Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
81. Apakah, Kamu ...?


"Gery, Ina." Rio yang tengah berbicara dengan Raisha terkejut mendapati dua insan beda jenis yang tiba-tiba masuk tanpa aba-aba.


Gery berjalan mendekati ranjang, sementara gadis dengan outer coklat itu masih berdiri di depan pintu. Matanya membola mendapati rivalnya berada di kamar sang sahabat.


Beberapa puzzle meracuni pikirannya. Melihat keadaan Zahra yang terbaring dan sang rival berada di satu tempat yang sama, membuatnya menerka-nerka. Apa yang menyebabkan Zahra terbaring itu Naysha?


Lamunannya buyar kala Gery menyentil pelipisnya. "Sayang?"


"Eh, i–iya," jawabnya tergagap.


Gery menyodorkan tabung kecil dengan tutup pipet. "Campurkan dua tetes cairan ini dengan satu sendok makan air hangat."


Dengan segera Ina mengambil tabung itu dan keluar kamar Zahra. Di dapur masih ada Bi Heni yang membersihkan makan pagi mereka yang kacau.


Gadis surai tosca tersebut langsung mengambil wadah kecil serta meminta air hangat pada Bi Heni. Ia kemudian meneteskan cairan tersebut seperti instruksi Gery. Setelah itu ia bergegas naik.


Menghampiri Gery yang sudah duduk di sebelah sahabatnya, tangan mungilnya mengulurkan wadah tersebut. Gery menerima larutan tersebut, segera ia minuman larutan itu sambil sesekali memijat kepala Zahra. Sedangkan Rio mengusap setiap tetes keringat yang mulai banyak keluar dari tubuh adiknya.


Gery menepuk pipi Zahra sedikit keras. "Ra, bangun! Ayo buka mata!"


Kepala gadis itu sudah bergerak gelisah, namun mata itu belum mau terbuka. Setelah berusaha beberapa menit, akhirnya gadis yang tengah terbaring itu membuka mata dengan napas terengah-engah.


"Kak ... kakak di mana?" Matanya mengerling mencari di mana saudara lakinya itu berada. Ia terus bergerak gelisah, maniknya tidak menangkap rupa Rio diantara orang-orang di sekitarnya.


"Kak," gadis itu mengerang, "jangan tinggalin gue ...," jeritnya yang mulai ditenangkan oleh Raisha.


Seseorang keluar kamar mandi dengan terburu-buru, langkah besarnya menuju ranjang yang saat ini diduduki beberapa orang. Isakan kecil itu mulai mengusik ketentraman perasaannya. Begitu sampai, ia langsung mendekap seseorang yang tengah ditenangkan Raisha. "Ustt ... hey, kakak di sini, ga ke mana-mana." Ia mendekap erat, sebelah tangannya ia gunakan mengusap kepala gadis di pelukannya.


Zahra menggelengkan kepala, menyembunyikan wajahnya di dada Rio. Sambil terisak, ia berkata, "Kak, mami, Kak. Di dunia gelap itu ada mami," Zahra menarik napasnya panjang, "mami dipukuli di sana, Kak. Kita ga bisa bawa balik mami? Aku mau mami!" Tangan mungilnya mencengkeram kaus belakang Rio.


"Mami udah bahagia, Dek. Mami udah bahagia!"


Zahra menggeleng cepat, memukul punggung Rio pelan. "Tapi kalau mami udah bahagia, ga mungkin kan mami gentayangan? Terus yang di mall itu siapa kalau bukan mami?"


Semua orang yang berada di ruangan itu hanya terdiam, Rio menghela pelan. Ia mengurai pelukannya, menghapus air mata adiknya. Tangannya terangkat untuk merapikan rambut sang adik yang berantakan. "Kakak keluar dulu."


Zahra hanya terdiam, memandang kosong punggung Rio yang mulai menjauh dari kamarnya. Rizki tersenyum manis, mengusap rambut Zahra pelan sebelum akhirnya menyusul Rio.


"Arghhhh ...." Zahra menjambak rambutnya kesal.


"Ra ...," kata Raisha pelan.


Wajah gadis itu terangkat. "Kenapa? Lo mau  pergi juga? Anggep gue gila?"


Wajah Raisha panik, ia berjalan mendekati Zahra yang kini menatapnya tajam.  "Eng–engga, bukan gitu ... tapi —"


Belum sempat Raisha menyelesaikan kalimatnya, gadis dengan rambut yang kembali berantakan itu mendorong Raisha kasar. "Pergi aja lo, Anj*ng! Ga beda sama yang lain."


Cairan bening itu lolos, membasahi pipi Raisha yang kini tampak lebih mengkilap. "Ra, mami lo mami gue juga, jadi gue ngerasain apa yang lo rasain. Kita dibesarkan oleh tangan yang sama Ra ...." Saat Raisha akan duduk di sebelahnya, Zahra malah mendorongnya hingga gadis itu terjatuh.


"Ra ...."


"Pergi ga lo! Gue pengen sendiri!"


Dengan berat hati Raisha meninggalkan Zahra, menyisakan tiga orang di ruangan itu. Gery dan Ina.


Gadis dengan outer coklat itu segera mendekati Zahra, tidak peduli tatapan tajam yang kini dilayangkan ke arahnya.


"Pergi!" Suara dingin Zahra terdengar tegas.


Ina menggeleng, menghela napas pelan. "Gue ga tau apa yang sebenarnya terjadi sama lo, tapi gue ikut sedih atas apa yang lo rasain selama ini. Gue pernah ngelihat lo luka-luka waktu di Raja Ampat. Saat itu lo menjauh, memilih mojok sama Putra. Gue tau kok alasan Putra pengen liburan berdua sama lo."


Ina mengusap punggung Zahra pelan, ia berjalan ke arah Gery. Pria itu mengangguk, kemudian mencium kening gadisnya. "Makasih, Sayang."


"Manfaatkan waktu kalian," ucap Ina seraya pergi ke luar kamar Zahra.


Gery mendekat ke arah Zahra, duduk di samping gadis itu. "Akting lo oke juga, Ra!" pujinya sambil terkekeh.


Zahra akhirnya mendongak, menatap lawan bicaranya. "Mau lo apa?"


Gery terlihat menerawang. "Lo beneran ga ngerasain sesuatu waktu kita deket gini, Ra?" tanyanya sendu.


"Maksud lo apa, sih? Ga usah basa-basi," balas Zahra cepat.


"Gue yakin lo juga ngerasain, aneh ga sih sebenarnya? Gue tau lo berusaha nutupin, tapi bahasa tubuh lo engga. Gue ngerasain ini waktu pertama ketemu lo. Lo masih ingat ga?"


Zahra ikut menghela napas, berusaha mengikuti ke mana arah pembicaraan Gery. "Waktu di aula belakang itu, kan?"


Gery terkekeh miris, diliriknya wajah penuh tanya di sebelahnya. "Lo beneran ga inget ternyata."


Zahra mengerutkan dahi. "Bukannya itu emang pertemuan pertama kita? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Ia kini menoleh pada Gery yang bercerita dengan wajah berbinarnya.


"Iya, kita pernah ketemu. Saat kita masih memakai seragam merah putih, saat gue masih di panti, saat lo jadi orang angkuh yang sukanya buat adek-adek panti gue nangis."


Gadis itu membuat pose seolah berpikir. Apa yang diceritakan Gery sedikit membuka ingatan masa kecilnya. "Bentar ... lo bukan Jaya, kan? Bocah kerempeng yang suka jailin gue karena gue suka buat adek-adeknya nangis? Yang dulu gue suka mikir, anak sebanyak itu beneran adek lo?"


"Iya Ra, itu gue. Terus pertemuan ke dua kita, saat lo baru aja keluar dari ruang eksekusi orang suruhan papa. Saat cekcok di tengah hutan itu."


Perkataan Gery membuat Zahra terkejut bukan main. "Ger, lo ngomong a–apa?" balasnya sedikit gugup.


"Gue tau Ra, awalnya gue juga terkejut, ga nyangka kalau lo bakal terjun ke dunia bawah. Dari lo kecil, gue selalu inget sama bola mata lo, gue ga pernah lupa. Dan rasa aneh ini udah timbul saat kita bertemu hari itu. Ada rasa aneh yang ngebuat gue ga suka lo menyendiri, makanya gue kadang jahilin lo." Gery terdiam sejenak, "Dan sekarang gue seneng bisa ngungkapin ini sama lo, lega banget rasanya. Tapi gue kayak ngerasa pengen lo tetap dijangkauan gue gitu, Ra. Gue bingung harus gimana? Tapi setelah kita makin deket, gua tahu harus gimana membawa rasa aneh ini."


Zahra kini menatap lawan bicaranya intens, badannya sudah berhadapan penuh dengan Gery. "Lo tau? Gue baru ngerasain rasa aneh ini waktu lo pertama kiss gue malam itu, rasanya aneh dan ...," Zahra menggelengkan kepalanya, "gue ngerasa itu ... itu ga seharusnya kita lakukan. Bahkan, dada gue sesak banget rasanya, setelah lo ngelakuin hal itu. Padahal sebelumnya sama Atha gue biasa aja. "


Gery juga menatap lurus Zahra, ia tersenyum kecil. Tangannya bergerak merapikan rambut berantakan gadis di hadapannya saat ini. "Sorry, untuk semua luka yang udah gue gores di tubuh lo, tapi kalau engga gitu mereka bisa curiga sama gue. Untungnya Marina datang saat itu dan gue ada alasan buat ngeluarin lo. Tapi gue kelewatan banget tau ga, gue bunuh darah daging gue sendiri."


Zahra kembali menggeleng. "Seenggaknya hubungan lo sama Ina sekarang lebih sehat dan Tuhan pasti akan mempercayakan buah hati pada kalian jika udah waktunya. Kapan lo akan nikahin dia?"


"Hmm, lo kasih restu ke gue?" tanya Gery.


Zahra mengerutkan keningnya. "Kenapa gue harus ngelarang lo?"


"Karena gue merasa lo itu keluarga gue, keluarga yang sebenarnya. Jadi gue harus minta restu kan sama lo? Soalnya lo yang ngerasain rasa aneh ini, beda sama kedua abang lo," jawab Gery yakin.


Tangan Zahra terangkat, mengusap pipi tegas di hadapannya. "Lo bebas menentukan pasangan, ga ada yang ngelarang. Apa pun itu yang baik, pasti gue dukung. Cuma satu, cewek lo itu sahabat gue, jadi jangan pernah nyakitin dia."


"Pasti, Ra! Pasti. Jadi, lo punya rencana untuk menyelidiki rahasia di keluarga ini?"


Zahra mengangguk. "Pertama, kalau lo mau masuk ke rencana ini dan agar status hidup lo jelas. Kita selidiki dulu identitas lo dan ngelakuin tes DNA. Terserah hasilnya gimana. Kedua, lo harus cari celah supaya bisa masuk ke kelompok mereka tanpa dicurigai sama kepala sukunya. Jika sang kepala suku yang tertarik sama lo duluan, itu lebih baik."


Gery mengangguk. "Gue paham maksud lo." Setelahnya pemuda itu merentangkan kedua tangannya, sang gadis tersenyum lembut kemudian mulai masuk pada dekapan hangat itu.


"Dari kita berempat, yang paling peka itu gue, kemudian lo sama Rizki yang tingkat kepekaannya sama dan Rio sangat sedikit tingkat kepekaannya," ucap Gery saat memeluk gadis itu. Zahra terkekeh pelan.


Mereka melepaskan pelukannya. "Ayo ikut gue, gue tunjukkan sebuah rahasia," ucap Zahra sembari turun dari ranjang. Sementara Gery berjalan di sampingnya.


"Gue bakalan berusaha untuk meracik dan menemukan penawar untuk racun yang udah menyebar ke saraf lo. Lo ga bisa hidup kayak gini, Ra!" Pria itu menatap gadis di sampingnya tulus.


Zahra mengangguk, sebelah tangannya bergerak memeluk tangan Gery yang bebas dan tangan satunya yang membuka sebuah pintu.


"Makasih banyak, Ger."