
..."Sederhana, namun membahagiakan. Cukup berkumpul dengan keluarga, itu sudah lebih dari cukup."...
...***...
Hari ini, Zahra kuliah dengan wajah fresh khas orang yang nyenyak tidur.
"Mau bareng gue gak ngampusnya?" tanya Rio setelah selesai makan.
"Boleh tuh," jawab Zahra.
Zahra mengambil sesuatu dari lehernya, mengeluarkan dari dalam bajunya. Ia mengamati benda itu dengan senyum tipis. Benda itu diberikan kemarin, saat Rizki mau kembali ke rumahnya—karena lukanya sudah kering. Bibi memberikan Rizki pigura yang berisi foto kakek neneknya.
...***...
Zahra mengamati kalung dengan liontin yang berisi dua bayi kembar. Apa maksudnya?
Tapi, kata bibi kalung ini milik maminya. Bibi juga telah menceritakan kehidupan dan kerasnya perjuangan bibi dengan kedua ibunya, saat masih kecil hingga menyandang status sebagai istri.
Maminya tak pernah bertemu keluarganya!
Rio datang memeluk pinggang Zahra dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu.
"Kita harus bersyukur atas apa yang dikasih Tuhan buat kita, meskipun kita yatim piatu, seenggaknya kita pernah ngerasain gimana rasanya punya mereka. Kasian mami, sampai dia meninggal, dia belum pernah ketemu sama keluarganya. Kakek nenek kita ... orangnya gimana ya, Kak?" tanya Zahra sambil tetap menatap bintang.
"Kakak yakin mereka juga pasti nyari anak mereka yang hilang, gimana kabarnya sekarang dan ...."
"Mereka akan kecewa kalau orang yang mereka cari udah ga ada," potong Zahra.
Rio menggeleng dan ikut menatap bintang. "Tapi mereka ga akan kecewa ketika ngelihat kita. Kita adalah penerus mereka."
"Kak Rizki ... ga mau ya tinggal bareng kita?" Gadis itu berucap sedih, padahal ia sudah menantikan tinggal dengan kedua kakaknya sejak lama.
Zahra mengubah panggilannya pada Rizki, bagaimanapun juga dia tetap lebih tua dari dirinya dan abang. Ya walaupun Rizki ga terbiasa, tapi Zahra memaksa. Rio terkekeh saja saat Rizki bergidik dipanggil Zahra dengan embel-embel 'kak'. Rasanya aneh, tapi ada rasa senang tersendiri saat Zahra memanggilnya seperti itu.
"Bukannya ga mau, dia punya rumah sendiri. Nanti kalau dia kesini, siapa yang mau nempatin?"
Gadis itu mengerucutkan bibir tanda tak setuju. "Kenapa ga dijual aja, ribet banget."
"Rumah itu rumah pertama dia, hasil kerja keras dia sendiri. Saksi bisu kesuksesannya. Dia ga mungkin mau jual rumah itu cuma-cuma. Sabar aja, kakak udah tanya kemarin. Dia mau kok ke sini, tapi ga bisa langsung."
Zahra mendesah kecewa atas perkataan Rio, tapi ia paham. Jika ia jadi Rizki, ia juga ga mau kalau disuruh menjual rumah yang hasil kerja kerasnya sendiri.
Zahra menganggukkan kepala paham, "Kak, pasangin!" Zahra memberikan kalung tersebut pada Rio.
"Makasih," ucap Zahra ketika benda dengan liontin bayi kembar tersebut bertengger indah di lehernya, berdampingan dengan kalung berliontin lambang BD.
Rio menarik Zahra ke kamar lalu menutup pintu balkon. "Sekarang tidur ya, udah malam banget." Rio mengantarkan adiknya ke kasur lalu menyelimutinya sebatas dagu. Pria itu mendaratkan kecupannya pada dahi sang adik. "Good night, nice dream."
Zahra tersenyum dan mengangguk. "Too you."
...***...
"Ternyata udah kamu pake, bibi mau nanyain itu tadi," ucap bibi ketika mengambil piring kotor di depan Zahra.
"Iya Bi, semalem aku minta tolong ke Kak Rio buat pasangin." Zahra berdiri lalu membantu bibi membereskan meja.
Bibi mengangguk. "Sebenarnya bibi mau ngasih kalungnya dari lama, tapi baru kesampaian kemarin. Kalau kamu rindu sama mamimu, pegang aja liontinnya," kata bibi menasihati.
"Iya, Bi."
...****...
"Eh, Ra. Tapi gue ga bisa jemput, gimana dong?" tanya Rio saat mereka masih di dalam mobil. Saat ini mereka ada di depan gapura kampus.
"Tenang. Gue bisa nebeng anak-anak." Zahra turun dari mobil. "Gue masuk dulu."
"Iya, belajar yang bener."
"Hati-hati, Kak." Mobil Rio melaju meninggalkan kampus.
Zahra berjalan menuju kelas pertamanya yang akan dimulai dua menit lagi. Ia berjalan dengan santai, sedangkan teman sekelasnya ada yang berlarian di koridor lantaran dosen mereka killer.
Di kelasnya telah ada dosen dengan teman-temannya yang lengkap, bahkah Putra yang biasanya terlambat bersama dirinya, sekarang tengah duduk manis.
Zahra mengetuk pintu kelas. "Maaf Pak, saya terlambat."
Dosen yang tengah memberikan materi tersebut mengalihkan pandangan pada gadis berambut coklat bayalage yang dikuncir kuda.
"Alasan apa lagi kamu hari ini?"
"Tadi saya nebeng Kak Rio," jawabnya sambil tersenyum polos.
Dosen tersebut menghela napas. "Ya sudah, silahkan duduk."
Zahra berjalan santai ke mejanya yang berada di sebelah Putra. Matanya sibuk menatap teman-temannya yang berlarian dengan kedua alis dinaik-turunkan. Mereka mendengkus sebal.
...****...
"Eh, Zahra tuh? Ngapain tuh bocah? Ngejomblo gitu," kata Ica yang saat ini menuju kantin bersama dengan Ina dan Ardelia.
Fiks! Mereka memang selalu bersama.
Mereka bertiga menuju Zahra yang sedang bermain HP di pojok kantin. Tempat kekuasaan mereka.
"Sendiri aja? Jomblo, Mbak?" kata Ardelia kurang ajar. Ica mendudukkan diri di samping Zahra, sedangkan Ardelia dengan Ina duduk di depan mereka.
"Idih, ga ngaca," jawab Zahra sambil mengangkat wajah guna melihat Ardelia.
"Tau ga, Ra?" tanya Ica memulai pembicaraan.
"Ga tau lah," sanggah Zahra cepat.
"Belum ngomong gue!"
"Itu apa kalau bukan ngomong?"
"Diem!" gertak Ardelia tiba-tiba.
"Wuissss, woles, Mbak." Ica mengangkat tangannya ke atas, persis seperti orang yang akan kena tembak.
"Pms lo?" ucap Ina sarkas. Ardelia mengangguk saja, lalu melanjutkan game-nya yang sempat terhenti.
"Kenapa, Ca?" tanya Zahra sambil menurunkan handphone yang sedari tadi menutupi wajahnya.
"Kemarin, akun gosip kampus ini ngunggah foto lo."
"Udah biasa itu mah, lo kayak ga tau kang gosip di sini aja," balas Zahra muak. Ia sudah tidak kaget dengan wajahnya yang sering muncul di headline kampus.
"Tapi mereka nyorot lo pas negosiasi sama Arkan, terus waktu lo dijemput sama Bang Rio dan Rizki. Kita kaget dong, kok Bang Rio bisa sama Rizki dan mereka jemput lo bareng. Apa jangan-jangan lo balikan lagi sama dia?" tebak Ica asal, yang membuat semua orang di kantin menoleh ke arah meja mereka.
Zahra merotasikan bola matanya. "Ya masa kalian percaya sama gosip yang begituan. Ya ga papa dong kalau kita baikan, lagi pula ga ada ruginya."
"Ohhhh, jadi akrab nih sama mantan? Bau-bau CLBK dong," kata Ica mengompori, sambil melirik dua laki-laki yang mendekati meja mereka.
"Mau balikan juga ga papa, kan cowok lo juga lagi ngejar junior," Ardelia tiba-tiba menyahuti ucapan Ica, sama-sama mengompori dua laki-laki tersebut.
Putra mencebik dan Devan yang menaikkan alis. Kedua laki-laki itulah yang mendekat, lalu bergabung dengan empat gadis itu.
"Berdua nih? Ga berlima? Kek gay aja, " sambar Ina kurang ajar, mana yang diomongin di sebelahnya pula.
"Suka-suka kita lah," jawab Putra cepat.
"Dari tadi di sini?" tanya Devan, yang mana pertanyaan itu untuk Zahra.
"Iya."
"Cari gara-gara sih, lo. Capek tau nyariin lo, taunya di sini," ucap Putra kesal.
Memang setelah kelas usai, jiwa keisengan gadis itu meronta. Dia bersama kedua laki-laki itu membuat masalah dengan salah satu anak hukum. Mereka—anak hukum di Merpati Putih terkenal bar-bar dan tak pandang bulu.
Salah satu anak Gretak asuhan Zahra hanya terkekeh saat melihat bosnya dikerjai balik oleh anak hukum tadi yang membawa pasukannya. Alhasil Zahra kembali ke fakultas ekonomi, ketimbang terlibat masalah yang lebih panjang dengan anak hukum.
"Eh, kalau ngotak ya di chat. Orang online kok." Zahra menunjukkan layar handphone-nya.
"Gobl*k sii ...." Devan merebut handphone Zahra dan menatapnya lekat-lekat.
"Lo ... balikan?" tanya Devan ga percaya.
"Kagak elah. Gue mah setia, ye ga? Ga kek laki gue tuh," jawabnya sambil menunjuk Putra dengan dagunya. Devan hanya terkekeh sambil melirik sahabatnya dari samping.
"Gak perlu setia-setia, kalau ceweknya berpaling ke cowok sebelah gue," ucap Putra tersenyum kemenangan. Dan dua sejoli yang merasa pun mendengkus kesal.
"Gue mah klasik, main di belakang. Kalau dia mah anti mainstream, main di depan. Kapan deh double date, gimana?" pertanyaan Zahra ini membuat Putra merasa tertantang.
"Oke ya, setuju ga lu bro?" kata Putra menjawil Devan. Pemuda itu hanya menganggukkan kepala ringan.
"Eh, seriusan ya?" Ica heboh sampai berteriak histeris. "Terus, official kapan, nih?" tanyanya setelah memelankan suara.
"Diremehin lu, Bro," kata Putra sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Tunggu aja tanggal mainnya," jawab Devan sambil menatap ke empat gadis itu.
"Gila kalian!" ucap Ardelia sarkas.
Mereka memesan makanan, masa ke kantin ga mesan cuma nangkring aja. Mereka makan sampai selesai dengan diselingi bacotan-bacotan tak berfaedah.
"Kelas, udah jam 9 nih," kata Devan sambil melihat rolexnya. Devan dan Putra berdiri di ikuti Zahra.
"Gaess, gue duluan," pamit Zahra pada squad-nya.
Huh, mungkin lain kali, batin Ica dan Ardelia.
Zahra berjalan dengan diapit dua laki-laki di sampingnya. Mereka menuju kelas berikutnya.
...****...
"Pulang mau dianterin siapa?" tanya Devan begitu mereka keluar dari kelas. Ya, mereka telah menyelesaikan jam kuliah mereka hari ini.
"Gue ... dijemput, he-he," kata Zahra riang.
"Siapa?" tanya Putra dan Devan kompak.
"Ri_"
"Eh, Ra! Ini makalahnya lo ketik, ya! Kita kan udah cari bahannya lo tadi kan cuma nge-game." Faira mendekati Zahra dan mengulurkan sebuah flashdisk dan beberapa buku.
"Iye-iye, beres. Mendadak jadi anak rajin gue." Zahra menatap kedua pemuda di depannya sambil menaik-turunkan alis.
"By the way, ini deadline kapan, ya?" tanya Zahra.
Putra menyentil dahi Zahra pelan, "Kebiasaan! Kalau ngomong ga ngeliat orangnya."
Zahra menatap Faira malas. "Jadi kapan?"
"Eumm, kapan ya?" Faira membuat gaya seolah sedang berpikir keras. "Kapan si? Mendadak lupa gue." Gadis itu menatap putra dan Devan dengan tatapan polos.
Kedua pemuda itu menjitak Faira bergantian, ia mengusap-ngusap bekas jitakan Putra dan Devan. "Ish! Sakit tau!" gerutunya.
"Lima hari dan itu harus dalam keadaan siap. Langsung presentasi, yang ngawasin gue sama Ajis. Pak Gana lagi izin soalnya," jawab Devan.
"Lima hari, ya? Beneran tinggal ketik doang, kan? Beres! Eum, nanti H-1 gue kasih ke lo, lo presentasi aja sama yang lain. Gue ga masuk." Zahra pergi meninggalkan mereka bertiga yang melongo.
"Dasar! Seenaknya aja." Faira berlalu, Devan dan Putra mengejar Zahra yang hampir sampai di lobby.
"Jadi, siapa yang ngejemput lo? Mana orangnya?" tanya Putra ketika dirinya dan Devan sudah mensejajarkan langkah dengan Zahra.
"Itu mobilnya," tunjuk Zahra pada mobil BMW i8 yang tengah disorot oleh beberapa temannya. Mereka tentu bingung, siapa gerangan yang berkunjung ke kampus dengan mobil mewah seperi itu? Rata-rata kan mereka memakai Toyota biasa.
"Gue ke sana, ya?" pamit Zahra pada Devan dan Putra.
"Bentar!"
Mereka menghentikan Zahra yang akan menjauh dari mereka, gadis itu menaikkan alis bingung. Kedua pemuda itu mencium Zahra bersamaan, Putra mencium pipi Zahra dan Devan yang mencium kening Zahra.
Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan wahai human laknat? Bahkan manusia yang tadi menyorot BMW i8 berganti menyorot Zahra dan kedua pemuda itu.
Tak jarang ada juga yang bisik-bisik mengatakan bahwa Zahra gadis murahan, mau-maunya dicium oleh 2 laki-laki sekaligus.
Emang dasarnya Zahra yang masa bodoh, jadi ia membebaskan mulut orang-orang yang membicarakannya. Zahra melangkah menuju mobil yang menunggunya.
"Hati-hati."
Setelah pengakuan Devan pada Putra perihal perasaannya beberapa waktu yang lalu, akhirnya Putra menyadari kalau ia mungkin bukan orang yang tepat untuk Zahra. Jadi, kalau mereka memang ingin berdua tidak masalah bagi Putra, tapi bukan berarti mereka telah karam. Entah kapan hubungan yang berusia 1,5 tahun itu karam?
Devan berjalan menuju parkiran, dia akan menghadiri rapat bersama dengan ayahnya untuk bertemu denagn investor-investor besar Asia. Calon-calon CEO!
Sedangkan Putra berjalan dengan santainya ke arah Una yang menatapnya dalam. Memang selama Zahra menghilang, waktu Putra banyak bersama Una dan itu menjadikan adik gadis Diki ini juga lama-lama baper.
Waktu menghilang Zahra bukanlah waktu yang singkat dan itu Putra gunakan dengan baik, dengan mendekati Una. Bahkan Putra banyak menghabiskan waktunya demi gadis manis dan kalem tersebut.
Zahra memandang jengkel pada para pemuda-pemudi kampusnya, tak jarang juga ada yang menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Entah, apa yang sebenarnya mereka perhatikan, padahal kan style Zahra seperti gembel.
Ada yang memicing, menaikkan alis, berbisik sana-sini sambil melirik Zahra. Hati-hati saja saja jika Zahra baper gara-gara lirikannya. Tapi, ew ... dia kan cewek. Najis! Zahra ga mau lesbi, dia masih doyan sama yang berbatang.
"Heh, kalo ngomongin orang itu di depannya langsung biar jelas. Jangan malah bisik sana-sini, ngalor-ngidul. Klasik banget cara kalian," ucap Zahra sebelum masuk ke mobil.
Brakkkk!
Zahra membanting pintu mobil dan orang-orang yang tadi membicarakannya langsung kabur entah kemana.
Rizki menenangkan Zahra. "Udah, kasian mobil gue. Mobil mahal, service-nya pun mahal—jadi jangan perlakukan mobil gue sama mobil murah lo yang gampang karatan."
Zahra menggeram. "Tampol jangan?" Gadis itu menaikkan tinggi tangannya guna menampol orang dibalik kemudi.
Rizki meringis, "Jangan, cium aja sini!" tangan Rizki menyentuh bibirnya.
"Mesum lo!" Selepasnya tangan mungil Zahra mendarat sempurna di bibir Rizki.
Rizki mengusap-ngusap bibirnya yang kena gampar Zahra, sadis juga adiknya ini. Sepertinya ia lupa jika Zahra pernah menusuknya cukup dalam.
"Sakit, Raaaa. Mending kalo nampolnya make bibir ... lah ini boro-boro, cuma ngomong langsung kena tampol. Aku ini kakakmu lo, Dek!"
Zahra menatap malas Rizki yang sedang membuat pose alay gaya orang putus cinta.
Zahra mendengkus. "Kalau ga mau jalanin mobilnya, biar gue aja."
Rizki menepis tangan Zahra yang berusaha mengambil alih kemudi, ga mau mati muda dia ... tahu sendiri kan Zahra naik mobil bagaimana. Salib sana salib sini ... huftt!
Rizki menjalankan mobilnya, melajukan mobil menuju daerah Pulo Gadung. Tempat di mana perusahaan yang ia naungi berdiri dengan megahnya.
Zahra menghidupkan musik di mobil Rizki, kali ini bukan musik dengan bass tinggi seperti yang biasa ia dengar di club. Melainkan musik klasik penenang, membuat pikirannya yang terombang ambing beberapa hari ini sedikit tenang.
"Kak?" Rizki menjawab dengan deheman, ia masih fokus memerhatikan jalanan.
"Kakak beneran ga mau tinggal bareng gue sama Kak Rio?" tanya Zahra setelah lama hening.
Rizki menoleh ke samping sekilas, lalu fokus menyetir kembali.
"Ga mau ya? Ga papa kok, gue ga maksa," ucap Zahra pada akhirnya.
Rizki sedikit memperlambat laju mobilnya. "Hari Sabtu gue pindahan, mau bantuin?"
Zahra menubruk Rizki, membuat mobil sedikit oleng—untung saja laju mobilnya sudah diperlambat.
"Pindah ke mana? Rumah gue?" Mata Zahra berbinar dengan pernyataan yang Rizki buat.
"Pindah lagi ke kursi lo, anu gue kegencet. Sakit, nihh. Oh ya, safety belt-nya dipakai, bahaya!" ucap Rizki dengan membuat wajah meringis supaya Zahra cepat kembali ke sampingnya. Ini lho, Rizki takut adek-nya kebangun, kan susah nidurinnya.
Zahra kembali ke posisi awalnya. "Mulaiiii!"
"Tapi kakak pindah bukan karena terpaksa, kan? Kan? Kata Kak Rio, itu rumah yang berdiri atas hasil keringat kakak, ga mungkin kan kakak mau ninggalin rumah itu."
"Iya, itu bener. Tapi gue ada cara lain supaya rumah gue tetap aman."
Zahra menaikkan alis.
"Lihat aja nanti!" Dan mobil pun melaju normal.
Rizki mengemudikan mobil dengan tenang, pandangannya fokus ke jalanan, sesekali ia menoleh pada virus di sampingnya. Ia takut kalau tiba-tiba Zahra heboh di mobilnya dan mengakibatkan suatu kerugian hingga ia di kejar-kejar Ladoosing. Rizki tidak mau.
Setelah 20 menit mengemudi, akhirnya mereka sampai pada basemant sebuah perusahaan ternama.
Rizki turun diikuti Zahra. Ya! Rizki mengajak Zahra ke kantornya. Dikirain ke mana, ternyata tempat refreshing Zahra ga lepas dari kantor, ya?
****
TBC!!!
Jangan lupa like sama komen
See you 🌹