
"Terus mau ngapain sekarang? Kak Rio pakai ada tamu lagi. Ga tau apa kalau Minggu?" dengkus Zahra sebal.
"Lama sih ini firasat gue," ucap Rizki, diangguki kedua adiknya.
"Padahal Bang Rio udah nutup semua yang berhubungan dengan bisnis loh selagi weekend. Ada-ada aja yang bikin gagal quality time," keluh Raisha. Ia menyayangkan kebersamaan mereka yang terganggu.
"Mabar aja gimana? Mau ga?" usul Zahra, ditangan kirinya telah memegang ponsel miliknya. Memperbaiki posisi duduknya yang membuat lehernya sakit.
"Yang lain ajalah, gue mana tau mabar. Nge-game aja ga pernah, download aja kagak," ucap Raisha malas. Menyelonjorkan kakinya di sofa, kemudian berbaring. "Akhirnya, hahhhh ... punggung gue enak banget kalau baring gini, rasanya pegal banget waktu duduk tadi."
"Makannya, perbanyak minum air mineral biasa, jangan air kulkasan lo minum mulu. Gitu tuh akibatnya," sembur Rizki. Ia Kembali mengunyah makanan dengan salah satu tangannya bergerak membuka majalah.
"Tumben lo buka buku masak-masak, mau nyari resep baru lo?" tanya Raisha, gadis itu sedang tidak tahu harus apa, jadi ia perhatikan saja kedua saudaranya itu berbuat apa.
"Bukan buat gue, tapi buat restorannya papi sama cafenya Zahra, gue pengen ada menu baru gitu. Jadi, nyari inspirasi ga ada salahnya, kan?" jawab Rizki enteng.
Sementara Zahra masih asik dengan handphone-nya. Membalaa pesan dengan senyum iblisnya, Raisha curiga Zahra tengah merencanakan sesuatu.
"Lo kenapa dah?" tanya Raisha dengan heran.
Zahra menaikkan sudut bibirnya, merentangkan kedua tangan, setelah itu menjatuhkan diri di sandaran sofa. "Kalian tunggu aja kejutan dari gue."
Rizki langsung menoleh pada gadis di sebelahnya, saat Zahra berucap demikian—entah mengapa sudut hati terdalamnya merasakan sakit. "Apa maksud lo?" tanyanya agak marah. "Apa yang lo rencanain? Jangan egois!"
Zahra hanya menunjukkan senyum manisnya. Mengusap pipi Rizki pelan. "Kakak tunggu saja!"
"Maksud lo hadiah, Dek? Atau ka-kado? Tapi kita kan ga ada yang ulang tahun?" tanya Raisha bingung. Gadis itu langsung duduk kembali, menatap Zahra bimbang. Tiba-tiba saja debaran aneh ini berpacu cepat.
"Jangan bodoh Raisha," hardik Rizki, kemudian menoleh pada Zahra, "apa yang lo rencanain? Jangan aneh-aneh! Lo ga mikirin kita?"
Zahra hanya diam, memeluk Rizki dari samping untuk meredakan amarah pria itu. "Kakak tunggu aja, okey? Gue ga akan kenapa-kenapa kok," ucapnya tenang.
"Jangan nekat, Ra!" ucap Raisha dan Rizki bersamaan, mereka berpandangan sebentar dan mengangguk.
"Jangan bikin kita khawatir!" ucap Rizki, mengecupi kening Zahra berkali kali untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Gue ga akan kenapa-kenapa, gue janji," ucap Zahra. Membuat dua orang itu mengembuskan napas lega.
Ketiganya akhirnya terlibat obrolan santai, tanpa menyadari suara langkah kaki yang berjalan semakin dekat. Langkah itu akhirnya sampai di dekat ketiganya.
Raisha yang mengetahui orang asing masuk ke rumahnya seketika berdiri. "Siapa Anda?"
Begitu pun Rizki dan Zahra, mereka mengikuti arah pandang Raisha. Zahra bisa menangkap sosok itu, ia meremas lengan Rizki, tubuhnya mulai bergetar.
Orang yang dimaksud Raisha sampai dihadapan Zahra. Seorang wanita paruh baya dan seorang gadis seusia Zahra, mereka menatap ketiganya dengan senyum merekah.
"Ardelia?" gumam Rizki.
"Mami?"
Rizki langsung menoleh pada adiknya. "Mami?" Kembali ia bergumam. "Tapi kan, mami udah meninggal, kalau begitu .... Zahra sadar!" Rizki menggoyangkan badan Zahra kencang, ia merasakan kuku adiknya menancap di lengannya. Raisha berjalan mendekat ke arah Zahra.
"Siapa kalian?" todong Raisha, ia menatap tajam kedua orang itu.
Rizki masih berusaha mengembalikan Zahra, mata gadis itu telah memerah.
"Akhirnya kami menemukan kalian," ucap wanita paruh baya itu dengan suara rendahnya.
Wanita itu tidak memedulikan pekikan Rizki. Berjalan semakin mendekati ketiganya. "Zahra, akhirnya kita dipertemukan kembali," ucapnya tersenyum. Perlahan air mata mengalir di pipinya, ia terharu.
"Ka–kaak, aku ga bohong kan? Aku lihat mami? Di-dia di depan kita ...," ucap Zahra serak. "Ma-mami masih belum bahagia Kak, kemaren dia masih disiksa," racau Zahra.
Wanita itu menjulurkan sebelah tangannya, ingin mengusap pipi Zahra yang memerah. Tapi gadis itu menepisnya kasar. "Jangan sentuh! Kamu bukan Mami, kan? Kamu pasti iblis yang menyiksa Mami? Iya, kan?" Zahra menatap nyalang, ia berusaha terbangun dari bayangan gelap yang tiba-tiba menjeratnya.
"Engga, jangan sentuh saya!" pekik Zahra histeris. Jangan sekarang, aku mohon, batin Zahra. Wanita itu mengusap kepalanya.
Tubuh Zahra bergetar hebat. Rizki merasakan genggaman Zahra mengendur. Jantungnya mulai berpacu cepat, gadis itu menarik napas dengan susahnya. Sepertinya rongga dadanya kembali menghimpit.
"Kak, tol–long," ucap Zahra lirih.
Kata-kata itulah yang mereka dengar sebelum Raisha menumpu Zahra. Rizki langsung menolong adiknya, membaringkan Zahra di sofa yang tadinya mereka duduki.
Keringat mulai membasahi wajah Zahra, tangannya sedingin es. Rizki mengarahkan jarinya pada hidung Zahra dengan ragu. Tapi pada akhirnya ia memberanikan diri.
"Napasnya terputus putus," suara Rizki bergetar. Ini lebih parah dari beberapa hari yang lalu. Wajah adiknya mulai kehilangan rona, menjadi pucat pasi. "Raisha, cari inhaler itu ... dan periksa apa Gery meninggalkan cairan yang kemaren. Kalau ga ketemu, segera hubungi dia. Panggil dokter Adrian juga."
Raisha langsung berlari ke arah tangga.
Wanita itu dan gadis di sebelahnya terlihat shock. Mereka mendekati Rizki dengan langkah pelan.
"Zahra kenapa, Riz?" tanya Ardelia takut, Rizki sudah menunjukkan rahang tegasnya, mata coklat cerahnya berubah gelap. Menatapnya dirinya dan sang ibu tajam. "Ini semua gara-gara kalian!"
Wanita itu menggeleng pelan, berjalan mendekati Zahra yang kini memejamkan mata. Ia jongkok di sebelah sofa itu, tangisnya pecah. "Zahraaa, maafkan aku ...." Pantas saja selama ini Zahra selalu menghindarinya.
"Nadinya melemah," suara Rizki bergetar. "Raisha cepetan!" Rizki berteriak, menyuruh Raisha agar segera turun. Ia mendekatkan wajahnya pada Zahra, berusaha memberikan napas buatan.
Suara langkah kaki yang tergesa dapat ia tangkap, tapi ia tidak memedulikannya. Yang ia lakukan sekarang ialah, membantu Zahra bernapas, setidaknya sampai Raisha menemukan inhaler itu.
"Zahra kenapa, Riz?" Rio mendekati adiknya yang masih berusaha memberikan napas buatan.
"Napasnya putus-putus Bang, inhaler itu ga akan kerja maksimal kalau Zahra kayak gini," ucap Rizki dengan suara bergetar. Ia ingin menangis saja sekarang.
Mengetahui hal itu, Rio segera mengambil ponsel Rizki yang tergeletak di atas meja. Menekan tombol dial pada nomor dokter yang terbiasa menangani Zahra.
Raisha berlarian mendekat, mengabaikan beberapa orang yang terdiam kaku. Ia menyerahkan inhaler itu pada Rizki. "Gue ga berhasil nemu cairan itu, nomornya Gery juga ga aktif."
"Sialan," desis Rizki kesal. Ia mendekatkan ujung inhaler itu pada hidung Zahra. Berharap adiknya masih bisa menghirup inhaler itu meski tidak semaksimal biasanya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Raisha bergetar, dilihatnya Gery yang menelepon kembali. "Bawa cairan itu, Zahra pingsan lagi. Keadaannya jauh lebih buruk," Raisha menutup teleponnya sepihak, semoga Gery lekas datang.
Rio telah selesai bicara dengan dokter yang akan mendatangi mereka. "Bawa Zahra ke kamar, dokter Adrian akan kesini sambil bawa oksigen."
"Biar Kakek saja yang menggendongnya, tolong tunjukkan kamar Zahra." Wahyu menepuk bahu Rizki.
Pria itu mengangguk, membiarkan orang itu yang membawa zahra. Kakinya lemas, tak kuasa untuk melangkah. Ia masih shock dengan kondisi Zahra saat ini. Raisha menemani Rizki, menuangkan segelas air untuk pria itu
Semetara Rio dan pria itu membawa Zahra ke atas. Wanita tadi mendekati suaminya, menangis di sana. Sedangkan Ardelia duduk di sofa dengan menunduk menahan tangisnya.
Revan memijat tengkuk Rizki pelan. "Rileks Brother. Zahra ga akan pergi, seburuk apa pun kondisinya "
"Se-sejak kapan Zahra kayak gini, Riz?" tanya Ardelia, menatap Rizki dengan senyum sayunya. Selama mereka menjalin persahabatan, ia belum pernah menemui Zahra yang seperti ini. Sahabat macam apa dirinya ini?