
"Sialan, Van! Bisa-bisanya lo buat gue pingsan. Bagi ilmunya lah!" ucap Zahra, menepuk paha Devan kencang. Bisa-bisanya laki-laki itu membuatnya pingsan dalam sekali sentuh. Zahra jadi ingin juga memiliki ilmu seperti itu.
Devan diam saja, tetap melanjutkan mengusak rambut Zahra yang beraroma buah itu. Hhh, aroma yang akan selalu menjadi candunya.
"Heh!" Kali ini Zahra memukul lengan pemuda di sampingnya, membuat tangan itu lepas dari rambutnya. "Jawab, jangan mainin rambutku terus, nanti kusut," dengkus Zahra kesal.
"Kenapa? Belum waktunya kamu tau trik begituan." Devan merangkul bahu Zahra, menarik kepalanya mendekat, menciumi pipinya hingga membuat Zahra kesal. Setelah itu kembali mengagumi rambut bergelombang Zahra.
Zahra melepaskan diri dari Devan dengan sekuat tenaga. "Huh!" ucapnya, ketika pelukan Devan akhirnya terlepas juga. "Gerah tau, lagi musim kemarau. Kamu jangan peluk-peluk!"
Devan terkekeh kencang, gadis di sebelahnya ini sensitif sekali hari ini, tak jarang juga tangannya memukul bahkan menjambak jika ia berbuat salah. Apa dia sedang pms? Ahh, namun ia tak urung menghentikan tingkah jahilnya. Menggoda Zahra itu memiliki kesenangan tersendiri.
Devan menatap Zahra dalam, gadis yang ditatapnya sedemikian rupa malah bergidik ngeri. Memalingkan wajah ketika pipinya memanas. Membawa rona merah jambu itu, menghalangi pandangan Devan padanya. Itulah yang Devan simpulkan dari tingkah gemas Zahra.
"Kamu cantik," ungkap Devan dengan suara rendahnya, terdengar tulus. Tapi itulah kenyataannya.
Zahra menoleh, rona di pipinya lenyap entah ke mana. Ia membusungkan dadanya, mengibaskan sedikit surai rambutnya. "Emang! Kapan sih gue jelek? Kalau kamu bilang aku jelek, berarti mata kamu harus segera diperiksakan!" balasnya menjengkelkan. Raut yang tadinya malu-malu berubah congak dalam sekejap mata.
Lagi-lagi Devan terkekeh kencang, membuat sebagian perhatian beralih pada mereka. "Kamu kenapa sih sebenarnya?"
Zahra tidak menjawab, melainkan langsung memakan mie nya dengan lahap. Laki-laki di sebelahnya tersenyum saja, ia terhibur. Sikap Zahra yang seperti ini mengingatkannya pada masa SMP. Hahhh, ia akan selalu mengingat itu. Saat di masa gadis di sampingnya tidak terlalu memikul beban seperti sekarang. Menjalani hidup seperti yang dia mau.
Tapi, bukankah semakin bertambah usia, bertambah pula beban yang dipikulnya? Bolehkah ia berharap, jika beban itu nantinya akan mereka pikul sama-sama? Ahh, Devan tidak sabar untuk itu.
"Kenapa?" Suara lembut Zahra kembali menarik Devan yang tengah memandangnya sambil tersenyum-senyum.
"Hah?"
Sekali lagi Zahra bertanya, "Kenapa lihatin aku gitu banget? Senyam-senyum pula?" tanya Zahra, menghadap ke arah Devan dengan memainkan garbunya.
Laki-laki itu tersenyum hangat. Dengan bibir merekahnya ia berkata, "Aku lagi bayangin aja, gimana kamu kalau udah jadi istri aku."
Hening beberapa saat. Tidak ada yang akan menyoraki Devan karena para curut yang selalu bersama mereka sedang kedapatan kelas. Tidak ada juga penghuni kantin yang mendengarnya, karena Devan kembali memandang lembut dengan pandangan fokus pada gadisnya.
Zahra terdiam sebentar, setelahnya mencubit perut Devan sedikit kesal. Yah, hanya sedikit. Karena ia terlihat malu-malu juga dengan kalimat yang laki-laki itu lontarkan. Ahh, ia juga menunggu hal itu. Tapi, ia akan menikah setelah semuanya clear, entah kapan semua ini selesai.
Setelah Devan mengaduh, laki- laki itu mendapatkan hadiah tak terduga dari gadis di sampingnya. Kecupan singkat di pipi kanannya membuat Devan tersenyum kecil. Setelahnya ia mendengar seseorang membisikkan ia sesuatu.
"Terimakasih," ucapnya. Setelah itu sang pelaku langsung meneruskan acara makan mienya setelah sedikit tertunda.
Ayolah? Bagaimana Devan tidak jatuh cinta dalam pesona Ulyana Zahra jika seperti ini? Banyak laki-laki yang menginginkan berada di posisinya sekarang, tapi ia bersyukur. Ialah laki-laki beruntung itu.
Devan kembali mengusak rambut Zahra, menciumnya sekilas. Kembali menjauhkan diri lalu memandang Zahra dengan lekat. Sebelum ia melontarkan pertanyaan, Devan sudah terlebih dulu mengunyah tahu katsunya. Ia hanya menemani Zahra makan, ia masih kenyang sedari tadi. "Gimana soal kalung itu? Apa Om itu udah ngasih barangnya ke kamu?"
Zahra yang mendengar pertanyaan Devan menjadi kesal, ia menggebrak meja dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tengah memukul meja dengan garbu.
Ia mendengkus terlebih dulu. "Kamu tahu ga? Orang itu malah ngehindarin aku tahu, dia bilang suruh ngehubungin dia kalau butuh bantuan atau apa. Tapi sekarang, nomornya malah ga aktif. Lihat aja kalau ketemu, gue habisin itu orang," kata Zahra bersungut-sungut.
Devan menaikkan alis sejenak. "Telepon kantor? Ga mungkin kan telepon kantor ga aktif?"
"Huh ... yang ngangkat selalu anak buahnya, aku malah dirayu-rayu dong sama dia. Aku ke sana langsung pun dia ga ada, karyawannya yang menyambut. Gimana aku ga kesel coba?" ungkap Zahra. Ia tidak enak pada Rio jika kalung itu belum ditemukan. Ia sudah berjanji pada kakaknya dan janjinya pada bibi untuk selalu menjadi barang berharga itu.
Devan tampak mengangguk. "Terus Bang Rio? Dia reaksinya gimana?"
"Ya ... Kak Rio sih cuma risih gitu ngelihat aku yang mencak-mencak sendiri. Kadang juga dia bilang ga papa, tapi aku ga boleh pergi lagi. Tapi aku juga sadar, sebenarnya Kak Rio masih kecewa sama aku, cuman dia seneng aku udah balik. Dan peristiwa di mansion beberapa waktu lalu berhasil membuat Kak Rio melupakan kalung itu. Tapi gimana ya, aku jadi semakin ngerasa bersalah karena belum berhasil bikin kalung itu balik ke leher aku." Zahra mengembuskan napas panjang. "Kak Rio sebenarnya bantu juga untuk nemuin orang itu, tapi entah kenapa ... orang itu kayak selalu tahu aku sama kak Rio bakalan nyamperin dia. Nah, dia selalu hilang lebih awal."
Devan merangkul Zahra, mengusap punggungnya pelan. "Itu kan milik mendingan Ibu kamu, pasti bakal balik jika udah waktunya. Sekarang habisin makanannya dulu, habis itu kita ke perpus."
Zahra segera mengangguk dan kembali menyuapkan mie. Makanannya memang sudah mulai dingin, tapi tak mengapa, Zahra tetap suka. Ia menyukai segala jenis makanan.
Devan menatap santai sambil menaikkan satu alisnya, sedangkan Zahra tetap menikmati mienya. Tidak memedulikan orang di depannya.
"Ekhm, Ra. Gue mau bicara sama lo," ucapnya agak canggung, setelah meminta izin dari Devan tentunya, dengan kode mata. Walau bagaimanapun, Zahra dalam mode maung sekarang.
"Ngomong aja," sahut Zahra ketus. Percayalah, ia masih kehilangan mood untuk bicara pada pemuda di depannya ini.
"Emm, gue mau ngomong berdua sama lo." Kembali ia lontarkan keinginannya, masih berharap Zahra bisa lebih berbaik hati padanya.
"Ngomong aja sama tembok, lagi ga pengen ngomong sama orang pengingkar janji," jawab Zahra masih dengan ketus, bahkan tanpa membalas tatapan pemuda di depannya. Kembali ia suapkan mie itu ke dalam mulutnya.
Pemuda di depannya menelan ludah dengan susah payah, kembali membuat masalah dengan gadis di depannya ialah langkah buruk. Harusnya ia tidak berjanji hari itu, jika tahu dirinya akan sulit merubah kebiasaan buruknya. "Haahhh." Ia kembali memandang Zahra dalam, sedangkan gadis itu masih tak mengacuhkannya. "Ra, maafin gue ya ... gue khilaf malam itu. Saudara lo kan nawarin ikan asin ke gue, ya gue sebagai kucing garong mana tahan. Lo tahu kan gue bukan orang alim, mana kuat iman gue nahan begituan."
"Lo ga hypers*ks, kan?"
"Lo sejak kapan tahu kalau itu Raisha?"
Devan dan Zahra melempar pertanyaan secara bersamaan. Zahra menatap ke arah Devan dengan memicing, setelahnya ia berdehem singkat. Kali ini mengangkat wajah untuk melihat sosok di depannya.
"Lo beneran ga menderita hypers*ks, kan?" tanya Zahra dengan hati-hati, sembari memelankan sedikit suaranya. Mengesampingkan rasa kesalnya untuk sesuatu yang lebih serius.
Lelaki di depannya mengembuskan napas kasar mendengar pertanyaan kedua sahabatnya. "Enggak lah, jangan sampai gue kena. Kasian bini gue ntar."
"Iyalah, lo normal aja udah kek gini apalagi kalau gangguan. Sial banget yang jadi bini lo," sembur Zahra setelahnya. Gadis itu memicingkan mata. "Lo harus berusaha ngilangin nafsu, gunakan waktu malam lo buat sesuatu yang positif. Kayak ngelarin tugas, kerja sambilan atau ngapain gitu yang positif. Lo harus jauhin segala yang berhubungan sama **** dan alkohol." Melihat Putra yang mengangguk lemas, Zahra melanjutkan pertanyaannya, "Lo juga ga kena penyakit menular s*ksual, kan?"
Devan dan Putra menatap Zahra ngeri.
Putra mengacak rambutnya kasar. "Amit-amit, Ra. Jangan sampai, gue selalu make pengaman, sejauh ini hasilnya negatif. Gue udah pernah ikut tesnya." Laki-laki itu memandang Zahra melas, kemudian meneguk air mineral yang dibawahnya. Menjawab pertanyaan mantan kekasihnya membuat tenggorokannya mengering seketika. "Kenapa dah pertanyaan lo gitu banget?"
Zahra menghabiskan mienya yang tinggal satu suapan, menyedot es jeruknya hingga tersisa seperempat bagian. "Ya, gue ga bermaksud gimana-gimana, tapi niat gue baik kok. Gue cuma ga pengen lo mengalami kesulitan di kehidupan mendatang. Jadi, sekarang kita beralih ke Raisha. Sejak kapan lo tahu kalau Naysha itu Raisha?"
Putra mengetukkan jari-jarinya di dagu, sementara Devan menjadi pengamat. Untuk yang satu ini bukan ranahnya untuk ia bicara. Putra mengerjab sesaat sebelum menjawab.
"Lo ingat malam itu? Gue dari habis isya di situ, tiba-tiba dia nelpon gue minta ketemuan. Terus gue share lock kan, dia akhirnya datang dengan pakaian uwah, gue aja sampe kaget. Dari yang gue tangkap saat pertama ngelihat dia jalan ke arah gue, dia sepertinya lagi di kondisi sulit. Dia langsung nawarin diri dong buat ngasih pelayanan, tapi dia nargetin harga tiga kali lipat dibanding biasanya. Ya gue iyain aja, toh uang gue juga banyak—"
"Serius, Putra. Gue ga lagi main-main," potong Zahra, kesal karena laki-laki itu malah memamerkan uangnya.
"Iya-iya," balasnya lempeng. Kedua temannya kembali memasang tampang serius.
"Setelah gue sanggupi akhirnya kita main, selama permainan kita, itu pertama kalinya dia manggil gue Restu, dia terus manggil gue pakai nama itu. Gue sambil goyang juga sambil mikir, sampai akhirnya waktu pelepasan gue ingat siapa yang manggil gue kek gitu. Setelah itu gue langsung make celana, gairah gue tiba-tiba lenyap. Di situ gue langsung ngintrogasi dia, sampai akhirnya timbul kesepakatan dan lo tiba-tiba muncul waktu kita belum selesai bicara. Waktu itu Raisha juga make tank top spaghetti doang, jadi otomatis lo ngelihat tanda lahir dan sisa-sisa permainan kita. Ya pokoknya setelah gue desak dia supaya ngaku Raisha itu susah banget, apalagi buat bujuk nyeritain semua masalahnya. Satu jam-an lah." Putra mengakhiri ceritanya, kembali meneguk air mineral.
Zahra mengangguk. "Jadi lo masih ingat nama Rai, Restu sama Zara waktu kecil?"
Putra tersenyum tipis. "Gue ga pernah lupa, lagi pula, waktu itu gue cuma sering gaul sama Raisha doang ceweknya. Gimana gue ga ingat, apalagi dia benar-benar protektif sama lo."
"Terus hutangnya Raisha akhirnya gimana?" tanya Devan tiba-tiba.
"Langung dilunasin sih sama kak Rio, tempat pr*stit*si itu sekarang jadi panti asuhan, seperti penampungan anak jalanan gitu. Mereka juga diajarkan banyak hal di sana. Yang ngelola sih salah satu managernya kak Rio, tentu donasinya dari perusahaan dua Abang gue. Dapat tambahan juga dari perusahaan Papa," jawab Zahra.
"Sekarang lo maafin gue kan, Ra? Gue bener-bener khilaf malam itu." Putra terus memohon pada Zahra agar segera memaafkannya.
Devan mengusap punggung Zahra pelan, tersenyum tipis. "Kasih kesempatan dong, dia juga kan temen lo."
"Huhhh, iya-iya gue maafin," ucap Zahra setelah termakan bujuk rayunya Devan.
Putra tersenyum sumringah. "Thanks banget ya Ra, Van. Lo berdua emang cocok jadi pasangan. Gue ga akan janji lagi, soalnya berat dan gue usahakan aja buat lo ngelihat langsung perubahan gue, Ra. Gue udah lama juga kok ga having s*x dan juga gue bakal coba saran dari lo. Makasih banyak, ya."
Zahra tersenyum tipis. "Gue cuma mau yang terbaik buat lo, gimana pun juga—lo salah satu orang terdekat yang gue sayang."