
Senin, 31 Desember 2018
15.00 WIB di mansion Ario.
Putra dan Zahra memang menginap kembali di Waisai selama beberapa hari sampai keadaan Zahra membaik. Laki-laki itu beralasan jika ingin berlibur berdua dengan sang kekasih, alhasil ia mendapat tatapan tajam dari Rio dan Rizki.
Meskipun begitu, bibi tetap mengizinkan keduanya selama mereka tidak melakukan sesuatu mengkhawatirkan, yang merusak masa depannya.
Setelah empat hari berada di rumah sakit, Putra memesan tiket kepulangan yang baru. Untungnya anak buahnya mendapatkan sisa tiket yang membawa mereka kembali ke Jakarta.
Setelah memulihkan keadaan selama dua hari, fisik dan psikisnya berangsur membaik. Ia sudah seperti Zahra yang biasanya. Beraktifitas normal di rumah karena perkuliahan aktif kembali di bulan Februari. SP atau yang lebih dikenal dengan semester pendek, Merpati Putih menerapkan sistem daring. Jadi mereka tetap bisa melaksanakan liburan tanpa harus berkunjung ke kampus.
Saat ini, seisi rumah disibukkan oleh acara bersih-bersih dan memasak berbagai hidangan. Malam ini mereka mengundang teman-teman dan warga setempat untuk makan malam menyambut tahun baru.
Memang sudah tradisi dikeluarga ini jika menyambut tahun baru, mereka akan mengundang kerabat, teman berasa saudara dan tetangga satu RT.
Pukul enam tepat, mereka baru menyelesaikan pekerjaan dengan dibantu para bodyguard dan pekerja lainnya. Mereka tinggal membersihkan diri untuk menyambut para tamu.
Acara makan malam itu berjalan lancar, pukul sepuluh teman-teman dekat mereka baru pulang.
"Ayo piring kotornya dibawa ke deket kolam aja, di sana ada kolam ikan yang gak terpakai. Kita cuci semuanya di sana, kalau di dapur nanti malah becek," instruksi bibi pada keempat manusia di depannya.
Setelah acara, para pekerja dibebaskan dari pekerjaan dan mereka disuruh istirahat.
Duo R, Zahra dan Tria bahu membahu untuk membawa semua peralatan kotor ke kolam yang sudah tak terpakai. Pastinya air di sana sudah dibersihkan oleh bibi sebelumnya, sudah dipersiapkan matang-matang.
"Brrr, dingin cuih. Suka banget lo guyur gue," ujar Zahra pada Rizki, pria itu bukannya membilas piring yang telah disabun oleh Rio dan Tria, ia malah menyemprotkannya pada Zahra. Sementara bungsu itu, ia kebagian yang mengeringkan alat atau mengusapkan sebuah kain pada piring yang telah dibilas.
"Ha-ha-ha, makan tuh air," ujarnya sambil menjahili Rio dan Tria.
Gadis berlesung itu kesal, karena Rizki bajunya menjadi basah. Ia berdiri, pura-pura mendekati Rizki lalu mendorongnya ke kolam. Karena tak siap, pria dengan kaus kedodoran tersebut akhirnya terjebur juga.
"Ha-ha-ha, rasain lo! Suka banget ngisengin orang!" Tria dan Zahra terbahak. Senang sekali ketika berhasil membalas perbuatan Rizki.
Zahra mengambil selang yang tadi dipegang Rizki, selang itu terjatuh saat kakaknya masuk ke kolam. Ia memberikan selang itu pada Tria. "Guyur lagi noh, biar kayak wajah hujan," pinta Zahra.
Dengan senang hati Tria menguyur Rizki menggunakan selang yang dipegangnya. Ujung-ujungnya Tria dan Zahra malah bermain air berdua. Bertukar selang dan menyemprot bergantian.
Kalau Rio keep calm melanjutkan pekerjaannya, karena masih banyak yang belum disabun, ia tidak mau membuang waktu berharganya dengan main-main seperti yang adik-adiknya lakukan. Ia sebenarnya mau menasehati mereka, tapi rasa malas keluar lebih dulu karena mereka itu bukan orang yang mudah diberitahu.
Kerusuhan mereka terhenti ketika bibi datang. Wanita itu marah pada ketiganya. Rio tertawa dalam hati melihat adik-adiknya dimarahi oleh bibi. Bukannya bibi tidak mau memarahi Rio karena pria itu diam saja, tidak menasehati adiknya—tapi wanita itu tahu tabiat mereka jika sudah disatukan. Jadi, itu hanya salah mereka bertiga.
"Udah, Yo. Kamu masuk aja, bersih-bersih yang lain. Kerjaan di sini biar mereka yang lanjutin!" setelah berkata demikian, bibi kembali ke dalam, menyelesaikan pekerjaannya yang sempat terhenti.
Mereka bertiga menatap Rio kesal, pria itu tersenyum mengejek. "Mampus lo bertiga. Makannya kalau dikasih kerja itu dikerjain bener-bener, jangan malah main-main. Silahkan dinikmati, inget, yang bersih nyucinya." Rio berlalu, mengikuti bibi yang telah masuk terlebih dulu.
"Gara-gara lo nih, Kak," ucap Zahra kesal.
"Kenapa nyalahin gue? Itumah salah kalian sendiri," jawab Rizki membela diri.
"Jelas salah lo! Kan yang mulai duluan Kak Rizki." Tria ikut-ikutan memojokkan Rizki.
Begitulah, mereka membersihkan alat makan sambil tetap saling mengalahkan. Tapi, tetap saja Rizki yang menjadi tempat salah-salahan adiknya.
Setelah satu jam mendekam di tepi kolam, akhirnya semuanya selesai. Mereka mengangkat alat yang sudah bersih itu ke dalam, menaruhnya dekat pintu masuk. Pintu yang menjadi penghubung antara rumah dan kolam. Baru besok semua peralatan-peralatan itu dipindahkan ke tempat asalnya. Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan mengganti baju yang basah.
Mereka berkumpul di ruang keluarga setelah semua aktifitas selesai, menyandarkan badan ke sofa. Sungguh, punggung mereka terasa pegal. Berusaha membuat relax otot-otot yang mereka gunakan untuk bekerja tadi.
"Gimana, capek?" tanya bibi.
"Itu hukuman buat kalian, siapa suruh main-main. Kalau dikasih tanggungjawab itu ya dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bukannya main-main seperti kalian."
"Iya, Bi. Maaf."
"Maaf, Bu."
Bibi menghela napas, menatap para remaja itu. "Ya udah, kalau kalian capek, berarti bakar-bakarnya ga jadi, ya?"
"Tetep jadi lah," ujar mereka kompak.
"Kalau gitu ayo ke halaman belakang, tadi bibi sama abang kalian udah naruh bahan dan alatnya di sana."
"Ahhh, makasih. Makin luv deh sama kalian. Ayo, Ya!" Zahra menarik tangan Tria, dua bocah itu berlarian menuju halaman belakang.
Mereka yang masih di ruang keluarga hanya sanggup menatap sembari terkekeh.
"Ayo, kalian ga tertarik ngikutin dua bocah itu?" Bibi menaikkan alisnya.
Kedua pria itu berdiri, berjalan menyusul kedua gadis itu ke halaman belakang. "Ayo, Bi."
Sesampainya di sana, memang semua peralatan sudah siap. Zahra menatap barang-barang itu, sepertinya ada yang kurang. Oh iya, tempat untuk menghidangkan makanan yang telah dibakar belum ada dan alat makan seperti garbu dan pisau juga belum tersedia.
Bibi merebahkan diri di rumput hijau, memang halaman belakang ini dipenuhi rerumputan hijau. Ia menatap bintang, merindukan suaminya yang entah ke mana.
Sementara keempat remaja itu membagi tugas untuk membakar dan membuat bumbu. Bumbu dibuat oleh Tria. Duo R kedapatan membakar daging dan sosis, sedangkan Zahra membakar jagung. Setelah membuat bumbu, Tria masuk kembali untuk mengambil piring saji dan alat makan.
Bibi bangun dari tidurannya, lalu menghampiri mereka yang sedang bakar-bakar.
"Hemm, baunya udah kecium, nih." Bibi menghirup udara dingin yang telah bercampur dengan asap dari pembakaran yang mereka lakukan.
"Dari baunya ini enak banget. Harum. Wah, Tria jago juga bikin bumbunya," kata Zahra sambil membolak-balik jagungnya.
"Iya nih, jadi pengen segera lahap ini daging sama sosisnya," timpal Rio.
Tria datang membawa 2 piring besar yang nantinya akan mereka gunakan untuk makan bersama dan menaruh jagung bakar, serta 5 garbu dan 5 pisau untuk memotong daging.
"Wihh, enak tuh." Tria meletakkan barang-barang itu di dekat mereka yang sedang membakar.
Setelah matang, daging dan sosisnya dibagi rata untuk mereka berlima. Sedangkan jagungnya diletakkan pada piring satunya. Nanti kalau makan biar ambil sendiri.
Mereka duduk bersila, melingkar di bawah bintang menikmati daging dan sosis itu. Kebersamaan yang selalu mereka nantikan.
"Bibi merasa jadi muda kembali kalau begini." Wanita itu terkekeh, memotong sesuap daging lalu memakannya.
"Tapi kan bibi juga berjiwa anak muda, kadang-kadang, sih."
Mereka tertawa bersama menanggapi gurauan Zahra.
Mereka berbaring di rumput hijau, mengahadap langit yang memamerkan kecantikannya. Gugusan bintang berpadu menjadi satu membentuk rasi bintang dengan bentuk yang beragam.
Mereka berbaring sambil menikmati jagung bakarnya. Dinginnya udara malam tidak mengurangi niat mereka untuk menikmati malan tahun baru ini.
Suara kembang api mulai sahut menyahut. Menimbulkan suara bising dan senang karena tahun baru ini meriah dan membawa suka.
"Happy new year," ucap mereka bersamaan.