Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
47. Pesona Alam Wayag


..."Kenapa membanggakan tanah orang lain? Sedangkan, di tanah kelahiranmu sendiri ada banyak yang bisa dibanggakan."...


...****...


Mereka sudah mendata semalam, hari apa dan kapan untuk mendatangi destinasi di Raja Ampat. Mereka di Raja Ampat hanya akan mengekspor pulau Waigeo, salah satu kepulauan besar yang ada di Raja Ampat.


Hari ini mereka akan pergi ke pulau Wayag, pulau ini terletak di wilayah barat Waigeo dari kepulauan Raja Ampat. Mereka menaiki sped boat untuk sampai di pulau Wayag, jarak perjalanan yang ditempuh bisa 5 sampai 6 jam dan harus berangkat malam atau subuh.


Untuk itu mereka tengah mempersiapkan apa saja yang akan mereka bawa di malam hari, karena mereka akan berangkat subuh-subuh.


Sebelum singgah di Wayag mereka terlebih dulu singgah di Desa Selpele, yaitu desa yang mengelola Wayag. Mereka meminta izin dulu sebelum memasuki Wayag, selain itu mereka juga bisa bermain dengan anak-anak Desa Selpele. Penduduknya ramah dan remaja itu dapat berbagi dengan mereka.


Mereka sampai di pulau Wayag sekitar jam 10 waktu setempat. Sampai di sana mereka disambut oleh tour guide yang akan memandu mereka untuk mengeksplor pulau Wayag.


"Whoa!"


Mereka takjub dengan keindahan pulau Wayag.





"Surga, ye?" Rezal mengeluarkan kamera yang dibawanya, memotret pemandangan indah yang tersaji di hadapannya.


"Katanya kalau ke sini, ga afdal kalau ga naik bukit kars, iya ga Pak?" tanya Ardelia kepada tour guide.


"Iya, Mbak. Nanti kalau di bukit mbaknya bisa lihat pemandangan yang jauh lebih indah. Lebih bagus dari lihat dari sini," kata pemandunya.


"Eh, gaess, naik yukk ... penasaran sama pemandangan yang di atas," ajak Ardelia.


"Lo kira naiknya gampang apa?" Defi mengerutkan dahi, ia bimbang. Di sini udara lautnya sangat sejuk, tapi ia juga ingin mendaki bukit kars itu.


"Gampang-gampang susah, Mbak. Tapi nanti akan terbayar saat sudah sampai di puncak kars."


"Ya udah, coba aja yuk. Gue juga pengen," bujuk Rani. Gadis itu sangat antusias dari semalam ingin menaiki bukit itu.


Di Wayag memang ada dua bukit kembar, bukit karang dengan ketinggian 800m dan 100m. Bukit itu juga terjal dengan kemiringan nyaris 90 derajat.


"Naik yoo! Lagian kita juga udah persiapan kok. Jarang-jarang loh kita ke sini." Willy juga berusaha membujuk yang lainnnya.


"Kalau kalian mau naik, saya temani. Memang terlihat sulit jika dilihat dari bawah, tapi rasanya akan sesuai jika sudah berada di puncak," ucap pemandu.


"Naik aja yokk!" Zahra merangkul Devan manja, menarik-narik kemeja lengan pendek yang dipakai laki-laki itu.


"Heum, ayuk." Ica datang, berlarian dari arah pantai.


"Ya udah, kita naik," putus Rizki.


"Lah, bibi gimana?" Rio memandang ke arah Bi Heni dan Tria yang sedang menikmati semilir angin.


Tria menoleh, mendapati yang lain tengah menatap ke arahnya. "Gue di sini aja, nemenin ibu."


"Gue juga di sini, capek kalau ikut naik," timpal Una.


"Yehh, itu mah lo yang ga doyan olahraga." Diki mencibir adiknya, memang adiknya yang satu itu anti sekali dengan olahraga.


"Pokoknya gue di sini." Una kukuh dengan pilihannya, memisahkan diri dari Arel dan Ify, lalu berjalan ke arah Tria.


"Kalau gitu, yang naik ayo ikuti saya!"


"Iya, Mas!" jawab Rey.


"Loh, Put? Ga naik?" Zahra bertanya heran, jika urusan daki-mendaki, Putra juaranya.


"Ga, di sini aja. Jagain yang di sini," tolak pemuda beralis tebal itu.


"Yehh, lo mah modus doang."


Putra hanya terkekeh mendengar cibiran kekasihnya.


"Gue juga di sini aja kalau gitu," cetus Diki kemudian.


"Lah, kenapa? Perasaan tadi semangat banget mau naik?" Rezal menaikkan alis, menoleh ke arah Diki yang tersenyum tipis.


"Biasa, mau modus juga dia," sambar Zahra. Semuanya menertawakan Putra dan Diki.


Akhirnya mereka menaiki bukit itu, bukit kars yang terjal. Perjalanan menuju puncak cukup menguras tenaga, mereka istirahat berkali-kali karena kelelahan.


Bebatuan kars yang masih alami membuat medan yang didaki cukup sulit. Jalur yang sempit dan curam membuat pengunjung lain yang ingin naik atau turun harus bergantian agar tidak terjatuh. Mereka cukup memahami itu. Lagi pula istirahat sebentar sambil menikmati semilir angin juga tidak buruk, bukan?


Setelah 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di puncak bukit. Yang membuat takjub adalah ketika pemandu mendaki tanpa alas dan sarung tangan seperti yang mereka kenakan, bahkan pemandu itu sampai di puncak duluan. Seperti tidak sakit saat kaki telanj*ng mereka menginjak batuan karang yang tajam.


Memang menantang, tapi nyatanya pemandangan di atas Wayag membuat segala usaha terbayar sudah. Rasa lelah yang terasa ketika mendaki hilang seketika, tergantikan oleh pemandangan alam Wayag yang luar biasa indahnya.




Mereka menikmati pesona Wayag dari atas, sambil menikmati kudapan yang mereka bawa. Meneguk air dan membaginya pada pemandu yang tadi menemani mereka.


"Gila! Malah pengen terjun gue dari sini." Zahra merentangkan kedua tangannya, seakan akan ia ingin terjun dari bukit itu. Kepalanya menunduk, seperti ingin melihat yang orang lakukan di bawah sana.


Seseorang memeluk Zahra dari belakang, tangannya ia lingkarkan pada perut Zahra dan dagunya bertumpu pada bahu gadisnya.


"Bagus, kan? Kapan-kapan kesini lagi, mau ga? Tapi berdua," bisiknya pelan.


Dengan mendengar suaranya saja Zahra tahu siapa pelaku yang memeluknya secara sembarangan. "Jangan peluk-peluk ih, aku bau." Zahra berusaha melepaskan tangan Devan, tapi bukannya lepas malah tambah mengerat.


"Bau? Masa, si?" Devan mendekatkan hidungnya, mengendus tengkuk Zahra. "Mana bau? Wangi gini kok." Devan semakin liar, mengecup leher Zahra yang sedikit basah karena sebagian keringat yang masih belum kering.


"Devan stop! Kok malah kamu cium-cium, sih?"


"Biarin, lagian siapa suruh kamu nunjukin lehermu ini sama turis-turis mata keranjang itu. Waktu minum tadi, leher kamu menggoda banget. Kan aku ga rela kalau kemulusan lehermu dinikmati sama bule mata keranjang itu. Lagian, kenapa rambut kamu dicepol sih, kenapa ga di urai aja?"


Zahra memberengut kesal. Apa katanya tadi? Diurai? "Tambah gerah akunya kalau diurai. Lagian kan, mereka cuma liat," kukuhnya.


"Cuma liat, hm?" Devan kembali mengecupi tengkuk itu, membuat Zahra ingin mencakar wajah Devan saat ini juga. Bagaimana jika yang lain melihat mereka? Kedua kakaknya?


"Devan ...," erang Zahra frustrasi.


Sementara itu para gadis lain sibuk berselfie ria, kecuali Mita. Ia lebih memilih duduk bersama pacarnya, berkumpul dengan teman laki-lakinya dan pemandu.


"Kak, sebelah sana bagus tuh. Sepi lagi, ke sana yok." Ify menunjuk pada salah satu spot foto yang kebetulan sepi pengunjung.


"Hah, iya. Bener. Ke sana yok!" Gadis berkalung kamera itu tampak bersemangat, memotret segala hal yang menurutnya bagus.


"Let's go girl!" Ardelia melangkahkan kakinya.


"Wihhh, pemandangannya bagus banget, potoin dong," pinta Rani pada Ica yang sedang mencari spot selanjutnya. Gadis bertopi pantai tersebut memotret gebetan Rizki dengan senang.


"Nah iya, ayo foto satu-satu disitu. Ntar foto bareng lagi," ucap Arel. Yang lainnya mengangguk setuju.


"Eh, liat ... airnya berubah warna," seru Ina ketika mata bulatnya menangkap sesuatu yang menakjubkan di bawah sana.


"Eh, iya. Wihhh." Defi mengeluarkan ponselnya, lalu memotret perubahan warna tersebut.


"Kayaknya semakin siang warna airnya berubah-ubah, ya?" tanggap Ardelia


"Iya, kali." Ify melepaskan ikatan rambutnya, lalu melakukan selfie dengan rambut panjangnya yang sedikit bergelombang.


"Na, fotoin lagi dong." Setelah melihat-lihat fotonya yang tadi diambil oleh Ina, Ica menyerahkan kembali kameranya.


Ica sudah bersiap dengan gaya candid-nya. Sedangkan Ina tampak jongkok untuk menyesuaikan diri dengan posisi Ica, supaya gambar yang diambilnya terlihat keren.


"Sa—hoekkk." Ina segera menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bergerak menyerahkan kamera milik Ica dengan menggelengkan kepala.


"Lo kenapa?" tanya Defi khawatir.


Ina menggeleng lagi, tangan yang tadi memegang kamera Ica, saat ini tengah mencari sesuatu di tas jinjing yang melekat di dirinya.


Setelah menemukan kantung plastik, ia mendekatkan benda hitam itu ke mulutnya, meludah di dalamnya. Setelahnya, Ina membasuh tangan yang tadi ia gunakan untuk menutup mulutnya, dengan air sisa minum miliknya.


"Na?" Ardelia menyentuh pundak Ina yang sedang berjongkok. Ina meludah lagi pada plastik hitam yang di genggamnya. Ardelia yang paham dengan tingkat Ina, seketika gadis berambut ombre orange itu memijat tengkuk sahabatnya.


"Kak Ina kenapa?" Arel yang tadinya sedang berbincang dengan Rani juga mendekati Ina.


Mita yang sedang menatap pemandangan tiba-tiba teralihkan fokusnya pada teman-temannya yang sedang merubung. "Itu anak-anak pada kenapa, dah?" gumamnya pelan.


"Hah? Apa, Yang? Gue ga denger?" Jaka menoleh pada kekasihnya, menaikkan alis sembari menikmati wajah Mita yang damai.


"Itu, temen-temen lagi ngapain tuh ngumpul di situ?" Mita menunjuk teman-temannya.


Jaka menoleh pada tempat yang ditunjuk kekasihnya, pemuda itu menajamkan penglihatannya. "Eh, itu Ina. Iya, Ina. Kenapa tu bocah?"


"Hah? Ina?" Mita memicingkan matanya. "Bentar, gue ke temen-temen dulu!" pamitnya, gadis itu berlari menuju kerumunan itu.


"Iya, sana!"


"Bang Rio, noh adik lo berlagak Titanic sama Cebong kok lo diemin?"


Rio menoleh pada tempat yang tadi ditunjuk Willy. "Biarin aja. Nanti kalau jatuh berdua, juga bukan salah gue," jawab Rio.


"Eh, masa nih, ya? Gue pernah mergok Cebong sama Zahra lagi kiss-kiss gitu di mobil?" Fandi terbengong sesaat kala mengingat kejadian itu, setelahnya ia langsung pergi karena mupeng.


"Ati-ati, mata lo bintilan ntar gara-gara ngintip orang ciuman." Rey tertawa sejenak, melihat raut masam Fandi.


Fandi menoyor Rey yang tak lain saudara sepupunya itu. "Sekate-kate lo!"


Mita datang bersama yang lain, pacar Jaka tersebut tengah memapah Ina bersama Ardelia.


"Lah, kenapa dia?" Rezal bertanya heran campur terkejut.


"Eh, muka lo pucat banget. Sini duduk dulu." Willy memberi tempat agar Ina bisa duduk dengan nyaman.


"Kenapa dia?" Revan menatap barisan perempuan yang juga bertanya-tanya.


"Ga tau. Tadi tiba-tiba dia muntah-muntah gitu," jawab Ica.


"Lo sakit? Muka lo pucat banget sumpah." Willy menatap khawatir Ina.


"Gue, baik kok," jawab Ina agak ragu. Belakangan ini ia sering merasa mual dan agak pusing.


"Ki ... panggilin noh berdua. Suruh kumpul. Kita turun aja sekarang!"


Rizki mengangguk, laki-laki itu memanggil Zahra dan Devan yang masih asik dengan dunianya.


"Lo kuat turun ga, Na?"


"Ku-kuat, Bang."


"Nih, minum dulu!" Rey memberikan sebotol air mineral yang tampaknya belum diminum. Laki-laki itu juga membukakan segel dan tutupnya.


Zahra dan Devan sampai, mereka terkejut melihat keadaan Ina. "Loh, Na? Lo kenapa? Astaga lo pucat banget, masuk angin, ya?"


"Gue ga papa kok, santai," jawab Ina sembari tersenyum menyakinkan.


"Ya udah, kalau gitu mbaknya nanti jalan di tengah aja. Jangan yang paling akhir seperti tadi. Ayo semuanya kita turun, hati-hati turunnya," ucap pemandu.


...****...


"Eh, lihat itu. Mereka seneng banget main di air," kata bibi pada Una dan Tria. Memandang Diki dan Putra yang sedari tadi betah di tengah laut. Mereka snorkeling.


"Iya tante, jarang-jarang loh mereka akur," ucap Una menimpali.


"Iya. Tria pernah diceritain Kak Rio kalau Bang Diki ga suka Kak Putra deket sama Una. Iya ga, Un?


"Hah, iya. Dulu kalau mereka ketemu di rumah kerjaannya tubir mulu, capek Una dengernya. Kalau sekarang udah akrab aja, nempel lagi." Una terkekeh sendiri.


"Iya, anak muda kayak kalian emang gitu. Maklum kan, seorang kakak pasti mau yang terbaik untuk adiknya. Seandainya Diki itu menyebalkan atau kamu ga suka sama dia karena hal lain, tapi dia pasti sayang sama kamu. Rasa pengen melindungi kamu pasti ada." Bibi menoleh pada Una, wanita itu tersenyum tipis. "Kalau bibi sih wajarin aja." 


Rombongan yang dari puncak sampai di dekat bibi dan dua gadis yang tampak bermain pasir itu.


"Hai," sapa Ica, berlarian ke arah ketiganya. Karena ia turun paling akhir, jadi agak tertinggal.


"Wehh, kalian dah balik?" Tria berdiri diikuti keduanya.


"Ayo sini, ceritain dong di atas kayak gimana?" Una membersihkan tangannya, menarik Arel dan Ify mendekat.


"Seru banget pokoknya, nyesel lo ga ikut naik," ucap Ify dengan gaya menyebalkan, membuat gadis kucir sebelah itu memberengut.


"Pulang yuk, laper nih." Ica menampilkan deret giginya sembari mengusap perut, matanya memandang temannya yang lain. Lainnya setuju dan mengangguk.


"Ya udah, itu panggil temen kalian yang masih di laut!" Bibi menunjuk Diki dan Putra.


"Putra ... Diki, balik yoo! Laper, nih!" Revan berteriak dengan mengerucutkan tangannya di sekeliling mulut.


Diki dan Putra mencari asal suara, mereka menoleh ke daratan. Banyak temannya yang sedang memandang, keduanya segera berjalan ke arah pantai, mendekati yang lain.


"Bentar, ngeringin badan dulu. Sepuluh menitan lah, tahan dulu laper kalian," kata Putra seenak jidat.


"Iya, masih basah nih," tambah Diki.


Ingin ku berkata kasar, tapi ada Tente Heni, batin yang lain. Semuanya menghela napas. Ada yang bermain pasir, mengobrol, sekedar bersantai untuk menghilangkan capek dan memotret serta merusuh seperti yang Ica dan Fandi lakukan. Itu semua hanya demi menunggu Putra dan Diki.