
Saat ini Zahra dan teman sepermainannya tengah berada di kantin, menunggu pergantian kelas dengan mengisi perut yang sudah menguar-nguar tanda kelaparan.
"Jadi, tempat mana yang beruntung kali ini untuk kita kunjungi?" tanya Zahra, sambil memasukkan sesuap mie pada mulutnya.
"Bukannya lo semalam nyimak, ya?"
"Itu mah, abang gue yang acc. Sebenarnya gue ga minat sama GC yang lo bikin. Berisik banget asli."
"Lo mah gitu ...." Teman-temanya membuat pose merajuk, Zahra jadi geli sendiri.
"Udah deh, ga usah gitu kalian."
"Tempat beruntung kali ini, yang bakal didatangi cogan sama cecan adalah—"
"Halah, ga usah sok ngartis lo ... kek presenter award aja."
"Kita ke Raja Ampat," ujar semuanya serentak. Membuat warga kantin memerhatikan meja mereka, sementara Zahra, gadis itu malah menjatuhkan rahang. "Hah?"
"Lo ga suka? Atau tempatnya kurang nyaman mungkin?" tanya Ardelia yang berada di sebelah kiri Zahra. Sepertinya Zahra terkejut jika dilihat dari ekspresinya.
"Eng–enggak. Kalian milihnya ga nanggung-nanggung." Keterkejutan Zahra hanya sementara, buktinya sekarang gadis itu tengah memakan mienya dengan lahap.
Mengapa mereka memilih destinasi Raja Ampat? Raja Ampat menjanjikan pemandangan indah, bukan hanya daratan tetapi juga pemandangan laut yang indah. Air laut yang berwarna hijau tosca itu menarik segenap anak muda ini untuk menyelaminya.
Raja Ampat juga menyajikan pemandangan senja yang tiada duanya. Spot terbaik untuk menyaksikan pemandangan senja tersebut adalah Saonek Monde. Saonek Monde adalah pulau kecil tak berpenghuni. Luasnya tak lebih dari satu hektar, namun keindahannya begitu memesona.
Selain itu semua, penduduk lokal yang ramah seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Raja Ampat memang cocok bagi mereka yang ingin menenangkan diri, terlebih bagi para mahasiswa ini. Sejuknya alam yang alami, tanpa adanya polusi, membuat siapa saja yang datang akan merasakan kenyamanan dan ketentraman yang haqiqi.
"Jadi, berapa orang yang ikut?" tanya Zahra pada yang lain.
"Totalnya ada 21 orang," jawab Ica sambil memerhatikan ponselnya.
"Dua puluh satu? Banyak amat. Coba lihat!"
Ica memberikan ponselnya pada Zahra, gadis dengan kuncir kuda itu memerhatikan daftar nama tersebut dengan seksama. "Ini yang nambahin gengnya abang gue sama Una siapa, ya?"
"Gue," sahut Devan yang berada di samping kanan Zahra. Ia lupa kalau Devan itu juga salah satu member gengnya Rio.
"Gue yang invite Una dan temannya. Ga papa, kan?" tanya Putra, takutnya Zahra tidak setuju jika ia mengajak Una dan kedua temannya.
Sebenarnya ada dua orang lagi yang tak disebutkan, tapi Zahra yakin jika yang memasukkan adalah kakaknya. Zahra manggut-manggut. "Ohhh ...." Teman-temannya yang melihat itu menepuk jidat mereka, ternyata hanya seperti itu respon Zahra. "Emm, kalau pesertanya tambah dua orang lagi gimana?"
"Yee, gue kira lo mau marah," ujar Ina setelah memandang Zahra cukup lama.
"Ngapain marah coba. Jadi gimana, kalau tambah dua orang?"
"Iya, ga papa," jawab Ardelia.
"Yang lain?"
"Ga papa, Zahraku sayang," jawab yang lainnya serentak.
Zahra terkekeh dengan kekompakan teman-temennya. "Oke. Jadi gini buat cewek-cewek, kalian cari travel terus pesan tiket airline kelas biasa aja, sebanyak 23. Tujuan Raja Ampat, jangan lupa! Ntar kalian mesennya yang tujuan lain. Nahh, buat cowok-cowok, kalian cari penginapan yang cocok untuk 23 orang ini, kalau bisa yang berkapasitas 25 orang. Gimana? Paham kalian semua?" kata Zahra panjang lebar.
"Lanjut, Ra. Kayaknya pidato lo belum kelar," kata Jaka.
"Oke. Di Raja Ampat itu banyak destinasinya, kalian tentukan aja tempat mana yang perlu kita kunjungi. Setelah itu konfirmasi ke gue. Oh ya, satu lagi. Buat konsumsi, kalian ga perlu khawatir. Akan ada kurir yang selalu mengantar makanan ke penginapan. Tapi jika kalian ingin makan di luar, kalian konfirmasi sebelum jam makan, paling lambat satu hari sebelumnya. Di penginapan tersebut akan disediakan mie instan sama makanan kaleng. Jadi, kalian tinggal hangatin aja kalau sewaktu-waktu lapar. Itu aja sih, ada yang ditanyakan?"
"Ini kita liburannya berapa hari, ya?"
"Kurang lebih satu minggu. Ada lagi?"
"Udah, semua pidato lo udah gue rekam, nanti gue kirim ke GC."
"Good joob girl. Jadi pembahasan holiday kita sampai di sini aja, yang lain digrup aja."
"Oke."
Mereka melanjutkan makan sambil sesekali bercanda riang. Zahra yang telah selesai melakukan ritual makan, segera berdiri. Devan menahan tangan Zahra, ketika merasakan pergerakan di sampingnya.
"Kemana?" tanya Devan.
"Toilet, kebelet pipis." Zahra pergi setelah Devan melepas cekalannya.
Zahra segera masuk ke salah kamar mandi yang ada di kantin, setelah itu ia berkaca sebentar. Membenarkan tatanan rambutnya yang berantakan.
Seorang wanita paruh baya masuk dengan tergesa, wanita itu tak sengaja menyenggol Zahra hingga mengakibatkan tote bag yang dibawanya terjatuh.
Zahra segera mengambil tas itu sebelum wanita paruh baya tersebut menunduk. Kebetulan sekali tote bag itu terjatuh di dekat kakinya.
"Maaf, saya terburu-buru," ujar wanita yang menjatuhkan tas.
Suara itu, batin Zahra, tapi ia tetap mengambilkan tas yang terjatuh itu.
Setelah mengambil tas, Zahra berdiri tegak. Ia dapat melihat dengan jelas, dengan sangat dekat siapa wanita itu. Mata mereka beradu, mencoba menelisik satu sama lain lebih jauh.
"Zahra ...."
Zahra tersadar dari tatapannya ketika wanita di depannya menyerukan namanya.
Zahra tergagap seketika. "Ma-mami ...."
Wanita itu menunggu reaksi Zahra selanjutnya.
"Gak, gak mungkin. Mami udah ga ada," gumamnya pelan sambil menunduk. Zahra memberikan tas ibu itu. "I-ini tasnya. Saya permisi." Zahra keluar begitu saja, meninggalkan seorang paruh baya yang belum sempat mengucapkan terimakasih.
Seseorang itu menghela napas. "Kenapa putrimu selalu shock begitu bertemu denganku? Semirip itukah kita? Bahkan, aku sangat yakin jika dia putrimu. Padahal aku sama sekali tak mengenalnya," gumamnya sambil membuka pintu toilet. Ia tersenyum kecut.
"Dia memang putriku!" sahut sebuah suara.
"A-apa? Siapa kau?" teriaknya di dalam toilet
"Ini aku, Zaskia. Jaga dia untukku, Az," pinta suara itu.
"I–itu ... be–benarkah kau?" tanya paruh baya itu, semakin parau seperti menahan sakit. Apa ini semua nyata? Azkia sendiri ragu akan hal ini.
Hening.
Tidak ada jawaban.
"Zaskia, jawab aku! Di mana kau?" teriaknya lagi.
Lagi-lagi hening.
Kenyataan seolah menghantamnya, apa benar Zaskia telah tiada?
Sementara itu, Zahra berjalan ke arah teman-temannya dengan terburu, seolah dikejar setan. Gadis itu berdiri di belakang Devan, lalu menepuk bahunya.
"Apa?" tanya Devan tanpa menoleh, matanya terfokus pada ponsel yang tengah melakukan penyerangan.
Tripple kill!
"Kunci mobil?" pinta Zahra. Memang tadi Zahra berangkat lagi bersama Devan.
"Buat apa?"
"Ambil tas, pulang." Zahra memang tidak membawa tasnya masuk ke kampus, ia letakkan di mobil Devan. Sedangkan, barangnya ia titipkan di tas Devan. Hm, pintar sekali.
"Perset*n. Gue ga peduli. Mana kunci mobil lo?" Zahra menengadahkan tangannya seperti preman yang ingin merampas hasil uang dagang.
Devan mematikan gamenya, kemudian berbalik menatap gadis yang berdiri di belakangnya.
"Yahh, Van. Lo kok mundur?" maki Jaka.
"Sabar, Bro. Cewek itu lebih penting dari pada game," sahut Ina, setelah itu tertawa setan sambil beberapa kali menepuk pundak Jaka.
Entah kenapa, hati Devan mengatakan jika ada yang tak beres dengan Zahra. Maka dari itu ia ingin mencari tahu.
"Gue anter—" Devan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Zahra yang ingin melayangkan protes, "sampai mobil," lanjut Devan. Gadis itu mengangguk.
"Woyy, kalau mau drama jangan di sini dong. Di sini masih ada kita yang jomblo."
"Dunia serasa milik berdua, yee?"
"Yang lain mah ngontrak."
"C*t!" seru Zahra ketus pada teman-temannya.
"Ra, lo mau bolos, ya? Ikutan dongg," rengek Ica.
"Ga. Gue lagi pengen sendiri." Zahra berjalan menjauhi meja diikuti Devan di sampingnya.
"Itu anak kenapa?"
"Kesambet setan toilet kali."
Sesampainya di depan mobil, Devan tidak langsung memberikan kunci mobilnya pada Zahra. Ditatapnya gadis di depannya ini, tangannya bergerak membenahi rambut Zahra yang terkena terpaan angin.
"Kamu kenapa?" tanya Devan lembut, sambil menatap mata dihadapannya.
Zahra memeluk laki-laki di hadapannya, menumpahkan segala tangis dan kegundahannya.
Devan membalas pelukan Zahra dan mengusap punggungnya perlahan. "Kenapa?" tanyanya sekali lagi. Tak ada jawaban, hanya ada suara tangis sesenggukan.
"It's oke, kalau ga mau cerita. Nangis aja jika itu bikin kamu baik."
Zahra melepas pelukannya setelah beberapa menit. Devan menghapus sisa air mata yang menggenang di pelupuk gadis dihadapannya.
"Maaf, baju kamu basah."
Devan menggeleng. "Cuma kamu yang boleh basahin baju aku." Devan tersenyum melihat Zahra, sepertinya gadis itu lebih baik setelah menangis.
Zahra tersipu dan memalingkan wajah. Devan terkekeh saat mendapati bibir Zahra yang sedikit melengkung ke atas dengan pipi yang bersemu merah.
"Bentar, aku ambilin tas kamu." Devan masuk ke mobil dan memberikan sebuah ransel pada pemiliknya. Gadis itu lalu membongkar tas Devan lalu memindahkan barangnya ke tas miliknya.
"Makasih."
"Kamu hati-hati. Aku masuk dulu."
"Iya."
Devan kembali ke teman-temannya. Ia terkejut begitu meliat Ardelia sudah tidak lagi di tempatnya.
"Lah, Ardel kemana?"
"Pulang kali. Tadi mamanya dateng, kek abis nangis gitu, terus sama Ardel diajak pulang."
...****...
Zahra memasuki sebuah restoran, matanya mengedar ke segala penjuru. Rupanya restoran tersebut sudah terisi penuh. Saat akan berbalik, seorang waiters menghampirinya.
"Maaf, Nona. Ruang dan kursi VIP saat ini kosong. Apa nona mau?"
"Baik, antarkan saya ke kursi VIP." Zahra mengikuti waiters menuju kursi VIP. Kursi empuk dan agak jauh dari kursi pelanggan biasa.
"Nona ingin memesan apa?" Waiters itu telah berdiri tak jauh dari Zahra, di tangannya terdapat sekumpulan kertas seperti bill dan bolpoin.
Zahra membuka buku menu di depannya, membukanya sebentar lalu memandang pelayan. "Saya ingin ayam rica-rica dan anggur."
"Maaf. Kami tidak diperbolehkan menghidangkan menu seperti itu kepada nona."
"Begitu ya, bagaimana jika kandungan cabainya dikurangi, bisa? Lalu anggurnya ganti dengan lemon tea sama nasi goreng seafood."
Zahra akan sakit perut jika mengkonsumsi makanan pedas, apalagi setelahnya meminum alkohol. Lagi pula, Deron tidak ingin putrinya rusak karena alkohol. Zahra lupa jika saat ini ia berada di salah satu restoran cabang milik keluarnya, bukan cafe miliknya. Itulah mengapa waiters tersebut tidak memberikan apa yang Zahra minta.
"Tunggu sebentar, Nona."
"Iya."
Zahra merenung, matanya menatap bambu-bambu hijau yang berada di sudut ruangan. Tapi pikiran dan konsentrasinya berada pada kejadian di toilet tadi.
"Wanita itu lagi ...."
Apa benar wanita itu yang dicarinya, apa itu kembaran Zaskia? Tapi, wajah mereka tidaklah mirip, hanya mata, alis dan bentuk wajah. Bahkan rambut mereka tidak sama. Zaskia memiliki warna rambut hitam, sedangkan wanita tadi cenderung coklat.
"Tapi, kenapa hati dan pikiran gue bertolak belakang?"
Makanan yang dipesan Zahra telah datang, gadis itu memutuskan untuk melahap ayam rica-ricanya terlebih dahulu—juga menjadikannya lauk nasi goreng.
Zahra menghabiskan seporsi nasi goreng dan ayam rica-ricanya, perpaduan yang nikmat. Nasi goreng yang dibuat langsung dengan resep ayahnya, sehingga rasanya khas. Tidak ada restoran lain yang menyajikan nasi goreng selezat nasi goreng di restoran besutan ayahnya. Bahkan, nasi goreng Bi Heni dan Rizki pun kalah enak.
"Waiters."
Waiters yang baru saja meletakkan pesanan di meja lain itu menghampiri Zahra.
"Tolong, nasi gorengnya lima porsi dibungkus, ya? Oh ya, beri saya lemon tea lagi, coffee late dan onion ring, oke?"
"Baik nona, pesanannya akan sampai 10 menit lagi."
...****...
Dua orang dewasa tengah mengamati gadis yang memakai jaket kulit dari kejauhan. Wanita dengan dress biru panjang yang tampak elegan dengan seorang pria berjas yang berwibawa. Ah, jangan lupakan kaca mata gelap yang bertengger indah di hidung mancung mereka. Kacamata yang membuat mereka semakin memesona.
"Lihatlah, Mas. Anak kita telah dewasa."
Pria itu menurunkan sedikit kaca matanya, lalu membenarkannya kembali. Mengamati seorang gadis dengan lekat-lekat, gadis yang tengah menikmati nasi goreng sembari melamun. Terbitlah seulas senyum di bibir pria itu.
"Bagiku, dia tidak lebih dari gadis kecil manis saat kutemukan 12 tahun yang lalu."
"Kamu ini, anak sudah dewasa seperti itu dibilang masih anak-anak."
"Ayolah, kamu hanya iri padaku karena tidak bisa bergaul dengannya sewaktu kecil."
Wanita itu memberengut kesal.
"Sudahlah. Ayo pergi, sudah cukup aku melihatnya kali ini. Jika berlama-lama, takutnya ada orang yang mengenali kita."
"Padahal aku masih ingin melihatnya ... kamu enak kadang bisa ngikutin anak-anak. Lah aku, kamu kurung di mansion."
Pria itu membelai rambut hitam panjang milik istrinya, rambut yang halus dan selalu beraroma vanilla. Ia menyukainya sejak pertama kali menikah. "Sorry, Dear. Begitu banyak yang menginginkannya. Terpaksa aku harus melakukan semua ini. Akan ada saatnya kamu bisa melihatnya dengan bebas, Sayang."
Wanita itu menghela napas. "Baiklah. Kurasa sudah cukup."
Pria itu tersenyum, melepaskan tangannya dari kepala sang istri. Beralih menautkan jemarinya, berjalan dengan bergandengan menuju pintu keluar. Pengunjung restoran lain sejak tadi mengamati mereka, siapa orang kaya itu? Kenapa rasanya tidak asing?