Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
75. Seperti Biasanya


Hari ini Ario bersaudara sudah akan kembali menjalani rutinitas mereka sebagai pekerja kantoran. Keduanya tengah sibuk di kamar masing-masing untuk mempersiapkan apa yang akan mereka bawa hari ini.


Rizki keluar lebih dulu, pemuda itu sibuk dengan sisir yang digenggamnya, membenarkan tatanan rambut cepaknya.  Rambut belah tengah dengan poni yang sedikit lebih panjang dan juga terbelah. Apapun gaya rambut pria itu, tetap saja Rizki mempesona. Membuatnya terlihat keren dan digilai banyak gadis meski pria kulit putih itu telah mempunyai kekasih.


"Ki, nanti siang kita ke Jo Company. Gery dan Om Zaldi mau ngajak bicara soal peluncuran produk baru milik mereka, katanya mau diuji coba dulu. Sebenarnya, mereka mengajak Zahra. Tapi karena dia sekarang lagi entah ke mana, kita yang disuruh datang." Rio berdiri di depan pintu, memandang Rizki yang masih merapikan rambutnya.


"Iya, nanti siang gue kosong kok." Pria itu telah selesai dengan sisirnya, kembali membuka pintu itu, melemparkan sisir merah itu. Netranya kembali memandang Rio, sepertinya saudaranya itu masih memikirkan adik mereka. "Bang, kalau Zahra ingin kembali, dia pasti balik. Dia ga pernah lari dari masalah, jadi ... jangan takut dia ninggalin lo, itu ga akan pernah. Dari dulu, di sinilah tempat pulangnya, rumahnya di sini. Dia ga akan pergi jauh dari kita."


Rio meraup kasar wajahnya. Hening sesaat. Laki-laki dengan kemeja polos biru laut itu berkata lirih, "Dia kayaknya masih marah sama gue, Ki. Beberapa hari ini dia selalu absen kampus, tapi kata PA-nya—dari laporan dosen lain, dia mengumpulkan tugas secara online. Pas gue mau lacak lokasinya, kok ga bisa, ya?"


Rizki mulai melangkah, begitupula dengan Rio. Mereka melangkah bersamaan menuruni tangga, beberapa anak tangga telah mereka lalui. Rizki kembali bergeming, membuat pria di sampingnya juga ikut menghentikan langkah.


"Kenapa?"


"Setau gue, Zahra ga akan marah lama-lama sama kita. Kesalahan gue yang terlampau besar aja dia maafin dengan mudahnya, sedangkan ini jalan hari kedua, akan malam ketiga dia pergi—ga mungkin selama ini dia masih marah sama lo. Atau kalau enggak, dia—"


"Dia kenapa?"


"Dengerin dulu napa, main potong aja," ucap Rizki sebal. Laki-laki dengan kaus putih itu melangkah kembali, dia melanjutkan ucapannya, "Dia mungkin menghindari sesuatu, lo ingat CCTV di club pertama, dia bertengkar dengan seseorang. Dan Putra sepertinya menghindari kita, dia harus jelasin ke kita supaya masalah ini segera selesai. Sumpah, mansion ini horor tau ga kalau ga ada Zahra."


Rio memukul kepala adiknya pelan. "Lo kira gue dedemit apa? Ga nganggep gue lo?"


"Ya ... bukan gitu maksud gue. Hawa lo dan Zahra itu beda, Bang." Rizki segera menghindar sebelum tangan Rio sampai di kepalanya. Alhasil, anak tertua Ario itu hanya memukul udara. Sepertinya ia harus mulai menjahili Rio selagi menunggu Zahra pulang. Ia bosan setiap kali pulang bekerja selalu disuguhkan dengan wajah Rio yang sepertinya tak peduli akan dirinya.


Rio itu bagaimana, ya? Memang belum genap setengah tahun, tapi hampir—Rizki kadang masih ragu untuk mengajak Rio bercanda. Abangnya itu bukan galak, seram, ataupun sadis, tapi Rizki sulit saja untuk berbicara lebih leluasa dengan Rio. Tapi ia harus membiasakan itu, Rio adalah abang terbaik yang ia miliki.


"Heh!" Rizki tersentak ketika kursi yang didudukinya bergoyang, ternyata pelakunya ialah gadis dengan rambut pirang. "Ngelamun mulu, lo? Ga bosen apa?"


Rio di sebelahnya terkekeh kecil. Pria itu menoleh pada Rizki, kemudian mendongak, menatap gadis pirang itu. "Rizki kan, kalau sekarang suka banget tuh ngelamun pagi-pagi," Rio mengerutkan keningnya, "kenapa? Rumah tangga lo lagi gonjang-ganjing?"


Rizki menempeleng kepala abangnya itu, memang tidak sopan—tapi mulut Rio benar-benar minta diamplas. "Emang minta digampar ya, lo, Bang?"


"Ih, gitu aja marah-marah. Nanti gonjang-ganjing beneran gimana," ucap Tria kelewat polos. Gadis itu kembali menggoyangkan kursi Rizki, membuat sang pemilik menggeram tertahan.


"Tria, sini bantu ibu, Sayang. Jangan gangguin kakaknya!"


Tria terdengar mengembuskan napas, melepaskan pegangannya pada kursi lalu melangkah menjauh. Mendekati Bi Heni yang sedang mempersiapkan makanan untuk mereka.


Kedua pria itu terkekeh pelan.


Rio mulai mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang yang dia perintahkan untuk mencari tahu dua sosok laki-laki yang bersama adiknya hari itu. Ia melanggar aturan yang dibuatnya sendiri untuk tidak bermain handphone di meja makan, terserahlah sekarang.


Panggilan itu mulai tersambung. Rio mengerutkan keningnya, pria itu berdiri dari duduknya, mulai melangkah menjauh.


Rizki telah sibuk dengan aktivitas pribadinya, pria itu memutuskan mengelap meja, karena tidak tahu harus melakukan apa. Dilihatnya Tria sebentar, kemudian kembali meletakkan kain lap itu. "Eh Tri, rambut lo kok bisa pirang, sih? Padahal rambut bibi hitam?" tanyanya tiba-tiba, ia sungguh penasaran kenapa rambut anak itu pirang. Dan ia juga penasaran di mana keberadaan suami bibi. Rizki tahu dia tidak sopan, tapi—ia sungguh penasaran.


Rizki tersenyum tipis, ia mengerti. Pasti sesuatu terjadi dengan ayah Tria, sehingga dirinya tak dapat melihat sosoknya di sini. Ia tahu nama ayah gadis pirang itu, Aldo—lengkapnya, Aldo Gefano Freezy. Nama yang ia dengar pertama kali saat bibi menceritakan masa lalu mereka.


"Ayah hilang saat menyurvei lokasi proyek di lautan. Kapal yang ditumpangi terhempas badai besar, menyebabkan kapal itu tenggelam. Ayah dan beberapa orang yang ikut pada saat itu, tenggelam semua di lautan. Di tengah badai. Jasadnya hilang, sepertinya sudah termakan oleh ikan-ikan besar. Terakhir, kabar dari kepolisian—kami hanya menerima potongan kaus usang dan cincin emas," ucap Tria tiba-tiba. Gadis itu menyeka bulir yang menggenang di sudut pelupuknya, tangannya bergerak mematikan kompor. "Oseng tahu, tempe, wortel dan buncis udah jadi, kita bisa makan sekarang," ucapnya riang, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ayam dan jamur krispinya juga udah jadi. Abang sini, bantuin bibi," Bi Heni menambahkan. Jangan kira ia tidak mendengar percakapan mereka sedari tadi, hatinya ikut ngilu mendengar putrinya bercerita.


Rizki ragu-ragu untuk berdiri, coklat gelap itu masih memfokuskan pandangan pada aqua teduh itu. "So–sorry, Tria." Kakinya bukan membawa pada bibi, langkah itu malah mengarah ke arah Tria.


Rizki merengkuh tubuh itu, bisa-bisanya ia mementingkan rasa penasarannya daripada  perasaan adiknya. Kakak model apa aku ini sebenarnya?  batin Rizki gusar. Tangannya mengusap lembut rambut pirang itu. "Ga seharusnya gue tanya kayak gitu, sorry bikin lo jadi keinget lagi." Rizki mengeratkan pelukannya.


Pria itu merasakan pundaknya basah. Tak apa. Untuk Tria. Gadis pirang ini sudah seperti Zahra, juga membawa warna untuk hidup kelabunya.


Bi Heni juga menyeka air matanya diam-diam. Di balik sikap ceria dan tampak baik-baik saja seorang Tria, putrinya itu juga memendam kerinduan pada sang ayah. Wanita itu menyadari sesuatu, sudah lama mereka tidak membahas tentang suaminya, setelah putri tunggalnya itu tahu jika ayahnya tidak akan pernah ditemukan.


Mengenang kenangan lama mereka sama saja dengan membuat hati ibunya kembali terluka. Kembali sedih. Tria tidak ingin membuat ibunya kembali menangis.


Tria melepaskan pelukannya, menatap baju Rizki yang menjadi basah karena ulahnya. Sadar akan arah pandang Tria, laki-laki itu mengarahkan ibu jarinya untuk menghapus kristal bening itu. Rizki tersenyum hangat. "Udah, ga papa. Bajunya bisa ganti kok, sekarang siapin aja oseng-osengnya. Gue mau bantuin bibi dulu."


Wanita yang memerhatikan kedua insan itu segera mengalihkan pandangan, ia jadi gelagapan sendiri ketika Rizki berjalan ke arahnya. Dapur ini memang memiliki dua tungku kompor gas dan keduanya berada di sisi yang bertolak belakang. Kompor bibi berada di dekat meja makan, sedangkan kompor satunya berada di dekat pintu keluar.


Bibi segera menuangkan air hangat untuk membuat susu, teh ataupun kopi. Sesuai pesanan masing-masing. Rizki hanya tersenyum kecil melihat Bi Heni yang terlihat salah tingkah.


Rio kembali dengan ponsel yang sudah masuk ke dalam sakunya. Pria itu kembali duduk di kursinya.


"Lama amat, Bang? Siapa yang nelepon?" Rizki datang dengan membawa piring saji dengan isi ayam kecap dan jamur krispi. Meletakkan di atas meja kemudian mengalihkan pandangan, menatap Rio.


"Robby. Dia ngasih tau tentang dua pria itu."


Rizki kembali ke kursinya, menatap abangnya antusias. Ia sungguh penasaran dengan dua pria yang cukup tampan dan terlihat mapan—yang bersama adiknya tempo hari.


Rio terlihat menerawang. "Cowok berjambul  itu, namanya Xavier Alexander Gelfard, kayaknya dia salah satu karyawan Uly's Group. Robby beberapa kali pernah ngelihat dia masuk kantor itu. Kalau cowok baju hitam itu Alfian Alaris Madison, pemilik club yang pertama dimasuki Zahra. Robby masih nyelidikin mereka lebih dalam, termasuk kenapa Zahra bisa kenal dengan mereka—terutama Xavier. Tapi kayaknya gue pernah ketemu sama cowok jambul itu, kayak ga asing. Tapi siapa?"


Rizki mendengarkan perkataan Rio tanpa berniat memotongnya. Ia mengangguk. "Salah lihat kali lo, Bang! Karyawan Uly's Group jarang keluar dari kandang mereka, jadi jarang deh yang tau kalau seseorang adalah salah satu karyawan di sana. Pantes sih, sama Zahra. Cuma rada sangar gitu."


Rio menggelengkan kepalanya. "Bener, Riz. Kayak pernah lihat." Rio kembali terdiam. "Terus Devan mau lo ke manain? Dia kan, lagi proses."


"Yaelah, gebet aja dua-duanya. Sama-sama berkelas lah buat Zahra."


Rio menoyor kepala adiknya kasar, membuat si empu sedikit meringis. "Benaran gonjang-ganjing nih, rumah tangga lo. Udah putus aja, daripada otak lo ga bener gini."


"Idih, siapa juga yang gonjang-ganjing? Lo aja sana, gue mah ogah."


Tria meletakkan oseng-osengnya di meja, diikuti bibi yang membawa nampan minuman. Keempat manusia itu akhirnya duduk tenang, memakan sajian yang ada di piring masing-masing. Terkadang, Rio juga melempar pertanyaan untuk Tria dan juga bibi. Untuk Rizki, laki-laki itu kehabisan bahan pembicaraan.