
Suara ketikan laptop beradu dengan suara televisi yang basa-basi. Rio dengan malam santainya dan Rizki dengan laptop di meja depannya.
Yah, sebenarnya Rizki bisa saja mengerjakan itu esok hari, namun besok itu weekend. Dia tidak ingin waktu istirahatnya terampas begitu saja oleh pekerjaan yang menyita waktunya. Oleh sebab itu, ia selesaikan saja malam ini, besok ia bisa tidur atau melakukan apapun terserah dirinya sampai puas.
"Mau gue bantuin? Capek banget lo kelihatannya," Rio menawarkan diri. Semenjak pulang dari Jo Company tadi siang, Rizki katanya dapat inspirasi untuk pakaian terbarunya. Sudah waktunya Adriansa Jaya, perusahaan peninggalan kakeknya—meluncurkan produk baru.
Rizki menoleh, tersenyum tipis. "Tinggal dikit lagi kok, finishing. Habis itu selesai." Pria itu kembali menatap laptopnya.
Rio mengangguk, kembali menoleh pada acara televisi. Kali ini ia menonton berita saja, mumpung adiknya masih belum pulang, kalau ada Zahra jelas kartun yang akan mereka tonton.
"Oh iya, kita tadi pesen pizzanya berapa box, Bang? Takutnya kurang," celetuk Rizki.
"Eum, sembilan box kayaknya. Tiga box buat kita dan bibi, sisanya buat bodyguard dan pekerja. Cukup lah harusnya."
Rio kembali menatap televisi, acara itu kini sedang sponsor. Laki-laki itu meraih remote, memencet tombol yang ada. Ia memutari channel untuk mendapatkan acara yang sesuai dengan dirinya, tapi ... hingga saluran televisi habis, ia tidak menemukan apapun yang cocok. Akhirnya layar itu kembali ke acara berita tadi.
"Ga ada yang bagus apa, ya?"
Rizki menyimpan dokumen yang baru diselesaikannya, kemudian mematikan laptop itu. "Mending nonton N*tfl*x aja, Bang. Kayaknya ada film baru," Rizki memberi saran, ia berdiri dari duduknya. Kembali ke kamar untuk mengembalikan laptop.
Rio mengabaikan ucapan Rizki. "Hhh, baterai gue juga tinggal lima puluh persen, males gue ."
Salah satu bodyguard menghampiri Rio, di belakangnya terdapat dua orang berbeda kelamin tengah menatap ke arahnya. "Lapor tuan, kedua orang ini memaksa menemui, Tuan. Saya sudah bilang jika tuan tidak bisa ditemui larut malam seperti ini."
Memang benar, ini sudah jam sembilan, waktunya untuk istirahat. Kenapa tamunya tidak datang saja setelah magrib? Rio mengembuskan napas. "Baiklah, kau boleh pergi."
"Permisi, Tuan." Bodyguard itu berlalu.
Rio mempersilahkan tamunya untuk duduk, dengan isyarat tangan. Pria itu memanggil salah satu bodyguard yang berdiri di sudut ruangan. "Tolong buatkan tamuku minuman. Kalian mau teh atau sirup?"
Pemuda beralis tebal itu menjawab, "Terserah saja." Sedangkan gadis di sebelahnya tampak menunduk, belum berani menatap sekitar. Apa dirinya pantas di sini? Menduduki kursi ini?
Langkah kaki dari arah tangga terdengar. "Wihh, ada tamu." Pria itu segera kembali ke tempatnya, duduk di samping Rio, menatap tajam salah satu tamunya. "Kenapa baru ke sini sekarang? Kemarin ke mana aja?"
Rio hanya menunggu reaksi pemuda di depannya, setelah dicecar pertanyaan oleh Rizki.
Pemuda itu tampak bimbang. "Bang, gue bingung harus mulai dari mana."
Pandangan Rio beralih pada gadis di sebelah Putra, gadis yang sejak tadi menunduk itu tidak mau menampakkan wajahnya ketika Rio menatapnya. Pandangannya menusuk, terasa dapat membunuh jiwa. "Cewek ini siapa?" Suara berat Rio terdengar, membuat gadis itu membeku.
Putra merasakan tangannya terasa dingin, pasti ulah gadis di sebelahnya. Pemuda itu menghela napas. "Tapi kalau gue kasih tau, kalian jangan marah, ya?"
"Buruan!" ucap Rizki tak sabar.
Laki-laki dengan hoodie navy itu menegakkan badannya, menatap kedua pria di depannya penuh arti. "Jadi, cewek di sebelah gue ini Raisha. Ya, Raisha yang dicari Zahra selama ini. Raisha Rifandi, anak dari Johan Frendo Adhitama dan Tiffany Aurashadi."
Tidak ada yang berani membuka suara, Rio dan Rizki sendiri menatap gadis itu dengan pandangan berbeda. Raisha menjadi tidak nyaman, ia meremas tangan Putra. Apa yang harus dia lakukan?
"Raisha?" Suara berat Rio kembali terdengar. Rio berdiri, mencengkeram hoodie yang dikenakan Putra. "Bastard! Tega lo sama Zahra!"
Bugh!
Bugh!
Rio memukul pipi Putra hingga menimbulkan warna keunguan.
Raisha bimbang. Kenapa Putra yang harus menerima pukulan itu, ini semua karena dirinya. Dirinya yang mengacaukan semuanya. Dirinya yang membuat Zahra pergi.
Rio menyentak tangan Raisha kasar, membuat gadis itu tertegun. Rio segera pergi menaiki tangga dengan tergesa. Gadis itu ingin segera keluar dari mansion ini, sepertinya penghuni di sini tidak ingin menerima dirinya.
Putra duduk kembali dengan menahan ngilu di wajahnya. Raisha kembali menunduk.
"Rayan, tolong ambilkan kotak obat di ujung sana, ya?" Rizki menunjuk, memberikan arahan pada bodyguard yang dipanggilnya.
"Baik, Tuan."
Bodyguard bernama Rayan itu segera pergi, sementara Rio sudah berada di pertengahan tangga, akan kembali bergabung dengan mereka.
Rio duduk kembali di tempatnya, ia mengeluarkan foto dengan ukuran 8x6, menunjukkan di depan Raisha. "Ini ... foto lo, kan?"
Bodyguard itu datang dengan kotak obat. Rizki memintanya memberikan pada Putra. Bodyguard itu menjauh setelah melaksanakan tugasnya.
"Obati luka lo, setelah itu jelasin semuanya!" titah Rizki.
Putra segera mengambil kotak obat itu, mengobati wajahnya yang menjadi pelampiasan Rio. Baru seperti ini saja Rio sudah menghajarnya. Apa yang akan terjadi jika ia benar-benar mencekik Zahra?
Raisha ragu untuk mengambil foto itu, tapi Rio meyakinkannya. Gadis itu mulai mengangkat wajah, mengulurkan tangan untuk mengambil foto itu dari pegangan Rio.
Di foto itu terdapat dua orang gadis kecil, memakai gaun pesta ulang tahun. Gadis berponi dengan senyum merekah itu tampak merangkul gadis bergaun biru laut, yang tingginya hanya setelinganya. Gadis gaun biru laut itu rambutannya tergerai bergelombang, manik coklatnya terlihat cerah. Sedangkan kedua tangannya memegang black forest cake dengan lilin yang membentuk angka delapan.
Raisha mengusap foto yang kejatuhan air matanya, syukurlah, foto ini tidak buram. "Zahra, kamu masih nyimpen foto ini?" Raisha terisak, memeluk salah satu kenangan masa kecil mereka. "Maafin kakak, kakak egois. Kamu di mana sekarang? Maafin kakak, kakak pengen ketemu ...."
Kembali dipandanginya foto itu, dirinya merasa sangat bersalah karena membohongi adiknya bertahun-tahun. Mencoba menjadi orang lain agar Zahra tak menemukannya, agar omnya tidak bisa menemukan Zahra. Tapi tetap saja, langkahnya dikalahkan oleh takdir. Zahranya, adiknya ... disakiti oleh omnya itu.
Dirinya telah salah melangkah. Dari awal ia salah, tidak seharusnya ia meninggalkan adiknya malam itu.
Dipeluknya kembali foto itu. Sekelebat bayangan muncul di depannya, saat dirinya menampar Zahra saat itu. Saat adiknya datang dengan langkah tertatih, dengan tangan yang dibalut perban dan leher bekas cumbuan. Ia tahu, ia sangat marah. Marah kepada siapapun orang yang berusaha menghancurkan adiknya. Namun ia tak bisa berbuat, Zahra datang padanya. Membuatnya marah dan melontarkan kalimat tidak pantas yang seharusnya ia terima sejak lama. Wanita pelacur! Raisha menggeleng, ia yang pantas dengan sebutan itu, bukan Zahra. Betapa hina mulutnya, betapa munafik perkataannya. Dirinya hina, sangat. Dirinya memohon pada banyak laki-laki untuk memberinya satu hingga dua digit angka rupiah dengan nominal beragam. Melemparkan dirinya dalam lubang kegelapan.
Apa ia masih pantas bersanding dengan Zahra? Apa pantas panggilan 'kakak' tersemat di depan namanya? Ia hanya pelacur, wanita penghibur.
Seseorang menarik tubuhnya, membawa dalam rengkuhan hangatnya. Ia masih memejamkan mata, tidak berani menatap sekitar. Ia malu, sangat malu. Putra menceritakan semuanya pada mereka.
Raisha tidak tahu siapa yang mendekapnya, membawanya bersandar pada dada bidang seseorang. Wangi mint yang segar. Dirinya kembali merasa memiliki tumpuan, tubuh ini seperti membawa kenyamanan dan perlindungan. Siapa yang memeluknya kini?
"Kenapa ga pulang dari dulu Raisha? Kami menunggumu."
Raisha semakin memejamkan mata, ia tidak berani membukanya sekarang, ataupun nanti. Jelas bukan Putra yang mendekapnya saat ini, suara beratnya mengingatkannya pada seseorang yang memukul Putra beberapa saat lalu.
Tidak mungkin pria itu yang mendekapnya. Tidak! Mengapa? Ia merasakan seseorang mengusap lembut rambutnya, membersihkan wajahnya dari kristal yang tak berhenti mengalir.
Bahkan, ia merasakan benda kenyal itu mengecup keningnya. Rasa hangat menjalar di tubuhnya, ia yakin, pipinya semerah tomat sekarang. Gadis itu membeku, tidak berani mengambil napas untuk sesaat. Ia mendengar suara kekehan Putra di sebelahnya.
"Hei, Rai. Bernapas lah! Zahra bisa membunuh Bang Rio nanti kalau lo mati waktu dipeluk dia."
Suara lain yang berbicara dengan Putra mengingatkan Raisha, menegaskan jika laki-laki dengan suara berat itu benar-benar mendekapnya. Benar-benar merengkuhnya.
"Jangan takut, jangan kembali menjerumuskan diri dalam lubang semu itu. Kita di sini, tempat lo di sini, rumah lo di sini. Jangan kembali pada mereka."
Raisha mendengar setiap kata, walau hanya bisikan lirih, ia menangkap sesuatu dari sana. Laki-laki ini menerimanya. Kali ini ia bukan hanya mendapat satu kecupan, tapi dua kecupan di pipi kanan dan kirinya bersamaan. Ia kembali membeku, sementara para laki-laki tadi tertawa.
"Rai, tolong bernapas dengan benar! Lo ga ada niatan membuat Bang Rio jadi sasaran amukan Zahra kalau pulang, bukan?"