Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
26. Dating


"Eh, ada Putra? Ngapain?" Zahra duduk di antara Rio dan Putra sambil mengeringkan rambutnya. Ya, Zahra baru selesai mandi.


"Mainlah, Yang. Gitu amat ama cowok sendiri," jawab Putra.


"Ha–ha, iya-iya. Bercanda kok. Eh, sejak kapan nih kakak jadi bersahabat gini sama Putra? Dulu kayaknya seperti kucing sama anjing, tengkar mulu," tanya Zahra.


Rio dan Putra sedikit memberinya jarak untuk mengeringkan rambutnya yang lebat dan panjang. Sebenarnya tidak sopan, masa ada tamu malah tuan rumahnya sibuk mengeringkan rambut. Namun jika tamunya adalah Putra, mungkin itu yang menyebabkan Zahra menjadi tidak sopan.


"Lupa?" tanya Rio sambil merebut hairdryer Zahra dan membantu mengeringkan rambutnya.


"Apa?" Zahra mencomot pisang goreng yang masih hangat dan memakannya.


"Entahlah." Rio tetap melanjutkan mengeringkan rambut adiknya.


"Mau jalan kemana nih kita?" tanya Zahra pada Putra. Tapi pemuda itu diam tak menanggapi ocehan gadisnya.


"Put?" Lagi-lagi Putra masih diam.


"Heh!" Zahra memukul paha kekasihnya.


"Kenapa, Sayang?" Putra meletakkan handphone-nya dan menatap Zahra.


"Mau jalan ke mana? Chat sama selingkuhan mah beda, ya? Chat gue aja lama balesnya, tapi kalau chat selingkuhan belum ada semenit udah dibales aja," kata Zahra diakhiri gerutuan.


Putra terkekeh dan mengusap rambut kekasihnya yang telah mengering. "Are you jealeous?"


Rio menatap adiknya serta kekasih Zahra. "Gue ke atas dulu, ogah gue jadi obat nyamuk." Rio pergi sambil membawa hairdryer milik adiknya.


"Tumben abang lo di rumah?" Putra terkekeh geli melihat raut wajah Zahra yang kelewat sebal. Putra mencolek pipi gadis itu dan membawa Zahra ke dekapannya. "So, lo maunya siapa yang maju? Gue atau Devan? Atau mundur aja dua-duanya? Mau opsion yang mana nona manis?"


Ya Devan lah, lo kan demennya sama adiknya Bang Diki. Lagian kita kan cuma pacaran kontrak, ga mau makan ati gue!


Zahra menjauhkan diri dari Putra saat cowok itu kembali memeluknya. "Udah deh, ga usah sok manis gitu. Ga pantes lo!"


Putra terkekeh lagi dan mendempet Zahra. "Napa jauh-jauh si? Gue bau, ya?" Putra mengendus badannya.


"Jauh-jauh lo!" Zahra kembali menjauhi Putra, ia berpindah ke sofa di depannya.


Putra kembali ke samping Zahra. "Ganti baju gih, kita jalan."


Zahra mengangguk, belum sempat ia berdiri, ia dikejutkan oleh suara sang kakak.


"Gue mau keluar, kalo pulang jangan malem-malem. No club from now!" Rio menatap tajam Putra, laki-laki itu hanya bisa tersenyum kalem.


"Iye, slow aja, Bang."


"Mau ke mana, kak? Rapi banget, katanya tadi ga ke kantor," tanya Zahra


Rio hanya tersenyum kecil kemudian melangkahkan kaki menuju garasi. Suara deru mobil berkumandang, itu artinya Rio telah berangkat.


"Ke mana tuh, aneh gitu," celetuk Putra.


"Tau." Zahra mengetikkan sesuatu di handphone-nya.


"Gue ke atas dulu, don't touch my handphone!" omel Zahra pada Putra, ketika pacarnya ingin menyentuh handphone miliknya.


Zahra turun dengan pakain kasual, kaus couple yang sama dengan yang Putra pakai saat ini. Hanya saja punya Zahra ada tambahan blazernya.


Zahra menyenderkan kepalanya di bahu Putra, mereka memang sudah berada di dalam mobil. "Mau ke mana?" tanya Zahra pelan.


"Surprise dongg, kita kan jarang jalan sekarang. Jadi kalo mau jalan ya di surprise-in," jawab Putra.


Putra mulai menjalankan mobilnya.


"Alay lo, kek bocil jaman now." Putra menautkan jemarinya di jemari Zahra. Sementara tangan yang satunya mengemudikan mobil.


"Tangan lo anget, sakit?"


"Enggak kok, cuma anget biasa aja."


"Beneran? Kalo bener sakit kita putar balik aja, lo biar istirahat!"


"Bener kok, i am fine!" Zahra menyakinkan Putra bahwa ia baik-baik saja dan memang dia baik-baik saja. Putra saja yang lebay!


"Lo tiduran aja, ntar kalau udah sampai gue bangunin!"


Zahra mengangguk, ia mengambil bantal dari jok belakang dan menempatkannya di samping kiri kepalanya, agar kepalanya tidak sakit saat terbentur jendela.


Putra mendengar dengkuran halus pertanda Zahra telah nyaman dengan tidurnya, ia menarik tangannya yang berada di pangkuan Zahra dan mengecup kening gadis itu pelan. Kemudian kembali mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata.


Putra menatap gadis yang terlelap di sampingnya melalui kaca tengah mobil. "I am sorry," gumamnya lirih.


Seulas senyum terbit di bibir ranum Zahra, apa gadis itu mendengar gumaman putra?


...****...


"Kenapa si, dari tadi lo senyam senyum sambil liatin HP, jadi ngeri gue sama lo."


Defi mengibaskan tangannya di udara. "Huhhhhh, adem banget. Pen bobo gue."


Rani menggoyang-goyangkan lengan Defi. "Heh! Ga usah ngalihin pembicaraan deh, lo!"


Defi mendelik ke Rani, "Ganggu!"


Rani ingin merebut HP Defi, tapi Defi buru-buru memasukkan HP itu ke sakunya. "Ga boleh, privasi!"


Rani menunjuk-nunjuk wajah Defi dengan telunjuk yang di uget-ugetkan.


"Apa si?" Defi menangkap telunjuk itu dan menurunkan tangan Rani yang berada di depan wajahnya.


"Aaaaaa ... gue tau, gue tau," kata Rani heboh.


Rani berisik banget dari tadi, mau seneng aja ga bisa, batin Defi. Gadis berambut sebahu tersebut memasang wajah datar, "Apa?"


"Lo lagi chatan sama doi, sama Rio yaaaa ...," tebak Rani ngasal.


BLUSHHHHH


"Tuh kan, gue bilang juga apa. Lo chatan sama Rioo, ketauan kan, ha–ha–ha." Gadis itu terkekeh.


"Ap-apaan sih." Defi mengelak padahal wajahnya merah padam, tanda dia malu.


Sial emang! Rani t*i.


"Mau jalan kan lo, ngaku lo!"


"Eng-enggak kok. Si-siapa juga yang mau jalan," elak Defi.


"Halahhh, ngomong gagap gitu masih mau bohong. Ga cocok lo!"


BRAKKK


Defi menggebrak meja dan berlalu meninggalkan perpustakaan. Rani terpingkal-pingkal di tempatnya. Gadis itu menghentikan tawanya lalu menyapu cairan bening di ekor matanya.


"Aduhhh, komuknya ga nahan, sumpah," kata Rani sambil memukul-mukul meja di depannya.


"Jangan berisik!" tegur seorang laki-laki yang sedang membaca buku ensiklopedia. Rani hanya cengengesan.


"Bisa gitu ya orang kasmaran, serem juga," Rani terkekeh, "gue pergi dulu cogan, jangan kangen ya ...." Rani mencolek bahu laki-laki itu dan mengikuti Defi keluar perpustakaan.


Defi keluar dari area kampus dengan wajah tertekuk. Ia menghampiri seorang pria yang sudah menunggunya di samping mobil. Pria itu membukakan pintu untuk Defi.


"Makasih," ucap Defi.


Pria itu memutari mobil lalu duduk di belakang kemudi. "Gimana tadi kelasnya?" tanyanya sambil menancap gas mobil.


"Lancar kok. Gimana sama pengganti gue di kantor?"


"Aman banget. Zahra bisa pinter gitu ya milih orang, sampe ga percaya gue kalau Zahra yang dapet." Pria itu terkekeh.


"Jangan salah. Meskipun dia tampang amburadul, tapi soal kerjaan dia luar biasa."


"Tau. Tapi gue heran deh, dia bisa nemu orang kek gitu tuh di mana?"


"Entahlah."


Setelah itu tidak ada percakapan lagi, Defi memilih memasang earphone dan Rio fokus mengemudi. Entah Defi yang malas bertanya kemana Rio membawanya pergi atau entah tak peduli mau dikemanakan saja ya terserah.


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, mobil berhenti di depan sebuah kebun bunga.


"Yuk, turun!" ajak Rio.


Namun, tidak ada jawaban dari Defi, setelah dilihat ternyata gadis itu tertidur. Rio melepas earphone yang Defi kenakan, lalu membangunkannya perlahan.


Defi membuka matanya dan terkejut mendapati wajah Rio yang hanya beberapa senti darinya. Wajah Defi memerah.


Defi memundurkan kepala dan Rio yang berdehem salting. "Yuk keluar!"


Rio menggandeng tangan Defi memasuki kebun bunga tersebut. Mereka berjalan beriringan.


"Kebun bunga?" tanya Defi tak mengerti.


"Heem. Banyak lho jenis bunga di sini. Kebanyakan bunganya bunga lokal, jadi yang bunga khas luar Jawa ada juga di sini," jelas Rio.


"Eh? Seriusan? Jadi bunga anggrek larat ada juga ya? Suka banget tau sama itu bunga," kata Defi berbinar.


"Hm, suka banget? Kenapa emang bunganya?"


Defi mengangguk mantap. "Iya, suka banget. Tau ga? Bunga itu masuk salah satu bunga langka di Indonesia dan kebetulan persebarannya masih terbatas. Paling banyak si, di Kalimantan. Makannya, gue juga pengen rawat itu bunga, siapa tau besok gue bisa buka budidaya tanaman langka."


"Aamiin, niatan lo bagus. Membudidayakan tanaman langka biar ga cepet punah. Nanti kita beli aja sama bibitnya sekalian, kalo ada si. Mau ga?"


"Mauuu!"


Rio melepas genggaman tangannya dan merangkul pinggang Defi ketika para pria yang ada di sana melirik gadis di sampingnya.


Lain dengan Rio yang stay cool, rasanya jantung Defi yang lagi berdegap-degap mau loncat keluar. Rio tak tahu apa yang dilakukan membuat jantung Defi deg-degan dari tadi. Enak banget main rangkul!


Rio membawa Defi melihat-lihat bunga yang ada di sana. Mata gadis itu berbinar ketika menemukan bunga yang di carinya.


Defi menghampiri bunga tersebut dan memperhatikannya.


"Pilih aja bunga yang lo suka, ntar bawa pulang!" kata Rio dan disetujui Defi dengan senyuman lebar. "Gue kesana dulu," tunjuk Rio pada beragam jenis bunga mawar. Defi tidak menghiraukan Rio, ia telah disibukkan dengan bunga yang dipegangnya.


Rio melihat-lihat bunga mawar, ia memilih mawar merah. Ia juga melangkah menuju deret lily, lily biru yang menawan. Ia akan berikan untuk adiknya.


Rio telah selesai melihat-lihat bunga, ia membawa mawar dan lily tersebut ke kasir, setelah itu ia menghampiri Defi yang masih disibukkan dengan bunganya.


"Ambil aja bunganya!" suruh Rio. Defi kaget ketika ada tangan melingkari pinggangnya, kemudian suara Rio terdengar.


"Ambil? Ga papa nih?" tanya Defi memastikan.


Rio mengangguk, "Iya, ambil aja!" mereka berjalan menuju kasir, "masih mau lihat-lihat bunga lagi ga?"


Defi menggeleng. "Takutnya kalau lihat-lihat ntar kepengen beli, kan gue lagi nabung."


"Gue bayarin!"


Defi menggeleng pelan. "Makasih, lain kali aja," Defi memperlihatkan anggreknya, "ini aja cukup!"


"Ya udah, kalau gitu abis ini kita makan," putus Rio. Diam-diam Rio membelikan bibit bunga anggrek larat, bibit itu nantinya akan dikirimkan ke kosan Defi sebagai hadiah.


Setelah membayar, mereka menuju restoran. Restoran yang Defi ketauhi adalah salah satu cabang resto milik Ario Company. Restoran dengan nuansa modern yang menyajikan makanan lokal dan kontinental. Ada makanan lokal daerah lain juga di sana. Kebanyakan desert yang tersedia di restoran ini kebanyakan lokal.


Restoran dua lantai yang merogoh kocek pelajar, tapi meninggalkan kesan mewah di resto itu. Harga mulai 15 ribu hingga 200 ribu ke atas untuk makanan, sedangkan minuman biasanya 5 ribu hingga 40 ribu.


****


Hore update 🥳🥳🥳


Eh iya, kalau misalkan cerita ini dikasih visual atau cast kalian suka ga? Dijawab yahh,,,,


See you again ❤️