Adek Gue BAD

Adek Gue BAD
44. Blood Brother


...Senanal-nakalnga lo, seburuk-buruknya lo ... lo tetep adek gue....


...Gimana pun keadaan lo, lo tetep prioritas gue!...


...~Darel Ario Kusuma~...


...****...


...Holidayyyy (8)...


...PutraRst mengundang Anda ke grup chat...


"GC apaan, nih?" gumam Zahra pelan, tidak peduli dengan ajakan bergabung tersebut. Dia memilih melanjutkan kembali menonton serial anak-anak malam di televisinya.


Rizki yang jiwa isengnya sedang kambuh, mengambil diam-diam handphone tersebut. Membuka looksreen-nya yang menampilkan undangan chat. Memang mereka duduk berdampingan saat menonton televisi tersebut.


...Anda bergabung ke chat...


PutraRst


Welcome ratuku...


Rizki rasanya ingin muntah waktu membaca pesan dari kekasih adiknya itu. Ia iseng, lalu menambahkan ID line miliknya dan milik Rio ke dalam grup chat tersebut.


...Uyl_zahra menambahkan Rizkyy03...


...Uyl_zahra menambahkan Drel_Rioo...


Setelah menambahkan ID miliknya, Rizki mengembalikan ponsel tersebut ke asalnya. Kembali melanjutkan acara menontonnya yang sempat terhenti.


"Apaan sih? Berisik banget," gumam Zahra pelan. Matanya tetap terfokus pada televisi di depannya, tapi tangan kirinya meraba-raba handphone.


Setelah menemukan benda pipih kesayangannya, gadis itu langsung membukanya. Ada apa gerangan? Kenapa handphone-nya berisik sekali.


Zahra mengenyit heran saat melihat handphone. "Kapan gue masuk GC ini? Perasaan tadi gue abaikan, deh? Kok bisa masuk, sih?"


Zahra baru tersadar jika di sampingnya ada makhluk jahil tak kasat mata. Tangan mungilnya bergerak menabok lengan Rizki yang ingin mengambil camilan.


"Apa sih, Ra? Gue mau nyemil, nih."


"Lo apain HP gue?" ucapnya, sambil menunjukkan handphone yang masih menyala.


"Aelah, gitu doang. Emang handphone lo ada yang rusak setelah gue pegang?"


Zahra memberengut tak suka atas perkataan Rizki barusan, gadis itu memutuskan diam dan kembali menonton Doraemon.


Rio datang, duduk di depan mereka berdua. Dia berdehem singkat untuk mengalihkan perhatian adik-adiknya.


Setelah dirasa keduanya mulai memerhatikannya, Rio lantas membuka percakapan. "Dek, lo mau liburan sama temen-temen, lo?" tanya Rio serius.


"Iyalah. Bosen juga kalau berhari-hari di rumah. Kayak tahun lalu, gue di rumah cuma diem, ngelihat lo ngerjain berkas-berkas doang. Ogah gue!"


"Jangan harap lo bisa ikutan!"


Mulai, deh, pikir Zahra kesal. "Kakak kenapa, sih? Gue ga mau ya cuma diem di sini doang. Mending kalau ada yang dikerjain, ini mah apa? Gue cuma jadi obat nyamuk lo sama berkas-berkas tercinta."


"Iya. Lo ga boleh ikut, kalau kita berdua ga ikut!"


"Hah?"


Tawa Rizki pecah, sementara Rio hanya tersenyum kecil. "Iya, jadi kita bakalan ikut lo kemana pun lo pergi," tegas Rizki.


"Terus kerjaan kalian gimana?"


"Kita bisa lembur kok, lagian akhir-akhir ini juga ga terlalu numpuk," kata Rio.


"Apa ga papa? Jangan keseringan lembur, ntar kalian sakit."


Mereka menggeleng tanda jangan khawatir, Zahra hanya bisa mengangguk sembari tersenyum.


Rio menghela napas. "Jujur, Dek. Kemarin salah satu dosen ngelihat lo diserang sama orang asing. Lo memang bisa ngatasin mereka, tapi saat lo lengah, ga ada yang tau kan?"


"Lo emang di sana bareng sama temen-temen lo. Kita percaya kalau mereka bisa jagain lo. Tapi kita ngerasa ga berguna jika lo sampai kenapa-kenapa di sana. Robby, kemarin bilang kalau ada orang yang nguntit lo, tapi dia ga bisa ngelacak lebih jauh. Gerakannya terlalu cepat," tambah Rizki.


Apa ia salah selama ini, telah tertutup pada mereka? Tapi jika ia jujur pun situasinya juga akan lebih sulit dari ini. Terlalu banyak nyawa yang akan melayang jika ia jujur saat ini.


Zahra menitikkan air mata haru, gadis itu menahan senyum mengembangnya. "Makasih. Kalian berarti buat gue."


"Lo juga berarti buat kita. Gue ga mau keluarga gue hancur untuk kedua kalinya."


"Sial. Kenapa gue nangis, anj*r?"


Rizki terkekeh. Menurutnya, keluarganya saat ini unik. Rio mampu mengayomi dia dan Zahra. Mampu merubah kebencian menjadi cinta kasih sayang. Itu yang Rizki lihat dari Rio sejak kecil. Sedangkan Zahra, gadis kesepian yang menerimanya dengan hati terbuka. Kesalahannya termaafkan begitu saja, seperti ia tak pernah berbuat salah. Trauma yang dipendamnya sendiri selalu membuatnya kesepian. Rizki bersyukur terlahir di tengah-tengah mereka, ia berharap keluarganya akan selalu seperti ini. Ia juga tidak mau pisah lagi dengan saudaranya.


"Udah-udah." Rizki membawa gadis di sampingnya tenggelam dalam balutan tubuh besarnya. Membuat gadis itu nyaman dan merasa terlindungi.


"Kayaknya banyak banget ya orang yang ga pengen gue ada. Dari gue baru lahir aja, udah ada yang mau nyelakain gue. Jalan gue gini amat ya, Kak? Apa mungkin, saat nanti gue udah jadi orang beneran ... hidup gue ga akan tenang? Teror? Mungkin akan jadi makanan sehari-hari gue," kata Zahra lirih. Suaranya terbenam di dada Rizki. Kata demi kata terdengar jelas, sampai pada kalimat terakhir, suara itu semakin menyakitkan. Air mata yang ditahannya sejak lama lolos begitu saja tanpa diminta.


Rizki mengeratkan pelukannya. "Lo ga sendiri, lo masih punya kita, Ra."


"Bener, Dek. Tuhan buat jalan kayak gini mesti ada tujuannya. Tapi, jangan pernah merasa sendiri, lo punya kita, punya bibi, Tria dan temen-temen lo. Memang banyak di luar sana yang mungkin ga terima kehadiran lo, tapi lo harus inget, lo ga sendiri. Lo punya kita dan kita sayang sama lo."


Rio menghela kembali. "Gue tau lo nyembunyiin sesuatu dari kita, mungkin lo punya alasan sendiri buat ga ngomong. Kita juga ga mau maksa, tapi kalau ada apa-apa usahain ngomong sama kita. Gue ga bakal marahin lo, gue emang emosional, Ra. Tapi kalau lo luka, gue juga ga bisa nyalahin lo. Dokter yang meriksa lo terakhir kali, dia ngasih tau gue. Banyak bekas luka jahitan di tubuh lo, entah datangnya luka itu dari mana."


Berlinang-linang telah jatuh, membasahi kaus polos Rizki. Tapi gadis itu tak beranjak sama sekali, ia tetap nyaman seperti itu.


"Ma-maaf. Kakak tau?" Suaranya terdengar serak.


"Kurang tepat, yang benar baru tau. Gue kecewa sama diri gue, karena ga bisa jagain lo. Luka-luka di tubuh lo itu menunjukkan ketidak bertanggungjawabnya gue sebagai abang lo."


Zahra melepaskan diri dari dekapan Rizki, beralih ke kakak tertuanya. Menghapus sebutir cairan yang keluar dari manik Rio, lalu memeluknya erat. "Kakak ga salah, lo kakak terbaik yang gue miliki. Meskipun hubungan kita bisa dibilang buruk di awal, tapi lo buktiin, kalau lo pantas jadi kakak gue."


Rio tersenyum, mengusap rambut Zahra yang sebagian basah karena air mata. "Nonton aja lagi, kenapa jadi sedih gini. Intinya kita ikut kalau lo mau liburan. Udah ya, gue mau ke kamar lagi. Tadi, cewek gue minta video call," kata Rio menenangkan. Melepaskan pelukan Zahra, lalu berdiri.


"Loh, kakak udah jadian?" tanya Zahra, saat Rio sudah berjalan ke arah tangga.


"Bisa dibilang gitu!"


"Yeahhh, kakak gue ga jomblo." Zahra memelankan suaranya lalu menatap Rizki. "Kalau lo, kapan nih officiall-nya?"


"Sini dong, jangan jauh-jauh. Nanti ga ada yang dipeluk." Rizki menepuk-nepuk tempat Zahra yang tadi. Gadis itu beranjak, kembali mendudukkan diri di samping Rizki.


"Jadi kapan diresmikan?"


"Hmmm, secepatnya mungkin."


Mereka menonton serial Doraemon tersebut hingga selesai. Heran juga, stasiun mana yang menayangkan Doraemon malam-malam begini.


"Yahhh ... Doraemonnya habis, Kak." Zahra menunjukkan wajah melasnya pada Rizki, laki-laki itu terkekeh sembari mengusap pucuk kepala adiknya.


"CD-PS gue masih grass loh, Ra. Yakin, ga mau coba?" Rizki menaikkan turunkan alisnya.


Tangan mungil Zahra meraih remot, lalu mematikan televisi yang tengah berkoar-koar dengan iklan pembersih WC.


"Hemm, oke. Kita lihat siapa yang menang kali ini." Zahra menunjukkan smirk-nya.


"Berani juga ternyata. Lo kan ga jago main PS, kalah mulu."


"Yee, lo mana tau. Kakak kan belum pernah duel sama gue, ayo kita buktiin siapa yang pantas sebagai pemenang."


"Ayok. Ga takut gue sama lo!"


"Okey. Kalau gitu yang kalah harus nraktir yang menang."


"Deal!"


Mereka berjalan beriringan menuju kamar Rizki, tapi saat di depan tangga Zahra mengurungkan niatnya.


"Kenapa?" tanya Rizki saat Zahra berhenti melangkah.


"Bibi tadi baru buat puding. Mau coba ga?"


Tawaran Zahra membuat Rizki tergoda, sepertinya puding lebih menggiurkan dari pada play station. Rizki menggendong Zahra bridal style menuju lemari es. Tempat puding-puding itu bernaung.


"Skuy, serang pudingnya!" seru Rizki bersemangat. Zahra hanya terkekeh di gendongan kakaknya, gadis itu lalu mengalungkan tangannya sembari menikmati wajah tampan Rizki dari dekat.