
"Lia, Sayang," panggil sang ibu sembari mengetuk pintu kamar anak gadisnya.
Pemilik kamar yang sedang memainkan handphone segera berjalan ke arah pintu. Membuka pintu untuk orang di balik sana. Ia melangkah dengan gontai.
Pintu terbuka. Gadis itu mengerutkan kening, sang mama menenteng sebuah kantung plastik yang ditunjukkan padanya. "Itu apa, Mi?"
Azkia menaikan kantung plastik itu. "Ini, mami lagi buat camilan, kamu dari tadi di kamar mulu, ga keluar-keluar. Jadi mami buat sendiri aja." Kembali menatap sang anak setelah mengalihkan pandangan dari bungkusan itu. "Kamu kasih ke Kakek sama Om kamu, ya. Kalau kamu mau, ambil aja di tempat biasanya. Mami mau ke Papimu dulu."
Ardelia yang mendengar perkataan maminya hanya cengengesan. "Maaf, Mi. Mami juga kenapa ga nyamperin Lia ke kamar, kan Lia bisa bantu mami," ucapnya.
"Males, kamu di kamar soalnya." Azkia menyerahkan kantung itu, yang langsung diterima oleh Ardelia. "Anterin sana!"
"Sekarang, Mi?" tanya Ardelia dengan polosnya.
"Bukan, ntar nunggu kamu lulus," jawab Azkia agak kesal.
"Masih lama dong, Mi. Sekarang aja Lia masih semester empat." Kembali ia tampilkan wajah polos nan tak berdosa miliknya.
"Li ... jangan bercanda ... Mami udah ditungguin Papimu soalnya,"
Ardelia terkekeh dengan kekesalan sang mami. "Iya, habis ini Lia berangkat. Mau ganti baju dulu." Gadis itu mengerling jahil, menatap sang mami dengan pandangan menggoda. "Jangan kebablasan ya, Mi. Lia udah gede soalnya. Ga mau punya adek," peringatnya pada sang ibu.
Setelah menggoda sang mama hingga pipinya memerah dan hidung kembang kempis, Ardelia segera masuk kamar dan terkekeh riang. Sementara Azkia segera meninggalkan kamar putrinya, sebelum ia digoda lagi. Bisa-bisanya anak itu.
Ardelia segera mengambil hoodie kesayangannya, mengabari pacarnya jika ia akan keluar sebentar ke rumah sang kakek. Memang sebelum mamanya memanggil tadi, ia tengah melakukan video call dengan sang kekasih.
Ardelia menuju rumah sang kakek dengan berjalan kaki, sebab, rumahnya hanya berjarak beberapa rumah saja. Sambil berolahraga juga kalau menurutnya. Udara yang lumayan dingin, padahal ia sudah memakai hoodie tebal—tidak menyurutkan langkahnya untuk berjalan kaki.
Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya ia sampai juga di depan mansion kakeknya. Mansion yang lumayan, bisa dikatakan sangat besar ini dihuni oleh kakeknya dan sang paman, sisanya hanya pekerja.
Dulu, sebenarnya ingin tinggal di sini, menemani sang kakek—tidak mau terpisah jauh. Namun, nyatanya, sang ayah justru membangun rumah yang masih satu komplek. Sehingga, jika ia rindu pada sang kakek, ia bisa langsung datang tanpa berpikir panjang.
"Malam, Bi. Di mana Kakek sama Om? Kayaknya sepi banget," kata Ardelia, biasanya kedua pria beda generasi itu akan mengobrol ringan di ruang keluarga sambil menikmati camilan. Tapi sekarang, keduanya tidak tampak sama sekali.
"Tadi, Tuan Besar meminta Tuan Rivan ke ruang kerjanya. Sepertinya, mereka masih di sana," jawab seorang asisten yang ditemuinya di dapur.
Ardelia hanya mengangguk. "Ini ada camilan dari mama, nanti bibi bagi tiga, ya. Satu untuk camilan, langsung ditaruh saja ke depan, satunya disimpan, sisanya untuk bibi sama yang lain, ya. Saya mau ke depan dulu."
"Baik, Non. Terimakasih."
Ardelia sangat paham betul, makanan yang dibuat oleh ibunya tidak mungkin dalam porsi sedikit. Wanita itu juga memberi banyak juga untuk diantar ke mansion ini. Ia memang lewat pintu belakang yang memang langsung tembus ke dapur.
Gadis itu berjalan ke depan dengan bersenandung riang, matanya membulat ketika menemukan seorang pemuda yang dikenalnya tengah duduk di ruang tamu dan memainkan handphone. Sepertinya dia juga tak menyadari kehadiran dirinya.
Ardelia berjalan menghampiri pemuda tersebut, berdiri di depannya, meskipun terhalang meja. "Bang, ngapain di sini?" Gadis itu tentu bertanya tanya dalam hati, untuk apa pemuda di depannya ada di mansion kakeknya. Apa mereka saling mengenal?
Pemuda itu lantas mengerutkan kening, begitu mengetahui kehadiran Ardelia di depannya. "Lah? Lo kok juga di sini?" tanya pemuda itu bingung.
Ardelia beralih duduk, kembali memandang pemuda itu dengan dahi berkerut. Memutar bola matanya pelan. "Harusnya gue yang tanya begitu, ini tuh mansion Kakek gue."
Pemuda itu meletakkan handphone yang masih digenggamnya, menatap gadis di hadapannya lekat-lekat. "Bentar-bentar, gue bingung. Ga ngerti kenapa gue disuruh ke sini."
Ardelia menipiskan bibirnya, menatap kosong meja di depannya. "Emang, siapa yang nyuruh Abang ke sini?" Manik itu menatapnya dengan memicing.
"Pak Wahyu, emm ... gue juga ga tau kenapa disuruh ke sini. Ini lagi nunggu, kata asisten tadi beliau masih sibuk," jawabnya setelah terdiam agak lama.
Ardelia terlihat berdiri, mengetukkan jari-jarinya di dagu. "Apa gue susul aja ya Kakek? Eum, Abang udah lama nunggu?"
Pemuda itu mengangguk. "Lumayan sih, tapi ga papa kok. Santai aja."
"Ini emang kayaknya perlu disusulin deh, ya udah ... gue susulin dulu. Abang terserah mau ngapain aja, senyaman Abang." Ardelia pergi dari hadapan pemuda itu.
Cucu tunggal keluarga Wahyu itu melangkah dengan ringan menuju ruang kerja sang kakek. Sampai di sana, ruangan itu tertutup dan terdengar bunyi pertengkaran dari luar. Ardelia yang khawatir segera mengetuk pintu dengan tergesa. "Kakek!! Om Van!? Kalian ngapain di dalam?" kata Ardelia, berteriak masih sambil mengetuk pintu dengan tak sabar. Ingin segera dibukakan
Setelah beberapa saat, kedua orang beda generasi itu akhirnya keluar dari persembunyian. Kakeknya keluar dengan guratan wajah lelahnya, sementara pamannya itu tampak bermata sembab. Sepertinya habis menangis.
"Kakek sama Om baik-baik aja?" tanya Ardelia dengan ragu, "Om kenapa?" lanjutnya.
Wahyu menghela napas, kemudian tersenyum tipis. Mengusap rambut cucunya pelan. "Kami baik-baik saja, kamu ga perlu khawatir," ucap Wahyu menenangkan, menelisik raut cucunya lebih dalam. "Merindukan Kakekmu ini, Princess? Sudah dua Minggu Kakek tidak memelukmu."
Ardelia tersenyum cerah, melupakan keingintahuannya tentang Rivan dan wajah menyedihkannya. Menghambur memeluk sang kakek. "Lia merindukan Kakek, Kakek sangat sibuk kata papi. Papi sampai harus turun tangan untuk membantu perusahaan Kakek."
Wahyu membalas pelukan itu. "Ya Princess, maafkan Kakek. Target bulan ini berkembang sangat pesat, perusahaan hampir kewalahan dan Kakek takut akan kembali drop jika kelelahan. Meskipun bawahan Kakek banyak, tetap saja—Ayahmu tetap yang terbaik."
Ardelia terkekeh dalam pelukan kakeknya. "Memang siapa lagi yang Kakek percayai selain Papi dan Om Samuel. Kakek sangat waspada pada siapa pun."
Sementara Rivan masih berdiri, menatap keduanya dengan senyum tipis, pandangannya kembali sendu ketika mengingat penolakan putranya. Memang kesalahannya tidak seharusnya dimaafkan. Ia juga ingin memeluk putranya seperti ayahnya memeluk keponakannya.
Andai dulu aku bersikap lebih dewasa, aku tidak akan kehilangan mereka.
Ardelia mengerutkan dahi ketika netranya menangkap sesuatu yang dipegang sang kakek di jari kirinya. Oh astaga, ia baru memperhatikan itu. Gadis itu melepaskan pelukannya dengan terpaksa, merebut barang itu. Membuat Wahyu terkejut, begitu pun Rivan.
Ardelia kembali mengerutkan dahi, ia tidak mengerti. Matanya memicing, menatap sang kakek dengan tajam. Menunjukkan foto seorang gadis pada kakeknya. "Kenapa Kakek menyimpan foto ini?"
Wahyu menghela napas, mungkin sudah saatnya ia memberitahukan hal ini pada cucunya. Ia juga berhak tahu. Pria itu tersenyum menatap cucunya. "Ayo ikut Kakek, akan Kakek jelaskan padamu." Netranya beralih memandang Rivan. "Tenangkan dirimu, Ayah akan berbicara lagi lain kali."
Wahyu dan Ardelia memasuki ruang kerja, gadis itu melupakan tujuan awalnya. Rivan segera menjauh, pergi ke kamarnya untuk merenungi segala kesalahan yang dibuatnya.
...****...
Ardelia menoleh ke arah kakeknya, air matanya tak sanggup mengering. Dari yang diceritakan kakeknya, ia menarik kesimpulan, bahwa ia bukan cucu tunggal keluarga ini.
Diremasnya kertas yang berada di genggamannya, jika saja ia mengetahui ini lebih awal. Ia akan berada di samping masa sulit saudaranya. Ia tahu, seberapa keras perjuangan hidup saudaranya itu. Mereka berjuang untuk hidup dalam kenyamanan batin.
Ia menunjukkan kertas yang sudah lecek itu pada kakeknya. Isakannya masih belum berhenti, beberapa kali ia memijat kakeknya. Menatap sang kakek yang kini menatapnya dalam diam. "Kek .... Ke–napa ba–ru mem–beri–tahu Lia se–ka–rang?" tanyanya dengan isakan yang masih terdengar. Meskipun tidak sehebat tadi, nyatanya relung hatinya ikut merasakan sakit yang saudaranya alami.
Wahyu masih diam, sementara Ardelia kembali mendesaknya. "Se–jak ka–pan ka–kek me–nge–nal–nya?"
Wahyu kembali diam, ia sudah menceritakan bagian itu tadi. Ia kini penasaran, kenapa cucunya sangat histeris? Atau gadis itu terharu karena memiliki saudara? Tidak, wajah Ardelia tidak menampilkan demikian. Justru penyesalan yang tampak.
"Kamu mengenalnya, Princess?" tanya Wahyu pada akhirnya.
Ardelia bergerak mendekati sang kakek, menyamankan diri pada balutan hangat kakeknya. Kembali ia rengkuh pinggang itu, menempel kepalanya pada dada sang kakek. Ikut merasakan debaran jantung kakek yang tak menentu.
"Lia mengenalnya, sangat. Lia sangat mengenalnya," ucapnya terdengar lirih. Ia mengeratkan pelukannya. Hatinya kembali sakit mengingat hal itu. "Kakek tidak akan mendapat apa pun dari penyelidikan itu, kakek harus mendengar dari orang terdekatnya."
Wahyu mulai menajamkan pendengarannya, ini sepertinya topik berat yang akan cucunya ceritakan. Wahyu mengusap punggung Ardelia yang kembali terisak.
Malam itu, Ardelia menceritakan segala yang ia ketahui pada kakeknya. Di setiap kata yang terucap dari bibirnya, semua tak ada yang lepas dari jeratan air matanya.
...***...
Wahyu lama terdiam setelah mendengar penuturan cucunya. Ia menjadi ikut sakit dan terbawa emosi akibat cerita yang diceritakan Ardelia. Banyak hal yang telah ia lewatkan. Andai takdir menyadarkannya lebih cepat dan penyelidikan itu juga ia lakukan lebih cepat, mungkin sekarang ia bisa berkumpul bersama.
Dulu, hanya satu cucu yang ia bisa timang, hanya satu yang menjadi rebutan keluarga besarnya—nyatanya semua keturunannya hidup dalam tekanan di luar sana. Tidak, ia tidak akan menyalahkan takdir. Ia berterimakasih pada takdir, karena telah memberinya kesempatan untuk berkumpul kembali dengan para keturunannya.
Ia menunduk, mencium lama kening cucunya yang sudah tertidur di pelukannya. Diusapnya air mata yang mulai mengering, ia rapikan rambutnya yang berantakan. Dengkuran halus itu terdengar, ia tersenyum kecil. Setidaknya takdir mengizinkan ia dan keluarganya untuk menimang satu bayi mungil ini. Ia dapat menggendongnya saja sudah termasuk anugerah.
Ia mengambil ponsel yang berada di mejanya, mengirimkan pesan pada putrinya, jika cucunya akan menginap. Ia menggendong Ardelia keluar kamar, menutup ruang kerja dengan satu tangan. Membawa Ardelia memasuki kamarnya jika menginap di sini. Ia rebahkan tubuh mungil itu dengan pelan, agar tidak menggangu tidurnya. Kembali ia usap kepalanya dan cium keningnya. "Good night, nice dream, Princess. Terimakasih telah memberitahu Kakek sampai kamu kelelahan." Ia kembali mencium kening Ardelia sebelum benar-benar keluar kamar.
Saat Wahyu berjalan ke kamarnya, ia menemukan seorang pemuda yang tengah tertidur di ruang tamunya. Ia segera bergegas, menepuk pundaknya pelan.
Baru dua tepukan, pemuda itu langsung bangun dan mengerjab bingung. Wahyu melupakan janjinya dengan pemuda ini, tapi sebagai gantinya, ia mengetahui beberapa hal sekarang.
"Maaf membuatmu menunggu, aku terlalu asik di ruang kerjaku," ucap Wahyu.
Pemuda di depannya terbelalak, maniknya memutari ruangan itu. Terasa asing baginya, ia baru menyadari satu hal. "Maa–maaf Pak, saya ketiduran di rumah anda."
Wahyu terkekeh. "Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf. Kamu sepertinya sangat mengantuk."
Pemuda itu merasa aneh, pria di depannya menggunakan bahasa yang berbeda di pertemuan kali ini. "Eum ... Maaf Pak Wahyu, ada perlu apa mengundang saya kemari?"
"Kita bicara besok saja, ini sudah terlalu malam. Menginaplah di sini, banyak kamar kosong dan semuanya selalu bersih."
Pemuda itu membuat gesture penolakan. "Te–terimakasih Pak, saya sebaiknya pulang saja. Maaf telah tidak sopan."
"Apa yang kamu bicarakan? Ini juga rumahmu!"
Pemuda itu semakin tidak mengerti. "Sa–saya akan pulang sekarang."
Wahyu gemas sendiri dengan pemuda ini, ia segera berdiri—menarik pemuda itu ke kamar yang telah ia persiapkan. Memasukkan pemuda itu dengan paksa dan mengunci kamarnya.
"Tidurlah! Kamu pasti lelah dan sangat mengantuk," ucapnya sebelum meninggalkan pintu kamar dan berlalu ke kamarnya.
Usianya memang sudah tidak muda, tapi jiwa dan fisiknya masih seperti anak muda.
Sementara pemuda yang terkunci itu akhirnya menyerah, ia segera merebahkan diri di ranjang. Matanya menuntut untuk segera tertutup dan otaknya sudah tak mampu berpikir jernih. Ia merengkuh guling di sampingnya, berkelana di alam mimpi tanpa memikirkan apa pun.