Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
67. Dikunjungi Temen


Seorang gadis masih bergelung nyaman dengan selimut Hello Kitty tebalnya. Kicauan burung dan suara alarm sama sekali tak memengaruhinya, ia tetap nyaman dengan posisi seperti itu.


Pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok pria dengan kemeja putihnya. Pria itu membuka jendela kamar, agar cahaya dan udara dapat berganti. Silau mentari pagi tampak mengenai wajah sang gadis, tapi lagi-lagi gadis itu tak terusik.


Pria itu lalu duduk di pinggiran ranjang. "Dek, bangun, yuk. Udah siang, nih." Rio menyibak selimut yang dipakai Zahra lalu mengguncangkan badannya. Ia mengguncang dengan sangat kencang hingga adiknya itu cepat tersadar.


"Eughh." Zahra melenguh dan membuka matanya perlahan-lahan. Ia mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih berkeliaran di alam lain. Salah satu tangannya terangkat ke atas, meminta seseorang yang ada di dekatnya untuk membantunya duduk. Rio yang paham akan hal itu segera menyamankan posisi dan menarik tangan adiknya.


"Jam berapa?" gumamnya pelan sambil menunduk.


"Jam tujuh. Mandi ya, kakak siapin airnya. Mau make air hangat apa dingin? Hm?"


"Biar bibi aja. Kakak kan udah rapi, nanti kemejanya basah kena cipratan air."


Rio terkekeh. "Bibi mana kuat gendong lo, udah gede juga. Ntar gue panggilin Rizki, dia tadi katanya mau berangkat nelat, pengen ngurusin lo dulu katanya."


Zahra meninju pelan lengan Rio. "Udah kurus ini, mau dikurusin gimana lagi?"


Rio membenarkan tatanan rambut Zahra yang berantankan sehabis tidur, lalu membantu gadis itu untuk merapikan kasurnya.


"Lo ini. Jadinya air dingin apa air hangat?"


"Dingin aja."


Rio mengangguk lalu keluar dari kamar. Zahra duduk di kasur sambil menunggu Rizki, ia meraih handphone yang berada di nakas. Baterainya sudah penuh. Benda pipih itu menyala, gadis itu segera menghidupkan WiFi dan membuka salah satu aplikasi game online.


Rizki masuk hanya dengan kaus oblong dan boxer abunya, laki-laki itu langsung masuk ke kamar mandi Zahra. Menyiapkan air, sabun dan parfum, ia sudah hafal di luar kepala kebiasaan adiknya tersebut. Terakhir, Rizki menambahkan sedikit taburan mawar seperti kebiasaan gadis mungilnya.


Rizki merebut handpohone yang sedang dimiringkan itu, Zahra menatap Rizki memelas. "Mandi dulu, biar seger. Biar ga bau asem."


"Iya-iya."


Rizki segera merengkuh badan Zahra dan membawanya ke kamar mandi. "Bathrobe-nya gue gantung sini, ya. Nanti kalau udah selesai teriak aja, gue ada di luar."


Zahra segera melakukan ritual mandinya, gadis itu mandi sambil bermain air yang berbusa.


...****...


Sekarang Zahra sudah siap melakukan aktivitasnya. Kedua kakaknya telah berangkat ke kantor, sementara bibi sedang menyelesaikan pekerjaan rumah.


Zahra mengambil ponselnya, membuka salah satu aplikasi dengan ikon hijau. Ia mengetikkan suatu nama di sana.


...DevanGRama...


^^^Devan^^^


Hm


Kenapa?


Eh, bentar?


Ini Zahra?


^^^Iya, aku^^^


^^^Bu Anya belum dateng?^^^


Alhamdulillah, kamu udah bangun


Belum


Kenapa?


^^^Nanti kalau ada tugas kamu share ya, aku kerjain dari ini. Kalo udah selesai biar aku kirim email aja ke dosen matkulnya langsung.^^^


Okee


Oh ya, nanti aku ke sana sama anak-anak


Udah kangen banget sama kamu, habisnya kemaren aku ke sana kamu belum bangun


^^^Iya, aku tunggu ^^^


^^^Hehe, lusa aku bangunnya, tapi bentar doang. Habis itu tidur lagi^^^


Ya udah, kamu istirahat aja.


Nanti bangun pas aku ke sana


^^^Nope^^^


^^^Capek tau tidur mulu^^^


😒😒


Eh, suara sepatunya Bu Anya udah kedengeran nih


Aku off, ya


^^^Oke^^^


^^^Semangat belajarnya^^^


Makasih sayang😘


^^^Masama😘^^^


Zahra duduk bersila di atas kasur. Kini di depannya telah siap laptop, handphone, charger laptop, mouse, earpiece untuk pendukung suara agar jernih dan satu toples kue kering yang kemarin bibi buat.


Zahra membuka toples kue keringnya, mengambil salah satu kue lalu mengunyahnya. Gadis itu meraih handphone-nya, mengetikkan sesuatu di layar hitam itu.


Ia kemarin sudah menghubungi Revan untuk memberitahukan bahwa hari ini akan diadakan rapat online yang dipimpin langsung olehnya. Rapat itu dilakukan oleh Zahra selaku ketua utama BD dan para tangan kanannya yang berada di Indonesia maupun yang sedang berkelana di negara tetangga.


Sebenarnya rapat ini akan diadakan di markas Black Devil, tapi karena keadaan Zahra yang tidak memungkinkan maka ia melakukannya dengan cara online.


Mereka melakukan rapat selama dua jam. Topik utama mereka adalah tentang pencarian Dion dan Atha ke seluruh penjuru dunia. Gadis itu menyuruh anak buahnya menyebar untuk mencari dan menangkap kedua iblis tersebut.


Topik lainnya adalah tentang kemajuan BD itu sendiri. Setelah obrolan serius mereka selesai, mereka saling melemparkan joke untuk menghibur ketua mereka.


Terbukti saat ini, Zahra tengah tertawa terbahak-bahak karena ulah salah satu tangan kanannya yang melempar joke recehannya. Gadis itu sangat menikmati waktu bersama para teman-temannya. Mereka sudah menjadi bagian penting di hidup Zahra, tanpa mereka Zahra bukanlah Zahra.


"Ya mau gimana. Habisnya dia ngeselin banget, ya gue kerjain aja lah," balas Erga dari seberang sana.


Zahra melanjutkan tawanya. Setelah melepas kerinduan, ia menutup aplikasi dengan lambang S tersebut dan melepas earpiece-nya. Tangannya menggerakkan kursor pada aplikasi dengan gambar ikan, Feeding Frenzy. Lama ia memainkan game tersebut hingga bosan, gadis itu memutuskan berganti game.


Zahra mengubah posisinya menjadi tengkurap, lalu mengambil kue kering. Layar laptop menunjukkan game Fish Adventure Aquarium.


Ting✓


Layar handphone menyala, menunjukkan sebuah notifikasi. Ia segera menekan notifikasi yang tembus dengan aplikasi dengan ikon warna hijau. Devan dan Elvin mengirim sebuah tugas dan pekerjaan kantor secara bersamaan. Zahra menghela napas. "Baru juga mau santai-santai."


Akhirnya Zahra mengambil kabel data yang berada di nakas, lalu menyambungkan ponsel dengan laptopnya. Gadis itu memindahkan file yang tadi dikirim oleh Devan dan Elvin.


Zahra membuka pekerjaannya dulu, baru tugas kuliahnya. Setelah selesai ia kirimkan kembali pada yang berhak menerima file itu.


Gadis itu berbaring sejenak, mendinginkan otaknya yang baru saja digunakan mengebut. Dipikirannya kini gelisah, memikirkan perihal kakak sambungnya yang tak kunjung ditemukan. Sebenarnya di mana Raisha menyembunyikan diri, sepertinya susah sekali menjangkaunya.


Bahkan, ia dulu pernah meminta tolong Xavier untuk mencari identitas orang yang berada di makan papanya, orang yang ia sangka sebagai Raisha—tapi tak membuahkan hasil yang memuaskan. Sepertinya benar perkiraan Zaldi, bahwa kakaknya itu mungkin saja mengganti identitas agar orang masa lalunya tak mengenalinya.  


Zahra kembali mengambil ponselnya dan menelepon Xavier, meminta bantuan kembali untuk mencari Raisha. Pencarian mereka dimulai dari Bandung, karena di tempat itulah mereka banyak memiliki kenangan. Zahra juga mengirim foto masa kecil Raisha, ketika bersama dirinya sewaktu kecil. Dan juga Zahra memberitahu, jika Raisha memiliki tanda lahir di punggung.


...****...


Jam menunjukkan pukul setengah satu siang, teman-teman Zahra telah sampai. Mereka diizinkan masuk oleh Bi Heni. Wanita itu akan menyusul nanti, sambil membawakan camilan.


Mereka langsung masuk ke kamar Zahra, pemandangan pertama yang mereka lihat ialah pemilik kamar yang ketiduran.


Gadis itu memakai kaus lengan pendek dan celana pendek selutut. Zahra tidur tengkurap di depan laptop yang sudah menunjukkan game over. Di sampingnya masih ada kue kering yang toplesnya masih terbuka. Benar-benar, mereka menggelengkan kepala.


Tak banyak yang ikut menjenguk Zahra. Hanya tiga sahabatnya, ditambah dua sahabat secret-nya, yang sekarang telah menjadi pasangan kakaknya. Ditambah Mita yang sedang mencari tumpangan untuk mengantarnya pulang, karena pacarnya ikut kemari, akhirnya ia juga ikut menjenguk Zahra. Sementara laki-lakinya ada lima, gengnya Putra semua.


Fandi, Jaka dan Willy langsung mengambil toples kue kering Zahra dan membawanya ke sofa. Putra dan Devan langsung bergerak membereskan benda-benda yang tergeletak di kasur gadis itu, kemudian mereka letakkan di atas nakas. Sementara keenam gadis cantik itu sedang berusaha membangunkan Zahra yang lelap.


Putra dan Devan terkekeh, melihat teman gadis mereka yang sepertinya mau menyerah untuk membangunkan gadis kaus biru itu.


"Hilih, anjir! Lama-lama gue tendang juga lo, Ra," kata Ica kesal. Gadis itu berkacak pinggang, mengambil guling Zahra lalu memukulnya.


"Mana kuat, badan tepos gitu," ucap Willy, dirinya dan kedua temannya tengah membersihkan play station Zahra yang jarang digunakan. Gadis itu lebih sering memainkan play station di kamar kakaknya.


"Enak aja lo! Ini bukan tepos, cuma kurang isi aja," balas Ica lebih kesal dari sebelumnya. Ia melemparkan guling yang tadinya untuk membangunkan Zahra, sekarang guling itu tengah melayang ke arah Willy. "Eh, gitu-gitu lo juga kepincut sama gue. Dasar!"


Ica mengabaikan pemuda rambut gondrong dengan manik olive itu, pemuda itu terus menirukan apa yang Ica lakukan. Membuat gadis berambut sebahu itu semakin kesal. Yang lainnya tertawa mendengar kelakuan kedua couple itu.


Suara tawa mereka ternyata mengusik Zahra dari tidurnya, gadis itu mengerjab. Eh, sejak kapan dirinya telentang, tadi sepertinya ia ketiduran dengan posisi tengkurap di depan laptop. Kenapa sekarang jadi telentang?


Gadis itu mengucek-ucek matanya agar lebih terbuka lebar, melihat siapa yang tengah merusuh di kamarnya?


"Kalian ngapain di sini?"


Suara itu, berhasil menghentikan tawa mereka. Membuat segerombolan anak muda itu melihat ke arah Zahra yang telah membuka mata.


"Akhirnya lo bangun juga," ucap Rani.


"Heran sama orang di sini. Kok kuat ya, sama lo." Ardelia menggelengkan kepala dramatis.


Zahra duduk dan mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya penuh.


"Mau cuci muka?" tawar Devan, Zahra menggeleng.


"Sorry gaes, gue ketiduran tadi," ujar Zahra dan diangguki semua orang yang berada di kamar itu.


"Ra ... lo ga punya CD baru?"


"Ada. Punya Kak Rizki tapi. Kalau ga salah, CD-nya ada di PS yang di ruang keluarga, ambil aja!"


Jaka dan Fandi turun untuk mengambil CD play station. Mereka berbicara bergantian dengan Zahra. Ica yang tadi kesal dengan kekasihnya, langsung mendekati Zahra. Rasa kesalnya hilang begitu melihat Zahra duduk dan memandang bingung. Melepaskan kerinduan selama satu minggu karena tak berjumpa dengan gadis penguasa kampus itu.


Bibi masuk dengan membawa nampan berisi camilan dan minuman. Di belakangnya ada Tria dan Diki yang baru saja pulang dari kampus.


Diki menyerahkan sebungkus makanan pada Zahra. "Makan! Belum makan, kan?"


Zahra mengangguk antusias. "Makasih, Bang."


"Ayo yang lain ke bawah aja, yuk. Makan siangnya udah matang, pasti kalian pada belum makan, kan?" ajak Tria pada semuanya. Akhirnya mereka semua ke bawah, sedangkan Zahra menikmati nasi goreng yang Diki berikan.


Setelah makan, mereka kembali ke kamar Zahra, bercanda bersama. Ya, sekadar merusuh seperti biasanya.


"Ra ... kita pengen lihat-lihat komputer lo dong, isinya ada apaan aja," ucap Fandi memohon.


"Eh, jangan. Meja belajar, komputer sama yang lainnya itu privasi gue. Jadi, kalian jangan coba-coba ke sana ataupun ambil barang apapun dari sana," kata Zahra memperingati teman-temannya.


"Yaelah, ga asik lo, Ra!"


Zahra menjulurkan lidahnya abai,  lalu kembali mengunyah kue keringnya.


"Eh bentar, ini botol bir kenapa ada di sini?" Jaka menemukan botol bir di kolong sofa. Niatnya ingin mencari earphone-nya yang terjatuh, tapi tangannya malah meraih botol bir yang telah kosong.


"Buset, Ra. Gue kira lo ga ikut pergi ke club, terus berhenti minum. Eh ternyata, masih aja," kata Putra, setelah itu terkekeh pelan.


"Itu bekas bulan lalu. Cuma pas suntuk aja gue minumnya, palingan cuma setengah botol," ungkap Zahra, membuat teman-temannya terdiam.


Ardelia yang berada di dekat Zahra langsung menoyor kepalanya. "Palalo, setengah botol itu banyak, bego!"


"Ingat, Ra. Lo ga boleh minum berlebihan, tubuh lo bisa semakin rusak!" Devan memperingati, tentu saja laki-laki itu tidak mau gadis yang disayangnya kecanduan alkohol.


"Tenang aja, gue minumnya sebulan sekali, itu pun kalau ada masalah. Kalaupun ga minum, palingan juga nyebat."


"Bukannya udah berhenti?"


"Satu puntung doang pas suntuk. Pokoknya ga ketahuan sama kakak gue aja."


"Ra ...."


Zahra memejamkan matanya lalu menganggukkan kepala. "Gue coba buat jauhin mereka, meskipun ntah bisa apa enggak. Tapi akan gue coba!" Zahra bertekad.


Mita merangkul bahu gadis itu. "Jauhin aja pelan-pelan. Tekad lo udah bener, tinggal komitmen aja. Yang lain kayaknya mau nyusulin elo, tuh."


Zahra tersenyum tipis, menepuk pelan paha Mita. "Gue usahain!"


Sampai akhirnya tiba mereka pulang. Semuanya berpamitan pada Zahra, bibi serta Tria yang sedang bersantai di ruang bawah. Diki yang tadinya berbincang dengan bibi dan Tria juga ikut berpamitan. Sedangkan Devan Rani, dan Defi memilih tinggal. Sebenarnya Putra juga ingin pulang, tapi pemuda itu ditahan oleh sang kekasih. Zahra mengatakan jika ada hal serius yang harus mereka bicarakan.