
Satu bulan berlalu ....
Hari ini ialah hari keenam Rio di Bandung. Selama pria itu pergi, Devan yang selalu menemani adik Rio tersebut. Pemuda itu juga tak segan untuk membolos kuliah hanya demi Zahra. Bukan Devan banget sebenarnya, ia yang merupakan ketua kelas malah membolos. Memberi contoh yang tak terpuji pada anak kelas lainnya.
Devan Ghiffar Ramadhani, pemuda yang setiap hari membawa Zahra pulang dalam keadaan yang sama. Jika ditanya, apakah Zahra seorang pemabuk berat? Tentu saja bukan. Stres yang dialami Zahra saat ini, mampu membuatnya meminum alkohol lebih banyak dari biasanya. Vodka dan Wine, gadis itu menyukai keduanya.
Tiga botol dalam sehari? Berapa kandungan alkohol di setiap botolnya? Apa efek yang ditimbulkan ketika meminumnya dalam jangka panjang, dengan porsi yang tidak sedikit? Entahlah, yang pasti Zahra sangat menyukai minuman itu. Minuman haram yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Selama Rio pergi, Zahra tak pernah absen pergi ke club dan selalu absen ketika jam kampus. Sahabatnya sibuk dengan kuliah masing-masing, mungkin hanya sesekali mengunjungi Zahra. Bi Heni dan Devan yang selalu memerhatikannya. Tria? Sudah kembali ke New York satu minggu yang lalu, tepatnya sebelum Rio berangkat.
Baru sehari Rio meninggalkan Zahra, mimpi buruknya kembali. Kenapa setiap pria itu jauh, mimpi itu harus kembali? Kenapa mimpinya harus berisi penyiksaan itu? Apakah ia tidak pantas bermimpi indah? Kenapa harus selalu mimpi itu?
Dengan melampiaskan semuanya pada alkohol, perlahan Zahra akan melupakan mimpinya. Akan tetapi, saat ia berada di alam bawah sadarnya, semua itu akan kembali. Biasanya Rio yang menenangkan, tapi kali ini?
Saat ini keduanya tengah berada di mall. Karena sudah bosan di rumah, Devan mengajak Zahra jalan-jalan. Mereka duduk bersama di salah satu tempat duduk. Tangan gadis itu memegang sebuah es krim besar, di sampingnya Devan sedang mengutak-atik HP.
"Van, mau lagi dong." Zahra menunjukkan sisa cone-nya.
"Kebangetan lo, itu ice cream sepuluh ribu, belum nyampai tiga menit udah habis aja. Lo makan, apa lo buang?" oceh Devan, laki-laki itu heran dengan es krim jumbo yang habis dalam hitungan menit saja.
"Ya makan dong, yakali gue buang. Ice Cream enak begini masa dibuang?"
"Makan ice cream banyak-banyak ga baik, ntar gigi lo keropos."
"Bodo lah, Van. Gigi-gigi gue juga."
Lama mereka terdiam, Devan malas jika meladeni debat gadis disebelahnya. Ia menoleh ketika tangan hangatnya digenggam oleh tangan dingin yang kini menggenggamnya.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Kak Rio kapan balik, ya? Dia pamitnya cuma empat hari, tapi ini udah mau seminggu dia belum balik." Gadis itu menoleh, didapatinya tatapan hangat Devan. Laki-laki disebelahnya tersenyum.
"Mungkin sedang ada masalah sama proyek di Bandung, berdoa aja semoga dia pulang dengan tak kurang sesuatu apa pun. Emang Bang Rio ga ngabarin lo?"
Gadis itu menggeleng lalu menunduk. "Tiga hari awal Kak Rio rutin video call gue, menginjak hari keempat sampai hari ini dia ga ngabarin apa pun. Padahal gue udah nunggu chat sama telepon dari dia," ucap Zahra dengan raut tak terbaca, rasa gelisah yang dialaminya membuat ia tak sadar jika telah meremas tangan Devan dengan begitu kuat.
Devan hanya tersenyum, meskipun perempuan, remasan Zahra begitu kuat untuk gadis seusianya. "Lagi kangen apa khawatir, nih?" tebak Devan, laki-laki itu berusaha agar Zahra tidak menampakkan raut sedihnya.
"Entahlah. Kalau dipikir-pikir, gue ketergantungan banget sama dia. Dia segalanya, pijakan gue satu-satunya. Enak jadi lo, masih bisa ngerasain kasih sayang orang tua. Gue aja ga bisa nikmatin masa kecil gue karena tekanan batin, harus ngelihat sesuatu yang seharusnya anak kecil ga lihat. Masa kecil gue menyediakan ya, Van?" Gadis itu menoleh menghadap Devan, maniknya berkaca-kaca.
Devan membawa gadis itu ke dekapannya dan mengusap pucuk kepalanya. Gadis itu terisak kecil dalam dekapan Devan, pemuda itu membiarkan Zahra terisak. Dengan mengungkapkan emosi yang dipendam, setelahnya pasti ada sedikit kelegaan. Jika dipikir-pikir memang hidupnya menyedihkan, Hati yang kesepian dan haus akan kasih sayang.
"Kalau masa lalu hanya buat lo sedih, mending ga usah diinget," ujar Devan menasihati.
Zahra menggeleng. "Masa lalu itu udah jadi bagian hidup gue, mau bagaimanapun gue lupain, dia akan tetap melekat. Karena itu pula, gue jadi gini. Gue yang sekarang, ialah buah dari masa lalu."
"Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari masa lalu, Ra. Lo udah dewasa dan ngerti semuanya. Jika lo ngerasa jenuh sama kehidupan yang dijalani, coba aja melakukan hal baru. Kalau lo suka, sedikit-sedikit pasti akan melupakannya."
"Makasih udah selalu ada buat gue. Dia yang gue harap ada disaat kayak gini, malah ga nampakin batangnya."
Devan tersenyum tipis. "Ya, sama-sama."
Tak lama kemudian handphone Devan berdering, tanda ada telepon masuk. Laki-laki itu mengangkat telepon tanpa melepaskan dekapannya. Devan memasukkan kembali HP ke dalam sakunya, pemuda itu memberitahu bahwa ia tak bisa menemani Zahra lebih lama.
Arga Dewanto, papa Devan ingin bertemu untuk membahas masalah perusahaan dan memperkenalkan Devan pada kolega bisnisnya.
"Ayo pulang, masa gue ninggalin lo di sini?" ajak Devan.
"Ga papa, kok. Lo duluan aja, gue bisa pakai taksi."
Devan menghela napas. "Nanti langsung pulang, kalau udah sampai telepon aja."
Gadis itu mengangguk lalu tersenyum. "Siap, kapten."
Devan terkekeh lalu mengacak rambut Zahra. "Gue pergi, hati-hati pulangnya," pesan Devan, setelahnya laki-laki itu bergerak menjauh dari Zahra.
Kini Zahra duduk sendiri sambil memainkan ponselnya, gadis itu sesekali menyeruput UHT yang digenggamnya.
Zahra merasa jika ada orang yang memerhatikannya sejak tadi, tapi entah kenapa rasa itu baru muncul sekarang. Perlahan tapi pasti, Zahra menoleh ke kursi panjang yang ada disebelah kanannya, agak jauh—di sana memperlihatkan seorang wanita paruh baya tengah tersenyum manis kepadanya. Wajah Zahra memucat seketika.
"Ga mungkin," kata Zahra lirih. Perlahan wanita itu berjalan ke arah Zahra duduk, spontan gadis itu berdiri menghadap wanita paruh baya tersebut.
"Enggak-enggak ga mungkin. Mami udah tenang, lo pasti halu, Ra. Lo pasti halu!" ujar Zahra pada dirinya sendiri. Meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilihat tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
Wanita itu semakin mendekat ke arahnya. "Mami udah tenang, mami udah tenang. Mami ga mungkin di sini." Zahra menutup matanya dan melafalkan beberapa doa dan ayat kursi untuk mengusir roh tersebut.
Setelah sekian detik Zahra kembali membuka matanya, ia mendapati wanita tersebut pergi, gadis itu mengusap dadanya lega. "Ternyata cuma halusinasi," katanya tersenyum.
Tak berselang lama, seseorang menepuk bahu Zahra, ia lantas menoleh kesamping. Wajah lega tersebut kembali memucat.
"Hallo," sapa paruh baya itu sambil tersenyum manis.
"Ma-mammii, ja-jangan mendekat! Za-zahra janji bakal ba-balasin de-dendam, Ma-mami. Ja-jadi, ma-mami bi-bisa tenang di a-alam sa-sana. Maaf, Za-zahra mau pamit. Se-sekarang mami ba-balik ke alam mami, se-semoga mami tenang. Ja-jangan kayak gini lagi, Za-zahra takut. Assalamualaikum," ucapnya terbata. Gadis itu melangkah mundur dengan kaki gemetar. Setelah berpamitan, ia segera berlari meninggalkan paruh baya yang terpaku.
Jika dibilang tidak ada yang memerhatikan mereka, jawabannya salah. Karena saat ini mereka sedang di mall, tentu banyak yang memerhatikan, apalagi ketika memahami gelagat Zahra yang aneh.
"Jika kamu memang benar keponakan tante, berarti Zas-sskia u-udah meninggal?" Wanita itu melangkah duduk di kursi yang ditempati Zahra tadi, setitik air mata telah mengucur dari sumbernya.
"Jadi keponakanku namanya Zahra, aku tidak tau itu memang keponanku atau bukan. Tapi hatiku berkata jika dialah orangnya," monolognya pada diri sendiri.
"Ya Allah, satukanlah kembali keluarga hamba sebelum semuanya terlambat." Paruh baya itu berdoa dalam hati, tangannya bergerak menghapus setetes air mata di ujung matanya. Setelahnya ia berdiri, berlalu menghampiri anak dan suaminya yang telah menunggu di restoran.
Setelah keluar dari mall, Zahra memesan taksi online. Ia terduduk di salah satu kursi tunggu, matanya menerawang kosong. Setetes dua tetes jatuh membasahi pipinya. "Apa benar itu mami? Rasanya seperti memiliki ikatan, tapi ikatan apa itu? Jika itu emang mami, pegang janji Zahra, Mi. Zahra akan balas semuanya." Gadis itu menarik napas dalam, menguatkan diri sembari menghapus air mata yang tak kunjung berhenti.
Suara klakson membuatnya terkejut, taksi yang dipesannya telah tiba. Ia masuk taksi dengan muka sembab, berusaha menahan air mata yang ingin menampakkan diri kembali.
"Apart Angkasa Jaya, Pak."
Supir itu mengangguk, kemudian memberikan satu box tisu pada Zahra. "Terimakasih," ucapnya dengan senyuman. Taksi mulai berjalan meninggalkan kawasan mall.
Setelah membayar ongkos taksi, Zahra memasuki basemant apart. Kakinya membawa pergi ke lantai empat kamar 30. Entahlah, apa yang membuatnya ingin kemari? Siapa tahu saja, pacarnya yang biasanya mengirim pesan, tapi tak pernah dibalas itu bisa menengkan pikirannya.
Zahra mengetuk pintu di depannya dengan kesal, sudah lima kali ia mengetuk, tapi penghuni di dalamnya seakan tuli. Akhirnya ia memasukkan sandi apart yang diketahuinya, ia kira akan lebih sopan jika mengetuk pintu dulu. Nyatanya, pintu itu tak kunjung terbuka.
Setelah di dalam, gadis itu celingak-celinguk. Tas yang biasa dipakai pacarnya saat kuliah terjatuh di bawah meja. Suara grusak-grusuk terdengar dari arah dapur, Zahra lantas mencari sumber suara tersebut.
"Sayang, lagi dong ...." rengek seorang pemuda.
"Nanti aja, gue dah capek, nih," balas seorang gadis dengan suara lirih.
"Ayolah ....."
"Makan dulu, yuk. Gue lapar banget. Janji deh ntar habis makan."
Mata Zahra kembali memanas ketika melihat kekasihnya memadu kasih dengan gadis lain. Mantan pacar, tetapi Zahra biasa menyebutnya mantan jablay.
Dengan segera Zahra menjauh dari dapur, ia kembali ke ruang tamu. Hatinya tentu sakit, orang yang diperjuangkan malah menghianatinya. Saat semua orang menentang hubungannya, Zahra dengan keras menolak semuanya. Ia meyakinkan bahwa kekasihnya pantas bersanding dengan dirinya, tapi malah ini yang ia dapat. Kecewa.
"Sialan! Si A*j*ng lagi praktik, sama mantan jablay lagi mainnya," desisnya pelan. Zahra membuka pintu dan menutupnya dengan pelan agar kehadirannya tidak disadari. "Main ke sini ga guna, bukannya dingin malah tambah panas," gumamnya setelah keluar dari apart.
Gadis itu kembali memesan taksi, mobil itu melaju ke satu-satunya tempat yang dapat mendinginkan pikirannya.
...****...
Seorang pemuda tengah mengerjakan tugas di laptop kesayangannya, sambil sesekali membolak-balik buku berhalaman tebal untuk mencari referensi. Ponselnya yang berada di atas bantal tiba-tiba berdering. Tertera nama gadis kesayangannya di sana.
Devan segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo."
" .... "
"Apa? Kirim lokasinya, gue ke sana sekarang!"
Devan mematikan ponsel, lalu merapikan buku dan laptopnya. Ia mengambil jaket dan celana di balik pintu.
"Mau jemput Zahra, Ma," jawab Devan.
"Jemput Zahra? Ini udah hampir jam sembilan loh, kamu mau bawa anak orang ke mana?"
"Dia pingsan di bar, Ma. Tadi bartender nelepon aku."
"Apa? Emang tadi kamu ga antar dia pulang?"
"Maaf, Ma. Tadi Van buru-buru. Sebenarnya Van juga nawarin dia pulang bareng, tapi dianya ga mau. Ya udah, Van berangkat dulu."
"Hati-hati," ucap Mila saat anaknya mencium tangan.
Devan meluncur ke bar tempat Zahra pingsan, laki-laki itu mengedarkan pandangan. Seorang gadis terbaring di salah satu sofa bar ternama, di sampingnya terdapat sesosok pria yang memainkan ponselnya.
Ponsel yang ada di meja berdering, pria itu melirik sekilas kemudian menjawab teleponnya.
" .... "
Pria itu celingak-celinguk sebentar. "Kiri lo, sofa tengah."
Setelah menemukan posisi Zahra, Devan langsung menghampirinya. Pemuda itu mencari tahu kondisi Zahra lewat bartender yang tadi menjaganya.
"Tadi dia muntah-muntah, sempat sesak napas juga. Tuh, kulitnya udah pucat banget. Mending lo bawa dia ke dokter."
Devan mengangguk dan segera membopong Zahra. "Thanks."
...****...
Devan duduk di IGD dengan rasa cemas, sudah terhitung satu jam ia menetapkan pantatnya di kursi tunggu. Pintu terbuka, menampilkan pria paruh baya dengan jas putih. Devan berdiri seketika.
"Dengan keluarga Nona Zahra?"
Devan mendekat ke dokter tersebut. "Saya temannya, Dok. Bagaimana keadaannya?"
"Kondisi pasien sangat buruk, kami harus menetralkan alkohol yang berada di tubuhnya berkali-kali. Nadinya lemah, rongga dadanya mengalami penyempitan." Dokter itu menarik napas. "Alkohol telah banyak mengambil alih sarafnya. Maaf, apa dia seorang pecandu?" tanya dokter pada akhirnya.
"Tidak, dia bukan seorang pecandu. Kalau boleh tahu berapa kadar alkohol yang telah dikonsumsinya? Dan, apa kondisinya bisa lebih buruk lagi?"
Dokter tersebut menggeleng pelan. "Apa dia punya masalah? Kadar alkohol yang telah dikonsumsi telah mencapai 70%, padahal batas alkohol yang boleh dikonsumsi hanya 50-55%, itu pun sudah batas maximal. Jika alkohol dikonsumsi bersamaan dengan obat penenang, resikonya besar. Pasien kemungkinan bisa mengalami koma."
"Saya tidak tahu betul apa yang dihadapinya saat ini, belum pernah melihatnya seperti ini. Apa dia akan baik-baik saja, Dok?"
"Ya, dia akan baik-baik saja. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat, dia masih harus menjalani perawatan."
"Baiklah, Dok. Berikan penanganan terbaik padanya."
...****...
Malam telah larut, suara binatang malam saling sahut-menyahut. Lamborghini Aventador memasuki pekarangan mansion.
Pria dengan setelan jas kantor keluar dari mobil, ia menatap rumahnya dengan senyum. Akhirnya ia dapat menatap kembali mansion setelah hampir satu minggu di Bandung.
Yang ia inginkan saat ini ialah mendekap adiknya saat tidur. Menghilangkan rasa letih akibat pekerjaan yang menguras tenaga dan emosi. Setelah membersihkan diri, ia mengetuk pintu kamar sang adik. Biasanya jam sepuluh adiknya itu masih terjaga.
Setelah beberapa menit tidak ada respon, ia memberanikan diri memutar knop. Terkunci! Timbul perasaan tidak tenang di dadanya, Rio bergegas mengambil kunci cadangan. Ia terkejut setelah membuka kamar itu. Kotor, barang-barang berserakan di mana-mana. Adiknya tidak ada di kamar.
Dengan rasa cemas yang telah menguasai pikirannya, Rio bergegas ke rumah bibi.
Bi Heni mempersilahkan Rio masuk. Sebelum menjawab, bibi lebih dulu memberikan segelas teh hangat pada Rio, pria itu menyeruputnya hingga tandas.
Bibi yang sudah paham maksud kedatangan Rio malam-malam langsung menjawab tanpa ditanya.
"Adikmu belum pulang sejak kemarin, dia menginap di rumah Devan. Coba kamu telepon, mungkin Zahra menginap lagi." Bibi berhenti sejenak dan menatap Rio. "Adikmu jadi liar lagi, dia sering pulang malam. Dia selalu mengunci kamar sampai bibi ga bisa bersihin kamarnya. Sepertinya mimpi buruk itu kembali," papar bibi.
Sakit? Tentu. Itulah yang dirasakan Rio sekarang. Mimpi buruk yang hampir merenggut nyawa Zahra kembali. Hal apa saja yang telah diperbuat Zahra, Rio hanya berharap adiknya baik-baik saja.
"Bibi tenang aja yaa, Rio akan telepon Devan sekarang. Mungkin Zahra masih menginap di rumahnya." Rio mencoba meyakinkan bibi. Walaupun bibi terlihat tenang, tapi gurat khawatir yang menjalari dirinya terbaca jelas oleh Rio.
"Bibi istirahat aja, Rio akan kasih bibi kabar ketika Rio udah nemuin Zahra."
Rio mengantar Bi Heni ke kamar agar pikiran bibi jauh lebih tenang. Setelahnya, pria itu langsung menghubungi Devan.
"Lo di mana sekarang? Sama Zahra kagak?"
"Lo ke rumah sakit Ita Medika sekarang!"
"Gue otw," balas Rio cepat. Tanpa berganti pakaian, pria itu kembali mengemudikan mobil menuju RS Ita Medika.
"Pasien atas nama Ulyana Zahra?" tanyanya pada resepsionis.
"Pasien berada di ruang VVIP lantai dua nomor tiga," jawab resepsionis dengan nama tag Irene.
"Kalau administrasinya, biar saya urus sekalian."
"Eum, di sini adminnya telah diselesaikan oleh mas-mas yang membawanya tadi."
"Baiklah, Sus. Makasih." Rio pergi setelah suster di depannya menjawab. Ia langsung masuk begitu menemukan ruang rawat Zahra. Pria itu menemukan adiknya yang terbaring, di sisi kanannya terdapat seseorang yang mengusap pelan rambut Zahra. Bisa Rio tebak, itu ialah Devan.
"Van?"
Seseorang itu menoleh, tersenyum ketika mendapati Rio berdiri di dekat pintu. Pria itu mendekat ke Devan, berdiri di sebelahnya.
"Gimana keadaannya?"
"Kondisinya membaik, suhu tubuhnya udah mulai normal. Pesan dokter, kalau Zahra minum lagi dengan jumlah berlebihan, kondisinya akan jauh lebih buruk. Beresiko fatal."
Rio menahan napas ketika kata 'fatal' terucap dari bibir Devan. Ia tak bisa membayangkan hal itu jika benar-benar terjadi. Ia tak sanggup.
Devan memberi tempat agar Rio bisa berinteraksi dengan Zahra, sedangkan laki-laki itu pindah ke sofa.
Rio mengusap dahi Zahra pelan dan mengecupnya lama. "Apa benar mimpi buruk itu kembali? Kalau benar kembali, maafin kakak karena ga bisa temenin kamu pas mimpi buruk itu hadir," Rio berhenti sejenak dan menatap adiknya dalam, "plisss, kakak ga mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya, cukup sekali aja kamu ninggalin kakak. Papi, mamii maafin Rio, aku kakak yang buruk karena ga bisa jagain adiknya." Rio mengusap-usap pipi mulus Zahra, sementara Devan menatap keduanya dengan sayu.
Setelah menenangkan diri dengan mengusap pipi adiknya, kini atensinya beralih ke Devan. "Dia kenapa? Kenapa bisa sampai kayak gini?"
"Gue ga tau. Gue ditelepon sama pihak bar, mereka ngasih tahu jika Zahra pingsan."
"Thanks, udah jagain adik gue. Sorry, udah ngerepotin lo berkali-kali, mungkin cuma lo yang mau bantu dia. Gue salah, ga seharusnya gue ninggalin dia," papar Rio.
"Santai, Bang. Gue ga ngerasa direpotin kok, gue malah seneng bisa bantu dia. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia sampai kayak gitu? Zahra yang gue kenal ga kayak gini, Bang?"
"Iya, gue tahu. Saat semuanya membawa dia ke ingatan masa lalu, dia akan jadi lain. Dia ga akan bisa ngendaliin dirinya sendiri, dia butuh tumpuan. Tapi tumpuannya kemarin pergi, jadi dia kayak gini," ucap Rio dengan tatapan nanar.
"Udah, Bang. Ga guna juga lo sesalin semuanya, gue juga bakal jagain dia," kata Devan serius dengan menegapkan badannya.
"Nanti uang lo gue ganti," kata Rio, ia teringat Devan yang telah melunasi administrasi adiknya.
Devan tersenyum tipis. "Santai aja, Bang. Ga diganti juga ga papa."
Rio mengangguk dan tersenyum, biar bagaimanapun ia harus mengganti biaya administrasi Zahra. Ia telah banyak merepotkan Devan minggu ini.
Suasana ruangan mendadak hening, itu karena Rio dan Devan telah larut dalam pikiran masing-masing. Hingga sebuah pekikan menyadarkan keduanya.
****
Kasih tau ya, jika penanganan alkohol yang ada di atas itu kurang tepat atau salah. Aku cari si kemarin seperti melakukan pembersihan gitu dengan alat khusus, benar ga? Kalau ada yang tau komen, ya?
Thanks udah baca, yang udah memfavoritkan story ini, makasih banget. Maaf, ceritanya jadi pending tamat, wkwk.
Jangan lupa like, vote sama komen
See you 😘