Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
83. Fakta yang Menyakitkan


Wahyu dan putra tertuanya sedang menghabiskan makan malam. Tidak ada perbincangan di antara keduanya, kecuali suara dentingan sendok yang menyertai makan malam mereka. Mansion ini selalu hening semenjak menantunya memboyong putrinya ke rumah mereka sendiri. Terkadang, mereka juga ikut makan malam di sini, mengingat bahwa mereka tidak beda kompleks, hanya jarak beberapa rumah saja.


Pria beruban itu meletakkan sendok dan garbunya setelah suapan terakhir usai. Mendongak, mengalihkan pandangan pada putra tertuanya. "Van, temui Ayah di ruang kerja sehabis makan."


Rivan berhenti mengunyah, tampak mengangguk. "Baik, Yah."


Wahyu pergi terlebih dulu. Anak buah Samuel berhasil mendapatkan sample dari Darel Ario, meski harus terlibat keributan dengan anak buah pria itu—yang sepertinya suruhan orang lain. Pada akhirnya, pengawal tak terduga itu malah memberikan sample secara suka rela untuk diteliti. Ini sungguh aneh.


Pertama, data pribadi Zahra yang tidak bisa diakses. Kedua, semua info terkait dengannya juga sulit diakses. Ketiga, bodyguard-bodyguard itu sepertinya juga utusan orang lain. Mereka seperti diawasi seseorang.


Wahyu memijat kepalanya pusing, ia mengambil amplop coklat yang berisi foto anak dan cucunya yang baru dicetak kemarin. Ia baru bisa membukanya sekarang. Diraihnya semua foto itu. Foto paling atas bergambar kedua putrinya, gambar itu diambil saat keduanya baru berusia dua hari. Hari keempat, mereka dikenakan kalung tanda bahwa mereka kembar. Genap usia mereka satu minggu, salah satu bayinya menghilang.


Pria itu mengalihkan pandangan pada foto besar mendingan istrinya, yang terkena serangan jantung sewaktu dirinya dinyatakan koma. Awalnya istrinya itu baik-baik saja, tetapi karena dirinya tak kunjung siuman setelah satu bulan, keadaan istrinya semakin drop dari hari ke hari. Bahkan, Dirinya yang saat itu belum sadarkan diri tak bisa mengantar istrinya ke peristirahatan terakhir. Sepertinya, istrinya ingin segera bertemu dengan anak terakhir yang dilahirkannya.


"Ratih, maafkan mas yang baru bisa mencari kejelasan tentang anak kita. Sekian lama aku mencari bayi kita, tidak pernah membuahkan hasil. Satu tahun lalu, mas bertemu dengannya." Pria itu menghela napas. "Mas banyak membuang waktu dengan tidak segera mencari identitasnya, padahal mas sudah merasakan ikatan ini sejak pertama mengenalnya. Pasti kamu sangat senang, bisa bertemu dengan putri kita di sana." Wahyu mengusap beberapa bulir yang mengalir di pipinya. "Tapi kamu Jangan khawatir, tidak lama lagi, aku akan mengenalkanmu pada cucu-cucu kita. Sayang, pasti kamu sudah tau, kalau kita juga mendapatkan cucu laki-laki dari Rivan. Benar-benar anak itu."


Wahyu menyandarkan tubuhnya, pandangannya kembali beralih pada foto-foto yang telah ia cetak. Pria itu mengulas senyum tipis, sesuatu yang telah ia dambakan bertahun-tahun akan segera terwujud.


Suara ketukan pintu terdengar, ia sudah bisa menebak bahwa itu putranya. "Masuklah," sahutnya.


Ruangan itu dibuka dari luar. Pria yang hampir berusia setengah abad itu langsung duduk tanpa dipersilahkan. Begitu anaknya duduk, tangan Wahyu bergerak membuka laci kerjanya—mengambil sebuah map dengan warna biru muda lalu ia lemparkan pada anaknya.


"Jelaskan pada Ayah!"


Rivan terkejut mendapati map yang dilemparkan ke arahnya. Pria itu mengerutkan dahinya. "Apa ini, Yah?"


"Kamu masih bertanya? Bacalah!" ucap Wahyu tegas.


Rivan dengan perasaan tak menentu, mulai membuka map itu. Matanya bergerak memindai judul yang tertera di halaman pertama. Matanya membulat seketika, penglihatannya mulai memindai tulisan-tulisan di bawahnya. Otaknya mulai bekerja keras, sebenarnya dokumen apa ini? Kenapa ayahnya memiliki ini? Rivan kembali menatap Wahyu, ia bergidik ngeri ketika merasakan amarah sang ayah yang telah diujung.


Rivan meletakkan map itu ke meja, dengan berusaha terlihat biasa saja—ia memberanikan diri kembali menatap Wahyu. "Apa maksud dokumen ini, Yah?"


Wahyu mengembuskan napas kasar, masih berani anaknya ini bertanya demikian? Ia tak mau lepas kendali di depan putranya. Meskipun usianya dibilang sudah tak muda lagi, tapi kekuatan fisiknya masih mumpuni untuk memimpin Red Devil lima tahun ke depan.


"Kamu masih bertanya apa maksudnya? Sekarang Ayah yang bertanya. Sejak kapan Ayah mengajarkanmu tak bertanggung jawab, Rivan?" tanya Wahyu dengan suara meninggi.


Rivan menunduk, laki-laki itu bergeming. Ia tak menyangka jika ayahnya mengetahui hal ini. Awalnya ia tak pernah berpikir, jika ia akan menemukan anak itu dan membuktikan sesuatu langsung. Awal mulanya, ucapan gadis yang ditabraknya dua minggu lalu terngiang-ngiang di otaknya. Dengan segala kegelisahan, ia memutuskan untuk mencari orang yang mirip dengannya.


...***...


Rivan baru saja keluar dari kebun bunga yang dikelolanya, jam istirahat makan siang sudah tiba. Ia mengajak karyawannya untuk makan siang di cafe depan kebunnya.


Siang itu, entah kenapa kepalanya sedikit pusing. Sepertinya ia kurang istirahat, juga efek terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini.


"Makasih, Mbak," ucapnya, tersenyum pada pelayan yang baru saja meletakkan minuman.


Ia sedikit menyesap lemon tea di hadapannya. Pikirannya kembali menerawang pada seseorang yang ditemuinya dua tahun lalu. Ia sempat berpapasan dengan anak itu, anak yang dibilang mirip dengannya. Ia sedikit lupa dengan wajahnya, tapi jika dilihat sekilas memang mirip dengannya.


Seorang laki-laki berkulit tan di sebelahnya tampak menyenggol Rivan yang masih terdiam. Bosnya itu melamun lagi, ini sudah kesekian kalinya bosnya melamun setelah sembuh dari sakitnya hari itu.


"Hah? Ada apa?" ucap Rivan terkejut, pria itu sedikit salah tingkah lantaran kembali kepergok melamun. Pikirannya kacau!


"Kau kenapa, Bang? Aku nampak, akhir-akhir ini kau tampak banyak pikiran," kata pria itu. Meletakkan handphone ditangan kirinya, menatap Rivan serius.


"Entahlah ... aku juga bingung apa yang terjadi padaku, Rud," balas Rivan, kembali menerawang apa yang mengganggu pikirannya.


"Oh ya, Bang. Kemarin lusa, ada gadis cantik mencarimu. Aku memberikan dia nomormu, gadis itu sudah menghubungi, kah?" tanya Rangga, salah satu karyawannya yang lain.


Rivan dan Rudi menatap Rangga seketika.


"Kau tak memberitahu jika ada gadis cantik berkunjung hari itu, curang kali lah kau ini, Nga!" ucap Rudi merasa kesal. Ia juga ingin memiliki pacar cantik sekali-kali tidak mengapa.


"Heh! Kau tak ingat Lita? Kurang cantik apa itu pacarmu. Aku adukan juga kau ini! Gadis itu punyaku, sebab yang saat ini jomblo itu aku, bukan kau!" balas Rangga tak mau kalah.


"Jangan macam-macam lah kau!"


"Udah-udah, kalian tuh. Berantem mulu kalau ngomongin cewek." Revan kali ini mengalihkan pandangan pada Rangga. "Gadis itu sudah menghubungi, dia meminta kalungnya yang terjatuh saat kita tidak sengaja bertabrakan hari itu. Tapi sayang, aku tidak bisa mengembalikan kalung itu padanya. Ay—"


"Kenapa?" tanya Rangga dan Rudi bersamaan.


Rivan tampak tersenyum masam. "Haishh, kalian ini. Jangan memotong saat orang berbicara! Kebiasaan sekali, rubahlah sikap kalian ...." Rivan menghela lelah.


"Iya-iya, lanjutkan. Kami tidak akan memotongnya lagi," ucap Rangga sambil mengunyah risoles mayonya.


Pria itu tampak menggelengkan kepala. "Aku memberitahukan kalung itu pada adikku, soalnya kalung itu sangat mirip dengan kepunyaannya. Setelah dicari tau, kalung yang kutemukan itu sepertinya memang milik gadis itu. Mengingat kalung itu hanya keluargaku yang punya, karena didalamnya terdapat foto bayi kembar. Adikku menduga, jika kalung itu sebenarnya milik adik bungsuku yang hilang sedari bayi, jadi gadis itu bisa kusebut keponakanku, mungkin."


Rudi dan Rangga hanya mendengar sambil memakan risoles, sepertinya ini cerita yang menarik.


"Ayahku sepertinya sedang mencari tau identitas gadis itu, untuk membuktikan dia benar keturunan keluargaku atau bukan. Dia selalu mempertanyakan hal yang sama, aku juga mengusik ayahku—tapi beliau bilang ingin mengembalikan langsung ke gadis itu. Aku capek ditelepon terus, makannya aku ganti nomor. Dia juga mendatangi kebun kan beberapa waktu lalu, untung saja aku sedang ada urusan." Rivan menghentikan ceritanya, setelah itu meminum lemon tea-nya hingga habis.


"Mas, sini!" ucapnya pada pelayan yang tak sengaja lewat.


"Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan.


"Tolong isi lagi lemon tea-nya dan aku ingin puding bavaroa," ucap Rivan, menyebutkan pesanannya.


"Baik, tunggu sebentar." Pelayan itu pergi.


"Wah, kalau dia benar keponakamu bos, aku bisa menggebetnya. Dia terlihat anggun dengan gaun. Kemarin ...." Rangga menghentikan ucapannya, ia tersenyum tipis, "Dia kemarin datang dengan busana kasual ala gadis nakal, sangat cocok dengan parasnya. Aku jadi ingin segera mendekatinya."


"Sudahlah, kau jangan macam-macam padanya. Aku akan ke toilet sebentar, sepertinya penyakit beserku kambuh lagi." Rivan berdiri dari kursinya, segera berjalan ke toilet dengan tergesa.


Setelah menuntaskan hajatnya, pria itu segera keluar dari kamar mandi. Belum sempat pria itu melangkah, ia dikejutkan oleh seorang pemuda yang akan ditabraknya.


Mereka sama-sama menjauhkan diri, menatap satu sama lain dengan wajah terkejut.


"Maaf," ucap pemuda itu. Ia langsung berbalik badan, tidak jadi ke toilet.


"Tu–tunggu, aku ingin bicara," ucap Rivan, entah mengapa ... kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Pemuda di depannya ini, sosok yang ia temui dua tahun lalu secara tak sengaja, pemuda yang mengusik pikirannya akhir-akhir ini.


Kejadian beberapa saat lalu kembali berputar seperti film, saat wajah keduanya berdekatan dan saling terkejut. Wajah itu benar-benar duplikatnya, hatinya seperti tenang ketika melihat pemuda di depannya tampak baik-baik saja.


"Maaf, aku sibuk!" ucap pemuda itu dan bersiap melangkah. Pemuda itu berjalan beberapa langkah, Rivan mengucapakan beberapa kalimat yang membuat pemuda itu berhenti. Ia membalikkan badan, kembali berhadapan dengan Rivan. Ditatapnya wajah itu dengan berani. Sial! Ia seperti bercermin.


"Kau, Revan bukan? Anak dari Kirana? Putraku!" ucap Rivan yakin, pria itu tampak tersenyum tipis. Tampak penyesalan ketika mengingat masa lalunya.


Pemuda di depannya tampak menyunggingkan senyum sinis. "Maaf Tuan, sepertinya Anda salah orang. Nama saya memang Revan dan Ibu saya namanya juga Kirana. Saya memang terlahir tanpa seorang ayah, tapi saya juga tidak sudi memiliki Ayah tidak bertanggung jawab." Revan terkekeh pelan, masih dengan wajah sinisnya. "Lucu sekali Anda ini, mengakui orang asing sebagai putranya. Memungut kembali barang yang Anda buang. Sungguh mengagumkan. Saya permisi, Tuan."


Pemuda itu berlalu setelah mengucapkan rentetan kata panjang lebar. Rivan masih tergugu di tempatnya. Pikirannya kembali bercabang, akankah ia masih pantas mengakui pemuda itu putranya? Rasanya ia malu sendiri.


Rivan menghela napas, berjalan ke arah wastafel. Membasuh wajahnya dan mengusap pelan rambutnya. "Nak, maafkan papamu ini yang terlalu pengecut untuk mengakuimu," ucapnya lirih.


Rivan keluar toilet dengan tidak bersemangat, kembali ia hela napas berkali-kali. Langkah beratnya kembali menuntun ke dalam cafe, maniknya mengerling ke penjuru cafe. Dilihatnya, putranya tengah menikmati makan siang. Ia senang melihat itu. "Anak itu, tumbuh menjadi pemuda kharismatik yang berkarir tinggi, dilihat dari jasnya ... dia memakai barang branded. Pasti dia menjadi anak sukses."


Rivan tersenyum tipis, kembali menghampiri karyawannya. Ia senang, di tengah pencarian anak itu, Tuhan lah yang mempertemukan dirinya dengan darah dagingnya.


...***...


"Yah," ucap Rivan, meletakkan map itu di meja, menatap wajah ayahnya dengan sedikit canggung.


"Ayah kecewa sama kamu. Bagaimana kamu berpikir selama ini, Van? Ayah tidak pernah berhenti mencari adikmu, tapi kenapa kamu malah mambuang darah dagingmu?" Wahyu memijat kepalanya pusing. "Ayah bertemu dengannya satu tahun lalu, dengan melihat wajahnya saja membuat pikiran Ayah menjadi negatif. Ayah mencari tahu dan ternyata benar, dia cucu Ayah. Benar-benar kamu, meninggalkan calan menantu dan cucu Ayah."


"Maaf, Yah. Waktu itu Rivan belum siap punya anak. Dan juga, dia dari kalangan keluarga kecil, aku takut Ayah tidak menyukainya." Rivan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Wahyu memejamkan mata sesaat, putra sulungnya ini sungguh membuat kepalanya berdenyut nyeri. Helaan napas berkali-kali ia lakukan, untuk kembali mendapatkan ketenangan diri. "Van? Ayah mengajarimu bertanggung jawab sejak usiamu masih kanak-kanak. Kamu tidak berpikir masa depan pacarmu dan anakmu? Kamu egois, Van! Dan sejak kapan keluarga kita mementingkan status sosial? Kamu lihat adik iparmu, apa dia dari kasta tinggi? Dia dulunya seorang pekerja kasar, tapi lihat sekarang? Dia mau berusaha dan belajar untuk jadi sukses. Membangun bisnisnya sendiri. Sedangkan kamu? Kamu punya segalanya, hanya tinggal bertanggung jawab saja tidak mau?


"Ibumu juga kecewa Van, mengetahui hal ini. Kalau kamu belum siap memiliki anak, kenapa kamu melakukan hal itu? Kamu punya Ibu, kamu punya Adik, bagaimana perasaanmu kalau mereka diperlakukan sama? Kamu kira Ayah tidak tahu, kalau kamu pergi ke kantor cucu Ayah cuma untuk minta maaf? Kamu memang pantes diperlakukan seperti itu, tidak sebanding dengan penderitaan mereka selama ini.


"Ketika mantanmu meninggal, apa kamu tahu? Engga, kan? Cucu ayah, tidak mengizinkanmu untuk menemukan ibunya, dia terlalu baik untukmu. Oh, mungkin bukan cucu Ayah, tapi Tuhan yang memang tidak mengizinkanmu. Waktu itu, berita meninggalnya Kirana sudah disebarluaskan. Tapi entah mengapa, beritanya tidak sampai di kamu. Padahal waktu itu, jenazah Kirana baru dimakamkan sore hari. Sepertinya, mereka menunggu kehadiranmu. Tapi, Tuhan tidak menghendakinya. Hal itu Ayah ketahui, bersamaan dengan penyelidikan putramu."


Rivan tergugu, benarkah mantan pacarnya itu telah meninggal? Bahkan menunggu kehadirannya pada peristirahatan terakhir? "Yah, emang bener Kirana udah meninggal?" Hatinya teriris, sampai saat ini ia masih mencintai Kirana, hanya gadis itu yang sanggup menggetarkan hatinya. Karena itulah, Rivan juga memilih menyendiri meski usianya tak lagi muda. Ia lelaki brengs*k yang bisanya menghancurkan hidup sang gadis pujaan.


Kirana begitu antusias menceritakan tentang kehamilannya dulu, pasti dirinya berharap akan segera menikah. Ya, ia mengingat itu .... Saat terakhir mereka bertemu, berdebat tentang aborsi. Ia menginginkan Kirana aborsi, sedangkan gadis itu kukuh merawat kandungannya sendirian apabila dirinya tidak menginginkan bayi itu. Saat itu, Kirana juga memberitahukan, jika janin yang ia kandung lahir, maka akan diberikan nama yang mirip dengan dirinya.


Rivan luruh, menelungkupkan wajahnya di permukaan meja. Air matanya sudah tak terbendung, menetes kian banyak. Wahyu hanya memandang putranya dalam diam.