
Jam lima sore, Rio baru saja menginjakkan kaki di mansion megahnya. Sungguh, pekerjaan yang melelahkan. Pria itu segera menuju kamarnya di lantai dua.
Rio melepaskan pakaian yang dipakainya lalu merendam diri di bathtup. Sekitar lima menit berendam, Rio kini telah perfect dengan kaus oblong dan kolor abu-abunya.
Dia heran, sejak masuk rumah, rumahnya sepi sekali. Rio menuju kamar adik perempuannya, siapa tahu gadis itu kelelahan dan tertidur.
"Dikunci?" gumam Rio saat tangannya memutar knop pintu. Ia mengetuk pintunya, berharap gadisnya sudah berada di dalam.
"Dek, lu di dalem, kan?"
Sepi, tak ada jawaban.
Rio kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci cadangan, memastikan adiknya ada di dalam atau tidak
Rio membuka kamar Zahra dengan kunci cadangan yang ia miliki. Membukanya perlahan, sangat berharap adiknya menelungkupkan diri di atas bed cover Doraemon itu.
Kosong, bahkan semuanya masih rapi. Itu artinya, Zahra belum masuk kamarnya sama sekali. Mustahil, biasanya Zahra sepulang dari kampus akan mengurung diri di kamar sampai jam makan malam tiba.
Mungkin di tempat bibi, pikir Rio, berusaha menghilangkan pikiran negatif yang merangsek ke otaknya.
Rio pergi ke rumah bibi yang terletak di belakang rumahnya. Pria itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Bi?" Rio mencari bibi, ia menemukan mereka—Bi Heni dan Tria sedang makan.
"Eh, kamu? Ayo makan dulu, pasti baru pulang, kan?" tanya bibi, sebelah tangannya bergerak mengambil piring untuk Rio.
Rio menggeleng sebagai tanda penolakan. Maniknya terfokus pada beberapa hidangan yang berada di meja. Bibi mengurungkan niatnya untuk mengambilkan Rio nasi, wanita itu menaikkan alis.
"Kenapa?"
"Zahra tadi habis dari sini, Bi?"
Bibi menggeleng, meletakkan piring dan centong nasi yang masih di genggamnya. "Bibi ga lihat adik kamu dari tadi, tadi bibi sempat ke depan. Nanya sama penjaga, katanya kalian belum ada yang pulang."
Bibi mengisyaratkan keponakannya itu untuk duduk terlebih dulu, Rio mengangguk. Tria menaruh sendoknya, gadis itu memangku wajah. "Loh? Bukannya Kak Zahra udah pulang dari tadi?"
Rio mengerutkan dahi. "Hah? Tadi gua ke kamarnya kosong gitu. Ga ada siapa-siapa."
Bibi berdiri, menuangkan cairan merah kehitaman hasil seduhan celupan yang masih hangat. Menambahkan beberapa sendok gula lalu memberikannya pada Rio. "Minum dulu, kamu pasti belum sempat minum dari tadi."
"Bener kok, Kak. Tadi pas gua tanya sama Kak Devan dan Kak Putra, kata mereka Kak Zahra udah balik."
Rio mengambil gelas di depannya, menyeruput cairan itu sedikit demi sedikit.
"Hmm, mungkin adik kamu lagi kemana gitu, mampir ke tempat temannya atau kemana. Ayo makan dulu!"
Rio menghabiskan teh miliknya. "Rio makan di depan aja. Nunggu yang lain! Bibi sama Tria lanjutin makan aja. Makasih tehnya."
Keduanya mengangguk. Ada rasa khawatir dalam diri Bi Heni, rasa-rasanya sekarang Zahra hampir tidak pernah—jika pergi tidak memberi kabar. Tapi ini, tumben sekali?
"Kamu beneran ga tau Zahra kemana, Ya? Atau kamu tanya temen-temen kamu."
Tria memainkan bibirnya, sama-sama bingung dan gundah. Gadis itu menggeleng pelan. "Tria tadi juga ga ketemu Kak Zahra sama sekali. Habis makan nanti coba aku tanya temen-temen."
Rio pergi dari rumah bibi, istirahat sebentar dengan menonton televisi sembari menunggu azan magrib tiba.
...****...
Sekitar jam delapan, Rizki baru pulang dengan tampilan acak-acakan. Jas yang tersampir di bahu, kemeja yang digulung sampai siku dan jangan lupakan dua kancing atasnya yang sudah terbuka, serta dasi yang raib entah kemana.
Pria itu sudah tidak sabar merendam diri dengan air hangat dan melepas penat setelah seharian bekerja.
Setelah sampai di ruang keluarga, ia malah menemukan saudaranya yang sedang memarahi seseorang lewat handphone.
"Kalian cari sampai dapat! Di kampus, apart, tempat mainnya, club, satu Jakarta kalau perlu kalian cari!"
"...."
"Jangan balik kalau belum ketemu!" Rio menutup sesi teleponnya dengan kesal.
Rizki mengusap dada, baru saja pulang sudah disambut oleh Rio yang tengah emosi. Padahal, tadi ia sudah menahan emosi karena salah satu arsip perusahaan di hilangkan oleh salah salah satu karyawannya. Jadi, pria itu pulang terlambat karena mencari arsip yang hilang tersebut. Setelah benda bersampul bening ditemukan, baru semua karyawannya diperbolehkan pulang. Beruntung karyawan itu tidak di PHK, hanya saja Rizki menyuruhnya libur selama satu bulan.
"Kenapa, Bang?" tanya Rizki dengan muka lelahnya.
"Lu kenapa baru balik juga, mana gua telponin ga ada yang lu jawab," balas Rio menahan kesal. Pantatnya kembali bertemu sofa di depan televisi, menatap Rizki yang lesu dan kacau.
"Sorry bang, tadi kantor ada masalah. Terus hape gue lowbet, mau pinjem power bank-nya temen, ga sempet mulu karena pada sibuk semua. Emang ada apaan, sih?"
Rio menghela napas, meletakkan ponselnya di atas meja. Berharap banyak jika layar hitam itu menyala, memunculkan beberapa notifikasi tentang keberadaan adiknya yang saat ini tiada kabar. Ia sudah menghubungi semua teman Zahra, tapi tidak seorang pun yang tahu.
"Lah tumben, di kamar kali dia!"
"Lu mau naik, kan? Nanti kalau mau turun mampir dulu ke kamarnya Zahra, lu cek dia ada di kamar apa engga! Kunci cadangannya ambil aja di laci nakas."
Rizki mengangguk kemudian menaiki tangga. Pria itu memutuskan untuk berendam dan membasuh wajahnya dengan shower. Setelah puas berendam, ia memakai setelan kaus dan celana pendek selutut, bukan kolor tapi. Rizki ke kamar Rio dulu untuk mengambil kunci cadangan, setelahnya baru berjalan ke kamar adiknya, yang bersebelahan dengan kamar Rio—yang berada di depan kamarnya.
Pintu terbuka dan tidak menampilkan apa pun. Little sister-nya tidak ada. Setelah kembali mengunci kamar, ia mengembalikan kunci cadangan itu di tempatnya tadi, kemudian menuruni tangga—menghampiri Rio.
Rizki duduk di sebelah Rio.
Laki-laki yang tengah gusar tersebut langsung menoleh ketika sofa di sampingnya diduduki seseorang. "Ada?"
Rizki menggeleng lesu. Banyak yang ia dengar tentang Zahra, dari Rio maupun Bi Heni. Tapi semenjak keluarga ini utuh kembali, rasanya mereka seperti menemukan Zahra yang sebenarnya—entahlah, walaupun mereka tidak mengetahui sifat asli gadis itu sebelum bersama mereka. Tapi mereka sudah cukup bersyukur dengan perubahan positif yang Zahra lakukan sekarang.
"Makan dulu, yuk? Gua belum sempat ngisi perut dari tadi siang," pinta Rizki dengan muka melasnya.
"Ya udah," balas Rio setuju, pria itu mematikan televisinya—membawa benda pipih navy itu bersamanya.
Bukannya mereka tidak mengkhawatirkan Zahra, tetapi menjaga kesehatan itu perlu. Jangan karena terlalu khawatir, malah membuat kita menjadi sakit dan melalaikan banyak hal.
Saat keduanya tengah menikmati olahan jamur crispy buatan Bi Heni, seorang bodyguard muncul dari depan.
"Maaf tuan—"
Rio memotong ucapan bodyguard tersebut, "Ada apa?"
"Kami menemukan beberapa petunjuk, Tuan!"
"Katakan!"
"Kami telah menyusuri semua tempat yang sering dikunjungi nona. Dari beberapa tempat itu, di kampus—kami menemukan bekas seseorang diseret secara paksa. Juga banyak jejak kaki yang menunjukkan adanya perkelahian. Kami juga menemukan ini."
Bodyguard tersebut menyerahkan sebuah dompet pada Rio. Keningnya berkerut tatkala menerima dompet yang tak asing itu, membukanya secara perlahan. Mengambil salah satu kartu berwarna navy, matanya menyipit—mengeja nama dari pemilik kartu. "Ul-ya-na-Zah-ra-Fit—ini punya Zahra. Ga salah lagi!" Rio segera memeriksa dompet itu, di sisi lain ia menemukan sebuah ponsel, pantas saja dompet ini terasa berat.
"Di mana kamu temukan dompet ini?" Rizki mengangkat dompet yang masih digenggam Rio tersebut.
"Aula belakang kampus, Tuan."
"Aula belakang?" Rizki bergumam, sambil berusaha mengingat sesuatu, dirinya dulu mulai menculik Zahra juga berawal di aula belakang itu.
"Di situ ada sebuah lorong, seperti jalan rahasia yang menghubungkan dengan jalan sepi belakang kampus?" tebak Rizki.
"Benar, Tuan. Jejak orang diseret itu berakhir sampai di situ. Setelahnya kami tidak menemukan apa-apa." Bodyguard itu menunduk takut.
Sial! Keduanya menduga jika orang yang diseret itu pasti permata kecil mereka, buktinya saja sudah ada di tangan Rio.
"Terus temen lu yang gua suruh buat jagain Zahra ke mana, hah?" Jika Rio menggunakan bahasa seperti ini pada anak buahnya, itu artinya pria berwajah lonjong tersebut sedang marah.
"Ma-maaf, Tuan. Mereka sepertinya juga dibawa oleh pelaku, mengingat tidak ada satu pun dari mereka yang melapor tentang kejadian ini."
"Pergi!" gertak Rio.
"Tunggu-tunggu!" Rizki menghentikan bodyguard yang ingin berlalu itu. Pencarian ini harus tetap dilanjutkan.
"Telusuri setiap jalan setapak yang berhubungan dengan jalan itu. Periksa setiap tempat yang mencurigakan!" perintahnya mutlak.
"Baik, Tuan."
Rio terduduk lemas, tangannya tergerak memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Disituasi seperti ini, sepertinya Rizki yang memiliki kendali diri lebih baik.
"Tenang bang, kita pasti bisa nemuin princess." Rizki menepuk bahu Rio.
"Gua gagal, Ki. Sekali lagi, gua gagal," lirih Rio putus asa.
Rizki menghubungi Robby untuk membantunya mencari adiknya yang hilang. Kalau lapor ke kantor polisi pun percuma, karena kasus ini belum ada 1×24 jam. Rizki menghela napas, setidaknya keluarga ini punya beberapa orang kepercayaan. "Princess pasti ketemu, dia akan selamat," ucapnya yakin.
Rio berdiri dan mencengkeram kaus yang Rizki pakai. "Lu pikir penculiknya penculik abal-abal? Apa pun bisa dia lakukan, dia nekat. Lu tau itu, kan? Lu ga ingat, dia berusaha nyelakain Zahra? Gua yakin dia pasti orang yang sama. Gua harus cari Zahra!"
Rizki menahan lengan Rio. "Lu ga bisa cari Zahra dalam keadaan begini, bahaya! Salah-salah, nanti malah lu yang celaka. Kalau mau nyari, kita cari sama-sama. Dinginin pikiran lu dulu, itu akan lebih baik."
Rio mengangguk mendengar saran Rizki, betul juga—emosinya selalu tak terkendali jika seperti ini. Pria itu berjalan menaiki tangga, mungkin akan meminum aspirin dan mengistirahatkan pikirannya sejenak. Sedangkan Rizki, ia membereskan sisa-sisa makan mereka yang berantakan.
Sambil membereskan itu ia berpikir. Ia bingung, ia harus bagaimana? Petunjuk tentang Zahra pun terbatas, andai saja keluarganya masih utuh hingga saat ini. Pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Seandainya dia dulu tidak mengikuti egonya dan tetap berada di rumah ini. Ia yakin, kekuatan besar akan tercipta, lebih dari cukup untuk mengalahkan musuh besar ayahnya. Ia hanya sanggup berandai. Jauh di lubuk hatinya, ia membenci dirinya yang egois. Bolehkah ia meminta Tuhan memberikan sesuatu yang mustahil? Bolehkah jika ia meminta kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya? Bolehkah ia meminta, jika orangtuanya kembali? Apa bisa? Apa Tuhan akan mengabulkan permintaannya? Kapankah rasa bersalah ini usai?
"Mamah?"