrab dengan Zahra itu?


Sementara para bodyguard kembali membuka jalan, agar para majikan mereka sampai mobil dengan selamat.


"Eh, Tri? Lo kok tumben bawa koper, dua lagi kopernya?" tanya Rio saat mereka akan memasuki mobil.


Tria tersenyum penuh arti, menarik Rio agar segera masuk. "Jawabannya, tunggu di rumah, ya?"